Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XXII. A Cut Head


Dalam lorong gelap yang berdebu di antara rak-rak buku yang berjajar, Ammar memungut sebuah buku yang terjatuh dari rak. Ia tak habis pikir, bagaimana buku bisa jatuh dengan sendirinya. Sunyi terasa mencengkeram. Aroma keangkeran menyelimuti ruang baca yang lumayan luas itu. Dua buah pilar penyangganya menjulang menembus atap, bagai kaki-kaki raksasa . Ammar Marutami masih tertegun, sambil berpikir keras.


Rahasia apa yang tersembunyi dari kastil tua ini?


Ia merasa tak nyaman berlama-lama dalam ruang baca, seolah diawasi oleh mata misterius entah di mana. Bulu kuduknya meremang. Dahulu, ia tidak percaya dengan dunia metafisika dan lika-likunya. Semenjak ia menikahi Mariah Alray, ia percaya bahwa sebenarnya ia sedang berdampingan dengan sesuatu yang tak terlihat.


Ia memutuskan kembali ke kamar, karena malam mulai merayap menuju pagi. Suasana kastil benar-benar senyap, tanpa suara sedikit pun. Penghuninya seolah terbungkam dengan suasana dingin yang menggigit kulit. Masih segar dalam ingatannya penampakan potongan-potongan tubuh manusia dalam kantung plastik itu. Begitu sadis dan mengerikan. Secara pribadi ia tak mengenal Yoga. Mereka hanya bertemu beberapa kali tanpa obrolan panjang.


Pemuda yang malang, gumamnya.


Ditatapnya ranjang yang kosong, tanpa kehadiran Mariah. Tiba-tiba rasa rindu menyeruak. Ia berharap wanita itu muncul di hadapannya sekarang.


“Aaaaaahh!”


Jeritan melengking terdengar sayup-sayup ketika ia hendak merebahkan diri di tempat tidur. Suara itu datang dari lantai atas. Nalurinya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Segera diraihnya pistol yang ia sembunyikan di bawah bantal. Setengah berlari ia menaiki tangga tempat suara jeritan berasal. Ia berpapasan dengan Michael yang juga bergegas naik ke atas.


“Kamu dengar suara itu?” tanya Michael.


“Tentu saja! Aku ke atas untuk melihat yang terjadi!”


Mereka berdua menuju kamar Tiara, asal suara jeritan berasal. Beberapa penulis sudah berkerumun di depan kamar. Tampak Tiara kelihatan terpukul, parasnya terlihat pasi. Adrianna Chen memegangi pundaknya untuk menenangkan.


Ammar Marutami segera merangsak dalam kamar Tiara, mendapati sebuah kardus bekas mi instan berisi potongan kepala manusia! Kardus itu sengaja diletakkan di atas ranjang.


Hal pertama yang dilakukan Ammar adalah mengamankan tempat kejadian perkara. Ia meminta semua yang ada di situ untuk kembali ke kamar masing-masing. Untuk sementara, Tiara menumpang di kamar Adrianna, sementara Ammar memeriksa apa yang mungkin tertinggal di sana.


“Kamu perlu bantuan?” tanya Michael yang tetap bertahan di depan kamar Tiara.


“Posisimu adalah tersangka, Michael. Maaf, aku akan menangani ini sendiri. Lebih kamu kembali ke kamarmu, dan bersiap untuk penyelidikan selanjutnya!”


Tak ada pilihan lain bagi Michael selain kembali ke kamarnya.


Ammar mengenakan sarung tangan, menatap potongan kepala yang mengerikan itu. Ia menggeleng-gelengkan kepala seolah tak percaya dengan pemandangan di depannya. Perlahan ia tutup kardus itu untuk dipindah ke tempat lain agar tetap aman.


Ia menemui Helen yang sedang mencuci peralatan makan di dapur. Perempuan paruh baya itu tak bergeming dengan kedatangan Ammar.


“Helen, aku akan meletakkan kardus ini dalam ruang bawah tanah. Jangan ada seorang pun yang menyentuhnya, sampai dr. Dwi kembali.” Ammar mengangkat kardus itu dengan kedua tangannya.


Helen hanya mengangguk. Ia fokus menyelesaikan cucian piring yang bertumpuk selepas makan malam. Helen dengan wajah tenang dan dingin, seolah tak terpengaruh dengan kejadian dalam kastil ini. Perempuan paruh baya itu bahkan tak menatap keberadaan Ammar.


***


Pagi yang sedikit berkabut, dengan suhu dingin menggigit sampai ke tulang. Para penghuni kastil lebih memilih untuk menenggelamkan diri dalam selimut. Kejadian mengerikan yang terjadi kemarin seolah memusnahkan hasrat untuk keluar kamar. Tiara masih duduk di tepi ranjang dengan perasaan tertekan.


“Aku tak dapat melupakan kejadian semalam ...,” gumamnya sambil menatap kosong ke arah jendela.


“Aku paham apa yang kamu rasakan, Tiara. Aku nggak bisa membayangkan andai menemukan potongan kepala manusia di atas ranjangku. Itu adalah mimpi buruk yang sangat mengerikan!”


Adrianna menanggapi sambil menyisir rambut di depan sebuah meja rias, kemudian memoles bibirnya yang indah dengan lipstik berwarna natural.


“Aku tak mau kembali ke kamar itu!”


“Kamu boleh tinggal di kamar ini sementara waktu sambil memulihkan rasa traumamu.”


“Sudahlah. Jangan membayangkan hal mengerikan! Aku mau turun dan minum teh. Kamu mau bergabung?” tawar Adrianna.


“Aku ingin sendirian dulu di sini,” kata Tiara.


“Oke.”


Adrianna meninggalkan Tiara Laksmi yang mematung dalam diam, setelah mematut diri di depan cermin. Riasan tipis menyaput parasnya yang jelita. Ia melangkah dengan penuh percaya diri ke teras samping yang menghubungkan dengan halaman depan. Pagi masih terasa sejuk, karena matahari masih bersembunyi di balik awan kelabu.


Ammar Marutami, dengan jaket parasutnya sedang berjalan menuju keluar kastil. Seperti biasa, ia tampak gagah, menarik hati tiap wanita yang memandangnya. Bukan hanya Maira yang terang-terangan menggodanya, tetapi juga Adrianna yang suka memerhatikan diam-diam.


“Selamat pagi, Adrianna!” sapa Ammar.


“Selamat pagi, Pak Polisi! Mau kemana pagi ini?” tanya Adrianna.


“Aku akan ke kebun teh mencari inspirasi dan udara segar. Udara di kastil ini sedikit menyesakkan dada. Aku berharap menemukan sesuatu di sana. Kamu mau bergabung menemani?” tawar Ammar.


Tawaran itu adalah kesempatan emas bagi Adrianna, tentu saja tak ditampik. Sebenarnya, ini adalah cara lain Ammar untuk menginterogasi secara personal para penghuni kastil tua. Ammar ingin menyelami lebih dalam pribadi masing-masing penghuni.


“Bagaimana perasaanmu pagi ini, Adrianna?” tanya Ammar.


Mereka berjalan menyusuri jalan beraspal yang terbentang memanjang membelah perkebunan teh. Pucuk-pucuk cemara menari dibuai angin pagi, ditingkahi kicau burung yang berloncatan di ranting-rantingnya.


“Aku mulai cemas tinggal di kastil ini. Dua pembunuhan itu sangat mengejutkan. Ini peristiwa luar biasa dalam hidupku. Menyaksikan hal-hal mengerikan di depan mata, seperti wooow! Aku merasa sedang terjebak dalam mimpi buruk!”


“Aku tak asing dengan semua ini, Adrianna! Dua pembunuhan yang terjadi adalah pemandangan biasa. Oya, bagaimana hubunganmu dengan penulis lain? Apa selama ini baik-baik saja?” selidik Ammar.


“Tentu saja. Kami seperti teman baik yang berkumpul dalam sebuah acara. Memang ada yang beberapa yang menjengkelkan seperti Hans dan Maira, tetapi kurasa itu wajar saja.”


“Hmmm. Kamu mengenal Yoga?”


“Yoga? Secara pribadi tidak. Tapi aku tahu dia bekerja di kastil dengan baik, kadang membantu kami juga. Kematiannya yang tragis sungguh mengejutkanku. Tak menyangka ada yang sampai hati menghabisi dengan cara seperti itu,” sesal Adrianna.


Ammar manggut-manggut, berusaha menyusup dalam hati Adrianna untuk menguak seberapa jujur jawabannya. Ia tidak ahli mendalami perasan seseorang, tetapi apabila seseorang berbohong, ia akan membaca paras wajahnya dengan mudah.


Mereka kini menyusuri jalan setapak kecil yang membelah kebun teh. Cuitan burung masih terdengar mewarnai pagi. Adrianna mulai lelah berjalan. Setetes peluh menitik di pelipisnya.


“Kamu mencium sesuatu?” tiba-tiba Ammar merasakan aroma tak sedap di indera penciumannya. Aroma busuk itu makin kuat ketika angin berhembus.


“Ya, kurasa di dekat sini ada semacam bangkai atau apa ....”


Adrianna menutup hidungnya rapat-rapat ketika aroma tak sedap makin menyergap hidung.


“Kamu tetap di sini! Aku sangat hapal dengan bau tak sedap ini!”


“Bau apa ini?”


“Ini bau busuk jasad manusia!”


***