Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XCV. The Meeting


Hari menjelang malam. Suasana kastil semakin mencekam. Penghuni kastil menyiapkan makan malam sendiri, karena Helen tak menampakkan diri hari itu. Tak ada seorang pun yang ingin tahu keberadaan Helen. Mereka hanya ingin segera pergi dari kastil.


Dimas berkali-kali memeriksa mobil. Ia tidak mau kecolongan, mobil disabotase seperti dua mobil yang lain. Saat ini, mobil adalah sesuatu yang sangat berharga. Mobil adalah transportasi utama yang memungkinkan untuk tetap berhubungan dunia luar.


Sementara di ruang tengah, Reno sudah bersiap menunggu para penghuni kastil. Sejak siang tadi, Reno dan Dimas sudah menginformasikan bahwa selepas makan malam akan diadakan pertemuan seluruh penghuni di ruang tengah. Akan ada sesuatu yang hendak disampaikan, agar penghuni meningkatkan kewaspadaan


Sementara itu, di bawah kastil, tepatnya di ruang bawah tanah, Dokter Dwi dan Elina menyusur lorong gelap, memeriksa setiap bilik yang berjajar di situ, kalau-kalau ada sosok yang disekap di dalamnya. Setiap bilik yang dilewati diketuk pintunya, seraya berteriak,”Ada orang di sini?”


“Aku baru tahu kalau di bawah kastil ini terdapat ruangan yang begitu luas. Siapa yang membangun ini semua?” tanya Elina.


Ia merasa takjub dengan kondisi bawah kastil yangl uas, tetapi menyeramkan.


“Aku menduga kastil ini sudah ada sejak zaman kolonial. Kalau melihat dari arsitekturnya, mungkin dibangun oleh pemerintah Belanda untuk bunker persembunyian, atau tempat penahanan tawanan perang. Ada pula bekas tempat penyiksaan yang mengerikan. Kemudian tempat penyiksaan itu dipakai Anggara untuk melakukan aksi kejam kepada para penulis di masa lampau,” tutur dr. Dwi.


Elina begidik mendengar cerita dr. Dwi. Ia terus mengikuti langkah dokter itu untuk memeriksa setiap ruangan yang mereka lewati. Begitu banyak ruangan dan lorong, hingga mungkin akan menyesatkan apabila tak biasa berada di dalam situ.


“Ruang bawah tanah ini terhubung dengan ruang baca. Secara tak sengaja, aku menemukan sebuah tuas rahasia di balik lukisan. Ternyata lemari buku di sana terbuka, dan menghubungkan dengan ruangan di bawah tanah. Sayangnya seseorang mengetahui keberadaanku. Aku diperangkap dan tak bisa kembali ke atas sana,” lanjut dr. Dwi.


Elina mendengar cerita dokter itu dengan antusias, tetapi ia tak bisa memberi tanggapan apapun. Ia berpikir bahwa kastil ini adalah mimpi buruk baginya. Ia hanya ingin segera kembali ke atas. Berkumpul dengan Aldo, kemudian kembali ke kota dengan perasaan aman. Dalam agendanya, mereka akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat. Ia tidak ingin momen bahagia ini terancam batal gara-gara kasus ini.


“Ada orang di sini?” Dokter Dwi masih memeriksa ruang demi ruang.


Di salah satu ruang, tiba-tiba ia mendengar suara tertahan seperti mulut yang dibekap. Dokter Dwi mengintip dari balik jeruji karena penasaran. Di dalam ruangan yang gelap, ia melihat Mariah duduk di kursi dengan mulut yang diplester, kaki dan tangan diikat. Kondisinya sungguh kacau. Ia terlihat letih dan tatapan mata yang sayu.


“Astaga Mariah! Bertahanlah! Aku akan menolongmu!”


Mariah hanya megap-megap, tak bisa bergerak. DokterDwi segera memeriksa pintu bilik, tetapi dikunci. Ia bingung, bagaimana cara membuka bilik ini, karena hampir semua pintu bilik digembok, tetapi ada pula yang dibiarkan terbuka.


“Elina, kamu bisa bantu aku mencari sesuatu untuk membuka gembok ini?” pinta dr. Dwi.


“Maafkan aku Dokter. Bukan aku tidak mau. Tetapi aku trauma. Kemarin saat aku mencari linggis, seseorang menghantam kepalaku, sehingga aku berhasil ditangkap. Aku mohon, jangan suruh lagi aku mencari sesuatu di lorong ini. Aku nggak mau mati, Dokter!” ucap Elina.


“Hmm. Oke, aku mengerti. Kalau begitu kamu tunggu di sini saja. Aku yang akan mencari linggis di gudang sana!”


“Maaf Dokter. Kalau Anda mencari linggis, mugkin nggak akan menemukan karena psikopat itu sudah menyembunyikanya entah di mana. Kita harus cari cara lain untuk membuka bilik ini,” terang Elina.


Dokter Dwi terdiam sejenak, berusaha berpikir bagaimana cara membuka pintu bilik. Jalan satu-satunya adalah kembali ke atas, meminta bantuan atau mencari benda yang ada di sana. Ia khawatir karena ruangan di bawah tanah ini semua sama, sehingga akan sulit menemukan kembali apabila ditinggal.


“Elina, bolehkan aku menyobek bajumu sedikit?” pinta dr. Dwi.


“Apa? Apa yang hendak kamu lakukan, Dok?”


“Blus ini juga susah untuk dirobek tanpa bantuan gunting Dokter. Tapi aku punya cara lain. Bisakah Anda berbalik badan terlebih dahulu?” pinta Elina.


Dokter Dwi berbalik badan. Tak lama, ia membalikkan badan lagi, melihat Elina mengikatkan sesuatu pada jeruji pintu bilik itu.


“Astaga! Bukankah itu ...?”


“Iya Dokter. Itu celana dalamku. Kita nggak punya pilihan lain. Ayo kita segera ke atas!”


***


Selepas makan malam, satu persatu penghuni mulai berdatangan ke ke ruang tengah. Reno, Ammar, dan Dimas sudah menunggu di sana. Yang pertama datang adalah Michael. Ia segera mengambil tempat, tanpa berkata apa-apa. Ia penasaran, apa yang hendak disampaikan para polisi ini


Selanjutnya, disusul dengan Aldo yang terlihat gelisah, karena belum menemukan Elina sejak tadi. Lalu disusul lagi oleh Maira dan Hans yang datang hampir bersamaan. Setelahnya, Arvan juga bergabung. Para anak muda tetap diminta tetap bertahan dalam kamar oleh Maira, karena mereka sama sekali tidak ada sangkut-paut dengan kasus ini. Maira khawatir, mereka akan tambah panik apabila mengetahui fakta-fakta yang terjadi di dalam kastil. Antony sudah diantar oleh Maira menemui teman-temannya.


Yang mengejutkan adalah kehadiran Helen. Rupanya wanita paruh baya itu juga hadir, walaupun sedikit terlambat. Ia mengambil tempat agak jauh dari yang lain, dengan paras curiga. Ia berusaha tenang, tetapi para polisi itu tahu kegelisahan yang terpancar dari wajah perempuan itu.


‘Selamat datang, Helen. Maaf, kami terpaksa mengambil alih kastil, mengingat banyak kejanggalan di sini. Kami terpaksa mengumpulkan semua penghuni karena ada sesuatu yang hendak kami sampaikan. Sesuatu yang teramat penting yang perlu kalian ketahui,” terang Reno.


Helen tak menjawab. Ia hanya menatap ke depan dengan tatapan tajam.


“Siapa yang belum hadir?” tanya Reno kemudian.


“Tiara dan Adrianna, mereka belum hadir,” jawab Michael.


“Aku tadi sudah mengetuk kamar mereka, bahkan memeriksa ke dalam. Tapi mereka tak ada,” kata Maira.


“Kemana mereka?” tanya Reno lagi.


“Tadi siang aku bertemu saat Tiara dan Adrianna mencari obat untuk lengan Tiara yang terluka. Dia bilang, psikopat untuk mengejar dan berhasil melukai lengan Tiara,” sambung Aldo.


Reno mengernyitkan kening. Ia belum memulai bicara lagi, Tampak kekhawatiran dari parasnya. Ia menoleh ke arah Dimas.


“Baik, kamu mulai saja! Biar aku yang mencari mereka!” ucap Dimas.


Dimas bangkit dari tempat duduknya, melangkah menuju ke dalam kastil. Baru beberapa langkah ia berjalan tiba-tiba seluruh lampu di kastil padam! Keadaan menjadi gelap-gulita seketika.


***