
Reno mengendarai mobil dengan perlahan menyusuri jalanan kota yang lumayan ramai pagi itu. Apalagi ketika lewat di dekat pasar, ia harus lebih memperlambat laju mobil, karena kerumunan manusia memadat di badan jalan. Mereke berjubel, campur-aduk antara penjual dan pembeli. Jarum jam mulai merapat ke dentang pukul delapan, ia harus segera sampai ke rumah isolasi untuk menggantikan Dimas. Hari ini adalah gilirannya bertugas.
Suara syahdu Celine Dion mengalun lembut dari pemutar musik di mobilnya. Potongan-potongan memori hadir begitu saja memenuhi otaknya. Dimulai dari senyum Silvia yang semanis gula jawa, kemudan beralih ke kasus yang sedang ia hadapi saat ini. Ia merasa seperti terjebak dalam teka-teki tak berkesudahan. Setelah pembunuhan yang terjadi pada Jenny, seolah semua terus bergulir memakan korban-korban lain. Reno seperti terjebak di dalam permainan yang memang sudah direncanakan oleh si pembunuh gila.
Lalu ia kembali teringat akan mobil putih yang ringsek di dasar jurang beberapa waktu kemarin. Ia sampai kini tak habis pikir, siapa wanita yang telah menyewa mobil itu? Apakah salah seorang penghuni di rumah isolasi ataukah memang ada oknum lain yang sengaja meminjam mobil itu? Reno mengambil sebuah gambar sketsa dari dalam dashboard mobil. Gambar sketsa itu dibuat berdasarkan deskripsi yang diberikan oleh Pak Andika. Gadis yang cukup cantik, dengan rambut kemerahan. Jadi siapa dia sebenarnya? Sepengetahuannya, tak ada gadis yang rambutnya dicat merah di rumah isolasi. Atau jangan-jangan cat rambut sudah diganti dengan cepat agar tak mudah dikenali?
Mobil Reno sudah melewati perbatasan kota, menuju rumah isolasi. Ia ingin segera menyampaikan kepada Dimas mengenai pemilik mobil dan penyewa mobil itu. Ia berharap tak ada kejadian buruk di rumah isolasi sepeninggalnya. Ia sedikit trauma dengan kematian Miranti saat dia berjaga. Hal yang sama tak boleh berulang.
Sesampai di depan jalan setapak, ia mengunci pintu mobil. Kemudian melangkah menyusuri jalan kecil itu menuju ke rumah isolasi. Ia tak sadar kalau sejak dari kota tadi, ia sudah diikuti sebuah mobil lain. Sebuah mobil usang berwarna biru gelap. Mobil itu juga parkir tak begitu jauh di belakang mobil Reno. Penumpangnya terus mengamati gerak-gerik Reno.
“Dia berhenti di situ. Hendak kemana dia?”
Seorang wanita cantik bergumam pada pria yang menjadi supirnya. Ia membetulkan letak kacamatanya, sembari mengernyitkan dahi.
“Nggak tau Mbak Gilda. Saya belum tahu daerah sini. Tapi kok saya rasa nggak ada rumah di sekitar sini,” jawab supir yang tak lain adalah Wandi.
Mereka nekat mengikuti Reno, dengan tidak menggunakan mobil dinas seperti biasa, agar tidak ketahuan.
“Lihat ... lihat! Dia turun dari mobil masuk ke dalam jalan kecil itu. Apa sebaiknya aku ikuti di saja ya? Kamu tunggu di sini saja!” perintah Gilda.
“Hati-hati lho, Mbak. Daerah sini sepi, nanti takutnya Mbak Gilda tersesat nggak ada yang bantuin.”
“Kamu nggak usah khawatir Wandi. Ikan buruan kita sudah di depan mata, kali ini nggak akan kulepas begitu saja. Ini adalah kartu As kita, Wan. Pasti polisi itu sedang bertugas ke rumah isolasi seperti yang dibilang Mamanya Rasty. Pokoknya kalau lama aku nggak kembali, kamu susul aja aku ya!” pesan Gilda.
Kaki jenjang wanita itu turun dari mobil, menjejakkan kaki ke tanah, kemudian perlahan mengikuti ke arah Reno menghilang di jalan kecil menuju rumah isolasi. Jalan kecil itu tidak beraspal, sedikit berlumpur. Gilda yang memakai sepatu kerja berhak agak kesulitan melewatinya. Namun, ia bukan wanita yang mudah menyerah begitu saja. Ia melewati jalan tanah itu dengan hati-hati agak tidak terpeleset.
Beberapa lama berjalan, ia tidak mendapatkan jejak Reno. Gilda menjadi agak bingung. Jalan setapak yang banyak ditumbuhi ilalang itu mulai menanjak. Ia membuang pandangan ke sekeliling, hanya pepohonan dan kebun-kebun tak terawat yang terlihat. Perlahan ia mulai cemas, teringat perkataan Wandi, bisa saja ia tersesat di jalan setapak ini. Ia tidak melihat sosok Reno di sekitar tempat ini. Ingin kembali ke mobil, tetapi sudah kepalang jauh ia berjalan. Mau tidak mau, ia melanjutkan untuk menyusuri jalan setapak itu.
“Duh sial! kemana polisi itu? Kok aku kehilangan jejak?” gerutunya.
Ketika Gilda hampir putus asa. Tiba-tiba di balik pepohonan besar ia melihat atap sebuah bangunan. Ia terkejut, tidak menyangka ada bangunan besar di tempat terpencil seperti ini. Segera ia mendekati bangunan itu, tetapi sayang ketika ia sudah berada di depan bangunan yang berarsitektur Belanda itu, langkahnya terhenti karena pintu pagar terkunci.
“Sial! Pasti Reno masuk ke dalam sini!”
Gilda memutar otak, bagaimana caranya agar ia bisa masuk ke dalam rumah besar ini. Kalau ia masuk secara terang-terangan tentu akan ditolak mentah-mentah. Lalu bagaimana caranya? Gilda tak mudah menyerah sebelum mendapat apa yang ia inginkan. Terbersit dalam pikirannya untuk memutari rumah ini, siapa tahu ada celah yang bisa dilewati di belakang rumah.
“Ah, iya! Pasti ada jalan di belakang rumah ini. Aku akan memutar!” gumam Gilda.
Perlahan, Gilda mulai mencari jalan melewati samping rumah yang dikepung tembok tinggi dan kelihatan berlumut. Sejumlah serangga dan duru-duri tanaman mulai menmepel di tubuhnya, sehinga ia mulai merasa tidak nyaman. Ia kibas-kibaskan serangga yang berterbangan di sekitarnya. Ia kembali menuju halaman belakang yang banyak ditumbuhi semak.
Sayangnya, sesampai di halaman belakang, ia hanya bisa mendengkus kecewa. Karena halaman belakang pun juga dibatasi tembok, dan hanya ada sebuah pintu kecil dalam keadaan terkunci. Ia menggeleng-gelengkan kepala karena kesal. Keringat mulai mengucur menuruni keningnya yang bersaput bedak cukup tebal. Riasan wajah mulai pudah karena terpapar sinar matahari.
“Lewat mana lagi ya aku?” gumamnya.
Ia berjalan menyusur melihat-lihat area belakang rumah yang banyak ditumbuhi pohon dan semak. Ia tertarik dengan jalan setapak yang banyak ditumbuhi alang-alang di sekitar rumah ini. Rasa penasarannya kembali menggelitik. Ia ingin tahu, kemana jalan setapak ini berujung. Ia menyusur jalan setapak, berharap bertemu seseorang atau apapun yang bisa membantu untuk masuk ke dalam rumah isolasi.
Di ujung jalan setapak, sudah pasti hanya terdapat pekuburan tua yang tak terawat. Suasana sedikit menyeramkan di sana, karena sunyi dan tak ada apapun. Suara burung gagak berkoak-koak di atas pohon yang banyak tumbuh menjulang di sekitar tempat itu. Gilda menelan ludah. Ini bukan pemandangan yang diharapkannya. Ia segera mengambil langkah seribu meningalkan areal pekuburan itu.
Setengah berlari, ia berniat hendak kembali ke mobil saja untuk minta bantuan Wandi. Ia terus melangkah, sampai tak sadar keluar jalan setapak. Ia hanya ingin sampai ke pinggir jalan tempat mobil diparkir. Sayangnya, sebelum sampai ke tempat tujuan, ia merasa tanah yang dipijaknya terasa menghilang. Tahu-tahu, ia terperosok ke dalam sebuah lubang gelap!
“Aah! Toloong!” pekiknya.
***
Sontak para anak muda itu saling berpandangan dengen curiga. Dimas benar, pembunuh itu adalah orang yang sangat dekat. Sayangnya, mereka tak bisa memastikan siapa pembunuh itu. Mereka saling terdiam sembari saling memandang.
“Maaf, apakah aku mengganggu?” sapa Reno yang baru saja muncul di ruang makan.
“Oh nggak, Ren. Silakan bergabung. Aku baru saja memberi arahan pada anak-anak ini agar selalu meningkatkan waspadaan. Kamu sudah sarapan? Silakan sarapan dulu kalau belum!” sambut Dimas.
“Aku tadi sudah sarapan donat di mobil, kurasa perutku cukup kenyang. Jadi bagaimana tidur kalian tadi malam? Apakah jumlah kalian masih lengkap? Nggak ada apa-apa kan yang terjadi tadi malam?” tanya Reno sambil mengambil tempat di sebuah kursi kosong di sebelah Rasty.
“Semua aman terkendali. Tak ada kejadian aneh apapun!” ucap Dimas.
“Tak ada kejadian aneh? Pas dini hari tadi Pak Paiman memergoki sosok hitam di ruang CCTV dan hampir saja Pak Paiman dihabisi pula. Ia berteriak minta tolong, sehingga kami terbangun,” terang Rudi.
“Loh, kok saya tak dengar apapun?” tanya Dimas.
“Mungkin Bapak waktu itu tengah lelap tertidur, sehingga tak dengar apapun. Tidak semua juga yang terbangun. Yang ada waktu itu hanya aku, Alex, dan Ferdy. Kami memutuskan untuk tidak tidur lagi malam itu untuk bejaga sampai pagi.” Rudi memberi keterangan.
“Jangan lupa, aku juga ada di sana waktu itu!” protes Rasty.
“Oh, iya. Rasty juga ada,” ucap Rudi.
Reno mengernyitkan kening. Rupa-rupanya sosok misterius itu masih berkeliaran di malam hari, memanfaatka kelengahan para penghuni. Ia hanya mengangguk-angguk mendengar keterangan Rudi.
“Tapi semua aman kan?” tanya Reno.
“Untuk sekarang aman. Tapi nggak tahu besok-besok!” ucap Alex sedikit kesal.
Dari semua penghuni yang ada di rumah isolasi itu, memang Alex yang paling merasa tidak nyaman. Hampir tiap malam ia tidak bisa tidur. Ia masih kepikiran dengan beasiswanya ke Jerman yang terancam hangus. Menurutnya, saat ini ia tengah tejebak di waktu dan tempat yang salah.
“Kalian tak perlu khawatir. Kami akan menjaga keselamatan kalian,” tegas Reno.
“Menjaga keselamatan? Saya tidak melihat itu. Buktinya Miranti tewas malam itu, padahal saat itu ia tengah berada dalam kamarnya. Kalau di dalam kamar saja tidak aman, di mana tempat aman di rumah ini?” cecar Alex yang mulai emosi.
“Kami tahu kalian sedang tertekan dan bingung. Kami sudah mengumpulkan fakta-fakta baru terkait pembunuhan itu. Dalam waktu dekat, pasti pembunuh itu akan tertangkap. Kami merasa sangat bersalah dengan kematian Miranti. Kami sudah menjelaskan kepada keluarga Miranti dan tentu saja kami memberikan santunan yang cukup besar pada keluarganya. Aku berharap, tak ada lagi korban jatuh di rumah ini,” terang Reno.
“Jadi apa yang akan Anda lakukan?” tanya Rudi
.
“Buat kalian, siapapun kalian. Aku tahu salah seorang kalian adalah seorang pembunuh yang licik. Saat ini aku sudah tahu identitas pemilik mobil yang kamu sewa. Bahkan siapa yang menyewa mobil putih itu, kami juga sudah tahu identitasnya, walau kamu memakai identitas Jenny. Jadi tak perlu mengelak lagi. Yang jelas, aku akan mencari tahu, siapa sebenarnya perempuan yang menyewa mobil ini!” tegas Reno.
“Perempuan?” tanya Dimas.
“Ya, perempuan! Mari kita cari tahu siapa sebenarnya perempuan ini!”
***