Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LX. A Small House on The Prairie


Mobil warna silver yang dikendarai Detektif Reno Atmaja melaju ke arah pinggiran kota yang masih jauh dari keramaian. Di kanan-kiri terdapat hamparan rumput dan hutan jati yang mulai meranggas. Suasana sungguh tenang dan asri. Beberapa ekor lembu sengaja dibiarkan di padang rumput, beserta sejumlah kambing. Di samping Reno, Dimas sedang mengamati bantuan arah yang disediakan oleh aplikasi telepon. Sudah satu jam lebih mereka berkendara menyusuri kawasan pinggir hutan, tetapi yang mereka lihat hanya rumah-rumah kecil terbuat dari kayu.


“Apakah tujuan kita sudah benar?” tanya Reno Atmaja.


“Tak salah lagi. Kita perlu berkendara dua puluh lima menit lagi, maka kita akan segera menemukan rumah penulis itu,” jawab Dimas sambil terus memicingkan mata.


“Kurasa penulis itu telah mengambil satu langkah benar. Dai berusaha menghilang dari hiruk-pikuk dunia dengan menyepi di tempat sepi seperti ini,” ucap Reno.


“Tapi kurasa bukan itu alasannya. Rumah ini ditinggali oleh ibu si penulis. Dia dibesarkan di sekitar sini, sampai kemudian membeli apartemen baru di kota. Kurasa kita bisa bertanya tentang sejarah singkat keluarganya, termasuk saudara kembar penulis itu.” Dimas menerangkan.


Drrrt ... drrrt ... drrrt!


Tiba-tiba ponsel Reno berbunyi. Sambil menyetir, ia angkat panggilan itu dengan rasa malas.


“Maaf Sayang, aku sedang ada panggilan tugas di luar kota. Nanti kita bicarakan setelah ini. Maafkan aku. tapi aku janji akan segera meneleponmu kembali setelah semua ini selesai!” Reno segera mematikan ponsel, dan meletakkan kambali di dashboard. Wajahnya tiba-tiba terlihat kacau, seperti ada yang sedang dipikirkannya.


“Silvia?” tebak Dimas.


“Ya. Silvia. Belakangan ini dia rajin menelpon, menanyakan rencana pernikahan. Kamu tahu, Dimas. Aku masih sibuk dengan segala hal yang ada di sekitarku. Sepertinya aku harus menunda pernikahan hinga tahun depan. Sayangnya, Silvia belum bisa menerima itu. Ia terus mendesak, hingga aku kadang merasa tertekan gara-gara ini!” keluh Reno.


“Sabarlah! Perempuan memang membutuhkan kepastian. Mungkin dia khawatir kamu berselingkuh atau lari ke pelukan wanita lain. Wajar saja perempuan mempunyai rasa seperti itu. Maafkan aku jika pendapatku salah. Aku sendiri sudah putus dengan Fanny sejak setahun lalu, dan sampai sekarang masih jomblo. Tapi aku menikmati kesendirianku,” ujar Dimas.


“Maksudmu aku berselingkuh? Satu-satunya selingkuhanku adalah kasus-kasus pembunuhan ini. Siang-malam kucurahkan tenaga untuk kasus-kasus ini agar reputasiku terangkat di mata pimpinan. Tapi apa yang kudapat?” dengus Reno.


“Untuk itulah kamu harus bersabar, Teman! Sudahlah. Mari kita fokus dulu masalah ini. Aku yakin kamu bisa memecahkannya.” Dimas berusaha menanggapi agar perasaan Reno lebih tenang.


“Lihat! Itu rumah yang kita cari!”


Beberapa saat kemudian, Dimas menunjuk sebuah rumah beton sederhana, dengan halaman luas yang ditanami sayuran sawi. Rumah itu agak masuk ke dalam, diapit pepohonan besar. Di depan rumah terdapat pagar bambu dicat warna putih. Sementara, seorang wanita paruh baya tampak sedang menjemur baju di halaman samping, sambil menatap tajam mobil yang mulai masuk ke dalam halaman.


“Kurasa kita sudah sampai,” kata Dimas.


“Kamu yakin rumah ini yang kita tuju?” tanya Reno.


“Tak diragukan lagi!”


“Baik. Mari kita bongkar sejumlah fakta dari rumah ini!”


***


“Anda kenal dia?” tanya Antony pada Hans.


“Tentu saja. Ia tinggal di kastil yang sama denganku. Tetapi aku tidak mengerti mengapa dia bisa kecelakaan di tempat ini. Entahlah, kukira dia berada dalam kastil. Rupanya dia pergi diam-diam tadi malam. Kita angkut saja dia kembali ke kastil. Dia akan mendapat perawatan yang baik di sana?”


“Tidak usah! Kalau kembali ke kota nanti akan mengganggu acara berkemah kalian. Kita bawa saja ke kastil. Kami bisa menangani ini,” jawab Hans.


Ben tak beranii membantah lagi, demikian juga para pemuda yang lain.


Hans segera bertindak cepat. Jelas ia sangat mengenal Ammar yang sedang terbaring tak berdaya di rerumputan. Ia memerintahkan para anak muda itu untuk segera mengambil tempat masing. Mereka akan mencoba mengangkat tubuh Ammar dengan tali tambang yang dibawa oleh Hans.


Untunglah, Antony paham tali-temali, karena dia pernah menjadi anggota pramuka aktif semasa sekolah. Tangannya begitu cekatan membuat simpul, sehingga terbetuk semacam ikatan yang memungkinkan untk mengangkut seseorang yang terluka.


“Kamu brillian, Antony! Mengapa kamu nggak pernah cerita kalau selama ini pintar membuat simpul seperi itu?” puji Ringo.


“Aku nggak perlu menceritakan itu. Buat apa? Aku hanya mempraktikkan ilmu yang pernah kudapat selama bersekolah. Bukan hanya ilmu menaklukkan cewek saja. Ini adalah ketrampilan hidup yang perlu kalian tahu juga!” ujar Antony sambil menyelesaikan simpul terakhirnya.


“Untungnya ada anak pramuka di antara kita!” gumam Hans.


Setelah semua siap, tubuh Ammar diikat sedemikian rupa. Perlahan, tubuhnya dinaikkan ke atas. Semua bahu-membahu sehingga dalam waktu yang tak terlalu lama, tubuh Ammar sudah naik ke atas. Segera saja ia dibaringkan ke kursi bagian tengah, dengan kepala dipangku oleh Hans. Kursi belakang ditempati oleh Ben, Ringo dan Melly. Antony berdampingan dengan Sonya, segera melarikan mobil ke arah kastil, khawatir nyawa Ammar tak tertolong.


“Untung kalian menemukan dia, sebab kalau tidak bukan tidak mungkin dia akan membusuk di bawah sana!” ujar Hans.


“Kami juga tidak menyangka ada mobil terperosok di dalam jurang sana. Suatu keajaiban dia masih hidup,”kata Antony.


“Kalian mau tahu satu hal? Dia ini adalah seorang polisi yang sedang menyelidiki suatu kasus. Jadi nanti kalian tak perlu khawatir apabila berkemah di sekitar kastil. Kalau ada apa-apa, kalian tinggal pergi ke kastil. Kudengar belakang kastil memang pemandangannya indah, tetapi jarang ada manusia yang singgah di sana. Kalian tau mitos yang beredar di tempat itu?” ucap Hans.


“Stop! Stop! Jangan coba-coba menakuti kami! Kami nggak percaya gitu-gituan!” ujar Ringo sambil tertawa.


“Kalau pembunuh berantai, kalian percaya nggak?” pancing Hans.


“Hahaha! Mana ada pembunuh berantai di kebun teh yang damai seperti ini. Yang ada mungkin pasangan tidak sah yang sembunyi dibalik semak-semak untuk melakukan perzinahah!” gelak Ringo.


“Kalau kalian fakta tentang kastil itu, tentu kalian akan mengurungkan niat pergi berkemah,” seringai Hans.


“Memangnya apa yang salah dengan kastil tua itu? Aku masuk kesana dan melihat arsitektur yang begitu menarik. Aku sangat penasaran dengan apa yang ada di dalamnya. Bolehkan selepas berkemah kami berkunjung? Anggap saja, semacam studi wisata. Aku ingin berpose di depan bangunan eksotis macam itu. Tapi sebelum itu, kamu harus menandatangani novel yang kubawa.” ucap Sonya sambil tersenyum cerah.


“Tidak masalah, Sonya! Bagaimana kalau kita menyendiri saja? Ada yang lebih indah dibanding kastil itu. Kata kalian ada air terjun tersembunyi di belakang kastil. Mengapa tidak kita jelajahi?” tawar Hans.


“Air terjun itu ada di bawah bukit, di balik hutan. Kakakku pernah kesana. Jadi sebenarnya di bawah bukit teh, ada sebuah hutan. Kalau kita masuk ke dalam, kita akan menemukan air terjun itu. Jangan bayangkan air terjun besar seperti Niagara, tetapi hanya air jatuh saja di bebatuan Tapi airnya jernih dan suasananya tenang, jadi kita bisa mandi di sana!” terang Antony.


“Aku tak sabar mandi di sana!” ujar Melly dengan gembira.


“Hmm. Tetap waspada. Pembunuh berantai akan mengintai kalian!” Hans tersenyum tersungging.


***