
Pemakaman Alma dihadiri banyak orang, sehingga lokasi pekuburan penuh sesak. Tak heran, Alma adalah salah seorang mahasiswa populer di kampus, sehingga banyak yang mengenalnya. Banyak yang menyayangkan kematian Alma yang begitu tiba-tiba dan mengejutkan. Seolah tak percaya, gadis cantik itu akan dihabisi dengan cara seperti ini.
“Hidup ini terlalu singkat, maka manfaatkan dengan baik. Nikmatilah setiap detik dalam hidupmu,” ucap Alex bijak.
Ia berteduh di bawah pohon kamboja, berlindung dari sinar matahari yang cukup terik sore itu. Miranty dan Lena terdiam. Mereka tak berani bergerak terlalu dekat ke pemakaman.
“Kalian lihat Gerry?” tanya Ferdy yang tiba-tiba datang.
Lena menunjuk kerumunan orang di dekat tempat pemakaman Alma. Gerry sudah datang sejak tadi, bergabung dengan rombongan keluarga Alma. Kedekatan Gerry dan keluarga Alma sudah bukan rahasia. Meninggalnya Alma adalah pukulan telak bagi mereka.
Rasty dan Adinda juga melihat dari dekat proses pemakaman Alma. Mereka membaur bersama para pelayat yang lain. Hanya Rudi yang tak terlihat sore itu. Ia sengaja tak menampakkan diri, karena didera rasa gelisah, takut kalau-kalau polisi menangkapnya atas pembunuhan Jenny.
Rudi sedang berada di dalam mobil bersama kekasih barunya, Nayya. Parasnya masih menunjukkan kegelisahan yang mendalam, sehingga membuat Nayya bertanya-tanya.
“Kamu kenapa sih akhir-akhir ini, Rud. Kok sepertinya sering takut tanpa alasan? Kamu sakit atau bagaimana?” tanya Nayya.
“Enggak apa-apa kok. Aku hanya sering mimpi buruk. Tapi, selebihnya nggak apa-apa.” Rudi mencoba tersenyum.
“Kamu seperti kurang tidur. Mungkin insomnia kali. Kalau memang susah tidur, minum aja obat tidur, siapa tahu membantu. Tapi sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan?” tanya Nayya.
“Aku nggak apa-apa, Nayya. Nggak usah khawatir.”
Rudi mencoba meyakinkan Nayya, tetapi gadis itu mau tidak mau ikut gusar. Perubahan Rudi bisa dibilang cukup cepat. Biasanya Rudi adalah pribadi yang periang, tetapi akhir-akhir ini lebih banyak diam.
“Kamu nggak turun mengikuti prosesi pemakaman?” tanya Nayya lagi.
“Nggak usah Nayya. Aku di sini saja sudah cukup. Yang penting aku sudah hadir, itu cukup.”
Nayya hanya manggut-manggut. Ia tak ingin bertanya lagi. Ia menatap keluar jendela mobil. Para pelayat masih banyak berdatangan. Mereka ingin melepas kepergian Alma utuk yang terakhir kali.
Di bawah serumpun pohon kamboja, Lena mulai tak nyaman. Ia mengipasi tubuh dengan tisu yang dibawanya. Ia mengenakan kaca mata hitam untuk meredam sinar ultra violet yang ganas memancar. Keringat mulai luruh membasahi pelipis.
“Yuk Mir, kita pergi aja! Panas banget di sini!” keluh Lena.
“Kan belum selesai?” tanya Miranti.
“Memangnya wajib ya mengikuti sampai selesai? Yang penting kita udah setor muka itu cukup. Aku nggak tahan banget nih!” keluh Lena.
Ferdy dan Alex juga kelihatan mulai kepanasan. Pada akhirnya, mereka menyetujui usul Lena. Mereka berempat meninggalkan area pemakaman lebih awal karena tak tahan dengan cuaca sore yang cukup panas.
“Aku khawatir ...,” ucap Ferdy sambil berjalan menjauh dari lokasi pemakaman.
“Khawatir apa?” tanya Miranti.
“Firasatku mengatakan ini akan buruk. Jenny dan Alma dibunuh dalam waktu berdekatan. Keduanya ada saling keterkaitan dengan pesta tahun baru yang digelar Gerry. Berbagai hal aneh terjadi. Kadang kalau aku kerja malam di apotek, aku merasa diawasi oleh seseorang. Kukira bukan seorang pelanggan, tetapi seseorang yang memang sengaja mengawasi,” kata Ferdy.
“Aku muak dengan cerita-cerita seperti itu! Kalian terlalu diperbudak dengan rasa takut, sehingga melihat sekeliling seolah hendak mencelakai. Padahal biasa saja itu!” Lena menyangkal.
“Awalnya kupikir juga gitu, Len. Tapi akhir-akhir ini gangguan itu semakin masif. Kalian pernah nggak sih ngerasain kalau banyak pesan aneh masuk dalam teleponmu?” lanjut Ferdy.
“Emang kamu dapat pesan apa, Fer?” Alex ikut berbicara.
“Tunggu!”
Ferdy mengeluarkan ponsel dari kantong celananya, menunjukkan beberapa pesan misterius yang juga pernah ia tunjukkan pada Adinda di kampus. Semua melihat pesan-pesan itu dengan serius. Tak dapat dipungkiri, pesan itu membuat mereka sedikit takut.
Aku tahu semuanya! Aku tahu semua yang kalian lakukan!
Jangan pernah lari, karena kalian semua akan menerima akibatnya!
“Menurut kalian siapa yang sengaja mengirim pesan-pesan seperti ini? Jelas ini bukan ulah arwah Jenny, tetapi ada yang iseng untuk membuat kita takut!” ucap Ferdy.
“Kok aku nggak dapat ya?” tanya Lena.
“Aku kemarin tanya Dinda, katanya dia juga dapat pesan aneh yang mengatakan bahwa ada seseorang yang akan mati. Ini sungguh keterlaluan!” geram Ferdy.
“Aku nggak takut dengan pesan-pesan kayak gitu. Orang iseng itu hanya ingin menggertak kita. Kalian jangan terpengaruh. Aku sama sekali nggak takut!” ucap Alex.
“Kamu jangan nyombong, Lex. Sekarang kamu boleh bilang nggak takut, tapi nanti kalau kamu berhadapan dengan pembunuhnya langsung, pasti kamu menyesal ngomong kayak gitu,” timpal Lena.
Tiba-tiba sebuah mobil van putih berhenti di dekat mereka. Dari dalam mobil, turun seorang wanita muda berpakaian rapi sambil membawa mikrofon, diikuti Wandi sang juru kamera.
“Duh, sial! Ada Gilda Anwar! Pasti dia akan mewawancarai kita!” gerutu Lena.
“Eh, nggak apa-apa dong! Kapan lagi kita bisa eksis?” sahut Miranti.
Gilda Anwar menghampiri mereka, sembari tesenyum manis. Lena merasa jengkel dengan senyuman palsu itu, karena ia tahu senyum itu terlihat dibuat-buat, seperti ada maunya.
“Mohon maaf, Mbak Mas, minta waktunya sebentar ya. Kita akan wawancara seputar Jenny. Bisa kan ya?” tanya Gilda Anwar.
“Maaf ya Mbak kami buru-buru!” jawab Lena cepat.
“Oh nggak buru-buru, Mbak. Saya bisa wawancara. Sekarang kan?” ucap Miranti.
“Apaan sih kamu?” Lena melotot ke arah Miranti.
“Oke, langsung saja ya. Wandi tolong kamera!” perintah Gilda Anwar.
Mau tidak mau-mau, keempat anak muda itu berhenti di depan kamera. Miranti tampak pasang senyum dari tadi, membuatnya terlihat norak. Lena terlihat kesal dengan semua itu. Hanya Alex dan Ferdy yang kelihatan tenang, tanpa reaksi apa pun.
“Oke pemirsa, saat ini saya sedang bersama sahabat-sahabat Jenny Veronica yang terbunuh tempo hari. Kita akan bertanya-tanya seputar kepribadian Jenny dan ....”
Ucapan Gilda terputus karena tiba-tiba Lena maju dan menutup kamera dengan tangannya. Ia mulai kesal dan marah.
“Maaf! Maaf! Saya nggak bersedia melakukan wawancara ini! Kami bukan sahabat Jenny ya! Dan sama sekali nggak ada sangkut-paut dengan kematian Jenny. Kami nggak terlalu kenal Jenny. Jadi saya pikir anda salah orang!” semprot Lena.
“Tapi berdasar info yang kami perolah, kalian ....”
“Info dari siapa? Siapa yang memberi info itu? Jangan sembarangan bikin berita ya! Tolong, saluran televisi Channel-9 adalah saluran TV yang mempunyai reputasi bagus. Jangan sampai kalian mencemarkannya dengan membuat berita yang belum benar keberadaannya!”
Lena masih berang, sehingga Miranti agak takut. Alex dan Ferdy masih terdiam melihat Lena yang seperti lepas kontrol itu.
“Baik, baik Mbak. Tapi informasi ini nggak akan mungkin salah. Setelah ini, siap-siap saja terkenal, karena kami sudah meliput ulah kalian secara langsung! Satu hal, kami selalu menyajikan berita akurat, bukan abal-abal! Informasi kami terpercaya! Selamat siang!”
Gilda Anwar juga mulai emosi. Ia bergegas naik ke dalam mobil van, kemudian melaju pergi meninggalkan rombongan anak muda itu.
“Gila! Dari mana dia dapat informasi kalau kita kenal Jenny? Bahkan polisi saja belum mewawancara kita, dia udah ambil start duluan. Emosi jiwa aku dibuatnya. Untung batal wawancara tadi!” ucap Lena.
“Nggak sepenuhnya gagal. Juru kamera tadi berhasil merekam kemarahanmu. Sebentar lagi polisi yang menonton siaran ini akan semakin curiga dengan kita. Harusnya tadi kamu tolak baik-baik. Nggak perlu naik darah seperti itu,” ucap Alex.
“Orang seperti mereka sekali-kali harus dikasih pelajaran. Aku nggak menyesal kok!”
Miranti dan teman-temannya terdiam. Mereka melanjutkan langkah. Kegelisahan merayap. Pelan tapi pasti, kasus ini akan menjadi besar, dan mereka harus siap menerima segala konsekuensi dari apa yang mereka perbuat.
***