Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
333. Bantuan


Kedua mobil dalam keadaan ringsek, berada di tengah jalan raya di siang menjelang sore. Ramdhan mengalami benturan hebat di kepala, sehingga kepalanya mengeluarkan darah. Ia tak sadarkan diri, dengan kondisi mobil terbalik di sisi jalan. Ia tak bergerak. Sementara di dalam mobil satu lagi, mobil yang dikendarai Dimas tampak terguling di sisi jalan yang berhadapan. Mobilnya dihantam keras oleh mobil Ramdhan, tetapi untunglah hanya bagian samping. Bagian itu kini rusak parah. Dimas sempat terhempas, tetapi ia hanya mengalami luka memar dan lecet-lecet. Walaupun begitu, ia merasa kepalanya sangat pening. Bahkan luka-lukanya terasa perih.


Ia melepaskan sabuk pengaman, kemudian berusaha merangkak keluar dari mobil yang mulai mengepulkan asap. Yang ada di pikirannya pertama kali adalah kondisi Ramdhan. Ia berharap agar rekan kerjanya itu baik-baik saja.Ia tak terlalu peduli dengan kondisi badannya yang penuh luka.


Setelah berhasil merangkak keluar dari mobil, ia berjalan dengan tertatih menuju ke arah mobil Ramdhan yang terbalik. Kakinya terasa nyeri, tetapi ia masih bisa berjalan. Dilihatnya mobil Ramdhan yang rusak parah. Ia melongok ke bagian depan, melihat kondisi Ramdhan yang diam tak bergerak.


"Semoga dia tidak apa-apa," bisik Dimas.


Ia membuka pintu mobil, tetapi terasa susah, seperti macet. Pintu mobil itu tak berfungsi karena benturan hebat. Namun, nalurinya sebagai polisi tak memperbolehkan untuk panik. Ia harus mencari cara agar bisa membawa Ramdhan keluar dari mobil. Dimas berjalan kembali ke arah mobilnya,  membuka kap belakang, mengambil dongkrak. Ia harus memukul kaca mobil Ramdhan dengan menggunakan dongkrak baja itu. Ia berpikir, bahwa ia tidak boleh terlambat mengeluarkan Ramdhan dari dalam mobil.


Setelah berhasil mengambil dongkrak, Dimas menghantamkan dongkrak ke kaca mobil berkali-kali, sampai kaca itu pecah berhamburan, Dimas membersihkan sisa-sisa pecahan agar memudahkan mengambil Ramdhan dari dalam sana. Ramdhan masih terlihat tak sadarkan diri. Ia harus membuat Ramdhan sadar, agar memudahkan proses evakuasi. Ia kembali mengambil botol minum dari dalam tas besarnya, kemudian ia ulurkan tangannya untuk menggapai muka Ramdhan. Ia memercikkan air ke muka rekan kerjanya itu, agar Ramdhan segera sadar.


"Ramdhan! Kamu harus sadar! Ramdhan!" ucap Dimas.


Ia menatap sekeliling tempat itu, berharap ada mobil lain yang lewat atau apa saja yang bisa dimintai pertolongan. Namun, siang itu terasa sepi, seolah hanya mereka berdua yang melewati jalanan. Dimas tak bisa mengandalkan kondisi jalan yang begitu sepi. Ia kembali fokus ke arah Ramdhan. Dilihatnya jari-jari Ramdhan bergerak sedikit. Dimas terlonjak gembira melihat itu, sebab ia yakin bahwa Ramdhan masih hidup.


"Sabar Ramdhan! Aku akan cari pertolongan untukmu. Kamu sabar ya!"


Dimas kembali melayangkan pandangan ke sekitar, namun yang ada di sekitar situ hanya kebun-kebun dan jurang. Namun, ia makin bersemangat melihat Ramdhan masih dalam keadaan hidup. Lebih baik sekarang ia menjaga agar Ramdhan tetap sadar, sambil menunggu kendaraan lewat. Ia terus memanggil nama Ramdhan, agar ia tetap terjaga.


"Bertahanlah Ramdhan! Jangan pingsan ya! Bertahan!" ucap Dimas.


Ramdhan masih diam tak bergerak, tetapi Dimas bisa melihat kalau napas Ramdhan masih terlihat naik turun. Sebenarnya Dimas sangat khawatir melihat itu,tetapi tak ada yang dapat dilakukannya kecuali ,menunggu bantuan.Waktu terus bergulir, Dimas makin mencemaskan kondisi Ramdhan.


Tiba-tiba, harapan Dimas bangkit saat di kejauhan, sayup-sayp ia melihat titik kecil yang bergerak mendekat. ia berharap itu sebuah mobil, sehingga  Ramdhan bisa segera mendapat pertolongan. Titik kecil itu semakin mendekat, dan ternyata memang sebuah mobil!


Yang melaju mendekat adalah sebuah mobil pick-up dengan bak terbuka belakangnya. Mobil itu melambat ketika melihat dua mobil dalam keadaan ringsek di tepi jalan. Dimas berdiri di tengah jalan sambil melambai-lambaikan tangannya, memberi isyarat. Sementara mobil bak terbuka itu dikemudikan oleh seorang pedagang sayur bernama Martono. Ia mengendarai mobil didampingi sang istri, Warti.


"Siapa itu Pak? Jangan-jangan orang jahat!" bisik Warti kepada suaminya.


Memang, saking sepinya jalan itu, kadang ada tindak kejahatan. Kadang ada beberapa kasus penumpang mobil dibegal atau dirampok. Tentu saja hal itu sangat meresahkan, sehingga tidak aneh ketika Warti merasa cemas dengan orang asing yang baru dilihat di jalan itu.


"Sepertinya bukan. Kamu lihat nggak, ada mobil-mobil di ringsek. Sepertinya dia butuh bantuan. Kita harus bantu dia!" ucap Martono. seorang bapak berkumis tebal yang mengendarai mobil.


"Hati-hati lho, Pak. Aku tetap di mobil saja ya? Aku takut!" ucap Warti.


Perlahan mobil melambat, dan berhenti di tepi jalan. Martono turun dengan tatapan heran, melihat Dimas yang dalam keadaan penuh memar dan lecet. Tentu saja, naluri kemanusiaannya timbul seketika. Ia mendekati Dimas dengan tergesa, sementara Warti mengamati dari dalam mobil dengan tatapan cemas.


"Bapak nggak apa-apa?" tanya Martono.


"Saya nggak apa-apa, pak. Minta bantuan ya Pak. Ini teman saya masih di dalam mobil dan kodisinya lumayan. Kami minta bantuan untuk angkut ke rumah sakit. Mohon bantuannya ya, Pak," ucap Dimas dengan sopan.


Tanpa banyak basa-basi lagi Martono dan Dimas segera bertindak cepat, karena nyawa manusia memang tak boleh dibuat main-main. Mereka bekerjasama mengeluarkan tubuh Ramdhan dari dalam mobil. Setelah bersusah payah, pada akhirnya tubuh Ramdhan berhasil dikeluarkan dari mobil. Mereka segera menggotong tubuh Ramdhan ke bak belakang mobil yang masih ada sisa-sisa sayuran.


"Bagaimana ini Pak? Masih ada sayuran-sayurannya. Nggak apa-apa ya?" tanya Martono bimbang.


"Nggal apa-apa, pak. Cepat bawa ke rumah sakit saja!"


Ramdhan dibaringkan di bak mobil, berdampingan dengan setumpuk kol, sawi hijau dan wortel-wortel yang berserakan. Dimas tak punya pilihan lain. Ia juga menemani Ramdhan di belakang. Tak ada waktu untuk berpiikir idealis. Yang terpenting sekarang ini adalah keselamatan Ramdhan. Martono segera memacu mobil menuju arah kota dengan kecepatan lumayan tinggi.


***


Hari makin menginjak sore, para penghuni kastil makin gelisah karena Ramdhan tak kunjung bersua. Padahal ia Ramdhan meninggalkan kastil sejak tadi malam. Tentu hal ini membuat Ammar bertanya-tanya. Kalau suasana masih seperti ini sampai nanti malam, maka dapat dipastikan kondisi akan semakin mencekam. Yang berada di kastil sekarang ini hanya ada dirinya dan Juned. Kondisinya juga belum sepenuhnya pulih. Tentu kejahatan akan mudah terjadi.


"Tak biasa Ramdhan begini. Aku khawatir sesuatu telah terjadi," ujar Ammar sambil meneguk teh buatan Mariah.


Suami-istri itu sedang duduk di ruang tengah, menunggu sore yang sebentar lagi menjelang. Rasa cemas menghantui Mariah. Sejujurnya ia sangat trauma dengan kejadian-kejadian buruk di kastil. Apalagi sebelumnya ia pernah berjuang antara hidup dan mati di ruang bawah tanah. Sampai sekarang pun, Mariah enggan untuk menginjak ruang bawah tanah, karena masih trauma dengan kejadian yang telah lewat.


""Semoga tak terjadi apa-apa dengan Ramdhan," gumam Mariah.


"Pihak medis harusnya juga telah datang , tapi sampai sekarang belum ada juga. Ada apa ini sebenarnya?"


Mariah tak bisa juga menjawab pertanyaan dari kegelisahan yang dirasakan Ammar. Ammar berjalan keluar, menuju beranda samping. Ia ingin mencari udara segar sore itu. Tiba-tiba saja ruangan-ruangan dalam kastil ini membuatnya pengap. Ia ingin menghirup udara di luar. Mariah memilih untuk tetap duduk di ruang itu, sembari menikmati teh. Ia ingin beristirahat dari serentetan kejadian yang terjadi sepanjang pagi ini.


Dari ruang dalam, terlihat Maya melangkah mendekat. Ia tampak segar, seperti habis mandi, dengan blus yang berwarna cerah, dipadukan dengan rok lebar dengan motif yang sama. Ia tampak cantik hari itu,


"Selamat sore," sapa Maya sambil berusaha tersenyum.


"Kamu cantik sekali, Maya. Tumben. Ada apa ni?" tanya Mariah membals senyuman Maya.


Maya tidak menjawab. Ia hanya menggeleng dan duduk di hadapan Mariah, sambil tersenyum, dan melayangkan pandangan ke arah luar.


Mariah mengenyitkan dahi, mengamati blus yang dipakai Maya. Sebuah blus berlengan pendek, berwarna putih, dengan motif bunga kecil berwarna biru tua. Ia berusaha mengumpulkan ingatannya.Terakhir ia bertemu Maya beberapa bulan lalu di undagan pernikahan Ryan dan Nadine. Kala itu, Maya terlihat cantik dengan gaun, bukan dengan blus ini.


"Sepertinya kamu baru pertama kali memakai blus ini kan?"


"Tidak Mariah. Kamu tahu, ini blus lama hadiah dari seseorang yang menyayangiku," ucap Maya.


"Menyayangimu? Wah berita bagus itu. Siapa? Mengapa kamu nggak pernah cerita May?" tanya Mariah.


"Tapi mungkin aku nggak pernah memilikinya.... "


"Maksudmu?" tanya Mariah penasaran.


"Lupakan! Lupakan saja, Mariah. Aku suka blus ini, itu saja," jawab Maya cepat.


Mariah merasa iba dengan Maya. Ketika teman-teman sebayanya sudah menikah, Maya masih berkutat dengan kesendiriannya. Padahal, Maya adalah wanita yang cerdas dan cantik Tidak mungkin pria tidak tertarik padanya. Mariah sadar, bahwa Maya adalah sosok yang perfeksionis, menginginkan hal terbaik dalam hidupnya, termasuk urusan jodoh. Ia menatap Maya yang terlihat sendu, seperti ada yang dirahasiakan di balik matanya. Bagaimanapun, Mariah tak ingin memaksa Maya utuk menceritakan kehidupan pribadinya, karena tiap orang punya hak privasi yang mungkin tidak ingin dibagi dengan orang lain.


***


Sementara, suasana di pondok tengah hutan juga direjam rasa kegelisahan yang mendalam. Pihak medis yang sedianya dijadwalkan siang ini datang, ternyata tak kunjung tiba. Hal ini tentu saja membuat Reno gelisah, hanya saja ia tak ingin menampakkan pada Jeremy.


"Kita tunggu sampai pukul lima sore. Apabila belum datang juga, maka mau tak mau kita akan tinggalkan dia. Kita akan balik ke kastil, tetapi mungkin malam ini aku akan kembali ke tempat ini lagi. Jasad Farrel harus diamankan untuk keperluan penyelidkan. Aku khawatir kalau ditinggal, jasad itu akan dirusak oleh binatang atau apa," ucap Reno.


"Mereka pasti sedang mencari aku, atau mengira mungkin aku telah terbunuh. Masalahnya, orang-orang di kastil terlihat tegang semenjak rentetan peristiwa tadi pagi. Aku juga tak sabar kembali ke kastil sebenarnya. Aku ingin memeriksa setiap bilik di ruang bawah tanah itu," ucap Jeremy.


"Jangan sendirian ke sana! Ruang bawah tanah itu bak labirin dengan banyak lorong yang membingungkan. Jangankan dirimu, aku saja bisa tersesat di sana. Kamu bahkan tak pernah tahu, apa yang sebenarnya ada di sana. Suasana di dalam ruang bawah tanah sangat berbeda dengan di kastil. Sensasinya sungguh berbeda," terang Reno.


"Jadi siapa yang akan menemaniku mencari Stella nanti?"


"Bisa Ramdhan atau Juned. Terserah saja. Yang jelas, jangan sekali-sekali sendiran berada di dalam sana," kata Reno.


Jeremy manggut-manggut.  Ia memang tak pernah mendengar perihal kastil ini sebelumnya. Ruang bawah tanah yang disebut-sebut Reno terdengar sangat menyeramkan. Ia tak bisa membayangkan, kalau Stella benar-benar berada di dalam sana, tanpa teman dan bekal makanan. Ia sangat mencemaskan Stella, walau ia tahu kalau Stella adalah seorang survivor hebat. Ia menguasai ilmu bertahan hidup di berbagai lingkungan.


"Aku akan kembali ke kastil duluan ya, Pak!" ucap Jeremy kemudian.


"Kamu yakin? Tapi jangan ke ruang bawah tanah sendirian. Ingat pesanku itu!" ucap Reno.


"Iya Pak. Mungkin aku akan minta ditemani oleh Juned, karena Ramdhan belum kembali dari kota. Aku sudah tak sabar mencari keberadaan Stella. Dia pasti sedang dlam kesulitan besar sekarang, Pak. Aku tidak bisa menunda-nunda lagi. Nanti akan kusampaikan kepada Pak Ammar bahwa Pak Reno akan bertahan di sini, dan mungkin akan menginap di pondok ini. Biar Juned atau Ramdhan yang akan mengantar perbekalan ke sini, jadi Pak Reno tak perlu tinggalkan jasad Farrel," kata Jeremy.


"Baik Jer! Terima kasih atas bantuanmu. Semoga saja pihak medis segera ke tempat ini sebelum gelap," kata Reno.


"Baik, Pak. Saya tinggal dulu!"


***