
Di dalam tas plastik hitam itu terlihat sesosok tubuh manusia dalam keadaan tak utuh. Terlihat potongan lengan, kaki, dan tubuh tanpa kepala! Ammar Marutami terperanjat. Darahnya berdesir lebih kencang, tak habis pikir makhluk jenis apa yang telah melakukan perbuatan sekeji ini.
Rania, yang sedang berdiri agak jauh juga penasaran apa yang ada di dalam kantong plastik tersebut. Pikirannya tidak tenang. Ia segera melangkahkan kaki mendekati polisi dan dr. Dwi yang sedang memeriksa isi kantong.
“Jangan mendekat!” perintah Ammar sambil memberi isyarat dengan tangannya.
“Aku ingin melihat isi kantung plastik itu!” ujar Rania.
“Ini bukan sesuatu yang bagus untuk dilihat. Kusarankan untuk tidak melihat ini,” Ammar Marutami kembali menutup kantung plastik.
“Memangnya apa yang ada di dalam kantung plastik itu?” Rania terus memaksa.
“Baik akan kutunjukkan padamu. Tapi kuatkan mentalmu. Aku tidak tahu siapa yang ada di dalam kantung ini. Siapa tahu kamu mengenalnya!” ujar Ammar Marutami.
Rania mendekat. Kantung plastik dibuka, tersaji pemandangan yang menggidikan. Rania tercekat. Napasnya terasa sesak. Ia sangat mengenali jasad tak utuh saling menumpuk di dalam kantung plastik itu. Jam tangan yang masih melingkar di potongan lengan itu sangat dikenalnya.
Seketika perut Rania mual. Dalam kekalutan pikirannya, tak terasa air mata luruh. Perasaannya meledak-ledak melihat kekasih gelapnya tewas dalam keadaan mengenaskan. Emosinya membuncah, berujung menjadi teriakan histeris di halaman belakang, memancing rasa ingin tahu para penghuni lain.
“Harusnya kita tak menunjukkan isi kantung itu padanya,” keluh Ammar Marutami pada dr. Dwi.
Penemuan jasad tanpa kepala itu sontak mengguncang penghuni kastil yang lain. Walaupun Ammar Marutami tak menyebutkan identitas korban, tetapi semua sudah dapat menyimpulkan bahwa jasad tak utuh itu adalah Yoga. Ini dapat dikenali dari ciri-ciri fisiknya.
Rasa takut menyelimuti suasana kastil. Rania yang masih merasa terguncang, berada dalam kamarnya ditemani oleh Helen. Secangkir teh hangat dengan rendaman kayu manis disajikan untuk mengurangi rasa tertekan. Sedangkan para wanita berkumpul di ruang tengah dengan perasaan tak menentu. Kepanikan terpancar di wajah-wajah mereka.
“Kita harus pergi dari sini. Dua kematian beruntun yang mengerikan terjadi di depan mataku! Ini bukan hal yang normal dan sangat menakutkan,” ujar Adrianna. Kecemasan terbingkai dalam wajah oriental-nya yang cantik.
“Saat ini semua adalah tersangka. Tak ada yang boleh meninggalkan tempat ini,” bisik Tiara Laksmi. Matanya menerawang kosong ke depan.
“Aku biasanya cuek dengan keadaan sekitar. Tetapi penemuan mayat Yoga itu sungguh mengganggu pikiran. Perasaan tak aman kini menghantui. Siapakah psikopat yang begitu gila memotong-motong mayat seperti itu? Jujur, aku tak percaya dengan kalian. Bisa saja, kalian menyelinap ke kamarku untuk menghabisiku!” Maira menghela napas. Ia mulai menenggak minuman beralkohol. Hal itu sering dilakukan apabila ia banyak pikiran.
“Sejujurnya aku ingin melakukan itu dari dulu, Maira!” sungut Adrianna.
Kegundahan tidak hanya terjadi di kalangan penulis wanita, tetapi juga di kalangan penulis pria. Mereka berkumpul di gazebo dekat kolam renang sambil kasak-kusuk. Berbagai pertanyaan muncul di benak mereka. Intinya, siapa pelaku yang begitu keji memutilasi korban hingga beberapa bagian?
“Aku yakin, situasi akan berubah kacau kalau jasad Karina juga ditemukan! Aku berharap agar jasad itu tak pernah ditemukan,” ujar Cornellio.
Hans mulai menghisap rokok untuk mengurangi kegelisahan.
“Ya, saat ini para wanita belum tahu apa yang terjadi dengan Karina. Tetapi aku yakin kalau polisi itu tidak tinggal diam. Setelah ini mungkin dia akan menyelidiki kasus hilangnya Karina. Mengingat Karina pergi dalam keadaan tidak wajar, dengan barang-barang yang masih utuh di dalam kamarnya,” sambung Michael sambil menggigit-gigit jarinya.
“Posisimu sudah diambil oleh polisi itu, Michael. Kamu sudah tak punya hak apa-apa di sini. Lagian aku lihat polisi itu juga telah menghina karyamu habis-habisan! Jadi menurutku berhentilah berspekulasi, mulailah menerima kenyataan bahwa kamu saja seperti kami. Seorang tersangka pembunuhan,” cibir Hans.
“Ammar tak punya nilai seni dalam menilai sebuah novel. Otaknya barbar dan penuh kekerasan serta teori-teori yang rumit. Kita lihat nanti apakah dia mampu memecahkan kasus ini!” ujar Michael.
“Yang kuinginkan saat ini hanya segera pulang ke apartemenku, minum jus lemon, dan tenggelam dalam bath-ub. Serta menemui pacarku!” kata Aldo Riyanda. Kekhawatiran terlukis di parasnya.
“Ya, seorang fotografer di majalah wanita ternama di Jakarta. Aku sempat memberitahu bahwa aku mendapat undangan di kastil ini. Kurasa kalau aku tak muncul dalam waktu lama, ia akan menyusul kesini!”
“Lebih baik kamu bilang ke pacarmu jangan pernah menginjakkan kaki di kastil ini, atau dia akan bernasib sama dengan Karina! Firasatku mengatakan kalau setelah ini akan ada korban-korban berikutnya!” tutur Michael.
“Lalu apa motif di balik ini semua? Membunuh hanya untuk sebuah kesenangan atau memang ada motif lain?” tanya Cornellio.
“Aku akan mencari tahu. Walaupun Ammar Marutami sudah mengambil alih kasus ini, aku akan tetap menyelidiki dengan caraku sendiri. Jujur, kini dugaanku sudah mengarah ke beberapa orang, tapi tak akan kusebutkan pada kalian.” Michael menatap satu-persatu para penulis pria dengan penuh selidik.
“Salah satu dari kami?” tanya Aldo Riyanda.
“Hmm. Mungkin. Pembunuh itu menggunakan topengnya untuk bisa berbaur dengan kita. Kadang dia bisa menangis, tertawa atau bisa mengambil hati. Jelas ada motif di balik semua kegilaan ini. Aku akan mencari celah hal-hal apa yang lolos dari pengamatan Ammar Marutami. Aku ingin polisi itu menarik ucapannya karena meremehkanku,” ucap Michael.
“Semoga kamu tidak sedang mempermalukan dirimu sendiri!” sungging Hans.
***
Jasad Yoga segera diamankan sekali lagi oleh Ammar Marutami. Karena kondisinya yang tidak utuh, maka harus dibawa ke rumah sakit untuk menangani proses otopsi. Untuk itu, dr.Dwi segera berangkat ke kota malam itu juga. Kepergiannya dilepas oleh Ammar Marutami sendiri.
“Segera kembali ke sini untuk memberi kabar!” pesan Ammar.
Penumpukan dua kasus pembunuhan ini membuat Ammar Marutami semakin memutar otak, karena tak dapat menemukan relasi atau benang merah yang menghubungkan kematian Anggara Laksono dengan Yoga. Ammar Marutami hanya menuliskan dugaan-dugaan dalam memoar yang dibuatnya.
Secangkir kopi menemani malamnya, saat ia mencoba menarik analisa-analisa yang dibuatnya.
“Anggara Laksono dan Yoga adalah sama-sama penghuni asli kastil ini. Mereka semua dibunuh dengan cara yang berbeda. Mungkin ada dendam pribadi yang belum terselesaikan, atau bisa jadi para penulis ini akan dijadikan kambing hitam atas kematian mereka. Tapi siapa yang berperan dalam permainan maut ini?”
Kemudian ia beranjak menuju ruang baca yang hening. Ia hendak mencari data-data akurat mengenai latar belakang keluarga paman dari istrinya itu. Walaupun telah menikahi Mariah, wanita itu cukup tertutup dengan silsilah keluarganya. Hal itu cukup mengusik rasa ingin tahunya. Sebuah buku tebal dengan sampul lusuh menarik perhatian.
Biografi Anggara Laksono. By Madeline Rahma.
Ternyata buku itu berisi tentang sejarah kehidupan Anggara Laksono yang ditulis oleh penulis terkenal Madeline Rahma. Sayangnya nasib penulis itu tak diketahui hingga kini. Ia menghilang setelah pulang dari sebuah pesta. Sampai kini kasus hilangnya Madeline Rahma masuk dalam x-files, karena tak terpecahkan. Beberapa saksi mengatakan bahwa Madeline Rahma menghilang setelah dijemput sebuah mobil mewah di tempat parkir.
Kasus menghilangnya Madeline Rahma ini sempat menjadi berita-berita utama di berbagai media, kemudian berita itu menguap seiring berjalannya waktu. Ammar sama sekali tak menyangka kalau penulis itu pernah menulis kisah hidup Anggara Laksono. Pasti karena bayaran mahal, hingga penulis itu meluangkan waktu. Setahu Ammar, seorang penulis biografi harus melakukan wawancara mendalam selama beberapa hari. Dapat dipastikan, Madeline Rahma pernah singgah di kastil ini.
Lembar pertama berisi sejarah singkat Anggara Laksono yang terlahir sebagai anak sulung dari dua bersaudara dari sebuah pasangan kata-raya. Adik perempuannya, Anggita Laksono dinikahi oleh seorang berkebangsaan Jerman, Mattheus Alray. Mereka adalah orangtua dari Mariah Alray.
Fakta ini baru diketahui oleh Ammar Marutami. Selama ini ia kurang begitu peduli dengan silsilah keluarga istrinya. Ia bertemu dengan Mariah saat berlibur di Bali. Mereka bertemu di sebuah klub malam saat menikmati malam yang romantis. Tak disangka, Mariah mempunyai silsilah keluarga milyuner macam Anggara Laksono.
Plaaak!
“Suara apa itu? Apa ada orang lain di sini?”
***