
Dimas berjalan menyusuri koridor rumah sakit besar yang berada di pusat kota. Tujuan pertamanya pagi ini adalah mengecek kondisi Niken. karena ia dengar polisi wanita itu sudah mulai bisa diajak berkomunikasi. Ia langsung menuju ruang perawatan, sambil membawa serangkum karangan bunga untuk rekan kerjanya itu.
Kehadiran Dimas disambut senyuman manis Niken di ujung bibir. Ia terlihat sehat, tak seperti saat pertama kali ditemukan. Saat Dimas menemukan Niken pertama kali, ia terlihat pucat dan lemah, seperti kurang darah. Kini kondisi Niken sudah cukup baik, bahkan ia bisa duduk bersandar dengan bantuan bantal. Namun, lengannya masih tertancap infus.
"Aku senang kamu sudah sehat," ucap Dimas sambil duduk di sebuah kursi yang disediakan di tepi ranjang.
"Ya, aku juga tak menyangka akan membuka mata di tempat ini. Sempat terlintas di pikiranku, bahwa aku akan mati mengenaskan di rumah itu. Namun, rupanya ada seorang penolong yang menemukan kami, sehingga kami masih bisa melanjutkan hidup. Terima kasih sudah menyelamatkan kami, Dimas," ucap Niken dengan suara serak dan mata berkaca-kaca.
"Tak perlu berterimakasih Niken. Itu sudah menjadi tugasku. Aku senang bisa bertemu lagi denganmu. Untuk sementara, kamu boleh istirahat saja dulu, nanti kita akan bicara panjang lebar," kata Dimas.
"Aku sudah sehat kok Dim. Dokter Dwi bilang, kalau kondisiku stabil, aku akan diizinkan pulang sore ini. Jadi kalau ada yang ingin kau bicarakan, lebih baik sekarang saja. Aku merasa sehat sekarang," kata Niken.
Dimas mengangguk. Sebenarnya ia ingin bertanya mengenai kronologis kejadian mengapa Niken bisa disekap di rumah seberang jalan itu. Namun, karena posisi Niken sedang di rumah sakit, sepertinya bukan tempat yang tepat untuk membicarakan hal serius. Lagipula, kondisi Niken masih terbaring, walau Niken berkata ia sudah sehat. Dimas memilih untuk menunda pertanyaan itu.
"Nanti saja Niken. Nanti kalau kau benar-benar pulih dan kembali masuk kerja, kita akan mengobrol lagi. Aku harus pergi sekarang, karena ada banyak hal yang harus kuselesaikan," ucap Dimas.
"Tunggu, Dimas! Sebenarnya aku sedang kepikiran kasus pembunuhan berantai ini. Tentu kamu dan Pak Reno sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan ini. Aku merasa malu karena tak dapat membantu. Aku juga merasa bersalah karena tak dapat menyelesaikan tugasku dengan baik. Renita Martin terbunuh, dan adiknya diculik. Ini sungguh seperti tamparan keras buatku," ujar Niken sambil menghela napas.
"Sudahlah! Kamu nggak perlu mikirin itu, Niken. Sekarang kamu harus fokus dengan kondisimu dahulu. Aku dan Pak Reno sedang berusaha memecahkan kasus ini. Semoga segera selesai. Kamu nggak usah khawatir," ucap Dimas.
"Boleh aku sampaikan sesuatu tentang pembunuh itu?" tanya Niken.
"Ya, sampaikan saja padaku, Niken!"
"Jadi selama disekap itu, kami hanya diberi makan nasi bungkus satu kali. Memang aku tak dapat melihat rupa si pembunuh itu karena kondisi gelap dan dia sengaja menyembunyikan mukanya. Namun, bukan berarti aku tak bisa menandainya. Walau mungkin ini adalah info yang sepele, tapi aku yakin ini penting bagimu," ucap Niken.
"Apa yang dapat kau kenali dari si pembunuh itu?"
"Satu hal yang tak kulupa adalah .... "
Niken menghentikan kalimatnya, seraya berpikir sejenak. ia berusaha mengingat rentetan kejadian yang ia alami. Dimas menunggu jawaban Niken dengan tak sabar. Bisa jadi, petunjuk kecil dari Niken ini bisa menjadi petunjuk kunci dari kasus yang sudah merenggut beberapa nyawa ini.
***
Henry sudah memasang badan, berusaha fokus pada Reno yang siap bertanya. Ia berusaha menghilangkan rasa cemasnya. Bagaimanapun, diwawancara polisi dan wartawan adalah hal yang sangat berbeda. Henry berusaha mengkondisikan dirinya.
"Apakah kamu merasa cemas?" tanya Reno sambil tersenyum
"Tak perlu cemas, santai saja. Kami hanya akan mengkonfirmasi keberadaanmu dua jam sebelum Widya ditemukan hampir tewas di dalam kamarnya," kata Reno.
"Aku waktu itu kebetulan berada di luar. Memang tak ada saksi yang menguatkan, tetapi aku sedang berada di beranda belakang sambil duduk menikmati kopi. Sebenarnya aku ingin berada di dalam kamar, tetapi aku merasa gerah, sehingga aku memilih untuk duduk-duduk di beranda sampai menjelang sore. Aku hampir tertidur di kursi, tetapi sesaat aku ingat bahwa akan ada kegiatan jalan sore, sehingga aku kembali ke kamar, mandi, dan akhirnya pergi ke samping rumah untuk berkumpul," papar Henry.
"Hmmm, kamu tidak melihat hal yang aneh sore itu?" tanya Reno.
"Sama sekali tidak. Semua berjalan normal, dan aku sama sekali tidak berpikir kalau bakalan ada kejadian tak terduga itu," lanjut Henry.
"Jadi bagaimana perasaanmu ketika mengetahui Widya melakukan aksi percobaan bunuh diri?"
"Terus terang aku sangat kaget. Memang aku tak begitu dekat dengan Widya, tetapi kami sangat sering terlibat dalam satu pekerjaan. Kami sering menyapa, ngobrol, bahkan Widya juga pernah berkunjung ke villa-ku. Aku sangat kaget kalau Widya melakukan perbuatan nekat itu," terang Henry.
"Kapan kamu bertemu terakhir kali dengan Widya?"
"Aku bertemu terakhir dengannya saat makan siang kemarin. Memang aku merasakan bahwa kondisi Widya di luar kebiasaan. Dia terlihat murung dan gelisah, tetapi aku tak menduga kalau ia sampai berbuat senekat itu."
"Baiklah. Memang sampai saat ini kami sedang menggali lebih jauh tentang kasus Widya ini. Dan yang perlu saya garisbawahi di sini, apa kaitan kasus Widya ini dengan kasus Daniel Prawira. Syukurlah, kami sudah menemukan beberapa titik terang. Kalau kalian menyangka Widya sudah mati, kalian salah. Widya masih hidup saat aku menemukannya dalam kamar, tetapi kondisinya lemah. Nah, sekarang mari kita tunggu Widya sadar, dan kita tanyakan padanya. apa yang sebenarnya terjadi," ucap Reno.
Semua yang hadir di sana menghela napas. Tentunya, mereka sama sekali tak menduga bahwa Widya masih hidup. Padahal di dalam hati kecil si pembunuh, ia sangat mengharapkan kematian Widya. Tiba-tiba, Reno mengeluarkan selembar kertas yang berisi tulisan ketikan. Kertas itu ditemukan di genggaman tangan Widya saat ia tergeletak di dalam kamar.
"Kami menemukan ini. Anggaplah ini semacam ucapan selamat tinggal dari Widya. Ya, ia sempat meminta maaf dalam surat ini, dan mengatakan apa alasannya ia melakukan hal nekat itu. Sayangnya, kami harus meneliti lebih lanjut mengenai keaslian tulisan ini. Apakah ini benar-benar tulisan Widya atau tulisan orang lain yang dibuat seolah-olah Widya yang menulis? Kami masih perlu mendalami ini!"
Semua yang hadir di sana merasa penasaran dengan surat yang dibawa oleh Reno. Mereka sangat ingin tahu isinya, tetapi tentu saja Reno tak mengizinkannya, karena surat itu masih dalam penyelidikan polisi. Sementara, Ammar masih mendalami segala gerak-gerik para penghuni itu.
"Kami sudah mengantungi tiga nama dari kalian yang menurut kami mempunyai keterlibatan besar dalam kasus ini, jadi kalian jangan bertindak bodoh. Segala yang kalian lakukan akan terus diawasi. Kami akan melanjutkan penyelidikan, dan kalian boleh beraktivitas apa saja, sepanjang tetap berada dalam lingkungan rumah ini. Kami perlu memperkuat bukti, sampai nanti kami akan umumkan, siapa dalang di balik segala kekacauan ini. Ingat sekali lagi! Kami tidak diam, dan kalian dalam keadaan diawasi," ucap Reno.
"Siapa saja nama-nama itu, Pak?" tanya Riky.
"Tentu ini adalah rahasia kami. Yang jelas, kami akan meningkatkan pengawasan pada orang-orang ini. Jadi bersiap siaga lah!"
Lagi-lagi, yang hadir di situ kembali diliputi rasa cemas. Mereka khawatir, kalau nama mereka termasuk dalam tiga nama yang dicurigai oleh para polisi itu.Tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali merasa pasrah menunggu hasil penyelidikan Reno dan Ammar selesai.
***