Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
111. Pemakaman


Kedelapan mahasiswa itu duduk melingkar di sebuah kursi taman di area kampus. Suasana masih pagi, belum begitu panas. Pohon-pohon besar yang tumbuh di situ, menaungi dari sinar matahari yang bersinar. Mereka terlihat serius membicarakan sesuatu, dengan suara yang sedikit berbisik. Satu-satunya yang tak bisa menghadiri pertemuan itu adalah Ferdy, karena ia harus kerja di apotek.


“Seperti yang kalian tahu, polisi sudah mengetahui identitas Jenny. Itu artinya kita harus bersiap-siap. Suatu saat pasti polisi akan memanggil kita satu-persatu atau bahkan mungkin bersamaan. Karena nenek Jenny pasti bercerita kalau terakhir kali Jenny keluar bersamaku. Aku nggak bisa lagi bohong, karena akan menyulitkanku nanti di kemudian hari,” ucap Rudi.


“Itulah! Dari awal kan sudah kubilang mending kita melapor ke polisi. Kalau kayak gini kan jadi ribet urusannya. Kita semua jadi tersangka,” keluh Alex.


“Denger ya Lex, kita di sini nggak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi. Ini adalah kenyataan yang nggak bisa dihindari. Bagaimanapun kita harus terima konsekuensinya. Ingat! Kita semua! Bukan hanya aku!” sanggah Rudi.


“Aku menyesal datang ke pestamu!” ucap Miranti spontan.


“Rudi benar. Sekarang kita harus memikirkan langkah selanjutnya. Apakah kita jujur saja pada polisi? Toh kita nggak bunuh si Jenny? Jadi jujur aja, kalau waktu itu kita bingung karena menemukan mayat di kamar mandi. Pasti polisi maklum aja kok,” ucap Gerry.


“Masalahnya bukan maklum atau nggak maklum. Kalau polisi itu keluargamu sendiri ya pasti maklum. Tapi semua yang di negeri ini kan ada hukumnya. Bisa jadi apa yang kita lakukan itu melanggar hukum, karena dianggap menghilangkan barang bukti pembunuhan, apa pun alasannya!” terang Alex.


Semua terdiam mendengar perkataan Alex. Pikiran mereka buntu, tak dapat berpikir lebih jauh. Yah, yang mengkhawatirkan mereka adalah jerat hukum. Mereka berharap mereka lolos dari hukum yang berlaku karena membuang mayat ke danau.


“Aku ada ide,” kata Gerry kemudian.


“Semoga ide yang baik, bukan ide yang konyol lagi!” ucap Miranti.


“Begini. Lebih baik kita jujur saja kalau malam itu kita benar-benar bingung, dan nggak tahu harus bagaimana. Mayat itu tiba-tiba di kamar mandi, dan bilang saja kita nggak punya niat buruk sama sekali. Kita hanya takut berurusan dengan polisi kan? Nanti aku akan minta bantuan Om Ramlan, pengacara keluargaku yang punya banyak channel di kepolisian. Biar dia yang atur agar kita lolos dari jerat hukum. Bagaimana?” usul Gerry.


Mereka tak menjawab apa pun, karena pada dasarnya juga bingung apa yang harusnya dilakukan. Dalam hati, mereka setuju saja segala cara dilakukan asal kasus ini tidak berlanjut ke masalah hukum. Bagaimanapun mereka adalah anak-anak muda yang awam dengan hukum, yang bertindak berdasarkan emosi, tanpa memikirkan dampak ke depannya.


“Siang ini, Jenny dimakamkan di pemakaman umum dekat rumahnya. Sebaiknya kita harus datang untuk menunjukkan rasa belasungkawa. Bagaimana kalau kita datang sama-sama? Saat seperti ini kita harus kompak dan saling percaya. Karena ini adalah masalah kita bersama,” ucap Adinda.


“Aku setuju. Kita harus datang ke pemakaman Jenny,” tambah Alex.


“Aduh, boleh nggak aku nggak hadir? Sore ini aku harus antar Mamaku berobat ke klinik, karena kakakku lagi keluar kota. Boleh ya?” pinta Alma.


“Ibumu masih sakit, Sayang?” tanya Gerry.


“Nggak sih. Tapi kan wajib kontrol tiap minggu, Ger.”


“Ya udah. Alma boleh nggak ikut ke pemakaman siang ini. Yang lain harus ikut ya. Ferdy juga lagi kerja, jadi otomatis dia nggak ikut juga,” kata Rudi.


Mereka sepakat dengan keputusan yang baru dibuat. Siang itu juga, mereka menggunakan dua buah mobil, pergi ke pamakaman kampung yang sudah dipadati pelayat. Tampaknya jenazah Jenny sudah hendak dimakamkan. Ada perasaan takut di benak para anak muda ketika menginjakkan kaki di pemakaman. Walaupun siang, mereka merasakan aura seram di sana.


“Nggak nyangka banget kalau Jenny bakal mati muda ya? Aku belum siap kalau harus mati muda,” gumam Lena.


“Ngaco ah! Males banget bahas begituan!” sewot Lena.


Mereka mengikuti jalannya pemakaman dengan syahdu. Nenek Jenny terlihat sedih, tampak dipapah oleh para tetangga. Rudi tak berani menampakkan diri terlalu dekat, karena ia merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Ia yang mengajak Jenny malam itu untuk menghadiri pesta tahun baru di kediaman Gerry. Tentunya, kalau ada orang yang patut disalahkan, sudah pasti itu dirinya.


Setelah acara pemakaman selesai, mereka tak mau berlama-lama di tanah pekuburan itu. Tanpa membuang banyak waktu, mereka segera naik mobil, tanpa berkata apa pun. Mereka kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan yang bercampur-aduk.


***


Alma sedang bersiap-siap di depan meja rias, seraya mengusap bibirnya dengan lipstik warna natural. Wajahnya yang mulus, ia saput dengan bedak tipis. Walaupun akan pergi ke rumah sakit, ia merasa penting untuk menjaga penampilan. Mamanya mengidap diabetes melitus, sehingga wajib kontrol ke dokter tiap pekan.


“Cepetan dandannya, Alma! Ntar keburu sore!” tegus Mama Alma.


“Iya Mah. Dikit lagi nih!”


Alma buru-buru menyelesaikan acara dandannya, kemudian menyambar tas kecil. Mamanya sudah siap di dalam mobil, menunggu Alma mengemudi.


“Nyetir pelan-pelan aja ya!” kata Mama.


Alma mengangguk. Mobil sedan putih itu keluar garasi, kemudian meluncur ke menuju rumah sakit yang agak jauh dari rumah. Kondisi jalan cukup ramai sore itu, tetapi Alma dapat mengatasi dengan baik. Ia menikmati suasana sore, sembari menutar musik dari radio mobil.


Sesampai di rumah sakit, Alma memarkir mobil di tempat parkir bawah tanah. Gedung rumah sakit itu terlihat megah. Mereka harus naik lift untuk menuju lobby. Setelah mendaftar, mereka harus menunggu di ruang tunggu. Malangnya, salah seorang perawat mengatakan bahwa dokter baru datang pukul enam sore karena ada urusan mendadak. Alma mendengkus kesal.


“Jadi gimana nih? Kita pulang dulu atau nunggu. Rumah lumayan jauh loh, belum lagi kena macet.”


“Kita tunggu aja, Alma. Bisa nggak kamu ambilkan botol air minum Mama di mobil? Sambil belikan cemilan kalau ada,” perintah Mama.


“Iya Ma. Mama tunggu di sini aja ya!”


Alma turun kembali ke ruang parkir bawah tanah yang gelap, karena menjelang sore. Lampu belum dinyalakan, suasana sangat sepi. Ia hampir lupa tempat mobilnya diparkir. Belum lagi ia menemukan mobilnya, ia mendengar suara langkah kaki seperti mengikuti. Awalnya ia tidak peduli, karena ia berpikir mungkin orang lain yang juga memarkir mobil.


Namun, ketika ia menoleh ke belakang, ia tak melihat seorang pun di belakangnya. Jadi langkah siapa itu? Ia mulai merinding. Ia mempercepat langkah, ingin segera menemukan mobilnya. Perasaannya tidak nyaman. Mungkin karena panik, ia salah menuju lorong. Mobilnya tak ia temukan di situ. Alma tak hilang akal, ia menggunakan kunci otomatis, sehingga mobilnya berbunyi.


Tiit ... tiiit ... tiit!


Mobilnya meraung di sisi lain. Ia segera berbelok arah menuju suara mobilnya yang meraung, tetapi langkah kaki itu juga semakin jelas terdengar, bahkan seperti suara berlari. Untunglah, ia segera sampai di dekat mobil. Namun, langkahnya terhenti, ketika tiba-tiba ia melihat sosok ber-hoodie, dengan wajah tertutup berdiri mematung tak jauh di depannya!


***