Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
387. Serangan Balik


Reno dan Dimas mendapati sosok Stella yang tampak lunglai sambil menggenggam sebuah pistol, lalu wanita itu menyerahkan pistol yang digenggamnya kepada Dimas. Dua orang polisi itu masih merasa takjub dengan kemunculan Stella yang selama ini diketahui menghilang. Padahal mereka mengira bahwa wanita ini telah tewas terbunuh, ternyata sekarang muncul dalam keadaan sehat. Apalagi kemunculan Stella bersamaan dengan terborgolnya Nadine dalam sebuah bilik. Dimas dan Reno tak bisa berkata apa-apa.


"Tangkap saja aku, Pak. Aku siap!" bisik Stella sambil mengangkat ke dua tangannya.


Dimas melihat ke arah Nadine yang saat ini masih dalam keadaan terborgol. Paras wanita itu hanya bisa meringis menahan sakit. Dari paha kanannya mengeluarkan darah yang mengucur. Rupanya, Stella telah menembak paha Nadine, agar perempuan itu merasakan rasa sakit hati yang ia alami. Mungkin tidak sebanding, tetapi Stela berharap paling tidak akan muncul rasa jera pada diri Nadine.


"Kamu menembaknya?" tanya Reno pada Stella.


"Iya, Pak! Aku ... aku bersalah. Aku yang telah memborgol dan menembak kakinya agar tak bisa digunakan untuk berjalan lagi. Sebab setiap langkahnya selalu diliputi kebencian. Dia telah membunuh teman-temanku dan Jeremy, orang yang sangat kucintai. Luka di kakinya bukanlah harga yang setara dengan itu, tetapi paling tidak ia bisa merasakan rasa sakit, walau tidak sepadan. Aku bisa saja meledakkan kepalanya, tetapi kupikir itu bukan hal yang baik. Aku bukan seorang pembunuh!" terang Stella.


Reno hanya manggut-manggut, sementara Dimas memeriksa keadaan Nadine. Wanita itu masih bergerak-gerak, dalam keadaan kaki terluka. Ia masih merasa gusar karena tangannya tak bisa digerakkan.


"Jadi kemana saja kau selama ini, Stella?" tanya Dimas.


"Itu bukan cerita yang singkat, Pak. Nanti akan kuceritakan. Yang jelas saat ini aku sudah cukup puas, karena dapat menghukum Nadine dengan tanganku sendiri. Aku rela kalau karena ini aku harus ditahan. Aku juga minta maaf karena telah membuat serangkaian kekacauan untuk menculik Nadine. Aku yang telah merusak instalasi listrik dan melempar bom molotov di ruang baca. Aku janji akan mengatasi itu semua. Maafkan aku!" ucap Stella.


"Harusnya kamu mempercayakan kepolisian dalam menangani kasus ini, Stella. Tapi kami senang kau kembali dalam keadaan selamat. Kami juga baru tahu kalau Jeremy tidak berhasil selamat dari serangan Nadine. Kami sangat menyesal, dan juga bersimpati kepadamu. Saat ini kami juga belum menemukan Mariah. Semoga setelah ini, semua akan berjalan normal kembali. Kami tak akan mempersalahkanmu karena penembakan ini. Bukankah Nadine memang pantas menerima itu?"


Dimas melirik ke arah Nadine. Perempuan itu balas menatap dengan penuh amarah, seolah luka tembak di pahanya bukanlah masalah besar. Walau merasa nyeri, tetapi rasa jumawa masih meliputi hatinya. Ia masih menyimpan dendam yang tiada kunjung padam, sehingga Dimas merasa cukup gemas melihat kekejian wanita itu.


"Apa tak ada rasa penyesalan di dirimu, Nadine?" tanya Dimas.


"Cuih! Tak ada rasa menyesal buat aku untuk menghabisi manusia-manusia macam kalian. Aku tak akan pernah berhenti untuk membalas sakit hati ini. Tidak akan! Jangan kau pikir kamu bisa melenggang begitu saja, Stella. Aku akan terus mengejarmu sampai ke ujung dunia atau sampai liang lahat sekali pun!" ancam Nadine.


Stella tak perlu menanggapi ocehan Nadine. Dalam keadaan terbelenggu pun wanita itu masih sesumbar dan meracau untuk memburunya. Tentunya hal itu membuat Dimas dan Reno merasa jengkel dengan kebusukan hati yang dimiliki oleh Nadine.


"Aku mempunyai ide yang lebih baik untuk Nadine," ucap Dimas kemudian.


"Apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Reno.


"Menurutmu apa yang pantas untuk orang berhati iblis sepertinya? Penjara selama 10 tahun? Cacat kaki seumur hidup? Tidak. Itu terlalu ringan baginya. Bagaimana kalau kita tutup kasus ini, kita anggap si pelaku menghilang dan kita jadikan sebagai kasus X-files? Kita tidak usah memproses Nadine," terang Dimas.


"Lalu bagaimana?"


"Aku mempunyai ide yang lebih baik. Kita tinggalkan dia dalam keadaan terborgol di bilik ini selamanya, agar bisa merasakan ketakutan dalam kegelapan, merasakan kelaparan dan kehausan, sama seperti yang ia lakukan pada Niken dan beberapa korban lain. Bukahkah itu sepadan?" usul Dimas sambil tersenyum sinis.


"Aku setuju!" jawab Stella cepat.


"Aku tidak setuju!"


Reno belum menjawab apa pun, ketika sebuah suara terdengar dari luar pintu bilik. Semua mata memandang ke arah suara yang baru terdengar itu. Mereka melihat sosok Ryan yang sudah berdiri di depan pintu dengan tatapan sedih. Nadine tampak gembira melihat kehadiran Ryan di bilik itu.


"Ryan! Syukurlah kau datang. Tolonglah aku, Sayang. Aku tidak mau berada di sini. Kamu mencintaiku kan? Please, bantu aku keluar dari borgol ini. Aku sayang kamu, Ryan. Kamu harus tolong aku. Bantulah aku," pinta Nadine dengan nada memelas.


"Iya Nadine. Aku tahu bahwa kamu memang mempunyai kesalahan fatal. Biar bagaimanapun kamu adalah istriku dan aku memaafkan segala yang kamu lakukan. Kumohon Pak Dimas, lepaskan dia. Aku bersedia menjadi jaminan kalau dia hendak berbuat macam-macam lagi. Kurasa bukan ide yang baik membiarkan dia berada di sini sendirian, Pak," pinta Ryan.


"Kamu jangan terpedaya olehnya Ryan! Kamu merasakan sendiri kan saat pakaianmu disembunyikan olehnya, lalu memancingmu pergi ke pondok kayu itu, dan mengurungmu dalam bilik sialan itu? Kamu masih ingat kan? Kalau saja tidak kuselamatkan dirimu, maka kamu yang akan membusuk dalam pondok itu. Dan sekarang kamu membebaskan dia? Itu sama sekali bukan harga yang pantas untuknya!" ucap Stella.


Ryan terdiam, berpikir sejenak. Yang dikatakan Stella memang benar. Ia masih teringat saat dirinya disekap dalam bilik dalam pondok kayu di tengah hutan itu oleh Nadine. Namun, entah mengapa rasa cinta menutupi semua kejahatan yang dilakukan Nadine. Ia hanya menggeleng lemah.


"Aku mau Nadine dibebaskan dan diproses seperti layaknya tersangka biasa," gumam Ryan.


"Oke ... oke. Aku paham yang kamu rasakan Ryan, walau kami nggak setuju. Biar bagaimana, cinta itu buta, terlebih dia adalah istrimu. Kalau begitu silakan buka borgol itu! Stella, kamu bawa kunci borgolnya kan? Berikan pada Ryan, biar dia melepaskan Nadine!" perintah Dimas.


Stella yang membawa kunci borgol itu segera melemparkannya kepada Ryan. Pria itu dengan sigap menangkap, lalu melangkah mendekati Nadine. Perasaan Nadine sangat gembira saat Ryan hendak menolongnya. Matanya berbinar-binar karena senang. Ryan membuka kunci borgol, lalu memegangi Nadine agar tidak terjatuh, karena kaki Nadine tentu dalam keadaan lemah karena telah tertembak.


Namun, semua sungguh di luar dugaan. Nadine rupanya masih menyimpan sebilah benda tajam yang diselipkan di pinggangnya. Secara reflek dan cepat, ia mengambil benda tajam itu, kemudian menyabetkan ke perut Ryan.


Breet!


"Aaah!"


Ryan terpekik. Tidak menyangka kalau Nadine akan tega melakukan hal itu padanya. Baju di bagian perut sobek, bahkan kulit perutnya tergores. Belum lagi ia menyadari, tiba-tiba Nadine menyerang dengan benda tajam, menghunjam ke arah Ryan!


Door!


Door!


Suasana hening setelahnya.


***