
Sedan putih berhenti di tepi jalan raya di pinggiran kota, yang merupakan kawasan padat penduduk. Rumah-rumah seadanya. dibangun berjejal saling berhimpitan. Kawasan ini adalah kawasan paling kumuh di kota, tempat para pengangguran, pekerja kecil, pekerja sek*s komersial, dan pemulung bermukim. Bahkan di antara mereka ada yang menekuni profesi sebagai penjahat-penjahat kecil. Beberapa rumah sengaja disewakan untuk tempat tinggal sementara. Rumah berukuran kecil, dan tak layak huni yang berjajar di sepanjang gang sempit.
Kawasan itu dinamakan sebagai Kampung Hitam oleh penduduk kota, karena reputasinya yang kurang bagus. Banyak orang yang tidak mau berkunjung ke kawasan buruk itu dengan berbagai alasan. Mereka takut terpengaruh hal-hal yang tidak baik di sana.
Sosok berpakaian hitam di dalam mobil memalingkan muka ke arah Nayya, sembari tersenyum.
“Untuk sementara kamu akan tinggal di daerah ini. Aku akan melepas ikatanmu, dan jangan coba-coba berteriak minta tolong. Di sini adalah kawasan penjahat. Orang tidak akan peduli dengan teriakanmu. Mereka sudah terbiasa melihat kejahatan. Tindakan bodohmu hanya akan menjadi bahan tertawaan mereka!”
Sosok itu melepas ikatan di tangan Nayya, kemudian membuka pula sumpal di mulutnya. Nayya gemetar. Ia ingin mengucap sumpah serapah, tetapi entah kenapa ia tidak punya daya untuk itu. Si sosok segera mencengkeram lengannya untuk keluar mobil. Mereka melangkah memasuki gang sempit yang cukup ramai. Banyak anak-anak berbaju lusuh melewati gang, siap berangkat mengasong dan mengemis di kawasan perkotaan.
Mereka berdua berjalan beriringan seolah tak terjadi apa-apa. Nayya merasa cengkeraman kuat di lengannya. Matanya memancarkan kecemasan, sambil melihat lokasi sekeliling. Apa yang diucapkan sosok itu benar. Gang itu cukup ramai, tetapi tak seorang pun peduli dengannya. Para pria duduk di teras sambil mengembuskan rokok dari bibir-bibir mereka yang menghitam, sambil ditemani wanita berpakaian setengah telanjang tanpa malu. Nayya merasa terjebak dalam lubang gelap penuh kejahatan. Ia hanya pasrah.
Sosok itu membawanya di sebuah rumah kecil yang diapit rumah-rumah lainnya. Begitu masuk, suasana pengap langsung menyergap. Sepertinya rumah itu lama tak ditempati. Lantainya kotor dan berdebu, tak ada meja ataupun kursi layak, hanya sebuah kursi kayu dan meja tua. Sebuah ranjang model lama, dengan sprei usang juga melengkapi isi ruangan. Di sana-sini terdapat sisa kond*om bekas pakai yang terlihat dikerumuni semut, sangat menjijikkan. Botol-botol sisa minuman keras berserak di sana-sini. Nayya berasa ingin muntah melihat semua itu.
“Kamu tinggal di sini dulu. Nanti siang aku akan kembali untuk membawakanmu makanan. Kita lihat sepeduli apa teman-teman atas kehilanganmu. Rumah ini sengaja kusewa selama sebulan ke depan. Kondisinya agak berantakan karena sering disewa banyak pria hidung belang. Aku akan kembali beraktivitas. Jangan mencoba untuk kabur, karena percuma! Di luar banyak pria jahat. Salah-salah nanti kau malah diperkosa oleh mereka.”
Sosok itu meninggalkan Nayya sendirian di rumah itu sendirian, dengan sebotol air mineral dan sebungkus nasi yang dibeli tadi pagi di depan pasar. Sosok itu mengunci Nayya dari luar. Nayya menangis sepeninggalnya. Ia menatap kepergian sosok itu dengan pilu. Ia merasa jijik dengan situasi sekitar. Banyak kecoa merayap di tembok, membuatnya bergidik. Ia ingin duduk di tepi ranjang, tetapi sangat jijik. Ia hanya duduk di sebuah kursi kayu usang yang ada di sudut ruangan.
"Maafkan aku, Mah!" gumamnya.
***
Berita kehilangan Nayya segera menyebar di lingkungan kampus bak api membakar dedaunan kering. Tak seorang pun merasa melakukan kontak terakhir dengan dia. Lena dan Miranti membicarakan masalah itu sambil menikmati es doger abang-abang yang berjualan di depan kampus. Mereka gusar dengan berita hilangnya Nayya.
“Menurutmu Nayya beneran hilang nggak sih?” tanya Lena.
“Nggak tau juga sih. Kan belum ada 24 jam. Seseorang belum bisa dinyatakan hilang kalau belum melampaui batas waktu itu. Lagian bisa jadi kan Nayya pergi nginap ke rumah siapa gitu. Dia kan agak murahan,” jawab Miranti sambil tergelak.
“Kali aja disembunyiin Rudi di hotel mana gitu kali ya. Kasian amat tuh cewek.”
“Lebih kasian si Rasty sebenernya. Dia dimainkan perasaannya oleh Rudi. Sekarang lihat apa yang terjadi. Jenny dibunuh, Nayya menghilang. Berikutnya siapa? Sepertinya cewek-cewek yang dekat dengan Rudi semua menghilang,” ucap Miranti.
“Hmm. Kok aku curiga ya sama Rasty. Masa sih dia sejahat itu?”
“Mungkin saja. Orang itu bisa melakukan segala hal kalau dibutakan oleh perasaan. Kecemburuan seseorang yang sudah mencapai puncak, tentu memicu perbuatan yang bahkan di luar nalar. Ada loh yang kayak gitu,” terang Miranti.
“Buset! Kamu ngomongnya kayak psikolog aja!”
Tengah asyik mengobrol, tiba-tiba Gerry datang dengan paras cemas. Lena merasa malas dengan kehadiran Gerry, ia pura-pura tak melihat kehadirannya.
“Nayya beneran hilang loh!” kata Gerry.
“Tadi pagi aku dapat kabar dari Rudi katanya ponsel Nayya nggak bisa dihubungi, terus orang tua Nayya telepon sambil nangis-nangis gitu. Mereka nanya apakah ngelihat Nayya?”
“Trus apa jawab Rudi?”
“Rudi bilang sih kalau malam itu ia lagi nggak bersama Nayya, karena dia sibuk bermain game di rumahnya.”
“Firasatku mengatakan kasus ini baru awal. Aku khawatir setelah ini akan ada korban baru. Bukan hanya dari kalangan kita yang bersembilan itu, tetapi bisa juga orang lain. Kalau dipikir-pikir, apakah Nayya termasuk dari sembilan orang yang membuang mayat Jenny ke danau? Nggak kan? Tetapi mengapa dia hilang juga?” kata Lena.
“Ya karena dia ada hubungannya dengan Rudi!” Miranti menanggapi.
“Lah kalau begitu bahaya dong orang-orang yang punya hubungan dengan kita. Mereka bisa saja jadi incaran pembunuhan. Ngeri banget nggak sih. Aduh!” kata Lena.
“Sekarang gini, kita harus mencari selamat masing-masing, karena mau nggak mau kita semua udah tercebur dalam kasus ini. Rudi sudah diinterogasi polisi, aku juga sudah. Berikutnya siapa kita nggak pernah tahu. Tapi aku berharap, siapapun itu dia tidak mengarang cerita bohong. Kalau itu terjadi, maka aku sendiri yang akan menghabisinya!” geram Gerry.
“Serem banget sih, Ger. Eh, kalian lihat Rasty nggak? Apa dia nggak kuliah ya hari ini?” tanya Lena.
“Aku lihat sih tadi. Tapi sepertinya dia buru-buru pulang karena ada sesuatu yang diurus. Kelihatannya dia aneh banget. Ketemu aku Cuma diam saja, nggak menyapa. Apa dia ada masalah ya?” ucap Gerry.
“Hmm. Iya sih agak aneh. Biasanya dia kan suka kirim-kirim pesan ke aku. Tapi hari ini nggak Ada apa ya?” ucap Lena lagi.
“Mari kita cari tahu di kampusnya!” ajak Miranti.
***
Adinda sebenarnya merasa terganggu dengan berita-berita menyeramkan yang terjadi belakangan. Ia memikirkan apa yang dikatakan Ferdy ada benarnya. Ia harus mengaku pada polisi bahwa mereka semua lah yang membuang mayat Jenny ke danau. Seharian ia mencari Alex di kampus, namun tiada kunjung bersua.
Jangan-jangan, dia sudah berangkat ke Jerman. Gumamnya.
Hari ini aku kerja sampai sore. Bagaimana kalau aku menjemputmu sepulang kerja dan kita lapor polisi sama-sama?
Pesan singkat ia terima dari Ferdy. Adinda menahan napas. Ia berjalan menapaki trotoar yang panas. Matahari terlalu cerah siang itu, membakar kulitnya yang lembut. Kendaraan banyak berlalu-lalang, membunyikan klakson bersahut-sahutan.
Sebuah sedan putih tiba-tiba menghampiri langkahnya. Mobil itu berhenti di dekat Adinda. Seketika Adinda melihat jam yang melingkat di tangannya. Masih pukul satu siang. Ia mengira Ferdy datang lebih awal, karena sebenarnya mereka janjian sepulang Fredy pulang kerja pkul 17.00 .
“Masuklah!” ajak seseorang dalam mobil.
***