Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
116. Dompet Misterius


Selepas dari pemakaman Alma, Rudi dan Nayya tidak langsung pulang, melainkan singgah untuk makan siang di sebuah restoran. Sebenarnya sudah sangat terlambat untuk makan siang, karena waktu sudah menunjukkan pukul 16.16. Namun, saat di pemakaman Alma tadi, Rudi merasa lapar sehingga memutuskan untuk makan terlebih dahulu.


Mereka duduk di dalam restoran kecil yang tak seberapa ramai, seraya memesan makanan yang tidak begitu berat, tetapi cukup mengenyangkan. Mereka tidak mengobrol banyak. Mata Rudi terus bergerilya kesana-kemari dengan cemas, takut bertemu dengan pihak berwajib.


Kenyataannya, ketakutan itu terbukti benar. Sepulang dari acara makan, ia mendapati sebuah surat dari kepolisian yang isinya meminta kehadirannya di kantor polisi untuk diambil keterangan seputar kematian Jenny Veronica. Ia bingung, apakah harus mendatangi panggilan tersebut. Kalau ia tidak datang, pasti akan dijemput paksa oleh pihak berwajib.


Nayya yang masih berada di kontrakan Rudi ikut penasaran dengan surat itu.


“Surat dari mana, Rud?” tanya Nayya.


Sebenarnya Rudi tidak ingin bercerita, tetapi ia berpikir tak ada gunanya menghindar. Bagaimanapun, cepat atau lambat Nayya pasti tahu. Ia menyerahkan surat panggilan dari polisi itu kepada Nayya. Gadis itu membaca dengan saksama.


“Panggilan dari polisi? Memangnya kamu terlibat dengan pembunuhan Jenny?” tanya Nayya.


“Aku yang terakhir bersama Jenny, Nayya. Wajar kalau polisi meminta keterangan dari aku,” jawab Rudi.


“Oh, tapi kamu nggak terlibat kan, Sayang?” tanya Nayya.


“Tentu saja tidak, Nayya! Aku nggak tahu apa-apa tentang pembunuhan itu!”


Nayya mengangguk pelan, walau ada rasa khawatir menyeruak. Ia segera pamit pulang. Hari ini, ia merasa sangat lelah. Ingin rasanya segera sampai di rumah.


“Siapkan mental ya Rud. Nggak usah gugup!” pesan Nayya sebelum pergi.


Nayya sampai di rumah menjelang Magrib. Ia segera membersihkan diri di bawah shower, kemudian mengganti baju. Ia rebahkan tubuhnya yang didera rasa lelah di atas kasur pegas. Dalam hati, ia merasa khawatir kalau-kalau Rudi memang terlibat dengan pembunuhan Jenny.


Ia memeriksa pesan-pesan yang masuk di ponsel sepanjang hari ini. Kadang kalau ia sibuk, ia mengabaikan pesan-pesan yang masuk. Cukup banyak jumlahnya, dan ada yang membuatnya cukup tertarik. Ada beberapa pesan yang dikirim dari nomor tak dikenal.


Pesan-pesan itu membuatnya terkejut! Bagaimana tidak? Nomor tak dikenal itu mengirim foto-foto Alma dengan kepala hancur. Nayya bergidik!


“Oh Tuhan! Siapa orang gila yang melakukan ini?” gumamnya.


Belum lagi hilang rasa terkejut dengan kiriman foto-foto itu, sebuah pesan menakutkan kembali masuk. Isi pesan itu seketika meneror perasaannya. Parasnya berubah cemas. Ia baca lagi isi pesan itu, untuk memastikan kembali.


Kamu mau jadi yang berikutnya?


***


Seperti biasa, Ferdy mendapat giliran shift malam. Ia ditemani oleh Vera yang sebentar lagi pulang. Namun, masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Tak banyak pengunjung apotek malam itu. Sebenarnya ia merasa mengantuk, tak seperti biasanya. Vera melihatnya beberapa kali menguap.


“Tumben kamu ngantuk Fer? Biasanya semangat?” tanya Vera sambil menata rak obat-obatan.


“Nggak tahu nih Ver! Tadi siang aku kan hadir di pemakaman temanku, jadi mungkin agak capek,” kata Ferdy.


“Mahasiswa yang meninggal karena dibunuh itu? Kamu kenal dia?”


“Nggak terlalu kenal banget sih. Dia kan pacarnya sepupuku, jadi ya kadang aja ketemu dia,” ucap Ferdy.


“Kalau dipikir-pikir ngeri juga ya Fer. Kota ini semakin nggak aman. Banyak pembunuhan terjadi. Belum lagi kasus kastil tua terlupakan, ini muncul lagi kasus pembunuhan mahasiswa. Jadi takut kalau mau keluar-keluar,” kata Vera.


“Aku juga was-was. Bisa jadi yang dibunuh bukan hanya gadis-gadis kan? Bisa jadi para cowok ganteng kayak aku. Kan bahaya!” ucap Ferdy sambil tertawa.


“Pede banget ah!”


“Oya, Fer. Tadi siang ada kiriman paket loh.”


“Buat aku?” tanya Ferdy.


“Iya. Paket buat kamu. Cuman aku cek nggak ada nama pengirimnya. Hmm. Dari siapa tuh? Penggemarmu ya?” goda Vera. Ada nada cemburu dari ucapannya.


“Nggak tau juga dari siapa, Ver. Tumben aku dapat kiriman paket. Padahal nggak biasa-biasanya!”


Ferdy menerima paket itu, mengamati dengan saksama.


“Jadi penasaran dengan isinya. Buka dong Fer!” pinta Vera.


Ferdy mengangguk. Ia membuka paket itu dengan hati-hati.


“Apa ya kira-kira isinya?” tanya Ferdy.


Paket terbuka. Sebuah kardus bekas berisi dompet wanita dari kain, dengan bercak darah. Vera tersentak, demikian pula Ferdy.


“Kok dompet berdarah? Siapa yang mengirim Fer?” tanya Vera penasaran.


“Nggak tau juga, Vera. Ini aneh banget. Sepertinya ada yang sengaja buat aku takut.”


“Ya Ampun! Kamu tau ini dompet siapa nggak?”


“Nggak Ver! Makanya aku khawatir ada orang yang sengaja ngerjain aku.”


“Laporin ke polisi aja, Fer. Biar bisa dilacak tuh siapa pengirim paket misterius ini. Tindakan kayak begini kan sudah bisa dikategorikan sebagai teror,” saran Vera.


“Ah nggak usahlah, Ver! Males berhubungan dengan polisi. Biarin aja. Yang penting kita aman-aman aja. Perasaan sih aku nggak punya musuh, tetapi kalau penggemar sih banyak hehe,” seloroh Ferdy.


“Terus gimana itu?”


“Lupain aja! Ini kerjaan orang iseng yang nggak bertanggungjawab. Dia pengen aku takut. Itu yang diharapkan si pengirim paket ini. Lebih baik aku bersikap normal aja. Semakin aku takut, maka si pengirim paket akan semakin senang.”


“Okelah, Fer! Aku pulang dulu ya, Nggak kerasa udah malam. Kamu jaga diri!”


Vera bersiap-siap hendak pulang. Ferdy mengangguk. Teman sekerjanya itu pergi meninggalkan Ferdy sendirian. Sejenak Ferdy melihat dompet perempuan yang berbercak darah itu, kemudian menyimpan ke dalam laci.


Suasana apotek cukup hening. Jalanan di luar cukup lengang. Penjual sate di seberang tidak jualan lagi, sehingga semakin menambah hening. Ferdy melangkah ke depan apotek, memerhatikan kondisi jalan yang sepi. Lampu jalan mati di beberapa titik, sehingga suasana agak gelap. Di atas jam 11 malam, biasanya ada beberapa bencong yang lewat, biasanya suka goda-goda dirinya. Namun, malam ini memang lebih sepi dari biasa.


Kadang Ferdy merasa dihantui rasa ketakutan. Kejadian di malam tahun baru benar-benar menyisakan suatu rasa tak nyaman. Kembali ia melihat isi paket yang baru saja ia terima. Dompet kain berbercak darah, Tentu saja ia mengenal itu dompet siapa, tetapi ia sengaja tak memberitahu Vera, karena khawatir kalau teman sekerjanya itu akan takut.


Dompet kain bermotif bunga dengan bercak darah itu adalah milik Jenny. Ia mengambil dompet itu, memeriksa isinya. Tak ada identitas atau apa pun di situ. Saat mayat Jenny ditemukan di kamar mandi, tubuhnya dalam keadaan setengah telanjang. Tak ada barang pribadi satu pun yang melekat di tubuhnya.


Tiba-tiba ia mendengar suara benda jatuh dari arah dapur belakang. Sontak ia terlonjak waspada.


“Siapa?” tanyanya.


Perasaannya tak karuan. Ia melangkah ke dapur dengan waspada, untuk memeriksa apa yang terjadi. Ia berharap, semoga bukan suatu hal yang buruk.


***