
Rasty berdiri dari tempat duduknya sambil menatap ke arah kawan-kawannya. Ia sedang menata perasaan untuk berbicara di depan mereka.
“Kita sedang menghadapi sesuatu yang rumit. Pembunuh itu semakin menggila. Ia membunuh banyak orang yang berusaha menghalanginya. Setelah Jenny terbunuh, pembunuhan terjadi beruntun. Kita semua tengah menjadi incarannya. Kalau kita tidak bergerak, maka kita akan bernasib sama dengan Jenny dan Alma. Aku melihat dengan kepala dan mataku sendiri saat Gerry diteror. Pembunuh itu menuliskan sesuatu di kaca mobilnya. Dan sekarang, Gerry menghilang di tengah perjalanan ke rumah, padahal ia sudah dikawal polisi.”
Rasty berhenti bicara sejenak sambil menghela napas. Alex terlihat tak sabar, berkali-kali ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannya.
“Langsung ke intinya saja, Ras! Nggak usah bertele-tele! Jadwalku masih banyak hari ini!” gerutu Alex.
“Jadi kita harus bagaimana, Ras?” sambung Lena.
Belum sempat Rasty menjawab, dari arah lain muncul Ferdy yang jalan tergopoh mendekati tempat mereka duduk.
“Aduh maaf aku agak terlambat. Kalian tahu kan, aku bekerja. Jadi nggak bisa keluar masuk seenaknya,” ucap Ferdy.
“Tadi kami hendak membicarakan langkah apa saja yang harus dilakukan, karena pembunuh itu makin brutal.”
Adinda mencoba menjelaskan pada Ferdy. Pria muda itu manggut-manggut. Setelah mengatur napas. Rasty melanjutkan pembicaraannya.
“Jadi gini Fer, pembunuh itu makin nekat. Bahkan sudah berani membunuh polisi. Tentu saja ini sangat mengkhawatirkan kita semua. Bukan nggak mungkin dia akan mengincar kita juga. Gerry juga menghilang semalam, tentu ini akan menyulitkan. Menurutku kita harus melakukan sesuatu untuk mencegah korban yang terus berjatuhan,” ucap Rasty.
“Apa yang bisa kita lakukan, Ras? Bukankah polisi sudah turun tangan untuk menangani ini?”celetuk Miranti.
“Kamu benar Mira. Polisi memang sedang menyelidiki kasus ini. Tapi kita yang paling tahu dengan permasalahan yang terjadi. Kurasa kalau kita semua bergerak, tentu kita bisa mengungkap siapa pembunuh itu. Kurasa, kalau saja kita punya taktik, si pembunuh itu akan terpojok dengan sendirinya,” papar Rasty.
“Makudmu kita semua jadi detektif, gitu?” tanya Rudi setengah tak percaya.
“Bisa dibilang begitu. Kita harus bekerja sama mengungkap identitas si pembunuh itu. Nggak boleh pasrah. Ngomong-omong, polisi sudah tahu kalau kita yang buang mayat Jenny ke danau. Bisa jadi saat ini polisi sedang mengawasi gerak-gerik kita,” kata Rasty.
“Tunggu Ras! Kamu yakin pembunuh itu sekarang nggak ada di sini bersama kita?” Lena menyela pembicaraan.
Rasty mengangkat bahu, seraya menatap paras temannya satu-persatu.
“Bisa jadi. Bisa jadi pembunuhnya adalah salah satu dari kita. Mungkin saat ini pembunuhnya sedang menertawakan kebingungan kita. Atau jangan-jangan malah mengincar salah satu dari kita, entahlah! Tapi aku nggak peduli. Aku ke sini untuk memperingatkan kalian, siapapun pembunuhnya," kata Rasty
“Jadi langkah apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Adinda.
“Kemarin aku mengobrol dengan polisi yang pernah mengungkap kasus Kastil Tua. Sepertinya dia mempunyai rencana akan mengumpulkan kita di suatu tempat. Seperti semacam ruang isolasi, di mana kita bisa saling berinteraksi. Mungkin mereka terus mengawasi kita selama 24 jam. Tunggu aja panggilan dari polisi!” ucap Rasty.
“Gila ah! Kita kan banyak aktivitas. Nggak mungkin dong kita dikekang kayak gitu!”protes Rudi.
“Kalau aku sih setuju saja. Biar semua jelas. Cape tahu dengan kondisi seperti ini,” ucap Adinda.
“Polisi pastinya sudah berkoordinasi dengan kampus tempat kita kuliah. Jelas pihak kampus akan mengizinkan, karena ini menyangkut penyelidikan yang membawa nama lembaga pendidikan. Aku yakin, dalam waktu dekat polisi akan segera memanggil kita,” ucap Rasty.
“Huh!” gerutu Rudi.
Sementara yang lain hanya terdiam. Mungkin ada penolakan-penolakan dalam diri mereka, tetapi tak secara langsung ditunjukkan. Kalau saja apa yang dikatakan Rasty benar, maka sudah pasti mereka harus segera mempersiapkan segala sesuatunya, karena mereka akan terisolasi dari dunia luar untuk sementara waktu.
“Polisi sudah kehabisan cara! Mereka tak punya cara lain untuk menangkap pembunuh itu!” Rudi masih menggerutu.
“Gerutuanmu itu tidak artinya, Rud. Kurasa Adinda benar. Kalau memang itu cara yang terbaik untuk mengungkap drama pembunuhan berantai ini, maka aku siap. Kurasa itu ide bagus, walau polisi akan mengeluarkan banyak biaya untuk ini. Mereka akan menanggung seluruh akomodasi kita selama di tempat isolasi ini,” tambah Rasty.
Rudi terlihat tak dapat mengendalikan amarahnya. Dia segera pergi meninggalkan teman-temannya. Sementara, semua yang hadir hanya bisa terdiam, tak bisa mencegah kepergian Rudi yang sedang gusar.
“Aku harus mengatakan ini agar kalian semua siap,” ucap Rasty lagi.
“Kami paham kok. Kuharap masa isolasi itu nggak lama. Sebab kalau lama maka rencana studiku ke Jerman akan tertunda,” kata Alex sambil menghela napas.
“Persetan dengan studimu, Alex! Ada yang lebih penting dari itu!”
Lena mulai geram. Sepertinya ia juga kurang setuju dengan rencana polisi itu.
“Setelah ini semua selesai, aku bersumpah akan mengambil liburan jauh-jauh dari kota ini. Sungguh, semua ini membuatku gila!”
Lena yang juga ikut merasa gusar, berlalu dari hadapan teman-temannya. Tak ada pula yang mencegah kepergian gadis itu.
Rasty menghela napas seraya berkata,”Babak baru akan segera dimulai. Bersiaplah kalian!”
***
Di dalam ruangan kantor yang hening, Reno tengah membaca semua berkas-berkas yang terkait dengan kasus pembunuhan beruntun yang baru saja terjadi. Berkas pertama adalah data diri Jenny. Biodata lengkap Jenny tertulis lengkap dalam selembar kertas, beserta foto ukuran kartu pos.
Dalam foto itu, Jenny memang terlihat cantik dan menggoda. Tak heran, banyak pria mengaguminya. Ia tak habis pikir mengapa gadis secantik ini bisa tewas dalam keadaan sangat mengenaskan. Reno menyayangkan itu.
Tiba-tiba Dimas masuk ke dalam ruangannya dengan paras serius. Ia membawa sebuah buku kecil berwarna merah jambu. Ia meletakkan buku itu di atas meja.
“Buku apa ini?”
“Buku harian,” jawab Dimas singkat.
“Buku harian? Ini mengingatkanku pada buku harian Anastasia Pratiwi. Jadi buku harian milik siapa ini?” tanya Reno antusias.
“Milik Jenny Veronica. Nenek Jenny meneleponku, meminta untuk mengambil buku harian ini, karena beliau berpikir mungkin buku ini akan berguna untuk penyelidikan. Menurut nenek Jenny, cucunya itu bersikap agak tertutup sebelum peristiwa pembunuhan itu. Ia menyerahkan buku ini kepadaku,” kata Dimas.
Reno mengambil buku itu, membuka-buka halamannya dengan cepat. Halaman buku harian itu dipenuhi tulisan Jenny yang terlihat rapi dan indah, dengan spidol warna-warni.
“Apakah kita akan menemukan kisah cinta yang epik dalam buku harian ini?” tanya Reno.
“Entahlah. Aku malah belum membukanya. Tetapi, paling tidak ada sedikit info yang kita dapat dari catatan-catatan ini.”
“12 Agustus, aku bertemu dengannya di Cafe Alamanda. Matanya yang tajam menatapku tajam. Mengapa aku jadi galau begini? Seandainya aku bukan milik orang lain, pasti kubalas tatapan itu. Kata-kata yang begitu indah bukan?” tanya Reno.
“Agustus? Itu beberapa bulan sebelum kematiannya. Siapa yang dimaksud kita-kira? Apakah Rudi?” tanya Dimas penasaran.
“Bisa jadi Rudi atau orang lain. Tetapi Rudi masih resmi pacarnya di hari kematiannya. Ia tidak menyebut nama sama sekali di sini,” kata Reno sambil membolak-balik halaman buku itu.
“Hmm. Mengapa aku jadi ingin membaca buku harian itu? Sepertinya memang ada kisah menarik di dalamnya,” ucap Dimas.
“Kita akan baca kisah percintaan anak muda yang sedang dimabuk asmara ini! Mari kita kupas apa yang ada di dalamnya!”
***