
Elina memungut dua lembar foto yang ada di atas ranjangnya. Gambar dalam foto itu seketika membuatnya terperanjat. Sebuah gambar laki-laki dalam keadan terikat di kursi, dan mulut tersumpal. Tak jelas berada di ruangan mana, karena agak gelap. Ia menduga sosok itu sangat tersiksa dengan keadaan seperti itu, karena tak bisa bergerak kemana-mana.
“Dokter Dwi. Ya, tak diragukan lagi ini adalah dr.Dwi. Siapa yang melakukan ini padanya? Di mana dia berada?” gumamnya.
Elina segera memasukkan foto itu ke dalam saku celana. Ia tidak ingin memberi tahu Aldo tentang penemuan foto di ranjangnya, karena bagaimanapun posisi Aldo adalah tersangka. Ia tidak mempercayai siapa pun di kastil. Ia berencana melapor pada Ammar tentang penemuan aneh ini.
Aldo sudah menunggunya di depan pintu kamar, dengan tatapan penuh tanda tanya. Elina terlihat gelisah. Ia tak berani menatap mata Aldo lebih lama.
“Mana kameramu? Ayo kita turun!” ajak Aldo.
“Maaf, Aldo. Tiba-tiba aku tidak enak badan. Kurasa aku akan istirahat sebentar. Kepalaku agak pusing,” ucap Elina.
“Kamu sakit? Tadi baru saja kamu baik-baik saja? Mendadak kamu seperti ini? Apa yang sedang kamu rasakan?” Aldo tampak khawatir melihat perubahan paras wajah Elina.
“Aku hanya merasa lelah dan pusing. Mungkin karena kurang tidur tadi malam. Kita tunda saja rencana pemotretan itu. Aku akan berbaring sebentar untuk mengembalikan stamina,” ujar Elina.
“Baiklah, Sayang. Aku mengerti. Kamu sepertinya memang membutuhkan istirahat. Akan kutinggal dirimu agar bisa segera beristirahat. Sampai jumpa nanti siang!”
Aldo meninggalkan Elina dengan berat hati. Ia pergi dengan tatapan seolah tak lepas dari Elina. Gadis itu memberikan lambaian kecil, seraya masuk kembali ke dalam kamar. Sekali lagi, dikeluarkan foto dari dalam kantongnya. Ia masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi dengan dr.Dwi.
“Ini harus dihentikan segera!” gumamnya.
***
Di dalam kamarnya yang sepi, Cornellio masih bimbang apakah dia harus memenuhi undangan misterius yang ditulis di selembar kartu kecil dalam sebuah buket bunga. Ia begitu penasaran dengan penulis misterius itu. Karena rasa ingin tahu semakin memuncak, ia menemui Ammar di ruang kerja Anggara Laksono.
Polisi itu juga tengah dilanda rasa gelisah dengan menghilangnya dr.Dwi. Ia tak menyangka kalau dokter senior itu juga akan menjadi sasaran si psikopat yang berkeliaran di dalam kastil. Kini ia semakin yakin bahwa serentetan pembunuhan itu tak ada motif apa-apa. Pembunuh itu sengaja menghabisi korbannya hanya untuk alasan kesenangan.
Pikirannya buntu, tak dapat menemukan korelasi apa pun antara kematian satu korban dengan korban lainnya. Pembunuh seolah acak memilih korbannya, tanpa pandang bulu. Tugasnya sekarang bukan mencari motif pembunuhan lagi, melainkan melidungi para penghuni kastil lain, agar korban tak semakin berjatuhan.
Ammar banyak membuat coretan-coretan kecil di catatan kecilnya. Mula-mula ia menulis nama Anggara, kemudian beralih ke nama Karina, Yoga dan Rania. Ia mencoba menarik garis yang bisa menghubungkan nama-nama tersebut, namun semua tampak buntu.
“Maaf, apakah aku mengganggu?” tanya Cornellio.
“Oh, tentu tidak. Duduklah. Ada yang ingin kamu sampaikan?” jawab Ammar.
Cornellio menghempaskan diri di sofa yang sedikit berdebu. Semenjak Anggara Laksono meninggal, ruang itu jarang dibersihkah oleh Helen. Jendela juga jarang terbuka, sehingga suasana menjadi pengap. Beberapa perabot juga mulai berdebu. Kematian Yoga juga memperburuk masalah. Kastil menjadi semakin tak terawat.
“Aku tidak ingin berlama-lama mengganggumu, karena aku tahu saat ini dirimu sedang dipusingkan oleh menghilangnya dr.Dwi. Ini juga sungguh mengejutkanku. Kuharap dia baik-baik saja. Sebenarnya ada yang sedikit mengganggu pikiranku.” Cornellio membuang napas sebelum memulai bercerita.
“Sesuatu telah terjadi?” tanya Ammar.
“Hmm. Buket bunga? Seorang pengagum rahasia mungkin? Boleh kulihat?”
“Tentu.”
Cornellio menyerahkan buket bunga yang masih segar itu kepada Ammar. Mawar-mawar berwarna merah itu bahkan masih basah dengan sisa-sisa embun tadi malam. Tangkainya dipetik tidak rapi, tidak dengan menggunakan alat pemotong. Ada lima tangkai mawar yang diikat rapi dengan sebuah pita berwarna merah menyala. Secarik kertas kecil disematkan di antara rangkaian bunga.
Ammar membaca pesan yang disampaikan dalam kertas itu dengan teliti. Beberapa saat kemudiam ia mengernyitkan dahi.
“Ada inisial si pengimrim di balik kertas itu. Kamu sudah lihat?” tanya Ammar.
“Aku tidak mengecek bagian belakang kertas. Inisial siapa yang ditulis di situ?”
“Di sini tertulis AC. Entah mengapa ingatanku langsung tertuju pada Adrianna Chen. Mungkinkah dia yang mengirim undangan ini kepadamu? Mengingat hubunganmu dengan dirinya cukup dekat. Mungkin dia begitu mengagumimu, sehingga mengirimkan undangan ini kepadamu,” urai Ammar.
“Adrianna? Aku ragu itu ditulis oleh Adrianna. Tapi entahlah. Kurasa kami sering bertemu, tak perlu memakai sebuah undangan seperti ini. Tapi entahlah. Mungkin juga ia hendak membicarakan sesuatu yang penting, sehingga harus menemuiku di tempat khusus,” kata Cornellio.
“Satu hal yang perlu kamu tahu, Cornellio. Orang ini mengundangmu di gudang tua belakang. Apa alasannya? Gudang itu bertahun-tahun tak pernah dipakai. Terakhir aku periksa, gudang itu juga tempat yang sama di mana Yoga dihabisi dan dimutilasi. Tempatnya sangat kotor dan kurasa sedikit menyeramkan. Tentu bukan tempat yang menarik untuk pembicaraan romantis,” lanjut Ammar.
“Astaga! Sepertinya bukan Adrianna yang menulis itu. Ada seorang lain yang berusaha untuk menjelekkan namanya. Semoga memang bukan dia!”
“Jadi bagaimana? Apakah kamu akan tetap mendatangi undangan itu atau bagaimana?’ tanya Ammar.
“Bagaimana menurutmu?Aku kesini untuk meminta pertimbangan.”
“Aku mempunyai ide yang menurutku baik. Begini, apakah kamu sudah menceritakan hal ini pada orang lain?”
“Kurasa aku tidak perlu menceritakan hal ini pada siapa pun. Karena kalau pun aku datang memenuhi undangan itu, aku akan datang sendiri. Rasa penasaran ini begitu kuat,” ujar Cornellio.
“Kalau begitu itu bagus. Karena aku aku mepunyai sebuah rencana yang tak boleh kamu bocorkan pada siapa pun. Mungkin setelah ini aku akan mencoretmu dari daftar tersangka. Atau bisa jadi kamu akan jadi tersangka, karena bisa jadi kamu yang merekayasa buket bunga ini, untuk lepas tangan dari segala kejadian yang berlaku.”
Cornellio tertawa mendengar penjelasan Ammar seraya berkata,”Seorang polisi selalu mempunyai prasangka buruk terhadap tersangka. Termasuk tuduhan buket bunga palsu itu. Lalu menurutmu apa untungnya buatku membuat buket bunga seperti ini?”
“Maafkan aku, Cornellio. Aku sekedar bertanya. Buket bunga ini dibuat secara terburu-buru dengan potongan tak rapi. Tulisan tangan ini juga tak kukenali. Apapun bisa terjadi, jadi wajar saja aku menduga seperti itu,” lanjut Ammar.
“Baiklah. Sekarang katakan, apa rencanamu dengan undangan ini?”
“Kamu tetap mendatangi undangan itu! Aku akan datang kesana lebih awal, mengintai dari tempat tersembunyi, sehingga tak mudah diketahui. Aku akan menangkap basah si psikopat sebelum dia melakukan aksinya.”
***