
Pagi yang seharusnya membawa keceriaan bagi penghuni-penghuni kastil, berubah menjadi kecemasan yang mendalam. Rasa khawatir mulai menyusup dalam benak, setelah melihat puing-puing gudang tua di belakang kastil masih mengepulkan asap. Berita terbakarnya gudang itu menjadi isu hangat selepas acara makan pagi. Di ruang tengah, para pria asyik mendengarkan cerita Cornellio tentang kronologis pembakaran gudang tadi malam.
“Ini benar-benar di luar perkiraan. Tiba-tiba saja pintu gudang terkunci, dan kami terjebak di dalamnya. Dalam hitungan menit, api tiba-tiba muncul dari atap dan sekejap saja menjalar ke segala penjuru. Api semakin membesar, ruangan gudang dipenuhi asap, membuatku hampir tak bisa bernapas. Aku jatuh tak sadarkan diri. Dan ketika aku sadar, sudah berada di luar gudang yang terbakar habis,” cerita Cornellio dengan bersemangat.
“Hmm. Sungguh aku tak dengar apa pun tadi malam. Padahal malam begitu sepi, tak seperti biasanya. Perasaanku nggak enak sehingga aku nggak bisa tidur. Berkali-kali kubuka jendela, tetapi sungguh sama sekali tidak tahu kalau gudang belakang terbakar,” tutur Aldo Riyanda.
“Sebenarnya malam itu aku masih minum kopi di sini. Sempat kucium bau terbakar, tetapi aku sama sekali tak sadar kalau yang terbakar adalah gudang belakang. Tak kudengar teriakan atau apa pun. Entahlah, semua tampak normal seperti malam-malam sebelumnya,” Hans menambahkan.
“Aku masih tak habis pikir dengan motif dari semua ini. Kupikir ini saling berkaitan dengan misteri yang terpendam dalam kastil. Malam tadi aku berada di kamar memelototi sebuah buku harian tua milik mendiang Anastasia Pratiwi, berusaha mengungkap misteri yang ada di kastil ini. Ada beberapa kalimat yang cukup menarik perhatianku,” ujar Michael.
“Kalimat seperti apa?” tanya Hans.
“Si penulis itu menulis bahwa ia melihat sosok yang muncul dari kegelapan lorong-lorong. Kemudian aku berpikir, siapa sosok yang dimaksud? Apakah ini ada hubungannya dengan rangkaian pembunuhan yang terjadi di kastil ini? Ingat! sepuluh tahun lalu, ada beberapa penulis yang menghilang di kastil ini pula. Aku tiba-tiba merasa kita seolah mengulang hal yang sama,” terang Michael.
“Jangan menebar rasa takut seperti itu, Michael! Kamu pikir psikopat itu ada hubungannya dengan menghilangnya para penulis sepuluh tahun lalu? Rentang waktunya cukup lama. Kurasa perlu penyelidikan mendalam sebelum memutuskan apakah kasus ini saling berkaitan atau tidak,” sanggah Aldo.
“Aku setuju! Jadi kamu tak perlu melanjutkan cerita detektifmu yang sama sekali tak menyeramkan. Masalah kami sudah cukup banyak. Simpan saja ceritamu, dan jangan berlagak tak bersalah! Mungkin kamu adalah seorang psikopat yang terobsesi menjadi detektif sungguhan, kemudian merekayasa segala omong-kosong ini!” cecar Hans pada Michael.
Michael hanya mengangkat bahu, tak tampak raut kekecewaan di parasnya. Ia berdiri dari tempat duduknya dengan tenang, kemudian mengayunkan lengkah hendak meninggalkan para pria lain.
“Bukan aku yang rugi, tetapi kalian! Ingat saja perkataanku dan silakan buktikan nanti!”
Michael segera berlalu dari ruang baca dengan perasaan risau. Suasana kembali hening. Masing-masing penulis pria itu hanya terdiam, tanpa tahu harus bercakap apa.
Bagaimanapun, terbakarnya gudang belakang seolah alarm bagi mereka untuk lebih waspada. Dengan jumlah penghuni semakin berkurang, akan membuat orang semakin mencurigai. Tak ada seorang pun yang ingin berakrab-akrab dengan yang lain.
Ammar masuk ke dalam ruang tengan dengan wajah kusut. Tak ada yang sesuatu yang terlihat menyenangkan. Ia melewati ruang tengah, tanpa memedulikan para pria lain yang sedang duduk-duduk di tempat itu. Sesaat kemudian, ia membalikkan tubuhnya, sembari menunjuk Hans.
“Ikut aku!” perintah Ammar.
Hans yang sedang malas bergerak tampak terkejut atas penunjukkan tiba-tiba itu. Parasnya tetap dingin, dengan sepasang mata yang langsung melirik ke arah Ammar.
“Ada perlu denganku?”
“Hari ini adalah jadwal wawancara denganku, setelah beberapa waktu kemarin sempat terlewat. Banyak hal mengerikan terjadi di kastil ini. Aku harus bergerak cepat, mengingat kini aku bekerja sendirian. Dokter Dwi masih menghilang tak tahu rimbanya. Sedangkan aku juga tidak mungkin memanggil polisi lain.”
Ammar menerangkan dengan perasaan gelisah. Hans manggut-manggut.
“Bukankah seharusnya jadwal Cornellio terlebih dahulu?” tanya Hans lagi.
“Setelah apa yang kami alami semalam, maka otomatis aku mencoret namanya dari daftar tersangka. Jadi jadwal wawancara berikutnya adalah dirimu, Hans!”
“Nama Cornellio dicoret? Wah sungguh beruntung! Kuharap itu bukan persekongkolan jahat kalian!” sungging Hans.
“Persekongkolan jahat? Jaga bicaramu, Hans! Aku benar-benar merasakan bagaimana panas api hampir menjilat kulitku, dan asap yang memenuhi paru-paruku. Kamu bilang itu persekongkolan? Gudang tua yang sudah menjadi puing itu menajdi saksinya. Bagaimana kau bilang itu suatu persekongkolan?”
“Tenanglah, Cornellio! Kamu sebaiknay tak terpancing emosi dengan perkataan Hans. Temui aku segera, Hans!” perintah Ammar tegas.
***
Kegelisahan tak hanya dirasakan oleh para pria, tetapi juga para wanita. Bahkan Tiara Laksmi terlihat tertekan. Ia lebih banyak berada di ruang baca seperti orang bingung, kemudian keluar lagi tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Ia juga lebih memilih menyendiri daripada berkumpul dengan yang lain.
“Kamu tidak apa-apa, Tiara?” tanya Adrianna.
Kedua wanita itu tengah berada di ruang baca, tetapi tidak berniat membaca. Tiara segera menghindar dari penghuni lain, terutama Maira yang kadang mengucap perkataan yang cukup menyakitkan. Tatapannya kosong, mengarah ke kebun teh yang menghampar. Terasa hening, tetapi misterius.
“Aku sedang berpikir tentang sesuatu, Adrianna,” ucap Tiara.
“Apa yang Sedang kamu pikirkan?”
“Mungkin ini adalah akhir dari kisah hidupku. Mungkin kita semua akan mati di sini. Peristiwa kebakaran gudang itu semakin membuatku cemas. Cornellio dan Ammar sungguh sangat beruntung bisa lolos dari sana, padahal menurutku si pembunuh itu sudah sangat jenius,” keluh Tiara.
“Apa kamu mempunyai rencana agar kita bisa melewati semua ini?”
“Sebenarnya aku ingin kabur saja. Tetapi akses di sini sangat rumit. Mobil-mobil yang ada di garasi berusia sangat tua, dan aku nggak yakin masih berfungsi atau tidak. Tak ada akses telepon. Kondisi kita seperti berada di pulau di tengah laut. Tak bisa keluar. Harapan kita satu-satunya adalah memanfaatkan siapa pun yang berkunjung ke kastil ini,” lanjut Tiara.
“Tak ada yang bisa kita lakukan, Tiara. Tidak ada. Satu-satunya yang dapat kita lakukan adalah melindungi diri kita dari kejaran pembunuh itu,” gumam Adrianna.
“Adrianna ....”
“Ya Tiara?”
“Apa kamu mempercayaiku? Apakah kamu pernah berpikir bahwa aku adalah pembunuhnya?” tanya Tiara dengan nada sedih.
“Entahlah, Tiara. Di saat seperti ini rasanya mustahil aku percaya pada seorang pun. Saat ini aku tak punya bayangan apa pun dengan pelaku pembunuhan ini. Sangat mengerikan, ketika aku sadar telah tinggal bersama dengan seorang pembunuh. Apa kamu juga merasa seperti itu?”
“Tentu saja, Adrianna. Aku sering terbangun di tengah malam, takut kalau-kalau si pembunuh itu menyusup ke kamar, membantaiku di saat aku tidur, atau tiba-tiba dia menyergap saat aku mandi, kemudian menenggelamkan wajahku ke dalam bath tub sampai aku mati. Oh Tuhan, ini mengerikan sekali!” kata Tiara.
“Imajinasimu mengerikan sekali, Tiara. Aku nggak sanggup membayangkan itu!”
“Itu belum seberapa, Adrianna. Bahkan kadang aku mempunyai firasat buruk. Mungkin aku sudah berubah menjadi cenayang!”
“Firasat apa yang kamu dapat?”
“Seseorang akan terbunuh lagi!”
***