Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
295. Pelaku Sebenarnya


Setelah meneguk air, Reno kembali melanjutkan analisisnya. Semua yang hadir di tempat itu masih menunggu dengan risau. Reno membuka-buka kembali arsip yang tersimpan rapi dalam map. Sesekali ia bersbisik pada Dimas dan Ammar, kemudian mengangguk-angguk, menambah penasaran para penghuni yang mulai tak sabar.


"Ya, Ollan memang beruntung saat itu, tetapi mungkin tidak di hari lain. kami sepakat untuk memindahkannya di tempat aman. Dan tadi malam, ia juga mengalami percobaan pembunuhan yang kedua. Bersyukur ia juga masih beruntung. Kami tidak mau mengandalkan keberuntungannya, jadi kami pulangkan dia pagi ini. Dari lokasi villa milik Henry, lagi-lagi kami menemukan teka-teki keempat yang berisi petunjuk tentang siapa korban berikutnya. Kami berhasil mengidentifikasi bahwa korban berikutnya adalah Renita Martin. Khusus untuk Renita, kami mengutus salah seorang rekan kami, yakni Niken untuk mengamankan Renita. Sayangnya, Niken gagal, si pelaku pembunuhan berhasil membunuh Renita dengan cara teramat sadis. Ia ditemukan tewas dalam keadaan tertikam beberapa tusukan di tubuhnya, dan beberapa ruas jarinya dipotong dengan sadis."


Reno menghentikan kalimatnya sejenak,karena mendadak perutnya merasa tidak nyaman. Ia masih teringat potongan jari tangan penuh darah yang ia temukan di atas meja. Para penghuni kian penasaran dengan kelanjutan cerita Reno yang begitu menarik, sekaligus mengerikan.


"Renita terbunuh, bahkan si pelaku berhasil menyekap Niken dan Rani, adiknya Renita selama beberapa hari di suatu tempat yang tak kami duga sebelumnya, yaitu rumah Daniel yang terletak di seberang rumah Renita. Syukurlah, kedua tawanan itu telah ditemukan oleh Dimas dalam keadaan selamat. Bahkan Niken telah melaporkan kepada kami deskripsi si pelaku. Kami mencoba menelusuri keterkaitan Renita dengan dua kasus pembunuhan sebelumnya. Sepertinya memang tidak ada kaitan langsung, tetapi setelah kami telusuri ternyata pelaku pembunuhan ini mempunyai dendam pribadi dengan Renita yang akan kami terangkan nanti. Berdasarkan pola-pola pembunuhan yang begitu terorganisir dan rapi ini, kami mempunyai gambaran bahwa si pelaku ini sudah merencanakan rentetan kasus pembunuhan ini sejak lama. Hatinya dipenuhi kebencian, sehingga berusaha menyingkirkan orang-orang ya dianggap bersalah dalam hidupnya," terang Reno


"Apakah pelaku itu ada di antara kami sekarang?" sela Henry sambil menatap sekeliling dengan curiga.


"Tentu saja! Pelakunya saat ini sedang duduk bersama kalian. Mungkin hatinya saat ini sedang berdebar, menyiapkan alasan dan sanggahan," ucap Reno.


"Baik. Biar aku yang melanjutkan analisisnya," lanjut Dimas.


Polisi muda itu berdiri, menatap mata setiap penghuni yang ada di situ. Tatapan itu seolah mengancam, bahwa siapa pun pelakunya, tak akan bisa lolos dari jerat hukum. Sementara, Reno mendapat giliran duduk, memberi kesempatan Dimas untuk melanjutkan analisis.


"Setela pembunuhan atas diri Renita, sebuah teka-teki juga kami temukan. Mereka mengincar sebuah pasangan yang populer di antara kalian. Kami tidak paham pasangan yang dimaksud, karena si pelaku hanya mengidentikan dengan Romeo dan Juliet. Awalnya Reno mengira bahwa pasangan itu adalah Henry dan Rianti, namun setelah kami telaah, bukan mereka yang dimaksud, tetapi pasangan Faishal dan Melani yang tengah berlibur di villa milik Henry. Lagi-lagi, villa itu kembali diincar setelah sebelumnya Ollan juga hampir terbunuh di sana. Yah, sayangnya kami agak terlambat tiba dan pada akhirnya kami mendapati Faishal yang keracunan di dalam kardus, serta Melani yang terbunuh secara mengenaskan dalam bak mandi. Kami sudah menelusuri asal racun itu, dan kami sudah mendapatkan data pembelinya, lengkap dengan waktu transaksinya. Bahkan si pembunuh ini nekat mengirimkan makanan beracun kepada Faishal dengan menggunakan racun potassium sianida. Untunglah, Faishal segera ditangani secara cepat oleh pihak medis," papar Dimas.


Ia berhenti sejenak untuk menarik napas.


"Kami memutuskan untuk mengisolasi kalian, agar korban tidak semakin bertambah. Bahkan setelah diisolasi pun, aku masih mendengar ada percobaan pembunuhan terhadap Ollan, dan sebuah percobaan pembunuhan terhadap Widya .... "


"Maaf, bukannya Widya itu bunuh diri?" sela Guntur dengan cepat.


Dimas kembali membuka map biru dan mengeluarkan sebuah foto dari dalamnya. Foto itu adalah foto Daniel yang sedang terbaring tanpa busana berbalut selimut di sebuah kamar, sedang menutupi mukanya seolah-olah tidak mau diambil gambarnya. Dimas menunjukkan foto itu ke semua yang hadir di tempat itu. Sontak , mereka semua terkejut. Sama sekali tidak menyangka ada foto seperti itu yang Dimas temukan.


"Foto ini aku temukan di kediaman Daniel Prawira. Jelas sekali, ini bukan foto Daniel bersama mendiang istrinya. Tanggal dalam foto ini menunjukkan kalau foto ini diambil setelah istrinya meninggal. Aku yakin, beberapa dari kalian tidak asing dengan kamar yang ada di dalam foto ini. Ada yang tahu, kamar siapa ini?" tanya Dimas.


"I-itu kan ... kamar yang ada di villa milikku? Bagaimana bisa Daniel tidur di sana tanpa sepengetahuanku?" ucap Henry yang mulai meradang.


"Tentu bisa. Kuharap tidak ada yang menyela dulu, karena aku akan lanjutkan pemaparanku. Foto ini sebetulnya adalah kunci dari kasus ini. Foto ini seolah bercerita bahwa Daniel mempunyai hubungan gelap dengan seseorang sejak lama. Bahkan karena hubungan itu sudah sedemikian jauh, pasangan Daniel ini menuntut secara berlebihan pada si sutradara, termasuk harta. Oleh karena itu, ia sangat mencemburui kehadiran Anita Wijaya yang jelas-jelas mewarisi polis asuransi milik Henry. Itulah sebabnya, Anita Wijaya juga disingkirkan oleh si pembunuh ini. Nah, hubungan gelap antara si pelaku dan Henry ini ternyata sudah diketahui lama oleh sahabatnya. Namun, ada indikasi bahwa sahabatnya ini tidak senang dengan ulah si pelaku dan si sahabat ini juga merasa muak.Ada pergulatan batin si sahabat, dan sialnya hal ini langsung tercium oleh si pelaku. Ia takut sahabatnya ini akan mengkhianati, sehingga jalan pintas yang harus dilakukan adalah menghabisi sahabatnya," ucap Dimas.


"Siapa sahabatnya itu? Apakah dia salah seorang di antara kami?" tanya Henry makin antusias, karena ini kasus ini sudah mulai menyangkut vila miliknya.


"Ya, sahabat si pelaku ini sudah terbunuh. Aku sudah terangkan di awal tadi, bukan? Kami semakin yakin, setelah mendapati foto antara pelaku dan sahabatnya ini yang berfoto bersama di masa lalu. Rupanya mereka mengenal sejak lama. Sebuah fakta yang kami temukan, si pelaku ini rupanya adalah mantan pasien rumah sakit mental, walau sudah dinyatakan sembuh. Namun, kukira ia belum benar-benar sembuh. Ia masih terobsesi membunuh orang-orang yang bersalah padanya. Termasuk Ollan, Faishal, dan Widya. Rupanya orang-orang ini masuk dalam daftar orang-orang yang bersalah dlam kehidupan si pelaku. Dan aku yakin, beberapa dari kalian juga akan segera masuk daftar ini juga," ucap Dimas.


"Jadi siapa orang itu sebenarnya?" tanya Laura tak sabar.


"Aku akan sebutkan namanya sekarang. Henry!" ucap Dimas sambil menatap tajam ke arah aktor berusia 40 tahun an itu.


Tentu saja Henry terhenyak. Ia sama sekali tidak menyangka kalau namanya disebut oleh polisi muda itu. Parasnya memucat, saat semua mata menatap ke arahnya, seolah menyalahkan.


"Maaf Henry. Bukan kau pelakunya, tapi istrimu!" lanjut Dimas sambil tersenyum.


***