
Dimas tak menunggu sampai besok. Begitu ia merasa semua sudah tuntas, ia segera merapikan berkas-berkas, kemudian memutuskan berangkat ke kastil sore itu juga. Ia sudah mengantongi satu nama yang ia duga paling kuat terlibat dalam kasus ini. Memang, ia belum berani memastikan, tetapi paling tidak ia punya gambaran. Untuk memperkuat dugaan tersebut, ia melengkapi dengan bukti-bukti dokumen yang akan ia tunjukkan nanti kepada Reno dan Ammar. Tentu saja, ia tidak bisa memutuskan sendiri. Ia harus berdiskusi dengan dua rekan seniornya.
Sebelum berangkat ke kastil, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi Ramdhan di rumah sakit. Rupanya polisi itu sudah pulih dari luka-luka yang ia derita saat kecelakaan mobil beberapa waktu lalu. Dimas merasa senang melihat keadaan Ramdhan. Mereka hanya bercakap-cakap sebentar. Dimas tak mau mengungkit masalah yang terjadi di kastil, agar Ramdhan tak banyak pikiran. Ia sadar, untuk kondisi pemulihan ini, Ramdhan tidak diperbolehkan banyak berpikir. Apalagi merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi di kastil.
Setelah menjenguk Ramdhan, ia segera menyiapkan mobilnya. Paling tidak, ia harus sampai di kastil menjelang malam. Ia tak sabar ingin memberitahu Reno dan Ammar agar mereka dapat segera mengambil langkah agar pembunuhan tak lagi terjadi di kastil. Ia sadar, perjalanan ke kastil bukanlah perjalanan yang sebentar. Ia membeli beberapa kebutuhan di sebuah supermarket dekat rumah sakit sebagai bekal nanti di jalan. Ia ingin membeli beberapa kaleng kopi dan keripik kentang.
Supermarket itu tidak besar, tetapi menyediakan kebutuhan yang cukup lengkap. Lokasinya juga cukup strategis, sehingga cukup banyak pengunjung yang berbelanja. Dimas harus mengantre untuk membayar. Sambil mengantre, Dimas menatap layar televisi yang dipajang di atas tempat kasir. Lagi-lagi, ia melihat pemberitaan yang dibawakan oleh Gilda Anwar. Sebenarnya ia merasa malas untuk mengikuti, tetapi ia mau tidak mau ia tetap harus melihat tayangan itu.
Dalam tayangan berita itu, Gilda mengupas tentang profil The Girl Squad yang ditengarai sekarang sedang berada dalam kastil. Bahkan Gilda juga memberitakan bahwa mungkin saja pembunuhan dalam kastil tua itu adalah dampak dari perbuatan kurang terpuji yang dilkukan The Girl Squad di masa lampau. Gilda memberitakan berita ini dengan sangat dramatis, disertai foto-foto slide yang menampakkan foto-foto para anggota The Girl Squad.
Dimas merasa jengah melihat tayangan berita yang sedang berlangsung. Bahkan ia terpaksa meminta kasir supermarket untuk mematikan saja tayangan yang belum tentu benar itu. Ia geram karena Gilda menyebarkan berita yang seharusnya belum boleh menjadi konsumsi publik. Apalagi saat ini kasus itu sekarang tengan diselidiki secara mendalam. Hal ini membuat Dimas terpaksa harus kembali menghubungi Gilda.
Selesai membayar di kasir, Dimas segera masuk ke dalam mobil dan menelepon Gilda. Butuh empat kali nada dering sampai wanita itu mengangkat panggilan Dimas. Tanpa banyak basi-basi ia langsung menyemprot Gilda.
"Kamu ini sudah gila atau bagaimana? Bisa-bisanya kamu menyiarkan berita yang belum terbukti kebenarannya itu. Data yang kamu peroleh itu masih simpang-siur. Jangan seenaknya sendiri. Kamu bisa dituntut karena mencoreng nama baik seseorang. Kamu selalu membuat masalah besar, tetapi tetap tidak mau belajar!" geram Dimas.
"Kamu yakin berita itu tidak akurat? Atau ... jangan-jangan kamu lagi melindungi seseorang?" tanya Gilda dari seberang.
"Kamu jangan sembarangan bicara ya Gilda! Kali ini aku tidak akan bersikap lunak lagi. Channel-9 telah sering memberitakan berita kebohongan seperti ini. Aku akan tuntut agar stasiun TV kalian itu ditutup dan kalau perlu kamu dipecat saja agar tidak meresahkan!" lanjut Dimas.
"Silakan saja, Pak Dimas yang terhormat. Negara ini menjunjung kebebasan pers, dan kami tidak mau diintervensi pihak mana pun. Kami tidak takut dengan ancamanmu itu. Kami juga mempunyai bukti kok. Kalau kami dianggap menyebarkan berita yang tidak benar, maka kamu harus bisa membuktikan bagian mana yang enggak benar itu," balas Gilda.
"Oke, Gilda. Kupastikan petualanganmu berakhir. Sayangnya hari ini ada urusan yang lebih penting. Jadi bersiap saja siapkan pengacara yang banyak, karena kita akan bertemu di ranah hukum. Aku udah muak dengan segala polah-tingkahmu. Bersiap saja, Gilda!" ancam Dimas.
"Tunggu, Dimas! Ini terkait dengan masalah pribadi di antara kita yang belum kelar?"
"Tidak, Gilda! Tak ada masalah pribadi. Ini semua murni karena tingkahmu yang melanggar hukum!"
Dimas mematikan ponsel dan melemparkan ke kursi di sampingnya. Ia menarik napas untuk meredakan emosi. Kalau saja ia tidak hendak pergi ke kastil, pasti dia sudah mendatangi Gilda dan segera memberi tindakan agar mulut wanita itu terbungkam.
"Tunggu nanti, Gilda! Akan tiba masamu!"
***
Sore sudah mulai bergulir. Kegelisahan masih merayap di sekitar kastil.Beberapa penghuni kastil memilih bersantai di taman samping. Salah satunya adalah Jeremy yang merasa sedikit lelah karena telah memasak untuk makan siang tadi. Jeremy terlihat hanya mondar-mandir sambil menggeliatkan badan, meregangkan otot yang terasa kaku. Namun, aktivitas Jeremy terhenti sejenak ketika ia mendengar suara memanggil.
"Jer ... Jer!"
Jeremy memalingkan muka, melihat perempuan muda yang cantik memanggilnya. Jeremy sedikit heran, mengapa Nadine memanggil namanya? Paras perempuan itu terlihat cemas seolah ada hal buruk yang telah terjadi.
"Ada apa, Nadine?" tanya Jeremy.
"Kamu tidak melihat Ryan? Aku sudah mencari kemana-mana tetapi aku tidak dapat menemukannya," ucap Nadine dengan cemas.
"Aku sudah menanyakan kepada Maya dan Lily, tetapi mereka juga tidak melihat keberadaan Ryan. Aku mau bertanya pada Rosita, tetapi Rosita tengah bersama Edwin dalam kamar, karena kudengar Edwin ditemukan dalam keadaan pingsan oleh Mariah di tepi jalan siang tadi. Aku sangat khawatir terhadap Ryan. Takut terjadi apa-apa," keluh Nadine.
"Aku terakhir bertemu dengan Ryan tadi saat makan siang. Sepertinya ia tengah gelisah, seperti ada sesuatu yang dipikirkannya. Ia melangkah keluar dari ruang makan, sepertinya menuju gerbang depan atau entahlah. Dia sama sekali tidak tertarik untuk makan siang," terang Jeremy.
"Aku takut," gumam Nadine.
"Kamu sudah melaporkan pada Pak Reno atau Pak Ammar?"
"Belum, karena kukira Ryan berada di sekitar sini saja, dan aku ama sekali nggak mikir kalau dia itu menghilang," kata Nadine.
"Kalau dia ada di sekitar sini pasti ada kan? Sekarang kamu harus bilang kepada mereka bahwa kamu kehilangan Ryan, biar mereka segera bergerak mencari. Lagipula Ryan itu bodoh! Sudah tahu kalau kastil ini berbahaya malah keluar dari kastil," sesal Jeremy.
Nadine belum memutuskan apa yang hendak ia lakukan, ketika tiba-tiba ia melihat Juned yang berjalan tergesa dari beranda belakang. Parasnya juga terlihat gelisah, apalagi setelah melihat Nadine dan Jeremy yang sedang bercakap-cakap di taman samping.
"Kalian harus segera masuk ke dalam kastil. Sebentar lagi hari mulai gelap!" perintah Juned.
"Kami hanya bersantai di sekitar sini kok," kilah Jeremy.
"Kalian harus masuk. Situasi saat ini sedang tidak bagus. Lebih baik kalian masuk ke dalam, cari tempat yang aman dan jangan coba keluar dari kastil!" perintah Juned sekali lagi.
"Tunggu ... tunggu! memangnya ada sesuatu yang terjadi?" tanya Jeremy.
"Ya, kematian saat ini mengincar masing-masing dari kita, bahkan dari arah yang tak kita duga. Kalian tahu, aku baru saja menemukan fakta bahwa kastil ini mempunyai terowongan yang tembus sampai jauh ke dalam hutan. Terowongan ini terhubung dengan ruangan bawah tanah yang kita punyai. Itulah sebabnya si pembunuh itu bisa bergerak cepat menggunakan jalan rahasia. Aku baru saja menelusuri ruang bawah tanah dan menemukan banyak lorong-lorong baru. Sebaiknya kalau kalian tak ada urusan penting, segera masuk!" perintah Juned.
Jeremy mengangguk pelan. Demikian juga Nadine. Mereka mematuhi perintah Juned. Mereka bertiga segera masuk ke dalam kastil untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan.
***