Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
294. Analisis Kasus


Sore begitu cepat menjelang, saat para penghuni rumah isolasi bersantai, menunggu saat makan malam tiba. Saat makan siang tadi, Reno sudah mengumumkan bahwa mereka akan dikumpulkan di beranda depan. Harap-harap cemas kembali terjadi. Biasanya kalau Reno mengumpulkan di ruang depan, dia akan menginterogasi atau mengumumkan hal-hal penting.


Kecemasan itu begitu terasa, bahkan Riky harus berkali-kali bolak-balik ke toilet untuk buang air kecil. Ini biasa terjadi saat dia merasa tegang atau tertekan. Kalau ada Widya, biasanya gadis itu selalu menenangkannya. Namun, kali ini hanya bisa menyimpan rasa cemasnya sendiri. Sedangkan Guntur terlihat lebih tenang, menenggak kopi hitam yang baru saja ia buat di dapur, sambil menikmati udara sore.


Henry juga tak bisa dikatakan tenang. Ia memang diam, tetapi dari parasnya tersimpan rasa gugup yang mendalam. Ia mengambil sebatang cokelat dari sakunya, kemudian mengunyah cokelat itu. Sementara, Rianti mendengkus melihat kebiasaan buruk suaminya itu. Kadang Henry tak menghabiskan cokelat yang dimakannya, lalu meletakkan di sembarang tempat, sehingga Rianti terpaksa membereskan sisa-sisa cokelat itu. Ia selalu mengingatkan Henry bahwa teralu banyak makan cokelat akan membuat perut buncit, tetapi suaminya seolah tak mau mendengar.


Saat makan malam pun tiba. Acara makan malam dilaksanakan dengan cepat, tanpa pembicaraan berarti. Reno kembali mengingatkan agar mereka segera berkumpul di beranda depan. Dalam acara makan malam itu terlihat pula dua opsir polisi yang kemarin sempat dilumpuhkan oleh orang misterius, yakni Toni dan Hardi. Mereka memang diminta khusus oleh Reno untuk menjaga situasi tetap kondusif. Belajar dari kasus sebelumnya, saat Ferdy menyendera Adinda, kali ini para penghuni itu diperiksa sebelum memasuki beranda depan, untuk dipastikan tidak membawa senjata apa pun, atau alat apa pun yang mencurigakan. Selain itu, dua polisi itu menjaga segala akses keluar, agar tersangka yang sudah ditetapkan tidak mudah untuk menyelinap.


Seusai makan malam, semua sudah berkumpul di ruang depan sambil berharap cemas. Paras mereka tidak tenang, seolah menunggu putusan pengadilan. Seperti biasa, Reno, Dimas, dan Ammar masuk ke dalam ruang depan itu dengan berwibawa. Mereka tak bersikap ramah dan menebar senyum seperti biasanya. Paras para polisi itu terlihat begitu serius.


"Bo-boleh aku ke toilet sebentar?" celetuk Riky tiba-tiba.


"Bukankah ini sudah ke delapan kalinya?" ucap Dimas.


"I-iya, Pak. Tetapi ... saya sudah nggak tahan!"


Dimas memberi isyarat kepada Riky agar segera ke toilet. Untuk mencegak segala kemungkinan, ia dikawal oleh seorang polisi.  Setenga berlari Riky pergi ke toilet. Reno akan memulai berbicara, tetapi menunggu Riky dari toliet. Tak lama, Riky kembali dari toilet, tetapi wajahnya masih tampak tegang,


"Kalian siap?" tanya Reno.


Semua yang hadir di ruang depan itu hanya mengangguk perlahan. Merekap paham, mungkin saat ini data-data yang diperoleh para polisi itu telah lengkap, sehingga dapat dikatakan malam ini adalah malam pembuktian data-data itu. Mereka harap-harap cemas, menanti Reno segera membeberkan fakta-fakta yang dimilikinya.


"Pasti kalian sudah tahu mengapa aku lagi-lagi mengumpulkan kalian ke sini. Jadi begini, Dimas sudah kembali dengan membawa fakta-fakta baru yang akurat. Jadi, kami di sini sudah mengantongi satu nama. Siapa pun itu, kalian boleh menolak dakwaan kami, tetapi tentu saja harus membuktikan bahwa kalian tidak bersalah. Nah, jadi akan segera kita mulai!"


Dimas memberikan selembar map warna biru tua kepada Reno. Dalam map ini tertera kronologis peristiwa demi peristiwa, dan tentu saja hasil analisis para polisi itu. Semua merasa tegang, melihat Reno tak berkedip dan menahan napas.


"Oke, mari kita mulai dengan peristiwa pertama. Kematian Daniel Prawira yang mengejutkan semua pihak, bahkan seluruh warga kota. Dia dikenal sebagai sutradara yang sukses dalam tiap film yang digarapnya. tak heran, ia termasuk sutradara terkaya di negara ini. Jasad Daniel ditemukan dalam jeratan kabel di toilet, saat dia baru saja keluar dari kamar mandi. Yang menemukan jasad ini pertama kali adalah Riky. Betul?" ucap Reno sambil menatao tajm ke arah Riky.


Riky hanya mengangguk, tanpa berani  balas menatap Reno. Jantungnya berdegup kencang, menunggu keterangan Reno selanjutnya.


"Kami tidak menemukan petunjuk apa-apa dari peristiwa pembunuhan ini, bahkan sidik jari pun tidak.  Si pembunuh ini bekerja sangat rapi, tanpa meninggalkan bekas apa pun. Kami tidak menemukan hal aneh lain kecuali petunjuk baru yang mengarahkan ke pembunuha selanjutnya. Dari kantor Daniel sendiri, kami menemukan polis asuransi bernilai milyaran rupiah, serta kartu ulang tahun dengan inisial Re dalam kartu itu. Yang jelas, kartu itu bukan berasal dari almarhum istri Daniel. nanti kami akan ungkap siapa sebenarnya si pembuat kartu ucapan itu," terang Reno.


Kegelisahan segera merayap kembali. Bahkan seolah kehilangan kata-kata. Pikiran mereka berfokus kepada tiap kata yang dituturkan oleh Reno.


"Belum lagi kami menuntaskan kasus pertama, kami sudah diteror dengan kasus kedua. Korban kali ini adalah Anita Wijaya, yang belakangan kami tahu bahwa Anita ini sangat disayang oleh Daniel Prawira. Bahkan nama Anita ini diubah menjadi Margareth Prawira, agar seolah mereka terlihat berkerabat. Nama ini muncul di polis asuransi milik Daniel. Tak tanggung-tanggung, puluhan milyar harta yang ia wariskan pada Anita. Jasad Anita ditemukan tergantung di kebun durian milik Daniel sendiri, dengan kondisi mengenaskan. Di dalam mulut gadis ini ada petunjuk baru yang mengarahkan pada pembunuhan berikutnya, yakni Ollan. Setelah kami teliti, memang Ollan yang menjadi sasaran berikutnya. Di lokasi kejadian terbunuhny Anita, kami nyaris tak dapat menemukan bukti apa pun kecuali bungkus cokelat ini!"


Reno mengeluarkan bungkus coklelat bertulis Silver King, kemudian memperlihatkan pada seluruh penghuni rumah isolasi.


Henry, Laura, dan Guntur mengangkat tangan. Rasa cokelat itu memang enak, sehingga banyak kalangan yang menyukainya.


"Maaf, tentu saja cokelat ini tak bisa dijadikan patokan bahwa siapa penyuka cokelat merek ini sudah pasti ia pembunuhnya. Cokelat itu bisa datang dari mana saja, jadi belum tentu kalian menyukai cokelat itu, kemudian kalian dianggap pembunuhnya. Tidak seperti itu, karena masih ada bukti-bukti yang lebih menguatkan," ucap Reno.


Ketiga penyuka cokelat itu bernapas lega, tetapi mereka masih penasaran dengan ucapan-ucapan Reno.


"Bungkus cokelat itu bisa jadi hanya sebagai pengalih perhatian, karena merk cokelat ini bisa didapat di supermarket atau bahkan toko lain. Ada indikasi bahwa bungkus cokelat ini sengaja diletakkan si pembunuh agar ditemukan polisi, agar polisi menganggapnya sebuah bukti penting. namun, tentu saja polisi tak bisa menerima begitu saja,." lanjut Reno.


"Kita lanjut ke kasus percobaan pembunuhan si Ollan! Aku tau kalian sudah tak sabar. Ollan bisa dikatakan sangat beruntung, karena kami datang tepat saat Ollan hendak dihabisi di kamarnya. Lokasi percobaan pembunuhan ini  berada di Villa Kuning Pucat milik Henry. Seseorang rupanya tahu kalau Ollan sedang menenangkan pikiran di sini, sehingga ia hampir terbunuh di tempat itu,"


***