
Para polisi menyisir sekitar tempat kejadian perkara itu dengan saksama, dalam radius satu kilometer. Semua yang terlihat mencurigakan, tak luput dari pencarian. Sayangnya usaha itu tak membuahkan hasil, menyisakan rasa gusar kedua polisi yang merasa dipermainkan. Mereka masih heran, bagaimana bisa si pembunuh itu bisa melihat gerak-gerik keduanya?
Padahal sosok itu sebenarnya berada tak jauh dari kedua polisi. Ia berbaur dengan penduduk setempat yang antusias berkerumun di belakang garis polisi untuk melihat dari dekat peristiwa penembakan polisi wanita itu. Sengaja ia tak menggunakan mobil sedan putih agar tak kentara. Seorang tukang ojek yang ia sewa berdiri di sampingnya. Ia juga penasaran dengan peristiwa yang baru saja terjadi.
“Kasian ya. Padahal polisinya cantik. Kok ada yang tega membunuhnya?” kata tukang ojek itu.
“Ya, seorang polisi yang sedang tidak beruntung sepertinya,” gumam si pembunuh itu sambil menyunggingkan senyum licik.
“Mau lanjut ke mana nih? Apa masih mau melihat ini?” tanya tukang ojek.
“Kita pergi saja ya, Pak. Antar aku ke suatu tempat!”
Tukang ojek itu mengangguk. Keduanya menjauh dari kerumunan, menuju sepeda motor yang diparkir tak jauh dari tempat itu, kemudian melaju menembus kegelapan malam.
Hal itu tak begitu mencurigakan, karena memang banyak orang berkerumun di sekitar tempat itu. Tentu saja agak menyulitkan polisi untuk melakukan penyelidikan.
Tak lama rombongan wartawan dari berbagai saluran televisi mulai berdatangan. Termasuk Gilda Anwar dan Wandi. Keduanya datang sedikit terlambat dibanding saluran televisi lain. Sehingga mereka kesulitan mendapatkan kesempatan wawancara dengan Reno dan Dimas.
“Sial! Ini semua gara-gara Dimas yang sok itu!”
“Dimas? Apakah itu nama polisi itu, Mbak? Memangnya kenapa dia?” tanya Wandi penasaran.
“Eh, nggak apa-apa. Ayo kita lebih mendekat ke sana. Siapa tahu kita bisa mengambil gambar eksklusif yang nggak terambil TV lain!” ajak Gilda.
Reno dan Dimas tampak sibuk melayani permintaan wawancara dari berbagai stasiun televisi. Dalam keterangannya, Reno berusaha memberikan pernyataan yang tidak membuat masyarakat kota semakin takut. Ia meminta semua warga kota agar tenang, karena polisi tengah memecahkan kasus pembunuhan berantai yang akhir-akhir ini meneror kota.
***
Berita pembunuhan Fani menyebar luas di berbagai saluran televisi. Di sebuah cafe, Ferdy duduk menikmati kopi sambil menyimak siaran itu dengan saksama, sementara Adinda duduk di depannya dengan paras sedikit risau.
“Ini sudah sangat keterlaluan. Pembunuh itu membunuh siapa saja yang ia temui!” keluh Ferdy.
“Ini mengerikan sekali, Ferdy. Kupikir sebaiknya kamu nggak usah kerja dulu. Aku kok punya firasat keberadaanmu diintai oleh seseorang. Baru saja aku mendapat pesan dari Rasty. Besok ia mengajak kita semua berkumpul di taman kampus untuk mendiskusikan masalah ini. Sebab, ia merasa sangat terganggu dengan semua ini,” kata Adinda.
“Hmm. Besok kalau aku tidak sibuk akan bergabung juga, tetapi tidak janji ya. Menurutku polisi tidak akan tinggal diam dengan rentetan peristiwa ini. Mereka akan gencar melakukan penyelidikan, termasuk pada kita semua. Mereka sedang mempertaruhkan reputasi!” ucap Ferdy sambil meneguk kopinya.
“Memang sudah seharusnya begitu. Aku begitu penasaran dengan pelaku semua kekacauan ini.”
“Iya sama. Aku juga penasaran sekali. Yang jelas kita harus waspada, menjaga keamanan kita masing-masing. Mungkin si pembunuh itu nggak akan diam dan terus bergerak.”
Adinda tiba-tiba menggenggam tangan Ferdy yang berada di atas meja, seraya menatap matanya dalam-dalam.
“Kamu harus lindungi aku, Ferdy. Jangan sampai terjadi apa-apa denganku.”
“Tentu saja, Din. Aku nggak akan biarkan seorang pun menyakitimu. Aku akan pertaruhkan semuanya untukmu,” ucap Ferdy sambil membalas genggaman Adinda.
***
Suasana kampus juga tampak berbeda dari biasa. Suara gelak tawa dan canda mahasiswa yang biasanya terdengar dari kantin atau kerumunan mahasiswa sudah jarang terdengar. Tak heran, dua mahasiswa di kampus itu merupakan korban pembunuhan brutal, dan seorang lagi masih belum diketahui nasibnya. Ini merupakan teror tersendiri yang mempengaruhi mental para mahasiswa di sana.
Lena dan Miranti datang duluan di taman sebelum yang lain datang. Siang itu tak terlalu menyengat. Mendung bergelayut di sudut-sudut langit, sementara angin sepoi bertiup lembut. Lena merasa gelisah.
“Mana yang lain? Katanya mau ngumpul,” ucap Lena.
“Yang ngundang aja belum kelihatan hidungnya!” sambut Miranti.
“Kalau Rasty kan emang biasa lelet!”
Miranti tak peduli. Ia asyik bermain dengan telepon genggamnya. Lena mengetuk jarinya ke meja, karena ia mulai bosan.
“Eh, denger-denger Adinda sekarang jadian sama Ferdy ya?” tanya Lena lagi.
“Nggak tahu aku, Len. Emang kamu dengar dari siapa?” Miranti balik bertanya.
“Tadi malam Rasty ngobrol sama aku sih. Katanya ia ketemu dengan mereka berdua di kantor polisi udah keliatan mesra banget kayak sepasang kekasih gitu. Kalau bener, beruntung banget Adinda,” ucap Lena
“Beruntung? Emang kamu juga naksir sama Ferdy?” tanya Miranti.
“Naksir sih belum. Tapi aku suka aja lihat wajahnya yang ganteng itu.”
“Ah, nggak jelas kamu Ras. Katanya dulu suka sama Rudi. Giliran lihat Ferdy udah berubah haluan. Kalaupun mereka jadian, biarin aja kali. Wajar saja. Adinda itu kan agak pendiam, dan jarang dekat sama cowok. Sepertinya dia bener-bener memilih seseorang yang tepat untuk mengisi hatinya,” ujar Miranti.
Belum sempat menanggapi, dari arah lain, tampak Rasty mendekati tempat itu. Parasnya terlihat gelisah. Ia langsung duduk di dekat mereka sambil melihat berkeliling.
“Yang lain belum datang?” tanya Rasty.
Miranti menggeleng, sementara Lena mengangkat bahu. Rasty tak dapat menyembunyikan kegelisahannya. Beberapa saat kemudian, satu persatu mulai datang ke tempat itu. Rudi yang hadir pertama, disusul Adinda, dan Alex yang terakhir.
“Jadi kita mau ngomongin apa? Maaf ya, waktuku singkat. Kalau tak ada yang penting, mending aku balik saja. Aku harus mempersiapkan kepergianku ke Jerman,” ucap Alex.
“Mending kamu nggak usah kemana-mana dulu deh Lex sampai semua urusan kelar. Karena ini penting banget. Maaf ya aku meminta kalian berkumpul karena situasi makin rumit. Mari kita urutkan kejadian-kejadian yang terjadi belakangan.” Rasty mulai menerangkan.
“Oh, jadi ini masih ada hubungannya dengan kematian Jenny? Sebenarnya aku malas turut campur lagi masalah ini, sebab dari awal aku sudah memperingatkan kalian untuk melaporkan saja kejadian ini pada polisi, tetapi kalian nggak mau dengar. Nah, sekarang urusannya jadi panjang kan? Kita semua jadi terlibat. Harusnya ini nggak perlu terjadi!” ucap Alex.
“Udah Lex! Mending kita nggak usah ungkit itu lagi. Toh semua ini sudah terjadi. Kamu mau nyalahin aku karena aku yang mengusulkan membuang mayat Jenny ke danau? Mending kita cari solusi mengenai masalah ini. Aku sendiri juga terpukul. Bayangkan! Aku sudah kehilangan Jenny dan sekarang Nayya juga menghilang nggak tahu rimbanya. Saat ini tentu saja polisi akan ketat mengawasiku,” ucap Rudi.
“Oke. Kalian nggak usah berdebat. Kita mulai saja pembicaraan ini dengan kepala dingin, tanpa ada emosi,” ucap Rasty.
***