Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
359. Perdebatan


Ryan terperanjat. Ia tidak pernah membayangkan kalau Maya akan hamil. Ia merasa tak percaya akan hal itu. Ditatapnya mata Maya dengan tajam dan menusuk. Maya tak menghindari tatapan Ryan, malah balas menatap mata pria itu. Mereka saling menatap tajam, tak ada yang mau mengalah.


"Aku serius, Ryan! Aku hamil!"


"Itu kan nggak mungkin! Aku ... aku merasa yang kita lakukan aman saja," ucap Ryan.


"Kamu jangan mengelak, Ryan. Kamu harus bertanggungjawab atas semua yang kamu lakukan!"


"Maafkan aku, Maya. Kepalaku pusing! Aku tidak mau kembali kepadamu. Kamu tidak bisa buktikan kalau kamu hamil karena aku. Maaf, aku tidak mau mengakuinya! Aku memutuskan untuk kembali kepada Nadine, bukan dirimu!"


"Astaga! Ryan ... tega sekali dirimu!"


Walaupun berat, Ryan harus mengambil keputusan penting itu. Ia tahu bahwa Maya sangat marah dengannya dengan keputusan yang baru saja ia ambil. Namun, ia juga tak dapat memungkiri bahwa ia sangat menyayangi Nadine, sehingga ia harus mengambil keputusan berat ini. Ia tinggalkan wanita itu dalam kegusarannya.


"Aku harus pergi Maya. Maafkan aku," ucap Ryan, tanpa mempedulikan Maya yang tampak marah.


"Kamu mau ke mana?" tanya Maya dengan cepat.


"Aku mau menenangkan pikiran sebentar," jawab Ryan.


"Ryan! Kamu nggak bisa seperti itu!"


"Terus apa maumu? Kita menikah begitu? Tidak Maya! Aku mau pergi dari masalah ini! Jangan gangu aku lagi"


"Baiklah Ryan. Baiklah kalau itu memang maumu. Kamu memang bajing*an! Pikirkan dulu baik-baik apa yang hendak kamu lakukan. Ingat, jangan keluar kastil! Berbahaya!" pesan Maya.


"Itu urusanku, Maya! Aku bisa jaga diri kok! Labih baik kamu kembali ke kamar atau ke mana saja. Kamu tahu, di luar kastil lebih aman daripada di dalam kastil sialan ini! Kastil ini penuh dengan lorong dan ruang membingungkan, dan juga orang-orang menyebalkan seperti kamu! Kusarankan, lebih kamu keluar dari kastil saja untuk keamananmu!" tandas Ryan.


"Patuhi saja kata-kataku, Ryan .... "


"Cukup, Maya! Aku mau keluar sekarang!"


Ryan tak ingin berdebat lagi dengan Maya. Ia melangkah meninggalkan ruang koleksi patung itu, seraya menuju luar ruangan melalui lorong yang menghubungkan dengan ruang makan. Ia harus melewati meja makan utama sebelum keluar. Di ruang makan, terlihat Jeremy yang sedang menata meja makan. Rupanya ia sudah siap dengan hidangan makan siangnya.


"Hai Ryan! Kamu nggak makan siang? Ini sudah siap. Tinggal nunggu temen-temen aja!" kata Jeremy.


Ryan hanya tersenyum kecil, sembari menggeleng lemah dan berkaya," Aku nanti saja Jer. Aku mau cari angin sebentar,."


Jeremy hanya tersenyum kecil, sambil asyik menyusun piring-piring dan gelas. Ryan melangkah keluar dari kastil, melihat petugas paramedis yang baru saja mengevakuasi jenazah Aditya. Di halaman depan sana, ada Reno dan Juned sedang melepas kepergian ambulans yang membawa jenazah Aditya. Ryan mengurungkan niatnya untuk keluar, mengintip dari balik serumpun tanaman hias, menunggu ambulans keluar dari halaman kastil. Ia hanya ingin keluar dari kastil beberapa saat keraena merasa tertekan berada di dalam kastil.


Tak lama, ambulans keluar dari halaman kastil, tanpa bunyi yang meraung. Setelah kondisi benar-benar sepi, barulah Ryan keluar dari kastil, menuju jalan setapak yang tak jauh dari kastil. Tujuannya adalah air terjun, karena ia hanya ingin duduk sejenak sembari merasakan aliran oksigen agar dadanya terasa lebih lega.


Tak jauh dari jalur setapak menuju air terjun, di sisi lain hutan, Niken masih dalam keadaan terikat pada sebuah pohon. Energinya hampir habis. Ia merasa kelelahan, karena sejak tadi meronta, berusaha melepaskan dari ikatan. Ketika angin bertiup, Niken dapat mencium bau busuk yang cukup menyengat, seperti bau bangkai. Niken cukup tersiksa dengan itu, karena ia tak dapat menutupi hidung.


"Bau apa ini? Sepertinya cukup dekat," gumam Niken.


Niken merasa tak tahan dengan keadaannya yang sekarang. Ia merasa begitu tersiksa dengan ikatan-ikatan di sekujur badannya. Dalam sisa-sisa tenaga yang ia punya, ia mencoba berteriak untuk melepaskan kekesalannya.


"Aaargh!"


Teriakan itu walau tak cukup keras, tetapi terdengar di telinga Ryan yang sedang melewati jalan setapak tak jauh dari tempat Niken disekap. Ryan terkejut mendengar teriakan yang hampir mirip suara rintihan. Dari suara itu, Ryan menduga bahwa siapa pun itu, pasti saat ini dalam keadaan menderita atau kesakita, Namun, mendadak ia ragu. Siapa pula yang sedang merintih di hutan sepi ini? Jangan-jangan itu semua hanya halusinasinya belaka.


Antara rasa takut dan penasaran, Ryan malah mempercepat langkah menjauhi sumber suara menuju air terjun. Ia tidak mau ada hal buruk menimpa dirinya. Kalaupun ia bertemu seseorang yang sedang kesusahan, ia harus berpikir seribu kali untuk menolongnya. Ia masih trauma dengan kejadian yang sudah-sudah. Niat hati ingin menolong, tapi yang ada malah celaka. Ia tak mau seperti itu. Ia melanjutkan perjalanan menuju air terjun.


Sementara Niken amsih tersiksa dalam ikatan. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah. Bau busuk kian mnyengat hidung. Ia kesal sekali dengan kondisi itu, tetapi ia bisa apa?


***


Beberapa saat setelah Ryan keluar dari kawasan kastil, sebuah mobil masuk ke dalam halaman. Mobil itu adalah mobil Mariah yang baru saja pulang dari kota, beserta Edwin yang baru saja ia temukan dalam keadaan pingsan di tepi jalan. Mariah merasa lega, karena hampir semua urusan lancar hari ini. Edwin juga merasa lega, karena pada akhirnya ia bisa kembali ke kastil, walau muncul rasa takut tak terkira. Itu artinya, ia akan bertemu lagi dengan sosok pembunuh yang mengincar nyawanya.


Mariah dan Edwin segera masuk ke dalam kastil, bertepatan dengan jam makan siang yang tak banyak dihadiri para penghuni. Mariah sendiri juga memilih untuk langsung beristirahat di kamar, tak mengikuti makan siang. Demikian juga Edwin, ia langsung menuju kamarnya karena ia merasa kepalanya begitu berat dan pening.


Rosita yang sedang mengurung diri di kamar, terlonjak melihat kepulangan suaminya dalam keadaan masih hidup. Ia segera memeluk Edwin dengan erat, kemudian memeriksa bagian kepala Edwin yang tadi terkena hantaman.


"Kupikir dirimu sudah mati," gumam Rosita.


"Sama, aku tadinya juga berpikir begitu ketika aku merasakan hantaman keras di kepala. Begitu sadar, aku mendapati di tempat lain, dan aku juga berpikir mungkin kamu juga sudah mati," kata Edwin sambil memegangi bagian kepala.


"Aku nggak akan mati semudah itu, Win!" seloroh Rosita.


Rosita mengambil es batu dan mengompres bagian kepala Edwin. Ia melihat ada bekas darah yang mengering dan bekas lebam di kepala. Rosita membersihkan bekas lebam itu, kemudian mengolesi dengan salep.


"Kamu di kamar saja dahulu tak usah kemana-mana. Biar aku yang mengurus semuanya. Kamu pasti akan pulih kembali dan semua akan beres," ucap Rosita.


Edwin hanya mengangguk, tak membantah. Rosita keluar dari ruangan, mengambil makan siang untuk Edwin. Pria itu ingin melemaskan otot yang kaku. Ia berbaring di ranjang sembari menatap ke arah langit-langit. Tiba-tiba ia tak sengaja memegang sesuatu yang diletakkan di bawah bantal, yang sepertinya adalah buku. Edwin mengambil buku yang diletakkan di bawah bantal tersebut. Ternyata sebuah novel. Edwin membaca dengan jelas pengarang novel itu : Tiara Laksmi!


***