
Para anak muda yang baru tiba di rumah bergaya Belanda itu duduk di ruang tamu yang cukup luas, dengan interior zaman kolonial yang serba misterius. Mereka seolah menembus waktu di masa lampau. Semua perabotan masih bernuansa lama, melukiskan penghuni terdahulu yang mempunyai citarasa seni tinggi. Semua berkesan misterius.
Deretan lukisan bergaya klasik, guci-guci antik, dan pernak-pernik antik masih tertata rapi di tempatnya masing-masing. Mereka membentuk suatu interior yang cantik, walau penampilan agak kusam dan berdebu. Mungkin karena tidak pernah dirawat.
Seorang wanita paruh baya menghidangkan teh, dibantu oleh suaminya. Cangkir-cangkir berisi teh panas diedarkan dari tangan ke tangan, sebagai sambutan para tamu yang akan menempati rumah bergaya Belanda itu. Reno dan Dimas segera memperkenalkan dua orang pengurus rumah tangga yang akan melayani kebutuhan mereka selama dalam isolasi.
“Ini adalah Bu Mariyati dan Pak Paiman, yang akan membantu kalian dan menyediakan segala yang kalian butuhkan. Selama beberapa hari kemudian, rumah ini adalah kediaman kalian yang baru. Kalian di sini akan berinteraksi satu sama lain, sementara kami juga terus berusaha keras untuk mengungkap kasus pembunuhan yang terjadi,” ucap Reno.
“Semua kebutuhan? Apakah ada fasilitas internet atau semacamnya?” celetuk Rudi.
“Maaf. Tidak ada fasilitas seperti itu di tempat ini. Ada listrik saja itu sudah bagus. Kalian tahu sendiri, rumah ini agak terpencil dari dunia luar. Tapi justru itulah tempat yang tepat untuk isolasi ini. Penyelidikan ini akan lebih maksimal karena tak ada gangguan dari luar.” Reno menerangkan.
Setelah penjelasan singkat dari Reno, para anak muda itu dipersilakan untuk menaruh barang dan melihat kamar masing-masing. Lima kamar di lantai atas ditempati oleh Adinda, Lena, Miranti, dan Rasty. Sedangkan kamar bagian bawah ditempati Ferdy, Alex, dan Rudi. Reno dan Dimas akan bertugas untuk berjaga di rumah itu dengan sistem bergilir.
Di rumah belakang, Pak Paiman dan istrinya tinggal di sana. Sebenarnya mereka mempunyai seorang anak laki-laki yang sudah menikah, tetapi anak laki-laki mereka tinggal di kota. Pak Paiman dan istrinya tinggal bersama tiga ekor kucing kesayangannya di rumah kecil di belakang rumah utama.
Setelah meletakkan barang bawaan di kamar, para anak muda berkeliling melihat-lihat suasana rumah dipandu oleh Pak Paiman. Sementara Bu Mariyati sudah menyiapkan makan siang di ruang makan. Sekitar rumah Belanda itu memang sangat sepi, karena jauh dari tetangga dan rumah lain.
“Dibelakang rumah sana, ada bekas pekuburan tua yang tak dipakai, konon banyak sumur-sumur tua yang tertutup semak-semak, jadi sangat berbahaya. Kusarankan jangan pergi kesana. Tak ada yang menarik di sekitar sini. Jadi Mas-mas dan Mbak-mbak nggak usah kemana-mana. Pak Reno dan Pak Dimas juga menginstruksikan demikian. Mereka melarang kalian untuk pergi terlalu jauh,” terang Pak Paiman.
“Boleh nggak kami menerima tamu untuk menjenguk?” tanya Miranti.
“Dih, ya nggak boleh lah! Namanya juga isolasi. Ya pasti nggak boleh lah dikunjungi!” jawab Rasty cepat.
“Ya, siapa tahu kan, Ras? Kalau boleh kan lumayan. Bisa mengurangi rasa bosan dan sepi. Syukur-syukur ada yang bisa anterin makanan.”
Tak ada yang mempedulikan perkataan Miranti. Mereka lebih fokus dengan situasi sekitar yang memang agak menyeramkan. Mungkin karena gedung itu lama tak ditempati, sehingga aura yang terpancar menjadi menakutkan.
“Perasaanku kok nggak enak ya?” gumam Miranti kemudian.
“Semua akan baik-baik saja kalau kita menuruti aturan. Nggak perlu takut atau khawatir.”
Adinda mencoba menenangkan.
“Semoga apa yang kamu katakan benar,” bisik Miranti lirih.
***
Semenjak Gerry tak ada lagi, semangat Nayya untuk tetap hidup menjadi melemah. Bahkan, terlintas dalam pikirannya untuk mencoba bunuh diri. Dalam kesendirian dan kebosanan dalam apartemen, ia merasa sangat frustasi.
Ia merasakan keresahan yang mendalam, Tiba-tiba ia mendengar suara pintu diketuk. Ia agak heran. Biasanya kalau sosok pembunuh itu datang, ia langsung masuk, tidak perlu mengetuk pintu. Lagipula ini bukan jam biasa sosok itu datang. Lalu siapa yang mengetuk pintu?
Nayya melihat dua orang pria asing bertampang sangar di depan pintu. Nayya seperti pernah melihat kedua pria itu sebelumnya, tetapi ia lupa di mana dan kapan. Dalam hati, Nayya bertanya-tanya, apa maksud dua pria ini mendatangi apartemen ini?
“Buka pintunya! Aku tahu kamu ada di dalam! Cepat buka! Atau kudobrak pintu ini!”
Pria yang di luar itu berteriak dengan nada marah. Nayya terkejut. Awalnya ia mengira dua pria ini salah alamat. Ia sama sekali tidak menyangka ada orang yang mencari sosok si pembunuh. Ada urusan apa sebenarnya? Sekali lagi, ia mengintip dari lubang kecil di pintu. Setelah mencoba mengingat, barulah ia sadar dua pria ini sebenarnya.
Ya, Nayya pernah bertemu mereka sebelumnya di Kampung Hitam. Salah satu di antara mereka adalah kakak dari Tari, wanita yang tewas dibunuh karena melindunginya. Tentu mereka kesini untuk membalaskan dendam kematian adiknya. Sayangnya, saat ini sosok pembunuh itu sedang tak ada di tempat.
“Cepat buka!” perintah pria di luar.
“Tolong ... tolong aku!” Nayya memberanikan diri untuk berteriak, agar terdengar pria di luar.
“Siapa di dalam? Mana pembunuh adikku itu?” suara di luar menanggapi teriakan Nayya.
“Dia tidak ada di sini. Tolong aku! Aku sudah berhari-hari disekap di sini!” Nayya kembali berteriak.
Di luar kamar, Badi, kakak Tari, merasa heran. Ia mendengar suara perempuan dari dalam apartemen. Sayangnya, ia masih curiga dan tidak mudah percaya begitu saja. Ia khawatir kalau-kalau suara perempuan dalam apartemen ini adalah jebakan belaka.
“Kita dobrak saja kah pintu ini?” tanya Arland, rekan Badi.
“Jangan dulu! Kita nggak tahu apa yang ada di balik pintu. Bisa jadi suara perempuan tadi adalah jebakan. Kita selidiki dulu!” ucap Badi.
Nayya yang mendengar percakapan dua pria di luar kamar, segera berteriak kembali.
“Bukan ... ini bukan jebakan! Aku benar-benar disekap oleh sosok itu. Aku kenal kalian. Pasti kalian dari Kampung Hitam kan? Kalian pasti akan membalaskan dendam kematian Tari. Aku adalah gadis yang bersama Tari waktu itu. Kumohon tolonglah aku!” ucap Nayya.
Mendengar penjelasan Nayya, Badi dan Arland terkejut. Mereka tahu bahwa Tari terbunuh karena melindungi seorang gadis. Mereka tidak menyangka kalau gadis itu masih hidup dan ditawan dalam kamar apartemen.
“Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita tolong dia?” tanya Arland.
“Sebenarnya aku nggak peduli dengan gadis ini. Gara-gara dia juga adikku tewas dibunuh. Sepertinya kita ngak perlu tolong dia. Sebab gadis ini telah membawa sial pada adikku!” ucap Badi.
“Tolong ... kumohon tolonglah aku! Sungguh aku tidak bermaksud membuat adikmu tewas terbunuh. Aku menyesal sekali. Aku sangat membutuhkan pertolongan kalian. Kumohon bantulah aku!” pinta Nayya.
“Gimana? Kita tolong dia kah?” tanya Arland lagi.
Badi terdiam sejenak. Sebenarnya ia masih menyimpan rasa dendam karena kematian adiknya. Di sisi lain, walaupun dia bukan orang baik-baik, ia masih mempunyai rasa kemanusiaan. Nalurinya menggeliat, seolah memberi perintah untuk menolong gadis itu. Ia sedang berada dalam dilema. Haruskah ia menolong Nayya?
***