Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
251. Pesan Reno


Jarum jam merapat ke pukul empat sore. Di cafe yang terletak di pusat kota, masih dipadati pengunjung yang ingin menikmati suasana sore atau menikmati makan siang yang tertunda. Reno duduk di salah satu meja sambil menatap ke arah luar, tak peduli dengan keramaian cafe. Ia telah menghabiskan secangkir kopi yang tak begitu manis. Rasanya sedikit bosan menunggu kehadiran Henry dan Rianti yang sudah berjanji akan datang ke Cafe sore ini.


Sepuluh menit kemudian, Henry tiba di cafe itu dengan sedikit tergopoh. Setelah menurunkan Ollan di rumah, ia bergegas melajukan mobil ke Alamanda Cafe. Tak sulit mencari Reno, karena hanya ia satu-satunya yang duduk sendirian di Cafe itu. Semua pengunjung cafe datang bersama pasangannya masing-masing, atau ramai-ramai bersama teman.


"Maaf Pak, aku sedikit telat," kata Henry sembari mengambil tempat di hadapan Reno.


"Sibuk?" tanya Reno.


"Iya sedikit. Ada kerjaan yang harus saya selesaikan. Tapi semua beres kok. Ngomong-omong tumben Pak Reno ngajakin ketemu di Cafe. ada apa ya? Sepertinya serius banget," kata Henry.


"Memang ada hal yang serius ingin kubicarakan hari ini. Sesuatu yang berhubungan dengan hidup dan mati. Jadi aku harus menyampaikan padamu segera," kata Reno.


"Wah Pak Reno buat saya taku saja. Ada apa sih, Pak?" tanya Henry tak sabar.


"Aku ingin mengatakan padamu, tetapi sebaiknya kita tunggu Rianti sebentar," kata Reno.


"Rianti? Rianti juga diundang kesini?"


Henry tampak bingung. Sebenarnya, ia merasa kurang nyaman apabila Rianti diundang pula ke tempat ini. Namun ia berusaha bersikap biasa saja. Matanya menoleh kesana-kemari. Ia kelihatan sedikit gelisah dan tak nyaman.


"Ya, karena ini berkaitan dengan kalian berdua sebagai suami istri.Jadi ini penting kusampaikan. Hmm, kau tak apa-apa? Kelihatan tidak nyaman sepertinya," ujar Reno.


"Ti-tidak. Aku tidak apa-apa," ucap Henry.


Reno hanya mengangguk saja, tetapi kegelisahan Henry menjadi catatan tersendiri baginya. Sambil menunggu, ia memesan beberapa makanan dan minuman. Henry tampak tak sabar, sebab ia hapal apabila mengundang Rianti, pasti wanita itu selalu terlambat, karena banyak yang harus ia siapkan. Sifatnya yang agak perfeksionis membuat ia selalu ingin tampil sempurna di depan publik.


Pada akhirnya, yang ditunggu-tunggu pun tiba. Rianti tiba di cafe itu dengan tampilan baru. Ia memakai blus yang elegan, dan tatanan rambut baru yang diwarnai kemerahan. Henry terperanjat melihat perubahan penampilan istrinya. Ia sama sekali tak menyangka kalau sang istri mempermak tampilan menjadi super heboh seperti itu. Rianti tak peduli dengan tatapan keheranan suaminya. Ia langsung duduk menghadap Reno.


"Selamat sore, pasti kedatanganku yang paling ditunggu," ucap Rianti sambil tersenyum.seraya melirik ke arah suaminya.


"Kau terlihat cantik sore ini," puji Reno.


Rianti tersipu malu sambil matanya melirik ke arah Henry. Aktor itu hanya mendengkus, pura-pura tak bereaksi dengan lirikan Rianti. Aroma parfum Rianti yang semerbak agak mengganggu penciumanannya, namun ia pura-pura nyaman dengan keadaan itu.


"Jadi sebenarnya apa yang hendak Anda bicarakan, Pak Polisi?" tanya Rianti.


"Oke ... oke. Langsung saja ya. Aku nggak pandai berbasa-basi, tetapi tentunya kalian tahu kan bahwa Renita Martin telah terbunuh tadi malam. Bahkan rekan kami dan adik Renita juga masih menghilang. Nah, si pembunuh ini kembali meninggalkan tulisan berisi ancaman, sama seperti saat mereka hendak membunuh Pak Daniel, Anita, dan Ollan. Isi dari teka-teki itu adalah petunjuk tentang ciri-ciri orban dan bagaimana korban akan dibunuh,"


Reno menghela napas sejenak, kemudian menyeruput kopinya.


"Tunggu Pak. Sebelum Anda melanjutkan lebih jauh. saya ingin bertanya. Apa hubungan teka-teki itu dengan kami? Apakah Bapak menuduh salah seorang dari kami adalah seorang pembunuh?" tanya Rianti dengan nada agak tinggi.


"Tunggu! Tunggu! Bukan begitu maksudku. Aku sama sekali tidak menuduh kalian sebagai pembunuh. Bahkan sebaliknya. Aku hendak mengingatkan kalian,bahwa pelaku pembunuhan itu sangat dekat. Kalian harus waspada. Maaf, aku tidak sedang menakut-nakuti kalian, tetapi jangan sampai kejadian pada Renita terulang kembali pada kalian," ucap Reno.


"Renita? Emang Renita juga mendapat ancaman pembunuhan sebelumnya?" tanya Rianti.


"Ya, benar. Ancaman terhadap Renita bahkan dikirim langsung ke alamat rumahku dalam bentuk paket tanpa nama pengirim. Sedangkan teka-teki berikutnya sengaja diletakkan di meja agar aku mudah mengambilnya. Pembunuh itu sengaja memberi petunjuk korban berikutnya. Sebaiknya kalian waspada!"


"Dalam teka-teki itu tersebut nama kami atau bagaimana?" Henry mulai antusias.


Henry terdiam, matanya menyorotkan ketakutan, demikian juga Rianti. Ia juga terdiam, tapi tak berkata apa-apa. Sejenak kemudian. Rianti angkat bicara.


"Maaf Pak, bukannya kami tidak percaya dengan isi teka-teki itu, tetapi terlalu dini kalau menyimpulkan bahwa kami adalah korban berikutnya. Kurasa aku akan beraktivitas seperti biasa, Ya mungkin kami akan lebih waspada, aku setuju itu," kata Rianti.


"Aku akan lebih waspada, Pak. Setidaknya dua hari ke depan bukan? Saya akan tetap tinggal di rumah dan tidak kemana-mana," kata Henry.


"Ingat! Rumah bukan tempat yang aman pula. Renita dibunuh dalam rumah yang telah dipasang alarm pengaman, tetapi tetap saja si pembunuh dapat menyusup dan menghabisinya. Aku tidak mau kelalaian kalian berakibat fatal. Kalau kalian membutuhkan pengamanan, maka kami siap membantu," ucap Reno.


"Aku akan tetap di rumah, Pak!" Henry bersikeras.


"Aku ... aku entahlah. Aku hanya ingin beraktivitas seperti biasa saja.Sebenarnya aku lebih banyak beraktivitas di luar bersama ibu-ibu lain. Jadi mungkin aku akan jarang di rumah," kata Rianti.


"Apa pun aktivitas kalian, tetaplah waspada, karena maut bisa datang secara tiba-tiba. aku tidak menjanjikan apa pun kepada kalian, tetapi kuharap kalian tetap waspada!" pesan Reno.


***


Widya merasa gemetar, ia melihat Guntur yang datang tiba-tiba berada di depan pintu. Ia menatap Widya dengan tatapan marah. Wanita berkacamata itu gelagapan, tak menyangka kalau Guntur kembali secepat itu, padahal tadi ia berpamitan hendak makan siang. Ia masih memegang buku agenda milik Guntur yang berisi catatan harian.


"Ka-kamu sudah makan siang?" tanya Widya.


"Ada yang tertinggal!"


Guntur tergesa masuk ke dalam ruangannya, merebut buku agenda yang ada di tangan Widya dengan cepat. Ia terlihat marah karena Widya lancang membuka barang pribadinya dengan tanpa izin. Guntur kemudian membuka laci yang lain untuk mengambil dompet yang tertinggal.


"Kau lakukan lagi, kau akan menyesal!" gumam Guntur sambil menatap tajam wajah Widya.


Widya merasa ketakutan. Ia tak pernah melihat Guntur bersikap seperti itu sebelumnya. Ia hanya mengangguk pelan. Parasnya tertunduk, untuk menghindari Guntur yang menatap marah kepadanya.


"Ma-maafkan aku, Gun!" lirih Widya.


"Apa yang sudah kau lihat?" tanya Guntur.


"Ti-tidak ada Gun. Aku belum melihat apa-apa. Lagipula, kalaupun aku melihat sesuatu, aku tidak akan mengatakan yang lain," ucap Widya takut-takut.


"Foto itu? Apa kamu melihatnya?" cecar Guntur.


Widya hanya mengangguk perlahan.


"Lain kali tidak perlu turut campur dengan kehidupan pribadi seseorang. Kau tahu, foto itu adalah kenangan masa kecilku dengan saudara perempuanku. Tapi aku tak ingin menceritakan padamu, karena memang itu tidak penting untukmu. Dan kau tak perlu tanya-tanya siapa saudara perempuanku dan di mana dia sekarang! Kutegasakan lagi, itu bukan urusanmu, Wid!" tegas Guntur.


Widya terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Apa yang dilakukannya memang salah, karena berusaha mengetahui kehidupan seseorang tanpa seizinnya.


"Ma-maaf Gun, aku tidak bermaksud begitu. Aku tidak sengaja dan ...." bisik Widya.


"Sekarang keluarlah!" perintah Guntur.


***