Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XXXV. The Attic


Ammar dan dr.Dwi menaiki tangga menuju loteng yang gelap untuk memeriksa keadaan. Pengap dan berdebu, itulah kesan pertama yang didapat saat mereka pertama kali menginjakkan kaki di sana. Tumpukan kardus berserakan di mana-mana. Ammar langsung terfokus pada jendela kaca yang sudah berlubang, karena kacanya pecah terhambur. Semilir angin mesuk melalui jendela, megurangi kepengapan yang menyesakkan dada.


Dokter Dwi menemukan sesuatu tergeletak di lantai, kemudian meyerahkan pada Ammar. Sebuah kotak musik berbentuk bulat dengan aksesoris penari balet di atasnya.


“Kotak musik. Kutemukan tergeletak di sana ...,” ujar dr.Dwi.


“Menurutmu apakah ini ada hubungannya dengan kematian Rania?” tanya Ammar.


“Entahlah! Tetapi agak aneh sebuah kotak musik berada di loteng yeng gelap dan pengap ini. Mungkin ada yang memiliki,” ujar dr.Dwi.


“Baik. Nanti akan kubawa. Aku lebih tertarik dengan jendela kaca yang pecahannya tersebar. Rania jelas didorong dari depan. Ia jatuh dalam keadaan terlentang, bukan menelungkup. Itu artinya, ia sempat berbalik dan melihat si pembunuh. Bukan didorong dari belakang. Kulihat pula ada bekas pecahan kaca di punggungnya.” Ammar menerangkan sambil memeragakan gerakan dengan tangan.


“Ya, aku sependapat. Ini memang mengerikan. Yang jadi pertanyaanku, apa yang menarik perhatian Rania hingga ia tertarik masuk ke dalam loteng yang tersembunyi ini?” tanya dr.Dwi penasaran.


“Fakta mengatakan bahwa loteng ini terletak di atas kamar Rania. Mungkin si pembunuh sengaja menarik perhatian dengan bunyian-bunyian tertentu. Atau mungkin dengan kotak musik yang kamu temukan.”


“Ini berarti bahwa Rania memang sudah diincar. Hanya saja kita belum tahu motif tersembunyi dari semua pembunuhan ini. Seolah acak dan tidak terpola. Pembunuhnya bebas menentukan siapa saja yang akan dia bunuh berikutnya.”


“Aku hampir menemukan polanya, Dokter. Dimulai dari kematian pertama, yakni Anggara Laksono, kemudian Karina, Yoga disusul dengan Rania. Coba kamu perhatikan baik-baik! Pola apa yang kira-kira muncul!” terang Ammar.


“Astaga! Ya, aku juga menemukan sebuah pola. Mereka dibunuh berdasarkan gender secara bergantian. Anggara seorang pria, kemudian Karina perempuan, Yoga pria, dan Rania perempuan.”


dr.Dwi tampak sedikit takjub dengan pola yang telah ia temukan barusan. Ia mengerutkan kening, menprediksi apa yang akan terjadi berikutnya.


“Kalau begitu kita harus waspada dengan pembunuhan berikutnya, karena korban mungkin seorang laki-laki. Kita harus memberitahu mereka tentang ini. Jangan sampai jatuh korban lagi!” usul dr.Dwi.


“Kurasa, selama pembunuhnya masih berkeliaran dalam rumah ini, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Semuanya tinggal menunggu waktu saja. Lolos hari ini, belum tentu lolos esok hari. Jadi kupikir aku akan fokus untuk meringkus si pembunuh yang meresahkan ini.”


“Hmm. Baguslah. Oya, aku lupa hari ini ada janji dengan Maira di ruang kerja Anggara. Aku akan menemuinya dahulu.”


Dr.Dwi bergegas turun dari loteng, menuju ruang kerja Anggara, sementara Ammar masih melanjutkan penyelidikan.


Sebelumnya ia telah membuat janji dengan Maira untuk memeriksa luka yang ada di leher karena jeratan kabel tempo hari. Beberapa mengira jeratan ini adalah rekayasa yang dibuat Maira untuk menguatkan cerita bahwa ada seseorang yang mencoba membunuhnya.


Terutama Adrianna. Dia percaya bahwa Maira menebar kebohongan untuk menghindari tuduhan bahwa dia adalah seorang pembunuh. Ia meminta Maira untuk membuktikan ucapannya bahwa ceritanya bukan rekayasa.


Maira sudah menanti kehadiran dr.Dwi dengan duduk di atas sofa dengan gelisah. Begitu dr.Dwi memasuki ruangan, Maira segera memperlihatkan kondisi luka di lehernya. Luka di leher Maira terlihat sudah mulai mengering. Dr.Dwi megamati dengan saksama, kemudian parasnya berubah serius.


“Ini luka gesek antara bahan yang terbuat dari logam dan kulit, kemudian menimbulkan iritasi. Untunglah sudah mengering. Sebab kalau tidak, akan menyakitkan dan tidak enak dipandang mata. Bahkan kalau tidak segera ditangani bisa jadi menjadi borok dan bernanah. Kurasa luka ini sebentar lagi akan sembuh.”


“Aku langsung mencuci dengan alkohol begitu luka ini terjadi. Memang menyakitkan. Tetapi lebih menyakitkan jika semua yang kuceritakan dianggap sebagai kebohongan,” kata Maira.


“Aku tidak menganggap luka ini sebagai kebohongan.”


“Jadi menurutmu aku berbohong atau tidak?”


“Tidak. Karena kalau melihat model luka yang kamu perolah, tak bisa dilakukan dengan tangan sendiri. Luka yang ada di lehermu memerlukan energi yang kuat. Dengan tangan sendiri, itu mustahil untuk dilakukan,” ujar dr.Dwi.


“Wah! Jawaban ini yang sudah kutunggu-tunggu. Aku lelah karena dituduh mengarang cerita. Akan kubuktikan bahwa yang kuceritakan bukan kebohongan! Anda harus dukung aku, Dokter. Bantu aku untuk menjelaskan kebenaran ini. Tak mungkin aku sebodoh ini, membuat luka palsu di leher.”


Maira terlihat berbinar. Perasaan kegembiraan meletup seketika. Ia ingin segera menyerang balik siapa pun yang menuduhnya pembohong.


“Tenang, Maira! Mereka juga tidak sepenuhnya bersalah. Keadaan mereka sekarang depresi terkurung dalam rumah ini. Bayangkan! Satu-persatu penghuni tewas secara mengenaskan, sementara mereka tak bisa keluar dari sini. Sedangkan si pembunuh masih berkeliaran. Apa yang bisa mereka lakukan?“


“Iya dokter, tentu saja aku paham itu.”


Pertemuan dengan Maira cukup singkat. Dokter Dwi merasa cukup lelah hari ini, karena seharian memeriksa jasad Rania, dan juga ikut memeriksa loteng bersama Ammar. Ia membutuhkan waktu sebentar untuk meminum teh atau bersantai di ruang baca.


Sebenarnya ia juga cukup tertekan dengan keadaan yang sedang terjadi. Hanya saja, ia berpura-pura tetap tenang agar tak menimbulkan kepanikan para penghuni lain. Kalau saja boleh memilih, ia akan kembali ke kota dan melaksanakan pekerjaan di rumah sakit. Sayangnya, kini tenaganya dibutuhkan di kastil ini.


Setelah membuat secangkir teh bercampur lemon, dr.Dwi pergi ke ruang baca untuk mencari beberapa referensi buku tentang kesehatan. Sebelum masuk ruang baca, ia bertemu dengan Michael yang baru saja keluar dari sana.


“Aku sedang mencari beberapa novel karyaku sendiri, tetapi sayangnya tak ada. Pembunuh itu benar-benar mengoleksi tulisanku, untuk meniru teknik pembunuhan dalam novel. Ini gila!” keluh Michael pada dr. Dwi.


“Kusarankan untuk bekerjasama dengan Ammar, agar penyelidikan ini semakin cepat. Kalau kalian berjalan sendiri-sendiri, maka fakta yang kalian dapatkan juga akan berbeda. Bisa jadi kalian akan mencurigai orang yang berbeda,” saran dr.Dwi.


“Masalahnya adalah, Ammar tak mempercayaiku, malah cenderung meremehkan. Aku lelah berdebat dengannya. Dia bahkan bilang aku adalah tersangka juga. Kubiarkan saja dia berkutat dengan teorinya, sambil melihat korban terus berjatuhan. Selamat sore, Dokter! Semoga harimu menyenangkan!”


Michael meninggalkan dr.Dwi dengan gusar. Persaingan antara polisi sebenarnya dengan penulis cerita detektif itu kian meruncing. Masing-masing dari mereka ingin terlebih dahulu menangkap si pembunuh.


Dokter Dwi menyusuri rak khusus buku-buku referensi. Di deretan buku tentang ilmu kedokteran dan kesehatan, ia menemukan beberapa judul yang menarik, sehingga ia tertarik untuk mengambil dan menumpuknya di atas meja untuk dibaca nanti. Ia kembali mencari judul lain yang sekiranya menarik untuk dibaca.


Saat mencari judul buku, tiba-tiba ia tertarik dengan sebuah lukisan kecil yang mengingatkan pada suasana masa kecil dahulu. Sebuah gambar gunung dan sawah, dilukis dalam sapuan cat minyak yang sedikit kusam warnanya. Lukisan itu tergantung agak tersembunyi di balik rak khusus buku sains dan kedokteran. Ia mendekati lukisan itu sambil tersenyum, kemudian mengambil dan diamati dengan saksama.


Namun sesuatu di balik lukisan itu lebih menarik perhatiannya. Sebuah tuas aneh berbentuk tulang manusia. Ia bingung, ada semacam tuas di balik lukisan? Secara iseng, ia tarik tuas itu ke samping, dan sesuatu yang mengejutkan terjadi!


***