
Dokter Dwi masih duduk terpekur di depan sosok Anjani yang terbaring di ranjang tua. Ia tidak tahu lagi suasana di luar sana apakah pagi, siang, atau malam. Semua tampak sama. Batinnya bergejolak, bingung memikirkan apa yang harus ia lakukan. Di sudut ruangan terlihat Mariah yang duduk dengan paras cemas. Selepas Anjani berkata bahwa ia menginginkan mata Mariah, wanita muda itu terus menangis. Tak pernah terbersit dalam pikiran andai hal itu benar-benar dilakukan.
Sesaat ia teringat bayangan suaminya. Besar harapan ia segera bertemu dengan Ammar, tetapi malangnya ia terperangkap dalam ruang bawah tanah ini. Ruangan yang selalu menjadi mimpi buruk dalam hidupnya. Sebagai seorang cenayang, ia bisa merasakan aura-aura negatif yang terperangkap di sana. Sayangnya kini yang ia hadapi kini bukan energi negatif, melainkan sosok manusia yang dikuasai hawa nafsu tak terbendung.
Saat ini sosok berjubah itu tidak sedang bersama mereka. Dokter Dwi tiba-tiba berpikir sesuatu yang jahat. Amarah dan nafsu untuk balas dendam perlahan menyusup dalam pikiran. Ia tidak mau hidup dalam penindasan seperti ini. Otaknya mulai bekerja, ia harus lolos dari ruang gelap bawah tanah. Jalan satu-satunya adalah memikirkan suatu cara agar ia bisa lepas dari cengkeraman manusia sadis itu. Diliriknya Anjani. Wanita itu sedang tertidur pulas. Ini kesempatan yang amat baik untuk mendekati Mariah yang sedang meringkuk.
“Mariah, bangkitlah!” bisik dr. Dwi.
Mariah perlahan membuka mata. Rambutnya yang kusut masai menutupi sebagian wajahnya yang cantik. Ia menatap dr. Dwi dengan tatapan putus asa.
“Apa kamu akan mengambil mataku sekarang?” tanya Mariah.
“Tentu tidak, Mariah! Aku nggak akan sebodoh itu mengambil matamu. Itu tindakan sia-sia dan bodoh. Aku yakin, sekalipun matamu dipakai wanita itu, dia tetap tak akan bisa melihat. Operasi donor mata itu tak semudah itu dilakukan, apalagi tanpa fasilitas medis seperti ini. Aku hanya ingin memberimu semangat, bahwa mungkin kita punya kesempatan untuk hidup lebih lama lagi,” bisik dr. Dwi.
“Aku sudah tak punya harapan lagi. Mungkin setelah ini aku akan mati di tangan sepupuku sendiri, karena yang kita hadapi adalah manusia sadis yang nyaris tak punya perasaan. Apa yang bisa kita lakukan, Dokter?” tanya Mariah.
“Untuk itulah aku mengajakmu untuk membicarakan ini, mumpung manusia sadis itu tidak ada di sini. Kita nggak bisa seperti ini terus. Harus ada tindakan untuk menghentikannya. Aku yakin, di atas sana korban akan terus berjatuhan apabila kita tidak mencoba menghentikan psikopat itu. Ini kesempatan kita, Mariah!” ucap dr. Dwi.
“Apa yang bisa kita lakukan? Kita nggak punya senjata atau apapun. Kalau ketahuan maka tamat riwayat kita! Dia nggak segan-segan menghabisi kita,” ujar Mariah takut-takut.
“Maka aku akan memilih mati dalam keadaan terhormat, Mariah. Daripada aku diam dan membusuk di sini, lebih baik aku berjuang untuk melepaskan diri, walau nyawa taruhannya. Paling tidak, aku sudah berusaha,” ujar dr. Dwi berusaha meyakinkan Mariah.
“Aku takut, Dokter. Aku takut!” Suara Mariah terdengar bergetar.
“Bukan hanya dirimu, Mariah. Akupun juga takut. Mari kita lawan rasa takut itu! Kita nggak punya pilihan selain mati atau melawan. Keduanya akan berakhir sama, yaitu kematian. Tetapi tentu saja nilainya berbeda. Aku nggak mau mati konyol di dalam sini.”
“Lalu apa rencanamu, Dokter?”
“Aku masih memikirkan suatu cara, tapi kamu harus bantu aku. Aku nggak bisa melaksanakan ini sendirian,” ujar dr. Dwi.
“Aku akan coba. Tentu saja aku mau bantu kamu,” gumam Mariah lirih.
“Baik, kita akan bertindak. Nanti begitu sepupumu itu datang, kita akan beraksi!”
***
Suasana makan malam berlangsung lebih ceria daripada biasanya karena kedatangan Ammar. Walaupun Ammar sendiri tak bisa bergabung, mereka merasa lebih nyaman apabila ada seorang polisi di antara mereka. Gelak tawa mulai terdengar. Apalagi Hans. Parasnya terlihat berseri-seri, sambil tak henti bercuap-cuap mengenai petualangan saat menolong Ammar dari dasar jurang.
“Dia sangat beruntung! Sungguh!” ucap Hans.
“Lebih beruntung dirimu, Hans. Pesonamu mampu menarik perhatian gadis-gadis itu. Aku dapat menilai cara mereka menatapmu,” sambung Maira.
“Aku tak sabar menunggu besok. Aku akan melihat kondisi alam sekitar sini, sekaligus mengunjungi rombongan anak muda itu. Berlama-lama di dalam kastil ini membuatku hampir gila!” ucap Hans sambil mengiris potongan daging di piringnya.
“Aku selalu mengamatimu. Sepertinya kamu menyukai salah seorang gadis dalam rombongan itu,” sindir Maira.
“Seorang fans? Pantas dia juga sangat tertarik padamu. Kupikir dia tak akan keberatan menyerahkan tubuhnya padamu,” cibir Maira.
“Seperti dirimu waktu itu? Tentu saja, Cantik!” sungging Hans.
Tiba-tiba Adrianna meletakkan sendok dan garpu dengan kasar, sambil menggeram. Ia menatap Maira dan Hans dengan tatapan marah.
“Hentikan pembicaraan menjijikkan ini! Ini ruang makan, bukan ajang prostisusi kalian. Kalau kalian ingin membicarakan hal seperti ini, lebih baik kalian cari tempat lain. Aku mau muntah mendengar itu!” semprot Adrianna.
“Sabarlah, Cantik! Pada akhirnya kamu juga akan memohon memintaku untuk menidurimu!” seringai Hans.
Adrianna menatap marah, bahkan Cornellio yang sedari tadi diam tiba-tiba bangkit dan mencengkeram kerah baju Hans. Ia manatap wajah Hans tajam.
“Tolong jaga bicaramu, Hans! Jangan samakan semua wanita dengan wanita-wanita yang pernah kau tiduri! Sekali lagi kudengar kamu melecehkan Adrianna atau siapa pun, maka aku benar-benar akan menghajarmu! Paham kau!” ancam Cornellio.
“Hai, sabarlah Men! Mengendap di mana selera humormu? Aku hanya bercanda. Jangan anggap itu serius!” Hans membela diri.
“Aku tahu yang mana bercanda dan yang serius!” Cornellio melepas cengkeramannya.
Mukanya merah padam menahan amarah. Semua yang hadir di situ mengehentikan acara makannya sejenak.
“Maaf aku merusak selera makan kalian!”
Cornellio terlihat gusar, kemudian pergi meninggalkan ruang makan. Semua masih terdiam. Hanya Hans yang terlihat seolah tak berdosa. Yang dilakukannya hanya senyum-senyum.
“Kurasa selera makanku tiba-tiba juga menghilang. Maaf, aku harus kembali ke kamar!” ucap Adrianna sambil menghela napas. Ia berdiri dari tempat duduknya, berlalu dari ruang makan.
“Ada lagi yang mau pergi?” tanya Hans sambil mengangkat alis.
“Kurasa kau harus jaga ucapanmu, Hans. Cornellio benar, tak semua wanita bisa kau ajak tidur. Sesungguhnya itu sangat merendahkan, dan membuat wanita menjadi terlihat sangat murahan,” saran Michael.
“Aku tidak merasa murahan!” Maira membela Hans.
“Tidak semua wanita seperti dirimu!” balas Michael.
Hans manggut-manggut, ia tak berniat membantah lagi. Tapi jiwa prianya masih terasa meledak-ledak tak terbendung. Segala ocehan yang ia anggap bercanda, tak menyangka akan membuat seseorang begitu naik darah. Wajahnya masih sedingin es, ketika ia menikmati tiap suap makan malamnya.
Maira tersenyum-senyum, sambil menatap Hans penuh arti. Ketika acara makan malam berakhir, semua penghuni kembali ke kamar masing-masing.
Maira mendekati Hans sambil berbisik,”Jangan pedulikan mereka!”
Suasana malam berubah senyap ketika acara makan malam selesai. Keheningan, seolah mengundang sesuatu yang jahat mengintai tiap penghuni yang lengah. Dalam kamar masing-masing, tiap penghuni bersikap waspada, berharap agar pagi segera datang.
***