Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LXXXIII. Some Lies


Mobil yang dikendarai Reno dan Dimas perlahan memasuki halaman kastil yang sunyi. Kedatangan mobil itu nyaris tanpa suara, tahu-tahu terparkir di halaman depan. Reno menoleh ke arah Dimas, seolah meminta pendapat. Suasana kastil terlihat menyeramkan. Reno ragu, apakah langkah yang diambil sudah benar atau belum.


“Kuharap kita mengambil langkah yang benar, Dim,” ucap Reno.


“Kenapa memangnya? Kamu takut? Bangunan tua ini memang menyeramkan, tetapi kurasa di dalamnya tidak seburuk itu. Si tua Anggara Laksono itu pasti hidup bergelimang kemewahan. Tampilan luarnya memang sedikit buruk, tetapi kita belum melihat bagian dalamnya,” balas Dimas.


“Baiklah, mari kita cari tahu!”


Reno turun dari mobil, diikuti Dimas. Reno sengaja mengunyah permen karet untuk mengurangi ketegangan. Ia memang sudah beberapa kali menangani beberapa kasus kriminal, namun entah mengapa kali ini ia sedikit gugup. Ia sadar, yang ia hadapi kali ini bukan orang biasa. Tentu suasana akan sedikit berbeda.


Pandangan Reno mengarah ke arah dua mobil yang terparkir dalam keadaan ban kempes di halaman. Yang satu adalah mobil Antony, sedangkan satu lagi mobil Arvan. Reno mengernyitkan dahi. Keberadaan mobil itu sedikit aneh. Dilihat dari kondisinya, jelas mobil-mobil itu belum lama terparkir di sana.


“Apakah Anggara Laksono lagi ada tamu?” tanya Reno.


“Aku tidak tahu. Mari kita tanya seseorang yang ada di sini,” jawab Dimas.


Mereka melangkah menyusur jalan setapak tak terawat yang diapit tumbuhan bunga yang tumbuh liar. Semenjak Yoga tewas, taman nyaris tak terawat. Rumput ilalang tumbuh meninggi, demikian juga belukar mulai tumbuh tak teratur.


“Seperti lama tak ditinggali. Apakah Anggara Laksono tak menyewa tukang kebun untuk merawat taman ini?” tanya Reno.


“Mungkin ada alasan lain,” timpal Dimas.


Mereka tiba di depan pintu kayu. Reno segera mengetuk bulatan besi yang terpasang di pintu. Beberapa kali mengetuk, sampai pintu itu dibuka oleh Helen. Wanita paruh baya itu terkejut melihat kedatangan dua lelaki asing berpakaian formal tersebut. Dalam pikirannya, ia langsung menebak kalau yang datang itu adalah pihak berwajib.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Helen penuh waspada.


“Kami akan bertemu dengan Pak Anggara Laksono. Apakah ada?” tanya Reno.


“Maaf Pak. Tuan sedang keluar kota dan belum dipastikan ia akan kembali. Maaf sekali lagi,” ujar Helen penuh percaya diri. Ia menutupi fakta bahwa Anggara Laksono telah tewas terbunuh.


“Keluar kota? Kemana?” tanya Reno lagi.


“Saya juga tidak tahu, karena beliau tidak bilang.”


“Ibu ini siapa?” tanya Dimas.


“Oh, saya Helen. Asisten rumah tangga di rumah ini. Saya yang bertanggung jawab dengan segala urusan yang ada di sini,” ucap Helen.


“Oh, boleh kami masuk ke dalam dan tanya-tanya sebentar?” sambung Reno.


Helen tak punya pilihan lain. Tanpa menjawab sepatah kata, ia membuka pintu lebar-lebar, membiarkan dua polisi muda itu masuk, duduk di sofa di ruang tamu yang berkesan mistis. Kesan itu segera dapat dirasakan oleh Reno dan Dimas, apalagi kietika melihat berbagai ornamen-ornamen antik yang berada di ruangan.


“Anda mau minum sesuatu?” tawar Helen.


“Air saja kalau ada,” jawab Reno.


Helen mengangguk. Ia segera masuk ke dalam untuk mengambil air. Reno berdiri dari tempat duduk, berkeliling ruangan, mengamati segala sesuatu yang terpajang di sana. Beberapa buah patung menarik perhatiannya, juga topeng-topeng berparas menakutkan.


“Anggara Laksono suka mengkoleksi hal-hal yang menakutkan,” ujar Reno.


“Ya, kastil ini memang berkesan misterius. Kalau aku disuruh tinggal di sini mungkin nggak akan betah berlama-lama. Ini bukan pilihan yang baik untuk liburan,” ujar Dimas.


Ia tengah berdiri menatap sebuah lukisan wanita bergaun putih yang terpajang di dinding. Dimas tampak takjub, karena detail lukisan itu sedemikian baik, seolah nyata.


“Kamu lihat ini, Reno. Lukisan wanita ini sungguh seperti nyata. Paras mukanya menggambarkan kecemasan. Apakah wanita memang benar-benar ada di dunia nyata?” tanya Dimas kemudian.


Reno menoleh, mendekati Dimas. Ia turut menatap lukisan yang berada di depannya. Ia juga merasa takjub dengan lukisan yang digarap begitu sempurna itu.


“Minuman Anda, Pak!” tiba-tiba suara Helen mengagetkan.


Reno dan Dimas segera kembali ke tempat duduk, meneguk air yang disajikan di gelas kristal yang mahal. Helen menatap gerak-gerik mereka tanpa ekspresi. Ia nyaris sedingin es.


“Jadi Ibu tinggal sendirian di sini?” tanya Reno kemudian.


“Hmm. Jadi yang di depan itu mobil siapa?” tanya Reno lagi.


Helen berpikir sebentar, kemudian ia menjawab,”Oh, itu mobil yang mogok. Ada beberapa anak muda yang berkemah di sekitar kastil ini. Mereka menitipkan mobil, kemudian pergi ke kota dengan taksi. Entahlah, sampai sekarang mereka belum mengambil kembali mobil itu,” jawab Helen.


“Taksi? Kamu yakin? Ada taksi yang lewat sini atau bagaimana? Karena di sini tak ada sinyal telepon seluler,” tambah Dimas.


“Mereka meminjam mobil milik Tuan Anggra, Pak.”


Reno manggut-manggut, sambil menatap tajam ke arah Helen. Saat ini instingnya dipertaruhkan. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan wanita paruh baya ini.


“Aku akan melihat-lihat sebentar sekitar sini,” ujar Dimas.


Pria itu beranjak, dan keluar dari ruang tamu. Reno terus menatap Helen, seolah mengorek apa yang disembunyikan wanita itu. Helen berusaha tenang, memasang muka tanpa ekspresi.


***


Braaak!


Tiba-tiba saja sosok berjubah hitam masuk ke dalam bilik bawah tanah tempat dr. Dwi dan Mariah disekap. Ia terlihat gusar dan gelisah, dengan sebilah senjata tajam di tangan.


Mariah melirik ke arah dr. Dwi dengan gelisah. Wanita muda itu khawatir kalau-kalau si sosok itu akan berbuat nekat.


“Jangan mencoba macam-macam. Aku akan terus mengawasi kalian! Sampai detik ini kamu masih belum mencongkel mata wanita itu. Apa yang kau tunggu, Dokter?” tanya sosok berjubah pada dr. Dwi.


“Kondisinya tidak memungkinkan. Kamu harus tahu itu,” ucap dr. Dwi takut-takut.


“Aku tidak peduli!” potong sosok itu mulai marah.


“Tapi memang begitu keadaannya ....”


“Kalau kamu nggak sanggup! Maka biar aku saja yang melakukannya!”


Tiba-tiba sosok itu mendekati Mariah dengan gerakan cepat. Melihat itu, tentu saja Mariah merasa takut, ia bersembunyi di balik badan dr. Dwi. Amarah sosok itu tak tertahankan lagi, ia berusaha menarik tangan Mariah, sementara dr. Dwi mencegahnya.


“Hentikan!” kata dr. Dwi.


“Minggir Dokter! Biar aku ambil bola mata wanita ini!” kata sosok berjubah itu.


“Kamu nggak bisa melakukan itu!” cegah dr. Dwi.


“Berani sekali kau, Dokter! Menolak perintahku berarti mati!” ujar si sosok berjubah sambil mengacungkan senjata tajamnya.


“Aku nggak takut mati. Bunuh saja aku! Asal kamu bebaskan dia!” ujar dr. Dwi.


“Jangan sok jadi pahlawan, Dokter. Minggirlah! Aku akan bawa dia!”


“Tidak! Kalau kamu mau membawa dia, maka kamu harus bunuh aku dulu!”


“Kurang ajar!”


Sosok itu mulai naik darah. Ia menyabetkan senjata tajamnya tiba-tiba ke pergelangan tangan dr. Dwi hingga menggores kulit. Sontak dr. Dwi terkejut. Kulit lengannya tergores, dan darah mulai menetes! Saat itu pula, tangan sosok itu segera menyeret Mariah menjauhi dr. Dwi.


“Lepaskan aku! Lepaskan!” Mariah meronta-ronta berusaha lepas dari cengkraman sosok berjubah.


Melihat itu, dr. Dwi tidak tinggal diam. Walaupun kondisi pergelangan tangan terluka, ia berusaha menarik Mariah kembali. Sayangnya, luka di pergelangan tangan tak bisa diabaikan karena darah makin mengucur deras.


“Toloong!” pekik Mariah.


“Diam, Bodoh! Atau kubungkam mulutmu selamanya!” Sosok itu mengarahkan senjata tajam ke leher Mariah. Wanita muda itu terdiam seketika. Si sosok menyeretnya keluar bilik menuju ke sebuah bilik lain.


***