
Di saat semua teman-temannya sedang pergi ke air terjun, Mariah memilih untuk tidak turut serta, karena ia harus menyiapkan makanan untuk penghuni kastil. Lagipula, ia sudah beberapa kali pergi ke air terjun, sehingga ia tak tertarik untuk ikut serta dalam petualangan kecil itu. Sebelumnya, Lily sudah berusaha untuk membujuk, tetapi Mariah tetap bersikeras untuk tetap tinggal di dalam kastil. Saat ini, ia sedang fokus mengiris bawang di dapur, sambil merenung tentang kejadian yang telah terjadi dalam kastil miliknya. Terbunuhnya Lidya yang tragis, jelas merupakan teror buat dirinya. Namun peristiwa membuat matanya terbuka lebar, untuk selalu waspada.
Kepergian rombongan kecil itu ke air terjun, sudah disetujui oleh Ammar, dengan persyaratan pengawasan dari dua orang polisi yakni Ramdhan dan Juned. Sayangnya, mereka berdua ketinggalan karena ada sesuatu yang harus diselesaikan. Ketika mereka hendak bertugas, mereka berdua terkejut melihat tak ada seorang pun di halaman samping.
"Pada kemana mereka?" tanya Juned.
"Jangan-jangan mereka sudah pada berangkat duluan?" jawab Ramdhan.
"Kalau begitu, cepat! Mari kita susul mereka!" ajak Juned.
"Memang kamu tahu jalan ke air terjun itu?"
"Nanti juga ketemu kok! Ayo!"
Kedua polisi itu segera bergegas menuju keluar kastil, pergi ke arah air terjun berdasarkan petunjuk arah yang masih ada. Memang, jalan menuju ke air terjun di beberapa bagian masih menyisakan tanda-tanda yang sengaja dibuat untuk pengunjung, agar tidak tersesat. Hanya saja tanda penunjuk jalan di persimpangan tiba-tiba menghilang. Menghilangnya tanda itu membuat kedua polisi itu juga ikut gusar. Mereka berdiri kebingungan di tengah jalan setapak, berharap menemukan petunjuk lain.
"Kira-kira mereka pergi ke mana ya?" tanya Juned
"Nggak tahu juga. Aku kan belum pernah ke sini." jawab Ramdhan.
"Apa enaknya kita kembali saja ya? Kita bilang saja ke Pak Ammar kalau kita kehilangan jejak, karena mereka berangkat duluan," ucap Juned.
"Kamu gila? Nanti kalau ada apa-apa kita disalahkan loh. Mending kita cari saja mereka. Paling tidak kita kan sudah ada usaha mencari. Nanti kalau kita nggak mengawasi malah disalah-salahkan!" tegur Ramdhan.
Tiba-tiba, dari arah ruas jalan sebelah kiri, Aditya berjalan tergopoh-gopoh dengan paras memucat. Kedua polisi yang masih berada di persimpangan jalan segera bereaksi. Ia segera merespons keadaan dengan menanyai Aditya.
"Ada apa?" tanya Ramdhan.
"Aduh Pak! Gawat ... gawat!" ucap Aditya dengan napas tersengal.
"Tolong Mas, tenang dulu. Ceritakan apa yang terjadi! Tarik napas dulu!" Ramdhan berusaha menenangkan.
Aditya menarik napas dalam-dalam, berusaha menghilangkan kepanikannya. Ia kemudian mulai bercerita.
"Jadi ... jadi begini. Tadi kami bertiga menyusuri jalan sebelah kiri ini. Aku, Ryan, dan Nadine. Beberapa saat berjalan, tiba-tiba Nadine tak tahan ingin buang air kecil. Jadi Ryan yang menemani Nadine untuk buang air kecil, karena dia suaminya. Namun beberapa menit kemudian, Ryan berteriak minta tolong, karena Nadine terperosok jurang. Waktu dicek Nadine sudah nggak ada. Ryan menyuruh aku minta pertolongan," papar Aditya.
"Astaga! Juned, cepat kau kembali ke kastil minta tolong Pak Reno atau Pak Dimas. Aku akan mengecek lokasi jurang itu! Ayo kita ke sana!" ucap Ramdhan kepada Adit.
Juned segera mengangguk. Polisi yang masih tergolong muda itu segera bergegas untuk kembali ke arah kastil, sementara Ramdhan dan Adit juga bergerak menuju lokasi yang tempat Nadine terperosok. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba rombongan dari sebelah kanan, yakni Edwin dan Rosita, tiba pula ke persimpangan itu. Sedangkan Jeremy dan Stella tidak terlihat, karena mereka langsung pergi ke air terjun, dan menunggu rombongan lain di sana.
"Kami mendengar suara gemuruh air terjun!" ucap Edwin dengan nada gembira.
"Maaf, ada kecelakaan yang terjadi. Kita harus segera menolong!" ucap Ramdhan.
"Kecelakaan apa sih? Bikin repot saja!" gerutu Rosita.
Segera pasangan itu mengikuti langkah Ramdhan tergesa, menerobos semak belukar. Aditya menunjukkan tempat di mana dia terakhir bertemu dengan Ryan dan Nadine. Di bawah sebuah pohon besar dan rindang, terlihat Ryan dengan paras lesu dan panik sambil menunjuk ke arah lereng yang cukup curam di sebelah kiri jalan. Lereng itu membentuk kemiringan lebih dari 45 derajat, sehingga cukup terjal untuk didaki. Kalau pun ada yang terperosok ke dalam jurang itu, pasti akan terguling ke bawah dan menimbulkan luka serius.
"Nadine ... Nadine! Tolong Nadine!" ucap Ryan dengan panik.
"I-iya. Tadi dia mau pipis, aku suruh pipis dekat pohon ini. Lalu kudengar ia teriak, tahu-tahu ia udah nggak ada. Sepertinya ia terperosok ke dalam sini. Tolong siapa saja bantu temukan dia!" pinta Ryan.
"Biar aku yang turun, kalian tunggu di sini saja!" ujar Ramdhan.
"Tuh kan, yang aku khawatirkan juga apa. Bener-bener masalah kan si Nadine. Bawel sih!" gerutu Rosita lagi.
"Diam kamu, Ros! Udah tahu kondisi gini juga," tegur Edwin.
Ramdhan rupanya cukup berpengalaman menuruni lereng terjal itu. Ia tak membutuhkan tali atau alat bantu lain. Segera saja ia meluncur turun dengan menyeimbangkan tubuh. Ia segera memeriksa dasar jurang dengan ketinggian sekitar 8 meter itu. Dasar jurang dipenuhi semak dan pohon-pohon kecil. Ramdhan memeriksa sekitar semak yang tumbuh liar di sana, tetapi tak ditemukan tanda-tanda keberadaan Nadine. Namun, tiba-tiba ia terkejut saat melihat sobekan kain dan tetesan darah di antara daun-daun. Firasatnya langsung berubah tidak enak. Ia takut, jangan-jangan ada hal buruk terjadi pada Nadine.
"Nadine!" pekik Ramdhan.
Sayangnya pekikan Ramdhan hanya hilang tertiup angin. Suasana dasar jurang itu begitu senyap, seolah tak ada keberadaan siapa pun di tempat itu. Ia makin cemas, tetesan darah itu menghilang, tak ditemukan lagi di bagian lain. Ia menatap ke atas, tempat yang lain sedang menunggu. Ia merasa, jangan-jangan ada kejadian buruk yang mungkin bukan kecelakaan. Atau jangan-jangan ada yang mengkondisikan Nadine agar jatuh, atau ada sebuah rencana jahat dibalik semua ini?
***
Rombongan Lily dan kawan-kawan rupanya gagal menemukan lokasi air terjun, sehingga mereka memutuskan untuk kembali. Sebelumnya mereka juga sempat terpisah-pisah karena tersesat. Lily yang mengawal jalan , sempat kehilangan jejak Maya Larasati dan Farrel. Kedua orang itu tertinggal jauh di belakang, hingga kehilangan jejak.Yang pertama kali Lily temui adalah Farrel, yang tampak kelelahan duduk di bawah pohon.
"Mana Maya?" tanya Lily.
"Tak tahu aku, Ly. Tadi dia berjalan di belakangku, tiba-tiba saja Maya menghilang. Aku sudah panggil-panggil tapi nggak ada jawaban," ucap Farrel.
"Aduh, gimana sih kamu Rel! Gimana kalau ada apa-apa? Ayo kita cari dia di belakang sana!"
Lily merasa kesal dengan Farre karena seolah pria itu tak bertanggungjawab dengan keselamatan Maya. Ia segera kembali ke arah belakang untuk mencari keberadaan Maya. Farrel sebenarnya merasa enggan, karena ia merasa sangat lelah berjalan, tetapi karena Lily memaksa, mau tak mau ia bangkit dari tempat duduknya.
"Kita harus cari sampai dapat, Rel! Aku ini ketua rombongan. Jadi kalau apa-apa, ntar aku lagi yang disalahin," gerutu Lily.
Farrel tak menjawab, ia hanya mengikuti langkah Lily yang terlihat gusar. Keduanya menyusuri jalan setapak yang tertutup banyak rumput, tetapi mereka tak dapat menemukan keberadaan Maya. Gadis itu seolah hilang ditelan kesenyapan yang meraja di hutan.
"Palingan dia nggak kenapa-kenapa," ucap Farrel dengan tersengal.
Lily tak menjawab. Ia periksa segala kemungkinan tempat sekitar situ, kalau-kalau melihat keberadaan Maya. Namun, tiba-tiba hal tak terduga terjadi. Dari balik pepohonan dan semak yang cukup lebat, terlihat Maya yang melambaikan tangan.
"Lily!!" pekik Maya.
Maya terlihat gembira melihat kehadiran Lily. Tanpa mengunggu ia segera bergegas mendekati Lily dan Farrel.
"Kamu kemana saja sih, May?" tanya Lily dengan gusar.
"Aku ... aku salah jalan. Tadi kukira kalian lewat jalan itu, ternyata buntu. Untung aku lihat kalian!" kata Maya.
"Lain kali jalannya cepat ya! Jangan melamun. Ingat, kita ini di hutan, bukan di perkotaan. Sekali kamu hilang, maka kamu akan hilang selamanya. Jangan berlagak sok berani atau sok tahu. Sekarang mari kita kembali ke simpang empat. Semoga sudah ada yang bisa menemukan air terjun itu!" perintah Lily.
***