
Melihat keadaan Widya yang mengenaskan, Reno segera bertindak. Sementara Riky masih berdiri mematung, bingung tak tahu apa yang harus dikerjakan. Reno mengecek lengan Widya yang bersimbah darah. Sepertinya percobaan bunuh diri, tetapi Reno tidak yakin akan hal itu. Widya memang sosok pendiam dan agak misterius, tetapi sepertinya tak ada indikasi untuk melakukan hal nekat ini.
"Cepat panggil Pak Ammar!" perintah Reno pada Riky.
"A-apa dia mati, Pak?" tanya Riky.
Reno hanya menggeleng cepat. Riky tak menunggu perintah dua kali. Ia segera keluar dari kamar untuk meminta pertolongan. Reno memeriksa denyut nadi Widya, terasa berenyut walau lemah. Ia segera bertindak cepat untuk menutup luka di pergelangan tangan Widya agar darah tak banyak keluar. Ia mengambil sapu tangan yang ia kantongi, kemudian mengikat pergelangan tangan itu dengan kuat. Darah berbekas di baju Reno, tetapi ia tak peduli. Ia hanya mengkhawatirkan kondisi Widya. Jangan sampai wanita malang itu meninggal.
Ia memangku kepala Widya sambil menekan pergelangan Widya agar tak semakin banyak darah mengucur. Hal yang pernah ia pelajari, bahwa nadi adalah komponen penting untuk mengalirkan oksigen. Jadi tugasnya adalah menjaga agar tak banyak darah keluar, sambil menunggu pertolongan datang.
Tiba-tiba, Reno melihat seperti ada kertas yang digenggam oleh Widya. Segera saja ia ambil kertas itu, tetapi ia belum bisa membacanya karena kondisi tidak memungkinkan. Keselamatan Widya adalah yang utama. Selain kertas itu, Reno juga melihat sebotol air mineral yang tersisa separuh di atas meja rias. Pikirannya langsung melayang ke peristiwa Faishal di Villa Kuning Pucat. Aktor itu juga dibius melalui makanan dan minuman, sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam kardus di atas loteng.
Pertolongan segera datang setelah Ammar menghubungi rumah sakit terkait penemuan mengejutkan itu. Sebuah mobil ambulans dan beberapa personel polisi datang untuk mengamankan tempat terjadinya peristiwa. Kejadian itu sontak membatalkan rencana jalan sore yang sudah direncanakan. Para penghuni lain sontak ingin tahu apa yang telah terjadi tetapi sayangnya Reno tak mengizinkan siapa pun untuk mendekat kecuali tim medis.
Widya segera mendapat penanganan secara cepat. Tubuhnya diangkut ke dalam sebuah ambulans untuk selanjutnya mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Kondisinya lemah dan tak sadarkan diri karena darah yang keluar memang cukup banyak. Reno mengisyaratkan semua penghuni untuk tetap tenang. Mereka melihat dari luar kamar, ketika tubuh Widya diangkut keluar. Paras mereka bergidik, tak menyangka kalau Widya berbuat senekat itu.
Gilda yang mendengar ribut-ribut juga segera beraksi. ia tak mau kehilangan momen berharga itu. Melalui kamera ponsel, ia memotret segala kejadian yang berlangsung. Sementara penghuni lain mulai berbisik-bisik, menduga-duga penyebab Widya melakukan hal nekat tersebut. Mereka percaya, Widya bunuh diri karena urusan pribadi yang menghimpit atau masalah hutang-piutang.
"Dia pernah cerita kepadaku kalau dia mempunyai masalah keuangan yang cukup parah," gumam Riky.
"Dia menyukaimu sejak lama," gumam Guntur.
"Oya?"
"Tidak pernahkah dia mengatakan itu kepadamu?"
Riky menggeleng. Penuturan Guntur itu mengejutkan dirinya, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
Pak Paiman dan Bu Mariyati segera membersihkan tempat kejadian, karena cukup banyak darah yang tercecer di lantai. Sementara, Reno dan Ammar segera mengadakan pertemuan tertutup di dalam kamar. Mereka gusar karena kejadian ini sangat tak wajar. Reno menduga bahwa kejadian ini bukan murni bunuh diri, tetapi ada orang yang membuat seolah-olah Widya bunuh diri.
"Apa yang kau temukan di sana?" tanya Ammar.
"Aku sudah mengamankan pisau untuk diperiksa sidik jari yang tertempel. Yang janggal di sini adalah pergelangan tangan Widya yang teriris dalah pergelangan kiri, seharusnya Widya mengiris menggunakan tangan kanan kan? Tetapi pisau itu terletak di sebelah kiri tubuh Widya. Seharusnya kalau secara reflek, pisau itu akan terlempar ke sebelah kanan begitu Widya tak sadar, tetapi pisau ini berada di kiri. Menurutmu itu aneh nggak?" Reno meminta pendapat.
"Benar. Kurasa itu adalah hal yang tak biasa, walau mungkin terjadi. Sekarang anggaplah seseorang mengkondisikan seolah-olah itu adalah bunuh diri. Menurutmu si pelaku mengiris pergelangan tangan Widya dalam keadaan sadar?" tanya Ammar lagi.
"Tidak. Kalau dalam keadaan sadar tentu Widya akan berontak dan berteriak. Ia melakukan perbuatan itu saat Widya pingsan atau tak sadar. Aku menemukan botol minuman dalam kamarnya, dan sudah kuamankan pula, aku curiga seseorang membubuhkan sesuatu dalam botol minum itu. Nanti kita akan cek di laboratorium, Beberapa personel polisi sudah berjaga di luar sekarang, untuk mencegah kejadian lanjutan. Dan juga aku menemukan ini!"
Maafkan aku, mungkin saat kalian membaca tulisan ini aku sudah mati. Aku sungguh tak kuasa menahan beban berat ini. Masalah hidup ini begitu menghimpit. Aku kehilangan pekerjaan setelah Pak Daniel meninggal, sehingga hutangku bertumpuk. Proyek film baru tak segera dimulai karena Renita Martin meninggal. Ini semakin menyiksaku. Ditambah perasaan cinta yang tiada kunjung berbalas. Tetapi walau aku mati, aku akan mencintaimu selamanya, Riky. Aku tahu cintamu bukan untukku, tetapi untuk Anita. Aku telah membuktikan cintaku padamu, kubawa hingga mati. Selamat tinggal!
"Astaga!"
Reno tercengang setelah membaca surat singkat itu. Namun, Ammar hanya bergeming, seolah tak yakin dengan isi surat itu. Ia hanya mengamati sambil mengernyitkan dahi.
"Kurasa surat ini tidak benar-benar ditulis oleh Widya!" gumam Ammar.
"Bagaimana bisa kau berpendapat begitu?" tanya Reno.
"Pertama, pelaku mungkin tidak ingin diketahui tulisan tangannya berbeda dengan tulisan tangan Widya, jadi ia membuat surat ini jauh hari sebelumnya. Kedua, masalah yang ia hadapi memang berat, tetapi kurasa tidak cukup kuat untuk memicu seseorang untuk bunuh diri. Masalah hutang-piutang adalah hal wajar dalam hidup, lagipula proyek film itu hanya tertunda, bukan dihentikan. Mengenai masalah asmara, aku tidak yakin Widya nekat bunuh diri hanya karena Riky. Sepengetahuanku, Widya adalah gadis cantik, pendiam, dan tidak bisa dikatakan bodoh. Aku melihat paras mukanya dipenuhi aura positif, walau ia sedikit berhati-hati dalam mengambil keputusan. Dia bukan tipe wanita yang semudah itu mengakhiri hidup, apalagi untuk urusan asmara. Firasatku mengatakan surat itu palsu, bukan tulisan dari Widya!"
Ammar memberi pendapat, sehingga Reno manggut-manggut. Ia kemudian menelusur ke peristiwa beberapa jam sebelum Widya ditemukan di kamarnya. Saat itu penghuni dipersilakan istirahat di kamarnya masing-masing sambil persiapan jalan sore. Tak ada seorang pun menduga ada seseorang yang menyusup ke kamar Widya, kemudian mencelakakannya.
"Widya jelas menerima kehadiran orang itu dengan baik, dan menerima saja saat ia memberikan sebotol air untuk diminum. Intinya, Widya tak melawan saat si pelaku berbuat buruk padanya, tak ada rasa curiga, karena dia pikir dia adalah temannya. Begitu Widya tak sadar, si pelaku melancaran aksinya," terang Ammar lagi.
"Akan kulihat lagi dari daftar nama yang kau usulkan itu. Semoga pelakunya memang salah satu dari daftar nama yang kau susun beradasarkan paras muka yang kau curigai," kata Reno.
"Kita coba saja!"
***