
Setelah berkunjung ke kediaman Dimas, Reno langsung tancap gas ke kantor. Ia sudah tak sabar menyelidiki kasus pembunuhan Daniel Prawira. Pagi ini, ia akan berusaha menganalisis data-data yang dapat selama penyelidikan kemarin. Memang, data yang ia kumpulkan masih sangat minim, tetapi paling tidak ia bisa memulai langkah awal dari penyelidikan.
Segera setelah memarkir mobil, ia masuk ke dalam kantor polisi yang sudah agak ramai. Para polisi juga sudah mulai bertugas pagi itu. Ia hendak pergi menuju ruangannya, tetapi ia terkejut ketika mendapati ada orang lain dalam ruangannya. Ia tidak pernah melihat orang itu sebelumnya. Bahkan orang itu duduk di kursinya. Reno tak habis pikir, siapa orang ini sebenarnya?
Dia adalah seorang wanita yang mungkin lebih muda dari dirinya. Rambutnya pendek seperti polwan pada umumnya, berparas manis, dan senyumnya tersungging. Reno tidak membalas senyum itu, ia menatap perempuan itu dengan waspada.
“Pak Reno ya?” sapa perempuan itu.
“Eh, iya. Anda siapa?” tanya Reno.
“Oh, saya Niken Astuti. Mulai hari ini saya dimutasi di tempat ini, dan kemungkinan ruang ini akan saya pakai,” ucap perempuan yang mengaku bernama Niken itu.
“Tunggu ... tunggu! Atas wewenang siapa Anda menempati ruangan saya?” tanya Reno.
Mendadak hari ini suasana hatinya kurang baik. Firasatnya mengatakan kalau polisi baru ini akan membawa akibat yang kurang menyenangkan dalam karirnya. Ia mencoba mengorek keterangan lebih lanjut.
“Bapak Kapolwiltabes sendiri yang menugaskan saya langsung. Saya dengar, Pak Reno adalah polisi yang cukup handal memecahkan kasus pembunuhan. Saya pernah dengar kasus kastil tua dan baru-baru ini Pak Reno memecahkan kasus pembunuhan para mahasiswa. Pasti Anda adalah polisi hebat!” puji Niken.
Reno tahu kalau pujian itu hanya basa-basi belaka. Ia hanya tersenyum getir.
“Oke, aku masih tidak mengerti mengapa kamu pikir kamu bisa pakai ruanganku? Bertahun-tahun aku pakai ruangan ini ... dan sekarang kamu datang begitu saja, duduk di kursiku, dan kamu bilang akan pakai ruangan ini. Bukankah ini sedikit ... gila?” ucap Reno.
“Gila? Itu terlalu berlebihan Pak Reno. Anda bisa baca reputasi karirku. Aku pernah dinobatkan sebagai polisi terbaik, dengan banyak penghargaan. Jadi, Anda bukan satu-satunya yang paling jago menangani kasus pembunuhan. Aku hampir sama hebatnya dengan Anda, dan kurasa Pak Kapolwiltabes sangat tepat menempatkanku di ruangan ini sebagai ....” Niken berhenti sejenak sambil tersenyum penuh arti.
“Sebagai apa?”
“Sebagai partner kerjamu yang baru. Mulai hari ini kita akan berbagi ruang di sini, dan aku akan membantumu memecahkan kasus pembunuhan yang sedang Anda hadapi,” ucap Niken.
“Apa? Apa aku nggak salah dengar? Saat ini aku sudah punya partner, walau sekarang dia sedang sakit. Aku sama sekali tidak ingin kamu menjadi partnerku. Tidak ... tidak! Lebih baik aku mengerjakan sendiri, daripada harus berpartner dengan orang baru!” Reno terlihat gusar.
“Oke ... oke aku paham! Intinya Anda menganggap diri anda hebat, sehingga mengabaikanku. Aku mengerti. Jadi aku akan pergi dari ruangan ini, dan aku akan katakan pada Pak Kapolwiltabes bahwa anda menolak berpartner denganku. Aku tidak tahu bagaimana pandangan Pak Kapolwiltabes mengenai ini. Tetapi kuharap beliau mempunyai solusi yang lebih bagus,” ucap Niken seraya bangkit dari kursi Reno.
“Tunggu!”
Reno tak punya pilihan. Ia menghela napas. Sungguh, ia merasa kecewa dengan keadaan yang berlaku. Ia tak habis pikir mengapa Kapolwitabes mendatangkan wanita ini sebagai partner barunya? Nyatanya, ia tak punya pilihan, kecuali mengizinkan polisi wanita itu membantu tugas dia dalam investigasi kasus ini.
“Berubah pikiran?” Niken menyunggingkan senyum.
“Baik. Kamu boleh bantu aku, tapi dengan satu catatan ....”
“Catatan? Apa yang Anda mau?”
“Aku mau ruangan ini, dan kamu nggak boleh masuk begitu saja ke dalam ruangan ini tanpa izin. Kalau kamu mau ruangan yang bagus, kamu tinggal bilang saja dengan Pak Kapolwiltabes agar bisa mendapat ruangan lain yang lebih bagus. Kantor polisi ini berlantai tiga, dan aku yakin banyak ruangan yang bisa dipakai. Yang jelas, aku tidak mau pindah dari sini, tak peduli aku akan dipecat karena ini!” tandas Reno tegas.
Niken manggut-manggut. Ia kemudian tesenyum, beranjak dari ruangan Reno. Entah apa yang hendak dilakukannya. Begitu polisi wanita itu pergi, Reno segera menutup pintu kantornya, dan segera mengunci.
"Ini gila ...."
Mendadak suasana hatinya berantakan karena kedatangan Niken. Ia tidak mengenal wanita itu, bahkan untuk bersikap akrab pun, Reno harus berpikir seribu kali. Ini berbanding terbalik dengan Dimas. Bagaimanapun, Reno sudah mengenal Dimas sejak lama. Ia sangat kenal karakter Dimas dan tentu saja hal-hal yang ada pada Dimas, baik itu buruknya sekali pun.
Reno tidak tahu apakah Dimas sudah tahu tentang pergantian partner ini, tetapi sepertinya ia akan tetap ajak Dimas untuk memecahkan kasus ini. Ia merasa kurang nyaman berbagi pekerjaan dengan seseorang yang benar-benar baru, sehebat apa pun dia. Membangun sebuah komunikasi tentu tak semudah menjentikkan jari.
Drrrt ... drrrt!
Ponselnya bergetar. Seperti apa yang diharapkannya, Dimas melakukan panggilan dari seberang. Segera ia terima panggilan itu.
“Hei Ren! Gimana? Kamu sudah bertemu partner barumu?” tanya Dimas di seberang.
Reno mengernyitkan dahi. Bagaimana Dimas tahu kalau ia akan bertemu dengan partner baru, bahkan sebelum dia mengatakannya?
“Tentu aku tahu. Pak Kapolwiltabes sendiri yang memberitahuku bahwa akan ada seorang anggota polisi baru yang akan melengkapi personel kita. Dan belakangan aku tahu yang datang adalah Niken,” kata Dimas.
“Kamu kenal dia?”
“Ya, aku mengenalnya. Kami pernah satu lingkungan kerja sebelum aku pindah kesini. Jangan khawatir, Niken itu pintar dan cekatan. Kamu nggak perlu meragukannya,” ucap Dimas.
“Tapi ... tapi itu artinya kamu mundur dari kasus pembunuhan Danel Prawira ini?”
“Tentu tidak, Reno. Aku akan tetap bertugas seperti biasa, tapi kita harus terbiasa dengan kehadiran orang baru di antara kita, yaitu Niken. Dia memang spesialis di bagian pembunuhan. Aku pikir dia cukup bermanfaat untuk kita saat ini. Ingat! Bukankah bertiga lebih baik daripada berdua. Di kasus Kastil Tua kita bertiga bersama Pak Ammar Marutami, dan kita bisa menyelesaikan dengan baik kasus itu, walau Pak Ammar harus cedera dan hampir meninggal. Di kasus pembunuhan mahasiswa itu, kita agak sulit berbagi tugas karena hanya berdua. Nah, kehadiran Niken ini bisa kita manfaatkan kan?” terang Dimas.
“Wah, aku belum punya bayangan apa pun. Aku kan nggak kenal dia sama sekali. Kalau menurutku, dia sedikit sombong dan menyebalkan. Kalau menurutku sih,” kata Reno.
“Dia sangat menyenangkan menurutku. Maksudku, tentu kamu harus kenal dia dengan lebih baik,” ucap Dimas.
“Semoga kamu benar, Dim!”
Setelah bercakap dengan Dimas, Reno segera bergerak. Hal yang pertama ia lakukan adalah meminta data dari Benny terkait identitas para artis dan kru film yang terakhir kali bersama Daniel Prawira. Ia ingin meneliti satu-persatu tentang mereka, baik latar belakang sampai kehidupan pribadinya.
***
Di sebuah apartemen mewah berlantai tiga puluh delapan yang terletak di pusat kota, Faishal Hadibrata berdiri di depan jendela kaca besar dengan latar belakang pemandangan kota, sambil menikmati kopi pagi. Ia harus menyelesaikan syuting iklan produk makanan hari ini. Ia lebih memilih mengatur jadwalnya sendiri, tak seperti artis kebanyakan yang menggunakan jasa manajer.
Faishal merasa, mengatur jadwal sendiri ia merasa lebih bebas memilah pekerjaan mana yang harus ia kerjakan dan pekerjaan mana yang harus ia tinggal. Untunglah, hari ini ia hanya ada jadwal satu kali syuting iklan saja, setelah itu ia akan berencana untuk bersantai. Ia ingin menghabiskan waktu untuk berenang.
Tok ... tok!
Pintu apartemennya diketuk dua kali. Faishal memalingkan badan. Siapa yang bertamu sepagi ini? Ia tidak biasa menerima tamu di pagi hari. Lagipula, ia harus segera berangkat ke tempat syuting. Ia beranjak ke arah pintu, dan membukanya. Seorang gadis muda dengan paras gusar terlihat berdiri di depan pintu.
“Mau apa kamu kesini pagi-pagi?” ucap Faishal.
“Jangan berpura-pura bodoh, Shal! Ini apa maksudnya!”
Gadis muda itu melemparkan sebuah buket bunga ke arah Faishal. Bunga itu berhamburan ke lantai, dan terlihat ada sekor bangkai tikus. Walaupun itu tikus kecil, tetap terlihat sangat menjijikkan.
“Apa-apaan ini? Aku nggak ngerti!” ucap Faishal.
“Tadi subuh-subuh, aku menemukan buket bunga di depan rumahku, dan di dalam bunga itu terdapat bangkai tikus. Apa maksudnya?” cecar gadis muda itu.
“Aku .. aku nggak ngerti, Anita. Maaf aku terburu-buru, dan nggak ada waktu untuk ini semua. Maaf!”
“Faishal tunggu! Lalu siapa kalau bukan kamu yang mengirim buket bunga berisi tikus mati itu? Jelas sekali dalam kartu yang ditulis di buket bunga itu ada inisialmu!” ucap gadis muda yang tak lain adalah Anita Wijaya.
Gadis itu mengeluarkan selembar kartu ucapan dari sakunya, lalu menunjukkan pada Faishal.
Selamat menikmati hari ini, Bintang kesayangan Matahari. Berhati-hatilah, dengan buah-buah tropis yang berharga mahal. Mungkin itu tak cocok untukmu. Selalu ada mata memandangmu, salam cinta, FH.
“FH? Dan kamu berpkir itu aku?”
Faishal mengamati kartu itu dengan teliti. Ia tak bisa mengartikan setiap kalimat yang tertulis di kartu. Sejenak kemudian, ia menggeleng.
“Maaf, Anita. Aku sama sekali nggak ada masalah dengan kamu. Jadi aku sama sekali nggak tahu-menahu tentang buket bunga dan kartu ini. Jadi sekali mohon maaf. Kalau kamu mau petunjuk, seharusnya kamu datang kepada polisi. Bukan minta petunjuk padaku. Yang jelas, aku nggak paham dengan FH yang kamu maksud. Jelas ini bukan aku. Aku bukan orang romantis yang suka kirim-kirim beginian. Apalagi ada bangkai tikus di dalamya. Pengirimnya sudah pasti otaknya sakit. Kusarankan, kamu harus segera lapor polisi. Sebelum terlambat!”
Anita tampak bingung mendengar ucapan Faishal. Ia melihat ada inisial FH yang ia kira Faishal Hadibrata, tetapi setelah dikonfirmasi, bukan dia yang menulis kartu ini. Jadi siapa? Dalam hati ia merasa khawatir. Buah tropis berharga mahal? Apa maksud dari tulisan ini? Anita benar-benar merasa bingung. Mungkin Faishal benar. Ia harus melapor polisi untuk membantu.
***