Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
352. Jeruji Besi


Mariah duduk dengan perasaan tak menentu di dalam kedai kopi, di hadapan Gilda yang sedang tersenyum penuh makna. Mariah tidak merasa nyaman dengan kondisi itu. Ia berusaha untuk menghindari tatapan Gilda. Mariah terpaksa melayani jurnalis itu karena ia menyebut nama The Girl Squad. Ia heran, bagaimana Gilda tahu tentang itu?


"Tak ada yang menarik dengan The Girl Squad," ucap Mariah.


"Begitu? Faktanya mereka sedang berkumpul di kastil tua kan? Aku khawatir ada hal jahat yang mungkin terjadi di sana. Namanya pertemanan kita nggak tahu apa yang ada di dalamnya. Apalagi pertemanan sesama perempuan, pasti konflik lebih mudah terjadi," kata Gilda sambil memainkan sedotan di gelas minumnya.


Mariah terhenyak. Mengapa Gilda tahu juga masalah itu? Bukankah selama ini pihak kepolisan sudah menutup rapat-rapat berita tentang kastil?  Mariah  tidak ingin terpancing dengan ucapan Gilda. Ia paham, semakin ia menanggapi, maka Gilda akan semakin jauh mengorek dan bertanya tentang hal ini. Namun, ada sedikit keraguan pula di hatinya. Bagaimana kalau Gilda mempublikasikan berita ini dengan informasi yang tidak benar?


Ia sadar, berita yang tak benar mungkin akan membawa reputasi buruk kepada dirinya, terlebih dia adalah istri seorang polisi yang terkenal. Sebenarnya hal itu sedikit menjadi ganjalan baginya. Bagaimanapun, ia harus menghadapi Gilda dengan benar.


"Jadi aku tak perlu menjelaskan apa-apa kalau Anda memang sudah tahu mengenai ini kan?"  tanya Mariah.


Gilda tersenyum. Ia tahu kalau Mariah sedang bersikap defensif. Rupanya Mariah memang berusaha agar tidak mengikuti arus yang sedang dijalankan oleh Gilda.


"Sebenarnya ini berita menarik, Bu Marutami. Publik selalu tertarik dengan berita pembunuhan, apalagi kalau dilatarbelakangi dengan intrik dan konflik seperti ini. Aku memang akan meliput berita seputar kalian, dan hal-hal buruk yang kalian sembunyikan.  Sayangnya pihak kepolisian menuduhku telah menyebarkan berita bohong. Padahal berita ini benar adanya. Oleh karena itu aku harus mencari sumber terpercaya mengenai ini. Anda nggak ingin berita ini simpang-siur kan?" tanya Gilda.


Mariah merasa sangat terganggu mendengar pertanyaan Gilda yang seolah-oleh mengancam. Ia menarik napas sebentar, dan harus menyudahi drama yang sedang diperankan oleh Gilda. Ia merasa jengah melihat jurnalis yang seolah-olah merasa di atas angin. Keputusannya sudah bulat, ia tidak akan menginformasikan apa-apa kepada Gilda tentang hal ini.


"Jadi kamu menemuiku untuk memperoleh informasi yang benar? Maaf, Gilda. Anda salah alamat. Kalaupun saya punya informasi itu, maka aku tidak akan membagikan kepadamu," ucap Mariah tegas.


"Jadi Anda mau berita mengenai konflik Girl Squad ini kami siarkan dengan berita yang mungkin salah?" balas Gilda.


"Ya, silakan saja! Karena publik tidak sebodoh sangkaanmu, Gilda. Sebarkan saja berita itu, lalui bumbui dengan kebohongan-kebohongan, agar drama yang sedang kamu siarkan itu mendapat atensi dari publik. Saya tidak akan memberikan komentar apa-apa. Silakan saja buat berita-berita bohong, itu urusan Anda, Gilda! Dan jangan sekali-kali mengancam saya karena saya tidak akan melakukan apa yang tidak saya mau!" tandas Mariah.


"Oke ... oke. Kalau begitu aku harus menyiapkan narasi yang menarik agar berita ini menjadi tontonan yang bagus!"


Mariah tak mau lagi membuang-buang waktu di hadapan Gilda. Ia berdiri, bersiap meninggalkan Gilda.


"Kamu telah mengambil sebagian waktuku menjadi tidak penting. Lakukan saja yang kau suka. Ngomong-ngomong, aku sudah membayar kopi yang kau minum. Anggap aja itu hutang yang harus kau bayar di lain hari. Selamat siang!"


Mariah segera beranjak meninggalkan Gilda. Walau perkataan Gilda sedikit mengganggu pikirannya, ia berusaha untuk tenang. Kalau pun berita mengenai Girl Squad itu benar-benar muncul di televisi, ia akan mengadakan klarifikasi bahwa berita yang rencananya akan disiarkan oleh Gilda itu tidak sepenuhnya benar. Ia yakin, Gilda akan menyoroti kejelekan The Girl Squad di masa lalu. Mariah harus menyiapkan mental, untuk berperang dengan musuh baru yang dinamakan : media!


***


Niken masih merasa takjub, berdiri di depan lorong sempit yang gelap. Ia sama sekali tidak menyangka, kalau dinding di dalam toilet itu bisa terbuka setelah ia menarik tuas. Ia tidak tahu kemana lorong ini bermuara, tetapi ia bisa merasakan aliran udara sejuk berasal dari lorong. Apakah lorong ini menghubungkan dengan area luar kastil?


Rasa penasaran membuat Niken melangkahkan kaki ke dalam lorong sempit yang tingginya mungkin hanya satu setengah meter. Niken harus agak menunduk ketika masuk ke dalamnya. Lorong ini lebih mirip saluran air atau udara, karena lebarnya tak lebih dari satu meter. Dinding lorong itu juga lembap dan berlumut, karena sinar matahari tak bisa menjangkau ke dalamnya.


"Sial!" umpatnya.


Lagi-lagi, lorong yang ia lewati berbelok lagi, entah berapa kali belokan yang ia lewati. Semakin ia melangkah maju, ia semakin bisa merasakan aliran udara yang berembus. Bahkan kondisi lorong juga semakin terang, karena ada pantulan cahaya masuk ke dalamnya. Niken semakin yakin kalau lorong ini mungkin tembus dengan luar kastil. Semangatnya bangkit, hingga  ia memutuskan untuk terus melangkah.


Saat lorong itu berbelok, di kejauhan ia melihat seberkas cahaya di ujung lorong. Dugaannya benar! Rupanya lorong itu tembus dengan area luar. Ia mempercepat langkahnya. menuju cahaya itu. Ketika ia sudah dekat, ia kini dapat melihat cahaya terang dengan lebih jelas. Angin berhembus melalui mulut lorong yang memang tembus langsung dengan area luar. Niken melihat banyak pohon besar dan belukar di luar sana. Sepertinya lorong ini tembus sampai ke hutan.


Namun, ternyata harapan Niken untuk bisa langsung keluar juga tak bisa dikatakan mudah, karena mulut lorong ditutup dengan jeruji besi. Ia hanya bisa memegang besi-besi pada jeruji itu, sambil melihat ke arah luar. Ia sudah tidak peduli tembus kemana saja, yang penting ia bisa keluar dari dalam tanah itu.


"Bagaimana cara membuka jeruji ini?" gumamnya.


Niken mencari-cari tuas di sekitar tempatnya berdiri. ia berpikir, tidak mungkin jeruji besi ini hanya difungsikan sebagai penutup belaka. Jeruji ini pasti merupakan jalur keluar-masuk dari kastil menuju hutan. Niken melongok ke arah hutan yang sepi. Lorong ini pasti letaknya tersembunyi, sehingga mungkin banyak orang yang mengira akan ada lorong yang bisa menembus kastil.


Tiba-tiba matanya melihat ke arah bawah jeruji, yang ternyata fungsinya hampir mirip dengan pintu bilik di ruang bawah tanah. Niken melihat jeruji itu digembok dengan sebuah gembok besar, jadi kalau keluar-masuk melalui pintu jeruji ini, seseorang harus mempunyai kuncinya. Namun, siapa yang mempunyai kuncinya?


Ia berusaha membuka jeruji besi itu, tetapi tampaknya jeruji ini tertanam di tanah dengan kuat. Ia sangat ingin bertukar tempat di luar sana. Walaupun berada di hutan, itu akan lebih baik daripada berada di dalam ruang bawah tanah yang gelap dan pengap.


"Kau mau keluar?"


Tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya. Suara itu begitu mengagetkan, sehingga membuat ia hampir terlonjak. ia menoleh ke belakang, mendapati sesosok manusia berpakaian serba hitam di kegelapan. Niken bersikap waspada, karena sosok itu membawa sesuatu yang mengkilat di tangannya, mungkin benda tajam. Niken sadar, ia tak bisa berbuat nekat. Kalau ia salah bergerak, bisa-bisa benda tajam itu akan merobek-robek perutnya. Ia melihat benda tajam itu semburat berwarna merah, seperti bekas darah. Niken bergidik. Sepertinya manusia misterius ini baru saja melakukan suatu tindak kejahatan yang mengerikan.


"Aku baru saja memburu mangsa di kebun teh. Seorang pria tampan bernama Edwin. Ia sudah kulumpuhkan, dan sekarang aku mau ke sana lagi untuk segera kuhabisi sebelum ada orang lain yang melihat. Tadi ia kubiarkan tergeletak begitu saja di balik rerimbunan lagi. Kau mau ikut untuk melihat bagaimana caraku menghabisinya?" tanya sosok itu.


"Jangan coba mendekat! Aku polisi dan bisa meringkusmu kapan saja!" ancam Niken.


Sosok itu tertawa, seolah meremehkan ucapan Niken. Posisi sosok bertopeng itu merasa di atas angin karena ia membawa sebilah benda tajam di tangannya.


"Jangan bercanda polisi sombong! Kalau aku mau, bisa saja kurobek mulutmu sekarang juga. tapi aku punya rencana yang lebih baik untukmu ... "


"Apa yang hendak kau lakukan?"


Sosok itu tiba-tiba melangkah mendekati Niken sambil mengacungkan benda tajam ke arah Niken. Polisi wanita itu dalam keadaan tak siap, sedangkan lorong itu juga tidak memungkinkan digunakan untuk mempertahankan diri atau kabur. Ia hanya bisa melengking ketika sosok itu menghambur ke arah dirinya!


***