Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LXXX. Trip to The Castle


Mobil yang ditumpangi Reno dan Dimas menyusuri jalanan berliku yang membelah perbukitan. Sepanjang jalan mereka hanya melihat hamparan kebun teh yang luas, tak ada rumah penduduk atau tanda-tanda kehidupan. Di beberapa bagian, terlihat jurang menganga cukup dalam, dengan rimbun pepohonan yang rapat.


“Sepertinya kita ini sedang menuju dunia lain. Dunia yang teramat jauh dari peradaban,” ujar Dimas sambil menikmati sisa kue basah yang berada dalam bungkus plastik.


“Tempat terpencil seperti ini adalah tempat sempurna bagi seseorang untuk melakukan tindak kejahatan, menyembunyikan barang bukti, atau menyembunyikan korban kejahatan. Sekarag coba kamu bayangkan! Apabila ada seseorang dibunuh di sekitar tempat ini, kemudian mayatnya dimasukkan ke dalam karung, dan di lempar ke dalam jurang sana, siapa yang akan tahu?” Reno berspekulasi.


“Benar. Tetapi ada pengecualian ....”


“Apa itu?”


“Kalau saja ada saksi mata suatu tindak kejahatan, tentu akan mudah dilacak. Sekalipun ada korban dibuang ke dalam jurang sana, tetapi kalau ada saksi mata dengan siapa korban terakhir bertemu, tentu akan menjadi cerita lain,” sanggah Dimas.


Reno hanya tersenyum sedikit.


“Ya. Itu agak mengerikan. Dan tentu saja aneh. Menurutmu apakah di dalam kastil itu ada suatu tindak kejahatan? Aku mencium aroma busuk dari sana. Semacam hal jahat yang sudah ditimbun selama bertahun-tahun. Aku kemarin memeriksa arsip-arsip lama, dan menemukan fakta bahwa Anggara Laksono mungkin bertanggung jawab atas menghilangnya beberapa penulis di masa lampau, dan menghilangnya penulis terkenal Madeline Rahma. Penulis itu yang menulis buku biografi Anggara Laksono, kemudian menghilang saat buku itu diterbitkan,” ujar Reno.


“Terdengar mengerikan. Lalu mengapa kasus itu tidak dilanjutkan? Apakah tidak ada seorang polisi pun yang tertarik membongkar kasus ini? ”


“Entahlah. Polisi tidak mempunyai cukup bukti untuk meringkus Anggara. Tetapi setelah kupikir dalam-dalam, bukan itu penyebab utamanya.”


“Lalu apa?”


“Anggara Laksono adalah ba*jingan kaya-raya yang berpengaruh di segala kalangan. Pada masa lampau, Anggara punya hubungan cukup erat dengan kepolisian. Ditambah banyak polisi korup waktu itu. Tentu saja, dengan sejumlah uang dapat membungkam kasus-kasus Anggara tertutup selama bertahun-tahun,” terang Reno.


“Astaga! Darimana kamu tahu semua itu, Reno? Aku nggak pernah tahu kalau reputasi kepolisian kita di masa lalu begitu buruk,” ucap Dimas terheran.


“Riset. Aku melakukan riset kecil-kecilan dari data-data yang kukumpulkan dari internet selama kurun waktu dua puluh tahun terakhir, serta melihat foto-foto yang banyak beredar. Pada salah satu foto itu, Anggara Laksono pernah mengadakan sebuah pesta besar di salah satu hotel mewah, dan mengundang semua anggota polisi untuk berpesta. Menurutmu apa tendensi di balik semua itu?”


“Luar biasa!”


“Nah, dari data-data yang kudapat itu aku menyimpulkan bahwa ada suatu rahasia besar yang disembunyikan Anggara dalam kerajaan kecilnya itu. Sebuah kastil tua yang jauh dari peradaban. Jangan heran mungkin di sana nanti kita akan menemukan hal yang mengejutkan,” ucap Reno.


“Bagaimana kalau si tua itu menyuap kita dengan uang atau mungkin menghalang-halangi penyelidikan ini?”


“Tak masalah. Aku bukan polisi baik, tetapi aku tidak korup. Aku tidak menerima suap, seberapa pun yang ditawarkan kepadaku. Aku akan menuntaskan kasus ini hingga tuntas,” tambah Reno.


“Bagus! Aku mendukungmu!”


“Dan satu fakta lagi!”


“Apa itu?”


“Kemarin saat aku membuka arsip tentang detektif panutan kita, Ammar Marutami, aku menemukan fakta mengejutkan bahwa istri Ammar adalah keponakan dari Anggara Laksono.”


“What the...Are you fu*king serious?”


“Ya. Sangat serius Dim. Sebentar lagi kita akan masuk dalam pusaran ini. Persiapkan dirimu baik-baik. Karena mungkin yang kita hadapi bukan orang sembarangan!”


Dimas terdiam, masih larut dalam rasa takjubnya. Begitu banyak yang rahasia yang tidak ia tahu. Ini adalah pengalaman baru dalam sejarah karirnya. Ia tak sabar menunggu kesempatan untuk membongkar kejahatan kelas atas yang penuh intrik.


***


Ben merasa tidak betah berada dalam kamar sepanjang hari. Selepas sarapan, ia keluar dari kamar untuk melihat sekeliling. Suasana kastil terlihat sepi dan sedikit mencekam. Ia beranikan diri untuk menyusuri halaman belakang. Matanya tertuju pada bekas reruntuhan gudang yang terbakar. Sisa-sisa kayu yang menjadi arang dan barang-barang yang terbakar masih berserak. Ia heran, kebakaran ini sepertinya terjadi dalam waktu belum begitu lama. Ia masih bisa mencium aroma arang yang baru saja terbakar. Ia memungut sebuah pipa besi yang hangus, sambil menerka apa gerangan yang terjadi di tempat ini.


“Bangunan ini dulunya sebuah gudang ....”


“Oh, maaf Pak. Saya hanya melihat-lihat. Tidak bermaksud apapun,” ujar Ben ragu-ragu.


“Tak apa. Aku hanya menyayangkan kamu berada di tempat ini. Seharusnya saat ini kamu berada di kamar pribadi di kota sambil mendengarkan K-pop atau band kesukaanmu. Percayalah, di sini bukan tempat yang baik buatmu.” Michael menerangkan sambil menatap Ben dengan iba.


“Apa ... apa yang sebenarnya terjadi di sini?” tanya Ben.


“Aku yakin kamu nggak ingin tahu. Terlalu rumit untuk diceritakan dan mungkin akan mengganggu pikiranmu. Saranku, apapun yang terjadi tetaplah berada di kamarmu, kalau perlu kunci pintu. Keindahan tempat ini adalah kepalsuan belaka. Di balik ini semua ada kegelapan yang menyelimuti,” ucap Michael.


“Tapi ini membuat aku penasaran. Apa ini ada hubungannya dengan pondok kayu di dalam hutan itu?”


“Pondok di dalam hutan? Apa yang sedang kamu bicarakan?” tanya Michael sambil mengernyitkan dahi.


“Anda tidak tahu?”


Michael menggeleng, kemudian berujar,”Katakan padaku, Nak! Apa yang kamu temukan di hutan!”


Ben menghela napas. Ia menceritakan apa yang sudah ia lihat dalam hutan. Sebuah pondok kayu usang, dengan sebuah peti berisi kerangka manusia, serta identitas buram bertuliskan nama MAD.


“Mad? Mad ... Mad. Nama ini sepertinya tak asing. Mad ....” Michael berusaha mengingat.


“Entahlah. Mungkin bisa jadi tidak berarti apapun. Lupakan saja. Mungkin aku salah. Mungkin kerangka manusia itu adalah kerangka orang bunuh diri atau orang gila. Maaf karena telah bercerita padamu,” ucap Ben.


“Aku sekarang penasaran. Sepertinya aku harus melihat sendiri ke sana,” ucap Michael.


“Jangan!”


“Kenapa?”


“Oh, maksudku ... maaf. Aku tidak berniat menghalangi, tetapi suasana di pondok itu sangat mencekam menurutku. Dia cukup tersembunyi di balik pepohonan dan semak. Kurasa bukan ide yang bagus untuk ke tempat itu. Makanya aku pindah ke kastil ini karena alasan itu juga,” kata Ben.


“Kamu tidak mengerti, Nak. Di kastil ini juga sama menyeramkan. Tapi baiklah. Aku akan menunda kepergianku ke sana, walaupun aku sangat penasaran dengan nama MAD yang kamu sebutkan tadi. Mungkin setelah ini aku akan mencoba mencari info lagi tentang ini.”


“Maaf. Aku mau menanyakan sesuatu ....”


“Apa yang ingin kamu tanyakan?”


“Apakah Anda ini polisi?”


Michael tersenyum sambil menggeleng.


“Menurutmu?”


“Aku tidak tahu. Karena kudengar ada polisi juga di kastil ini. Tapi saat ini aku hanya menemukan penulis-penulis saja.”


“Astaga! Kalau begitu aku memang penulis yang belum terkenal. Aku Michael Artenton, penulis novel detektif, tetapi bukan polisi. Kamu benar, memang ada polisi, tapi saat ini ia sedang cedera kaki hingga harus beristirahat.”


“Terima kasih informasinya,” ucap Ben ragu-ragu.


“No problem!”


Michael meninggalkan Ben yang sedang gelisah. Ia menatap berkeliling. Bangunan tua ini seperti menyimpan misteri yang mencekam. Mungkin penulis itu benar, saat ini ia tak seharusnya ia berada di tempat ini.


***