Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
257. Dihadang


Melani masih ragu-ragu untuk membuka pintu itu. Namun kemudian ia berpikir, kalau bukan Faishal yang mengetuk pintu, siapa lagi? Segera ia buka pintu. Namun, ia tak mendapati siapa pun di depan pintu. Tentu saja hal itu sangat mengejutkan. Melani menjadi bingung. Rasa takut merayap seketika.


"Shal?" panggil Melani takut-takut.


Pangilan Melani itu tak berbalas. Lampu sudah menyala, kini Melani bisa melihat ruangan dengan jelas. Sayangnya, ia tak melihat ada seorang pun di sektar kamar, semuanya tampak lengang. Ia jadi bingung.


"Shal, jangan bercanda dong!" ucap Melani.


Diam-diam ia merasa cemas juga. Ia melangkah keluar kamar, berniat mencari Faishal. Ia penasaran dengan seseorang yang mengetuk pintu tetapi menghilang begitu saja.


"Shal, kamu di mana?" tanya Melani lagi.


Ia beranjak ke ruang tengah. Villa itu sangat lengang. Melani merasa agak takut berada di ruang itu sendirian, sehingga berniat kembali ke kamar segera. Ia melangkah tergesa hendak ke kamar, namun tiba-tiba ia merasakan sepasang tangan memegang pundaknya.


"Huaa!!"


Melani terpekik karena kaget. jantungnya terasa bergeser dari tempatnya. Ia menoleh ke belakang mendapati Faishal yang tertawa cekikan melihat ekspresi wajahnya yang pucat ketakutan. Melani sontak merasa jengkel dan marah, memukul-mukul tubuh Faishal yang masih tertawa puas di atas ketakutannya.


"Kurang ajar kamu! Gimana kalau aku mati karena serangan jantung? Nggak lucu tau! Becandamu kelewatan. Udah tau kita lagi di tempat sepi seperti ini masih saja becanda seperti itu. Nggak lucu!" semprot Melani.


"Iya ... iya, maaf. Habisnya kamu penakut banget. Baru ditinggal sebentar aja sudah kaya gitu. Aku tadi lihat diesel memang mati, nggak tau juga kenapa. Mungkin alat itu sudah mulai rusak. Jadi kunyalakan lagi," kata Faishal.


"Aku hampir jantungan tahu. Awas kalau diulangi lagi! Aku nggak akan pernah kumaafkan!" Melani mulai merajuk.


"Iya deh, maaf. Yang penting kan lampu sudah menyala," ucap Faishal.


"Iya deh, yang penting malam ini kita nggak gelap-gelapan. Lain kali jangan suka main ketok-ketok pintu. Udah gitu ditanyain nggak bersuara lagi," keluh Melani.


"Ketuk pintu? Siapa juga yang ketuk pintu? Aku kan dari belakang langsung ke ruang tengah ini, belum ke kamar aku mah," ucap Faishal.


"Nah kan, bohong lagi. Udah jelas tadi kamu ketuk-ketuk pintu. Aku panggil namamu tapi kamunya nggak nyahut. Bikin jengkel kan?" ujar Melani dengan kesal.


"Eh, seriusan aku nggak ada ketuk pintu loh, Mel. Kamu kali yang becanda. Aku nggak ada ketuk pintu. Serius!"


"Terus siapa yang ketuk pintu? Hantu gitu? Memang ada hantu ketuk pintu?" tanya Melani dengan mata melotot ke arah Faishal.


"Iya beneran, Mel! Aku nggak ketuk pintu," sanggah Faishal dengan paras serius, karena ia memang tidak merasa mengetuk pintu.


"Ah sudahlah! Males aku. Mending kita tidur aja biar besok bisa bangun pagi terus jalan-jalan di sekitar sini. Gimana?"


"Okelah! terserah kamu saja. Besok habis jalan-jalan masak sarapan ya. Aku udah lama nggak sarapan dengan makanan rumahan."


Keduanya segera beranjak menuju kamar tidur. Dalam hati, Faishal bimbang juga tentang ucapan Melani. Ia masih berpikir, siapa yang mengetuk pintu? Adakah orang lain di dalam villa? Ia berpikir ketukan pintu itu hanya halusinasi Melani semata. Biasanya orang yang takut suka membayangkan hal-hal aneh.


Sesampai di kamar, mereka tak langsung tidur. Mereka hanya berbaring sambli memejamkan mata, berusaha untuk tidur. Namun, Faishal jadi susah tidur, karena sebenarnya tadi sudah pulas, tetapi dibangunkan oleh Melani.


"Udah tidur, Shal! Aku tahu kamu belum tidur," gumam Melani.


"Aku jadi nggak bisa tidur," keluh Faishal.


"Nggak apa-apa kok! Ya sudah kita tidur saja, biar besok bisa bangun pagi," ucap Faishal kemudian.


***


Malam sudah merapat ke dini hari. Suasana kota semakin sepi, karena warganya terlelap dibuai suasana sejuk. Kota seolah mati, tak ada aktivitas apa pun di luar. Namun, di sebuah rumah megah, Ollan kembali merasa bosan luar biasa, karena dia ditinggal sendirian di dalam rumah besar milik Henry itu. Para pemiliknya pergi ke luar entah kemana, hanya dia sendirian yang berada di sana.


Ia mencoba menghubungi nomor Henry, tetapi nomornya sengaja dimatikan. Ollan merasa kesal. Ternyata pindah ke rumah Henry tak mengurangi rasa bosannya. Ia tak bisa tidur, berusaha menghubungi nomor kawannya, tetapi terabaikan karena malam memang sudah sangat larut.


Karena di rumah Henry tak ada penjagaan, ia segera memesan taksi online untuk sekadar berjalan-jalan menikmati udara malam. ia sadar malam sudah teramat larut, tetapi ia merasa malas sendirian di rumah besar itu. Apalagi ia sama sekali tidak merasakan kantuk. Pokoknya ia ingin keluar malam ini.


Ia biasa mengunjungi sebuah kelab malam di kawasan pinggiran kota yang buka sampai dini hari.  Di sana banyak orang-orang yang berusaha melarikan diri dari rutinitas yang padat. Ollan ingin menghilangkan kepenatan sejenak di tempat itu, sambil menenggak minuman beralkohol. Ia berpikir, karena malam telah larur, jadi aman saja ia keluar.


Ia menunggu selama 30 menit sampai sebuah taksi menjemputnya. Ia segera masuk ke dalam taksi, menginformasikan pada sopirnya ke tempat tujuan. Sopir taksi itu hanya tersenyum melihat tingkah Ollan.


"Jam segini baru mau keluar, Mbak?" tanya sopir taksi itu.


"Mbak? Jangan sembarangan ya!" semprot Ollan.


"Oh, maaf!" Sopir taksi itu mengulum senyum.


Ollan membuang muka, memandang ke arah jendela mobil. Suasana di luar sudah sangat sepi, seperti tak ada kehidupan. Toko-toko sudah tutup, nyaris tak ada satu pun orang di jalan raya. Tiba-tiba ia melihat dari kaca spion ia merasa dibuntuti sebuah mobil. Sontak Ollan merasa curiga.


"Agak cepat ya, Pak!" perintah Ollan pada sopir taksi, sambil menoleh ke belakang dengan cemas.


"Kenapa memangnya? Lagi bikin janji dengan seseorang?" tanya sopir taksi.


"Iya, cepat ya Pak!"


Ollan mulai gelisah, sambil berkali-kali melihat ke belakang. Mobil yang membuntuti, makin lama makin dekat, bahkan seperti hendak menyalip. Saat tiba di jalan yang sepi, mobil yang membuntuti itu tiba-tiba menyalip serta memotong jalan taksi yang ditumpangi Ollan.


Sontak pengemudi taksi merasa kaget. ia membanting setir ke kanan untuk menghindari agar tak bertabrakan, akibatnya mobil taksi hampir menabrak tiang listrik. Untung pengemudi taksi segera sigap. ia menginjak rem kuat-kuat sampai menimbulkan bunyi berdecit. Ollan terlonjak dari tempat duduknya. Mobil yang memotong jalan itu berhenti.


Sopir taksi itu kelihatan marah karena dipotong jalannya. Ia segera turun dari mobil, mendekati mobil yang berhenti di depannya.


"Pak, jangan turun Pak!" cegah Ollan.


Sayangnya, ucapan Ollan itu tak digubris oleh si pengemudi taksi. Ia tetap turun dan melangkah penuh percaya diri. Ollan menjadi cemas, Ia ingin kabur dari taksi, tetapi kemana juga ia mau pergi. Dari dalam mobil ia melihat si penghadang turun, kemudian bicara serius dengan pengemudi taksi itu. Ollan kaget, karena ia mengenali si penghadang itu.


"Aduh mati aku!" keluhnya.


Tak lama, si penghadang mendekati taksi, sedangkan si pengemudi taksi hanya diam saja, tak berbuat apa-apa. Si penghadang membuka pintu taksi, menatap tajam ke arah Ollan yang duduk dengan paras kesal.


"Kamu tak bisa lari kemana-mana. Malam ini juga kamu kami bawa!"


***