Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
282. Pembalasan Bu Mar


Pagi melaju meninggalkan malam, mentari mengintip malu-malu dari balik awan yang menggantung di langit timur. Malam yang hening terlampaui dengan aman tak ada kejadian yang berarti. Tak ada seorang pun tahu bahwa Gilda menghilang dari kamarnya, karena memang tak ada yang peduli. Para penghuni tetap menjalankan aktivitas seperti biasa.


Suasana sarapan berjalan seperti biasa. Mereka tak banyak bicara, merasa bersyukur karena telah melewati malam dengan nyaman. Tadi malam.masing-masing dari mereka terlelap dibuai mimpi, tanpa sadar dengan apa yang terjadi di sekitar. Kejadian yang menimpa Widya seolah terlupakan, dan mereka tak mau mengingat hal itu lagi.


"Aku merindukan Widya," bisik Riky kepada Guntur yang duduk di sebelahnya.


"Kamu serius? Kulihat kamu tak terlalu peduli padanya," sungging Guntur.


"Tak peduli bukan berarti aku tak memikirkannya. Sungguh kejadian yang menimpanya adalah hal yang sangat mengejutkan. Widya sungguh malang, melakukan tindakan sebodoh itu hanya karena masalah sepele .... "


"Bukan masalah sepele, Rik! Kau tak paham perasaan gadis itu. Tapi ... kurasa memang cukup nekat juga sih. Kadang sikapku juga agak keterlaluan padanya, tapi ini bukan tanpa alasan. Ia kadang memeriksa isi laci meja kerjaku, kemudian bertanya tentang ini-itu.  Tentu hal itu membuatku marah. Setiap orang akan marah apabila rahasia hidupnya diutak-atik," kata Guntur.


"Aku tidak! Widya boleh tahu kejelekanku dan dia tahu itu, tanpa keberatan apapun. Kau terlalu berlebihan, Gun!"


Guntur terdiam, sambil tersenyum sinis. Ia menancapkan garpu pada potongan semur daging di piringnya, kemudian memasukkan ke dalam mulut. Ia agak gusar pagi itu. Sementara, Riky terlihat bersikap dingin pagi itu, menikmati sarapan dengan anggun, seolah tanpa beban. Bahkan cara mengambil minum pun dilakukan secara perlahan, setiap gerakan kecil seolah penuh arti.


Ammar mengamati setiap gerakan kecil yang dibuat penghuni pagi itu. Bola matanya yang kecokelatan bergerak ke kanan dan kiri, merekam semua dalam otaknya. Di sisi meja lain terlihat Ollan yang menebar senyum kepada setiap yang hadir di situ. Parasnya bahagia, tanpa memancarkan rasa takut sedikit pun. Ia bak seorang artis yang bertemu penggemasrnya, sehingga Henry senyum-senyum sendiri melihat itu.


"Tidurmu nyenyak Ollan?" tanya Dimas sambil memasukkan suapan ke dalam mulut.


"Sangat, Pak! Aku mau berbagi cerita pada kalian, bahwa malam tadi adalah malam terbaik untukku, setelah malam-malam sebelumnya aku dicekam rasa takut dan tidak nyaman. Jadi kurasa kalian harus bersyukur bisa berada di rumah isolasi ini. Aku menikmati pula pemandangannya!" cerita Ollan.


"Ada yang tak bisa tidur malam ini?"


Reno melempar pertanyaan, sembari menatap semua mata yang hadir di meja makan. Semua yang di sana saling berpandangan, sembari menggeleng. Rianti juag tampak lebih tenang parasnya, sementara Laura hanya bisa menyunggingkan senyum.


"Boleh tanya nggak, Pak?" tanya Guntur tiba-tiba.


"Silakan, Gun. Apa yang hendak kamu tanyakan?"


"Aku kok nggak melihat jurnalis cantik itu? Kemana dia? Apakah dia pulang lebih awal?" tanya Guntur.


Reno tersenyum kemudian mengangguk. Ia melirik ke arah Dimas seraya berkata," Jangan khawatirkan dia! Dia harus kembali ke kota karena urusan pekerjaan. Mengapa kau menanyakan tentang Gilda?"


"Oh, tidak! Aku hanya sekedar bertanya!" jawab Guntur sambil tersipu malu.


"Apakah Widya akan baik-baik saja, Pak?" tanya Riky tiba-tiba.


"Ya, kurasa dia akan baik-baik saja, walau kehilangan banyak darah. Kalau saja kemarin kita terlambat menemukannya, mungkin dia tak akan tertolong. Kalian doalaknsaja agar Widya segera pulih, dan segera beraktivitas seperti sedia kala," jawab Reno.


"Jadi ... apa sebenarnya yang membuat dirinya ingin bunuh diri, Pak?" Riky masih terus bertanya.


"Kami masih mendalaminya, dan kalian tak perlu khawatir. Kami hanya berpesan, bahwa kalian harus meningkatkan kewaspadaan, karena si pelaku pembunuhan masih berkeliaran di sekitar kita, dan memanfatkan kelengahan. Jadi di mana pun, kalian harus waspada!" pesan Reno.


"Loh, emang Widya kenapa, Pak? Iya ya, sejak kemarin aku nggak lihat dia?" tanya Ollan tiba-tiba.


"Sudahlah, Ollan! Lebih baik kamu nikmati saja apa yang ada di sini!" potong Dimas.


"Oya, menginformasikan setelah sarapan ini, sekitar pukul 9 pagi, kalian semua berkumpul di ruang depan. Kami akan menanyai kalian satu-persatu seputar Widya. Pastikan kalian semua hadir, karena ini sangat penting!" tambah Reno.


***


Ia merasa gusar dan jengkel karena kini dirinya berada dalam sebuah sumur yang sedikit becek, dengan semut-semut yang berkeliaran dan kaki seribu yang marayap di dinding sumur yang berlumut. Dalam hati ia kesal kepada Wandi yang tak bisa bersamanya. Namun, ia tak bisa juga menyalahkan Wandi mengingat pria itu ada tugas yang tak bisa ditunda. Satu-satunya yang ia bisa lakukan hanya pasrah, berdiam dalam kebosanan di lubang itu.


Tak lama, ia melihat seorang perempuan paruh baya mendekati mulut sumur, sambil mebawa sebungkus makanan yang dibungkus kertas, serta sebotol air minum. Ia berusaha melihat keberadaan Gilda di dalam sumur.


"Mbak! Mbak Gilda ada di dalam?" panggil wanita paruh baya itu.


"Iya Bu Mar! Aku ada di sini!" jawab Gilda.


Dalam hati, tiba-tiba timbul rasa menyesal mendalam, karena kemarin ia tega memukul perempaun itu dengan wajan hingga tak sadarkan diri. Namun, seolah perempuan itu tak mempunyai dendam terhadapnya, entah terbuat dari apa hati Bu Mariyati.


"Aku membawakan makanan dan minuman buat Mbak Gilda! Tangkap ya Mbak!"


Bu Mariyati menjatuhkan bungkusan makanan dan botol minuman ke dalam sumur. Gilda langsung sigap menangkapnya. Ia yakin, Bu Mariyati ini adalah suruhan Reno atau Dimas. Bagaimanapun, para polisi itu tak tega juga meninggalkan dia dalam lubang gelap sendirian. Gilda sendiri sebenarnya menyesal, karena memaksa masuk ke dalam rumah isolasi itu. Akibatnya, ia benar-benar terisolasi, tidak hanya di dalam rumah, tetapi benar-benar di sebuah lubang gelap tanpa fasilitas apa pun.


Kehadiran Bu Mariyati di atas sumur, sontak membuat Gilda memuta otak kreatif. Dalam pikirannya sekarang ini terbersit bagaimana caranya ia keluar dari lubang ini dengan memanfaatkan bantuan dari Bu Mariyati. Sebenarnya ia tidak yakin Bu Mar akan membantu, sebab kemarin saja, Bu Mar menolak bekerjasama, sehingga Gilda menjadi gemas dan memukulkan wajan ke kepala Bu Mar.


"Eh, Bu Mar! Sama siapa di atas situ?" tanya Gilda.


"Sendirian saja, Mbak! Kenapa?" jawab Bu Mariyati.


"Anu, Bu. Bu Mar kan tahu di dalam lubang sini banyak binatang berbahaya, nanti kalau aku digigit gimana? Di sini. udaranya juga pengap, kalau siang panas, kalau malam dingin. Masa Bu Mar tega biarin saya sendirian di lubang begini. Nanti kalau ada apa-apa, Bu Mar juga disalahkan loh. Bantu aku lah, Bu Mar untuk keluar dari sini. Nanti akan saya kasi imbalan deh. Mau ya Bu?"


Gilda mulai melancarkan jurus mulut manisnya kepada Bu Mariyati. Sebenarnya, Bu Mariyati sempat merenung juga, karena tak tega melihat paras Gilda yang memelas, seolah meminta pertolongan. Sejenak kemudian ia menggeleng sambil tersenyum.


"Kepala saya sampai sekarang masih terasa sakit akibat pukulan wajan itu. Silakan nikmati saja yang ada, karena itu adalah harga yang pantas untuk Anda!"


Bu Mariyati lmelangkah pergi meninggalkan Gilda yang gusar dan kesal. Ia tahu, balas dendam bukan lah hal baik, tetapi sekali-kali ia memberi pelajaran orang macam Gilda itu perlu.


***