
Acara makan siang baru saja dimulai. Semua penghuni baru kastil sudah berkumpul di meja makan untuk menyantap hidangan yang telah disajikan oleh Mariah, si pemilik kastil. Mereka tampak bersemangat, dengan paras-paras cerah, bersiap mengikuti acara reuni sekaligus liburan. Mariah juga merasa gembira bisa berkumpul dengan sahabat-sahabat lamanya. Ia tak sabar ingin membagi cerita, mengulang memori-memori masa lampau. Mereka masih tetap sama, tertawa dan bercanda, seperti saat bersekolah di SMA.
Ada beragam hidangan disajikan siang itu, semua menggugah selera. Ada jenis-jenis makanan laut dan ayam goreng, serta ada pula aneka tumis dan sayur. Mariah tidak memasak semua itu sendiri, tetapi memesan dari jasa boga sebelumnya. Mereka semua menikmati makan siang dengan puas. Pujian rasa yang sedap tertuju pada Mariah.
"Aku ucapkan terima kasih atas kehadiran kalian semua di kastil ini. Sebenarnya ide ini adalah ide Lily. Teman kita yang paling cantik dan paling betah sendirian di sini. Bertahun-tahun kita berpisah dan nyaris nggak ada kabar, kemudian kita dipertemukan dengan pasangan masing-masing. Ini akan jadi reuni yang paling berkesan buat kita semua," ucap Mariah membuka suara.
"Aku udah nggak sabar pergi ke air terjun!" ucap Aditya Permana sambil mengerling ke arah sang istri, Lidya.
"Sabar, Sayang. Nanti kita akan bersenang-senang di sana. Kau kan tahu, bahwa kita tidak bisa berduaan di kamar di sini. Kamar kita saling terpisah." Lidya Menanggapi.
"Iya, mengapa juga kamar kita harus terpisah seperti ini? Padahal kita ingin menikmati bulan madu yang tertunda," tambah Edwin Siregar
Mariah hanya tersenyum , seraya melirik ke arah Lily yang tampil cantik siang itu. Ia mengenakan blus sederhana dengan bahu terbuka, serta riasan tipis yang elegan. Ia terlihat seperti wanita anggun yang berkelas. Lily adalah perancang acara reuni ini, jadi semua aturan memang sudah disiapkan oleh wanita itu.
"Kalian tak perlu risau lah kawan-kawan. Mencoba lah untuk bersabar satu minggu ini. Secara tidak langsung ini adalah tes untuk kalian, seberapa lama kalian bisa tinggal tanpa pasangan. Hitung-hitung, kalian akan merasakan posisiku yang tak punya pasangan. Perlu juga lah kalian menghormati posisi Maya dan Farrel. Mereka kan tidak punya pasangan juga. Atau kalau perlu, kita jodohkan saja kah mereka?"
"Aku? Tidak perlu berlebihan seperti itu. Tetapi kalau sama Maya, aku siap saja!" kata Farrel, si pria sedikit gemuk itu tertawa riang.
Maya tampak kurang suka dengan obrolan itu, ia hanya tersenyum kecil, tak memberi tanggapan apa pun. Dalam otaknya, tertimbun berbagai macam rumus-rumus yang kadang membuatnya pusing, sehingga kalau sudah tak tertahankan, ia harus mengonsumsi obat penenang atau obat tidur.
"Jadi acara kita setelah ini apa? Aku sudah mulai bosan," sela Rosita.
"Sabar sayang, setelah ini kita akan menghabiskan wakti bersama-sama," bisik Edwin, sang suami.
"Apa kita bisa pakai kolam renangnya? Dari tadi aku sangat ingin merendam diriku di sana. Siang yang panas sini sepertinya cocok kalau kita pakai untuk mendinginkan diri di kolam renang," ucap Lidya.
"Kalian boleh pakai kolam renang itu, kapan pun kalian mau," tambah Mariah.
Pasangan Aditya-Laras sepakat untuk berenang siang ini, sedangkan sebagian lainnya ingin berada di kamar sambil beristirahat. Mariah membebaskan apa pun yang mereka ingin lakukan karena tujuan dari reuni ini memang untuk bersenang-senang, tidak ada yang formal. Lily juga tidak ingin membatasi apa saja yang ingin mereka kerjakan.
Selepas makan siang, kolam renang sudah dipakai oleh Lidya ditemani suaminya, Aditya. Lidya mengenakan bikini yang agak seksi, mempertontonkan lekuk tubuhnya yang aduhai. Ia dan Aditya sengaja bermesraan di dalam air sambil bercanda-canda, seolah kastil itu hanya milik mereka berdua. Gelak tawa mereka bahkan terdengar sampai ke dalam kastil.
"Minuman telah dataang!"
Tiba-tiba Lily hadir di area kolam renang sambil membawa satu gelas besar berisi jus jeruk dingin yang terlihat menyegarkan. Pasangan yang sedang berada di dalam kolam renang itu tampak antusias. Lidya melihat sekilas, kemudian memeluk pinggang suaminya.
"Kita kan memang sedang liburan sayang," ucap Aditya.
"Kita sedang reuni, Sayang. Aku tidak mau liburan bareng-bareng seperti ini. Kalau liburan, aku hanya mau kita berdua saja," ucap Lidya.
Lily hanya tersenyum mendengar percakapan itu. Ia berniat beranjak dari tempat itu.
"Sepertinya kalian butuh privasi ya? Baiklah. Aku akan tidak ingin mengganggu kalian," kata Lily.
"Eh. Lily. Bukan maksud kami mengusir, tetapi .... " Aditya merasa tak enak.
"Biarkan saja dia pergi, Sayang. Aku hanya ingin kita berdua saja di sini," bisik Lidya.
Lily benar-benar meninggalkan sepasang manusia yang sedang dimabuk asmara tersebut. Ia merasa lelah sekali hari ini, jadi ia ingin beristirahat saja di kamar. ia tidak tahu, kemana semua penghuni yang lain berada. yang jelas, suasana kastil sedikit sepi, hanya terdengar suara gelak tawa dari arah kolam renang.
"Sayang, apa tadi kamu sudah membawa krim anti sinar matahari? Aku tidak mau kulitmu terbakar terkena sinar ultra violet yang jahat ini. nanti aku bantu kamu menggosok punggungmu," ucap Aditya kepada istrinya.
"Untung kamu mengingatkanku, Sayang. masuklah ke kamarku secara diam-diam dan ambil di tas khusus kosmetik. Krim itu aku letakkan di sana," kata Lidya.
"Tunggu sebentar!"
Aditya keluar dari kolam renang, bergegas menuju ke dalam kastil. Sementara, Lidya sendirian di kolam renang yang terletak di belakang bangunan kastil itu. Lidya juga heran, mengapa seolah tidak ada yang keluar siang ini. Suasana tampak lengang. Sambil menunggu, ia hanya bermain-main air.
Sejenak kemudian, ia beranjak, untuk membasahi kerongkongannya dengan jus jeruk dingin buatan Lily. Ia menuang jus itu dalam gelas, dan segera menenggaknya. Ia merasakan kesegaran luar bias. setelah itu ia hendak pergi sebentar ke toilet belakang yang memang dikhususkan untuk bilas selepas berenang.
Toilet itu didesain sedemikian rupa, dengan pancuran di atasnya. Lidya mengguyur tubuhnya yang mulus dengan air yang mengucur dari pancuran. Saat ia asyik mengguyur tubuhnya sambil bernyanyi kecil, tiba-tiba aliran air terhenti. Berkali-kali ia nyalakan kran air, tetapi air tetap tidak mau mengalir.
"Kenapa sih ini," keluh Lidya.
Perempuan cantik itu membuka pintu toilet. Tak ada seorang pun di sana. Namun tiba-tiba ada seseorang yang mendorong pintu toilet dengan keras, sehingga Lidya terdorong lagi masuk ke dalam. Belum sadar siapa yang telah mendorongnya, tahu-tahu di hadapannya berdiri sesosok manusia dengan topeng mengerikan membawa sebuah parang. Ia ingin berteriak, tetapi terlambat! Parang itu sudah bertubi-tubi menghunjam tubuh Lidya. Wanita cantik itu bahkan tak sempat menjerit. Darah terpercik ke seluruh permukaan dinding, tak lama perempuan itu tersungkur di lantai dengan keadaan mengenaskan!
***