Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
235. Analisis Niken


Silvia tersenyum penuh arti, membuat Reno makin penasaran. Pikirannya terasa tidak nyaman, khawatir kalau Niken mengarang cerita yang bukan-bukan. Namun, ia yakin Silvia adalah wanita yang cerdas, dan bisa menyaring mana yang benar dan mana yang salah.


"Cukup lama kami mengobrol," terang Silvia.


"Oh, baguslah kalau kalian akrab. Niken adalah rekan kerjaku yang baru," ucap Reno.


"Akrab? Kurasa tidak, Ren. Kami hanya mengobrol biasa, dan aku bisa menangkap arah pembicaraan rekan kerja barumu itu. Ada sesuatu yang ia inginkan," kata Silvia.


"Jadi apa yang kalian bicarakan?" tanya Reno.


"Jangan khawatir, Ren. Aku tidak mengumbar aib kepada wanita itu. Malah aku bersikap waspada. Kami baru saja bertemu dan ia sudah banyak bertanya. Kurasa itu bukan sesuatu yang normal. Namun aku juga bukan orang yang tidak ramah, jadi tetap saja ia kulayani dengan baik," ucap Silvia.


"Terima kasih, Sil! Kuharap bukan sesuatu yang penting yang kalian bicarakan," ucap Reno.


"Penting sih tidak. Dia banyak bertanya tentang seputar kasus pembunuhan yang sedang kamu hadapi. Aku jawab saja apa yang kutahu dan yang pernah kamu ceritakan padaku," ujar Silvia.


"Seperti apa misalnya?" selidik Reno.


"Ia bertanya tentang siapa yang kemungkinan kamu curigai dalam kasus pembunuhan Daniel dan Anita. Tentu saja aku jawab tidak tahu, karena kamu memang tidak pernah memberitahuku akan hal itu. Lagipula, aku tidak mau turut campur dengan urusan pekerjaan. Jadi kuabaikan saja pertanyaan itu. Ini agak mengherankan, mengapa dia banyak bertanya kepadaku? Mengapa tidak langsung kepadamu. kalian ada masalah?" tanya Silvia.


"Tidak. Malahan saat ini kami bekerjasama memecahkan kasus pelik ini," ucap Reno.


"Kurasa tidak Ren! Aku melihat hal yang aneh. Wanita itu seperti sedang mengincar sesuatu."


"Mengincar sesuatu? Kamu yakin? Apa yang bisa diincar dari aku ini?" tanya Reno.


Silvia hanya bisa mengangkat bahu. Tiba-tiba Reno teringat akan sesuatu. Kertas ancaman yang dikirim melalui kurir ia simpan di dalam laci dekat rak TV. Ia khawatir kalau-kalau Niken mengambil kertas itu, padahal ia belum selesai memecahkan isi teka-teki dalam kertas itu, karena kesibukannya yang padat.


Segera ia beranjak dari tempat duduknya untuk memeriksa laci di dekat TV. Ia membongkar isi laci dengan serius.


"Apa dia membuka-buka lemari atau laci?" tanya Reno.


"Tidak. Dia mengobrol saja denganku. Hanya saja aku sempat membuatkan teh di dapur, jadi aku tak tahu apa yang ia lakukan di ruangan ini selama aku berada di dapur," ucap Silvia.


"Tepat! Ia mengambil kertas teka-teki itu!"


Paras Reno berubah kecewa dan marah, sementara Silvia yang berada di rumah seharian juga merasa heran. Ia tidak menyangka kalau gadis itu bakalan nekat mengambil sesuatu yang penting dalam pembunuhan ini.


"Aku ... aku tidak tahu kalau dia bakalan menggeledah isi laci dan mengambil sesuatu yang penting. Aku ... aku benar-benar minta maaf, Reno," kata Silvia.


"Tidak, Sil! Kamu nggak perlu nyalahin diri sendiri kayak gitu. Yang salah bukan kamu, tapi Niken. Oke, kukatakan padamu bahwa Niken merasa kecewa karena aku tidak banyak melibatkan dia dalam memecahkan kasus ini. Tapi aku melakukan hal itu bukan tanpa alasan. Dia beberapa kali berbuat ceroboh, jadi kupikir aku belum berani membebankan kasus ini kepadanya," ungkap Reno


"Jadi gimana ini? Bukankah dalam kertas tertera ciri-ciri korban yang hendak dibunuh?"


Silvia merasa bersalah. Tak dapat dipungkiri, keberhasilan Niken mengambil dokumen itu juga karena ia sedikit lengah. Silvia merasa harus ikut bertanggungjawab untuk mendapatkan kembali kertas itu. Parasnya menampakkan kecemasan, tetapi Reno hanya menggeleng berusaha menenangkan.


"Ya, sebenarnya tidak ada masalah juga kalau dia berusaha memecahkan teka-teki itu. Tetapi aku khawatir akan terlambat, karena kami hanya punya waktu besok. Kalau sampai besok kami tidak bisa memecahkan teka-teki itu maka akan ada lagi korban jatuh. Aku akan menelepon Niken sekarang!"


Reno segera melakukan pemanngilan terhadap Niken melalui ponsel, tetapi rupanya tidak diangkat. Berkali-kali ia melakukan itu, tetapi panggilanynya tak direspon oleh Niken. Ia hanya menggelengkan kepala, kemudian menatap wajah istrinya yang sedang cemas.


"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja," kata Reno sambil membelai lembut pipi Silvia.


"Aku ... aku minta maaf. Seharusnya aku tidak mengizinkan perempuan itu masuk," lirih Silvia.


"Aku akan mencari Niken. Rasanya aku tahu ada di mana malam ini. Sepertinya malam ini aku tidak tidur di rumah. Aku harus mengejar waktu untuk mencari Niken, karena teka-teki itu sangat penting dan harus diselesaikan segera. Paling tidak aku harus tahu siapa korban yang sedang diincar psikopat ini," ucap Reno.


***


Malam belum begitu larut. Suara musik mengalun lembut memanjakan telinga. Niken menikmati secangkir kopi di sebuah cafe yang berlampu temaram sambil mengamati kertas bertuliskan teka-teki keempat, yang berhasil ia ambil dari rumah Reno. Ia sangat penasaran dengan tulisan itu, karena selalu berkaitan dengan korban yang akan diincar berikutnya.


"Kata kuncinya adalah Ratu Kegelapan .... " Ia bergumam.


Ia membuka-buka data dari internet, mencari segala sesuatu yang berkaitan dengan kata 'ratu kegelapan'. Banyak data yang ia telusuri, tetapi kebanyakan tidak relevan dengan kasus yang sedang mereka hadapi. Kemudian ia mencocokkan kembali dengan data-data para tersangka yang mungkin terlibat dalam kasus pembunuhan sebelumnya. Ia menyingkirkan semua data pria, karena ia menduga kata 'ratu' di sini terkait dengan seorang perempuan.


"Oke ... oke. Total ada 5 perempuan di sini. Ada Rianti, Renita, Laura, Widya, dan Anita. Satu sudah mati, jadi aku akan singkirkan satu."


Niken mencoret data Anita, dan memeriksa empat nama yang tersisa. Ia berusaha menganilisis satu-persatu nama-nama yang mungkin akan dijadikan incaran oleh si pembunuh. Yang pertama, ia mengamati nama Rianti.


"Seorang ibu rumah tangga muda, sosialita terkenal. sedang ada masalah dengan suaminya, Hmm ... ratu kegelapan? Mungkin bukan dia," gumam Niken. Ia mencoret nama Rianti, kemudian beralih ke nama berikutnya.


"Widya, seorang make-up artist. Gadis muda yang belum punya pacar, periang, dan tak terlalu terkenal. Ratu kegelapan? Bukan sepertinya .... "


Kembali ia mencoret nama Widya dari dalam daftar. Ia hendak menganalisis nama ketiga, ketika tiba-tiba seseorang datang. langsung duduk di hadapannya. Ia menatap tajam ke arah polisi wanita itu.


"Tak ada polisi yang mengambil secara diam-diam. Lalu apa bedanya dengan pencuri?" ucap seseorang yang baru datang itu.


Niken terkesiap. Ia tidak menyangka kalau keberadaannya diketahui. Memang, ia biasa minum kopi di Cafe ini, tentu saja untuk mencari keberadaannya bukanlah sesuatu yang sulit. Parasnya merona, tak tahu harus berkata apa.


"Lanjutkan saja hasil analisismu, aku mau melihat sejauh mana kemampuanmu menganalisis!"


***


Ollan tak tahu kemana Dimas membawanya pergi. Mobil yang mereka tumpangi mbergerak ke sisi lain kota yang dikenal area pinggiran yang terabaikan. Ollan sedikit cemas. Ia sama sekali tidak menduga kalau ia akan dibawa ke tempat seperti ini.


"Anda akan menempatkan saya di kawasan ini?" tanya Ollan dengan cemas.


"Ya, apa kau takut?" tanya Dimas sambil terus menyetir.


"Bukankah ini kawasan terpinggirkan yang biasanya dihindari?" tanya Ollan lagi.


"Iya, ini memang kawasan pinggiran kota yang sudah tidak asing lagi. Tetapi, bukankah ini lebih aman daripada kau berada di rumah kos tengah kota yang sangat mudah dilacak? Kujamin di sini kamu akan aman, walau suasananya mungkin sedikit berbeda. Kamu harus membiasakan hidup dalam lingkungan keras, bukan lingkungan glamour seperti yang kamu jalani saat ini. Terbiasalah mendengar kata kasar dan melihat darah!" saran Dimas.


Ollan bergidik mendengar penuturan Dimas. ia masih tak habis pikir, kemana polisi ini akan memindahkannya. Ia menahan napas, ketika mobil berhenti di tepi jalan.


"Bukankah ini adalah ....?" tanya Ollan.


"Kamu benar, Ollan! Ini adalah Kampung Hitam. Mulai sekarang kamu akan tinggal di kampung ini sementara!"


***