Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
260. Kardus


Dimas memulai penyelidikan untuk menemukan Niken dengan kembali ke kediaman Renita. Niken terakhir kali terlihat di rumah aktris horror yang terbunuh sebelumnya. Rumah Renita kini sepi, karena banyak orang menghindari rumah  bekas peristiwa pembunuha itu. Suasana memang sedikit seram, walau di pagi hari. Garis polisi masih terpasang di sekitar rumah, untuk menghindari agar orang yang berkepentingan masuk ke dalam lingkungan rumah.


Dimas masuk kembali ke dalam rumah Renita, siapa tahu ia mendapat petunjuk baru akan kasus ini. Sisa-sisa darah yang mengering masih tercecer di lantai, sehingga menambah keseraman suasana rumah. Ia bergerak ke arah dapur. Di wastafel, ia juga melihat banyak darah berceceran. Ia telusuri arah ceceran darah itu, berakhir pada sebuah ruang kecil di bawah tangga. Di tempat itu, banyak tumpukan kardus bekas. Banyak ceceran darah pula di tempat itu.


Dimas membongkar kardus-kardus itu segera, khawatir ada sesuatu yang disembunyikan di sana. Ternyata di salah satu kardus kosong itu, ia melihat sebuah pisau besar dengan bekas darah yang telah mengering. Mata pisau itu berbentuk segi empat, dengan bagian sisi amat tajam, seperti pisau yang dipakai tukang daging di pasar. Pisau seperti ini biasanya digunakan untuk memotong daging berukuran besar.


Polisi muda itu begidik. Tiba-tiba ia terbayang, bagaimana pembunuh itu memotong jari-jari korban dengan pisau ini. Tentu hal itu sangat mengerikan. Ia memasukkan pisau besar itu ke dalam sebuah plastik, untuk diselidiki lebih jauh. Di dalam rumah, ia tak menemukan hal lain yang lebih penting, sehingga ia memutuskan untuk segera keluar.


Di halaman rumah, ia melihat lingkungan sekeliling yang begitu sepi. Pantas saja pembunuh itu bisa melancarkan aksinya dengan mudah, karena semua orang di sekitar sini nyaris tak peduli dengan kehidupan sekitar. Semua rumah dalam keadaan terkunci. Ini lebih mirip lingkungan kota mati.


Sementara itu, di rumah mangkrak di seberang rumah Renita, Niken melihat kehadiran Dimas di rumah Renita dengan sangat jelas. Ia dapat melihat semua itu dari jendela kaca berukuran besar yang terpasang di tengah ruangan. Ia menoleh ke arah Rani yang kepalanya masih terkulai lemas. Gadis belia itu mencoba memejamkan mata karena merasa sangat lelah.


"Rani ... Rani! Bangunlah! Lihat siapa yang datang! Kita harus menarik perhatiannya agar ia tahu keberadaan kita!" ucap Niken.


Rani perlahan membuka mata, menegakkan kepala. Ia melihat dari balik jendela, sosok Dimas yang mondar-mandir di depan rumahnya.


"Si-siapa itu, Kak?"


"Itu Dimas! Polisi yang menangani kasus kakakmu. Kita harus bisa menarik perhatiannya!"


"Apa yang bisa kita lakukan, Kak? Kita masih terikat seperti ini," kata Rani.


"Tangan dan kaki terikat, tetapi mulut kita tidak terbungkam. Kita coba teriak keras-keras, siapa tahu Dimas bisa mendengar suara teriakan kita. Bagaimana? Apa kau siap?" tanya Niken.


"Aku nggak yakin, Kak!"


"Kita nggak bisa ngomong kayak gitu kalau kita belum coba. Setelah hitungan tiga, mati kita teriak sekencang-kencangnya!"


Rani masih diliputi keraguan, tetapi ia tidak punya pilihan yang lebih baik. Sorot mata Niken manatap ke arahnya, seolah meyakinkan bahwa hanya itulah satu-satunya cara yang mereka pakai sekarang. Pada akhirnya Rani mengangguk.


"Satu ... dua ... tiga!" ucap Niken.


"Aaaaaaaa!!!"


Mereka berteriak sekuat tenaga, menggunakan sisa-sisa energi yang mereka punya. Mereka berharap suara teriakan itu bisa didengar oleh Dimas yang saat ini tengah berada di beranda depan rumah Renita. Saat itu, Dimas sedang folkus memeriksa rumah depan. Lamat-lamat ia memang mendengar suara teriakan wanita, tetapi ia tak yakin dari mana suara jeritan itu berasal. karena situasi di sekitar terlihat begitu sepi. Ia melayangkan pandangan ke sekitar, tetapi ia tak bisa menemukan sumber suara.


"Apakah aku nggak salah dengar?" gumam Dimas.


Ia kembali memeriksa sekitar halaman depan, termasuk tempat sampah yang berada di pinggir jalan. Dalam tempat sampah yang kotor itu, ia menemukan beberapa lembar tisu bekas pakai yang berlumur darah. Ia memakai sarung tangannya, dan mengambil beberapa lembar tisu berlumur darah itu, kemudian memasukkan ke dalam kantung plastik.


"Aku ... aku sudah tak mau berteriak lagi. Suaraku telah habis," ucap Rani dengan napas terengah.


"Sepertinya ruangan ini memang tertutup rapat, sehingga suara kita kurang terdengar dari luar. Kita harus cari cara lain agar Dimas tahu bahwa kita ada di sini," kata Niken.


"Cara apa lagi yang Kakak maksud?"


Niken menggeleng. Saat ini belum bisa berpikir bagaimana caranya agar bisa melepaskan dari ikatan dan meloloskan diri dari rumah mangkrak itu. Ia berharap agar ada kejaiban, sehingga mereka bisa lolos dari rumah itu.


***


Reno langsung merasa ada yang tak beres setelah menemukan bungkus cokelat itu. Ia kembali waspada, dengan menggenggam pistol mengarahkan ke segala arah, kalau-kalau ada gerakan mendadak yang mencurigakan. Ia menyusur ke area belakang rumah, sampai menemukan tangga yang menuju ke arah loteng. Senyap sekali suasana di sekitar situ. Nalurinya sebagai seorang polisi merasa bahwa ada yang tersembunyi di dalam ruangan loteng itu.


Ia melangkah perlahan menaiki tangga, menuju ke dalam ruangan loteng yang gelap. Ia menajamkan mata dan pendengaran, kalau-kalau ada sesuatu yang bergerak mendadak. Di loteng itu hanya berisi kardus-kardus besar dan kursi-kursi rusak, tak ada sesuatu yang tampak aneh. Pencahayaan sangat minim, sehingga udara di tempat itu terasa lembap dan pengap.


Ia tak melihat tanda-tanda keberadaan manusia dalam loteng itu. Bahkan ia menduga bahwa loteng itu memang tidak pernah ditempati selama berbulan-bulan. Ini terlihat dari banyaknya sarang laba-laba yang berada di loteng itu. Lantai juga ditutupi debu tebal, sehingga Reno harus menutup hidungnya agar tidak bersin.


Setelah memastikan bahwa loteng itu dalam keadaan kosong, ia berniat turun dari loteng. Mungkin ia harus memeriksa ruangan-ruangan lain yang terlewat, karena ia yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres di loteng ini. Ia sudah beranjak hendak turun dari loteng ketika tiba-tiba ia mendengar suara bergerak-gerak dari arah tumpukan kardus. Reno membalikkan badan segera dan mengacungkan pistol. Darahnya berdesir. Mungkin ada sesuatu yang terlewatkan di balik kardus.


Ia terus mengacungkan pistol ke arah sebuah kardus besar yang bergerak-gerak. Perasaanya tak enak. Kardus itu dalam keadaan tertutup, sehingga Reno sama sekali tidak tahu apa sebenarnya isi kardus itu. Ia khawatir kalau semua itu adalah jebakan, sehingga ia harus tetap waspada. Perlahan ia hendak membuka kardus. Ia yakin, ada sesuatu yang mengejutkan di dalam kardus.


Baru saja ia hendak membuka kardus, ternyata kardus itu tertutup lakban. Itulah mengapa sesuatu di dalam kardus itu tak bisa keluar, karena lakban yang ditempel di kardus cukup banyak. Reno langsung sigap mengambil pisau lipat yang ia gantung di ikat pinggangnya. Ia selalu membawa pisau lipat itu kemana-mana, karena sangat berguna di saat-saat genting seperti ini.


Kraaak!


Ia membuka lakban yang menempel di kardus dengan cepat. Segera ia buka kardus besar untuk mengetahui apa isinya. Ternyata yang di dalam kardus itu membuatnya sangat terkejut!


***