
Gerry berdiri dengan jantung berdebar hebat. Matanya menatap ke arah Nayya yang ketakutan. Ia tidak menyangka kalau sosok itu akan membunuhnya, dengan Gerry sebagai perantara. Gerry sebenarnya ingin meledakkan pistol ke arah kepala sosok itu, tetapi ia merasakan tajamnya belati di leher yang semakin menekan. Ia hanya bisa menahan napas.
“Kamu bisa melakukannya kan? Cukup mudah. Kamu hanya perlu mengarahkan pistol ke arah kepala gadis itu, menarik pelatuknya dan boom!! Tugasmu selesai. Semudah itu. Setelah selesai aku akan memberikanmu tiket untuk keluar dari apartemen ini. Aku yang akan mengurus mayatnya. Jadi segera saja kita selesaikan urusan ini,” ucap sosok itu.
“Aku ... aku tidak bisa,” gumam Gerry lemah.
“Kamu sudah berjanji Ger! Pantang bagi pria untuk mengingkari janjinya. Jadi aku akan menunggu sampai kamu menunaikan janjimu.”
Gerry tak dapat berkata apa-apa. Ia tak dapat membayangkan seandainya pistol benar-benar meledak di kepala Nayya. Ia tentu akan merasa bersalah seumur hidup, dan tak dapat memaafkan kebodohannya. Di sisi lain, ia tidak ingin mati begitu saja, demi memuaskan hasrat membunuh manusia psikopat itu. Semua yang terjadi bagai buah simalakama. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan.
“Oke ... oke. Begini saja, aku yang akan mengeksekusi gadis itu di depan matamu. Bagaimana menurutmu?” tanya sosok itu.
“Tidak!” tolak Gerry cepat.
“Mengapa? Apa pentingnya gadis itu buatmu? Bukankah dia bukan pacarmu? Kenal pun juga tidak akrab dengan dia. Tak ada pengaruhnya apabila dia mati.” Sosok itu terus berkicau.
“Dia ... dia manusia juga. Dia tak pantas mati,” ucap Gerry.
Sosok itu tertawa mendengar penuturan Gerry, sembari menyeringai.
“Kita tidak sedang berbicara masalah kemanusiaan di sini. Ini bukan pelajaran tentang moral. Persetan dengan kemanusiaan. Siapa bilang dia tidak pantas mati? Kita bicara tentang keadilan yang sudah lama mati. Kini saatnya semua yang ia lakukan dibayar lunas hari ini!” ucap sosok itu.
“Keadilan menurut siapa? Menurutmu kan?”
Gerry mencoba terus mengulur waktu dengan mengajak sosok itu terus berbicara.
“Aku tidak mau berdebat! Kalau kamu nggak sanggup bunuh dia. Maka aku yang akan melakukan!” ucap sosok itu.
Tiba-tiba, Nayya menyela pembicaraan. Ia berusaha buka suara.
“Oke ... oke! Aku paham. Urusan dendam ini hanya urusan kita berdua, dan nggak perlu melibatkan dia. Jadi mereka kita selesaikan ini berdua saja. Biarkan dia pergi!” ucap Nayya.
“Oh, ternyata kalian saling melindungi? Baiklah kalau begitu. Rupanya kalian berdua sama-sama tak ingin melihat ada yang mati. Padahal, skenario awalnya tidak begitu. Lihat! Kalian telah membuat kacau apartemen ini. Kalian berdua cukup merepotkan. Kupikir salah satu dari kalian harus ada yang mati!”
Tiba-tiba sosok itu merebut pistol dari tangan Gerry, kemudian mengacungkan kepada Nayya, kemudian berganti ke arah Gerry.
“Siapa yang mau mati duluan? Kurasa peluru di pistol ini tinggal sebutir. Pasti sebutir ini akan sangat berharga sekali. Aku harus memilih siapa di antara kalian yang harus mati!” ucap sosok itu.
Suasana berubah tegang. Gerry dan Nayya saling berpandangan, menunggu detik-detik siapa di antara mereka yang akan dieksekusi duluan.
Duk ... duk ... duk!
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk . Sontak sosok itu merasa gusar. Gerry dan Nayya secara bersamaan menghela napas lega. Mereka berharap ada orang yang bisa menolong keluar dari apartemen itu.
Ia bergegas ke arah pintu, sambil berpesan kepada Gerry dan Nayya,”Jangan bertindak bodoh!”
Sosok itu membuka sedikit pintu itu, kemudian mendapati seorang perempuan asing yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Perempuan itu membawa sebuah bungkusan yang dibungkus tas plastik hitam.
“Ada apa ya?” tanya sosok itu.
“Ada kiriman buat .... “
Perempuan itu mengeluarkan bungkusan yang dibawanya, kemudian menunjukkan nama tujuan kepada sosok itu.
“Oh iya, ini saya! Dari siapa kiriman ini?” jawab sosok itu.
Perempuan itu menggeleng cepat, kemudian berlalu dari hadapan sosok itu, sebelum mendapat ucapan terima kasih. Sosok itu merasa heran. Mengapa ada paket aneh yang ditujukan kepadanya? Apa isinya?
***
Reno dan Dimas berjalan menyusuri jalan sempit tak beraspal, kemudian berhenti di depan sebuah rumah besar berlantai dua yang berlokasi di atas bukit yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun. Dari arah jalan raya, rumah besar ini tidak terlihat. Akses masuknya berupa sebuah jalan setapak kecil yang baru saja mereka lalui.
Rumah itu berarsitektur Belanda, dengan tiga pilar besar di beranda, dan jendela-jendela besar yang tertutup. Kesan angker langsung menyeruak ketika mereka baru menginjakkan kaki ke sana.
“Ini adalah rumah peristirahatan Mr. Jan Pieter, seorang Belanda yang beristrikan pribumi di zaman kolonial. Bertahun-tahun rumah ini dibiarkan terbengkalai. Rumah ini diwariskan pada putri semata wayang mereka, Katrina. Katrina memilih untuk kembali ke Belanda, kemudian rumah ini diurus oleh orang sewaan Katrina. Nah, kebetulan aku kenal dengan orang sewaan itu. Pak Paiman. Aku berencana menyewa bangunan terbengkalai ini sebagai tempat isolasi orang-orang yang kita curigai sebagai pelaku pembunuhan berantai,” ujar Reno.
“Wah, aku setuju Ren! Dengan isolasi itu makin mudah untuk kita untuk menyelidiki. Ini sedikit mengingatkanku dengan kastil tua.”
“Yah, kita akan giring para mahasiswa itu untuk tinggal di sini selama beberapa hari, kemudian kita lihat apa yang terjadi. Apakah pembunuhan itu masih tetap terjadi atau tidak. Ini adalah upaya kita untuk memecahkan kebuntuan dari kasus ini. Firasatku, pelakunya memang salah satu dari mereka. Semua pembunuhan yang terjadi, baik itu Jenny, Alma, Tari, dan Fani saling berkaitan.”
“Aku sependapat. Semua pembunuhan itu bermuara pada satu orang. Mungkin iya, awalnya pembunuhan Jenny memang ada motif tertentu. Demikian juga Alma. Tapi pembunuhan Tari dan Fani adalah pembunuhan yang tak terencana. Dua wanita malang itu berada di tempat dan waktu yang salah, sehingga ikut menjadi korban,” sambung Dimas.
“Bagaimana dengan Gerry dan Nayya? Kamu punya teori?”
“Nayya diculik sepulang berbelanja dari supermarket, dan sampai sekarang nasibnya belum diketahui. Demikian juga Gerry. Aku berharap keduanya masih hidup. Motifnya aku juga belum tahu apa. Yang jelas, pembunuh ini mulai bergerak untuk membunuh siapa-siapa yang terlibat dalam lingkaran kehidupannya. Sore ini aku berencana membuka semua media sosial yang ada hubungannya dengan para mahasiswa itu. Kadang kita bisa mengorek informasi penting dari media sosial," ucap Dimas.
“Ya, ide bagus. Insting detektifku mulai menguat. Pembunuh itu nggak akan bisa berkutik. Aku yakin, dalam waktu dekat kita bisa membekuknya. Semoga nggak ada korban jatuh lagi setelah ini,” ucap Reno.
“Oke. Kalau gitu mari kita temui Pak Paiman. Dia tinggal di belakang rumah tua ini kan?”
“Iya. Dia tinggal bersama istrinya, Bu Mariyati, di belakang rumah ini. Mari kita kesana untuk membicarakan ini!”
Keduanya berjalan memutari rumah, menuju sebuah rumah lain yang lebih kecil agak ke belakang bangunan utama. Tujuan mereka adalah meminjam sementara rumah tua ini untuk isolasi sementara para tersangka pembunuhan, agar pembunuhan tak terjadi lagi di luar sana.
***