Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
337. Ikan Besar


Walau badan merasa remuk-redam, karena seharian banyak peristiwa yang janggal terjadi, Ammar menyempatkan untuk patroli malam di sekitar lingkungan kastil. Maklum, yang bertugas di kastil malam ini hanya dia sendirian. Reno dan Juned masih belum kembali dari hutan, sedangkan Ramdhan dan Dimas pergi ke kota. Ia merasa khawatir ada hal buruk yang akan terjadi apabila ia tidak berjaga-jaga.


Patroli memang harus dilakukan, karena kejahatan bisa terjadi kapan saja. Pelaku kejahatan selalu saja memanfaatkan kelengahan dari penjaga. Hal ini sudah terbukti dari banyak kasus yang ia tangani. Ia tidak ingin peritiwa itu berulang. Tak gentar apa yang harus ia hadapi, Ammar mulai menjalankan patrolinya.


Ia memulai patroli dari halaman belakang, di sekitar kolam renang, sampai ke area gudang. Suasana masih terlihat sunyi dan menyeramkan. Semua penghuni kastil mungkin sudah terlelap. karena merasa lelah dengan segala peristiwa yang terjadi. Ammar menyorotkan senter yang ia bawa ke segala penjuru, sampai ke arah semak-semak yang tumbuh liar di halaman belakang ia periksa. Namun, sepertinya semua aman dan tak ada yang mencurigakan.


Kini, ia beralih ke halaman depan. Mobil ambulans masih terparkir di sana, karena jenazah yang  sedang dievakuasi belum tiba dari dalam hutan. Ia memeriksa sekitar mobil, semua terlihat aman. Ia kembali menyorotkan senter ke arah deretan pohon yang tumbuh menjulang di halaman itu pula. Pohon-pohon itu tumbuh rapat, bak deretan raksasa dengan lengannya yang bercabang-cabang, tertutup dedaunan yang rimbun.


Setelah memastikan bahwa kondisi di luar aman, ia masuk melalui pintu samping, yang menghubungkan dengan ruang tengah. Di sana, Mariah rupanya juga tidak tidur. Ia menunggu Ammar dengan cemas, sambil duduk gelisah di sofa beludru. Mariah meremas-remas jari untuk menghilangkan rasa gelisahnya.


Mariah hanya tersenyum sedikit melihat kehadiran Ammar. Hal itu membuat Ammar merasa khawatir. Dari hari pertama kedatangan di kastil. Mariah jarang terlihat tersenyum, seperti ada yang sedang dipikirkannya. Ia merasa gelsah.


"Kamu tidak tidur, Mariah? Di luar agak dingin. Kukira kamu harus beristirahat agar besok pagi bisa beraktivitas. Besok pagi bukan kamu yang memasak kan? Ada Lily dan Maya. Kamu harus beristirahat. Kalau perlu kamu bisa minta tolong para pria untuk memasak," ucap Ammar.


Mariah hanya mengeleng lemah. Parasnya menunjukkan kalau saat ini ia sedang cemas. Ia tidak ingin berbicara apa-apa.  Ammar hanya menghela napas, kemudian ia duduk di kursi de depan sebuah piano. Ia memencet salah satu tuts piano yang berwarna putih.


Ting!


"Aku dulu cukup berbakat bermain piano. Waktu aku kecil, ayahku membelikan sebuah piano mungil, dan aku selalu berebut dengan kakakku untuk memainkannya. Ayahku seorang pemusik terhebat yang pernah aku temui, tetapi aku tak bisa seperti beliau. Namun kalau aku harus memainkan sebuah lagu untukmu, aku pasti bisa, Kamu ingin aku memainkan sebuah lagu?" tanya Ammar.


Ia bermaksud  menghibur sang istri yang sedang dirundung gelisah. Paras Mariah yang terlihat mendung, belum juga beranjak ceria.Sepertinya, Mariah tidak tertarik untuk mendengar lagu apa pun malam ini. Perasaanya gundah akibat berbagai kejadian yang terjadi di kastil sepanjang hari ini. Ia hanya tersenyum kecil, tetapi kemudian berubah menjadi gundah kembali.


"Maafkan aku, Ammar! Maafkan aku!" gumamnya.


"Maaf? Mengapa kamu meminta maaf? Kamu nggak salah! Peristiwa ini bukan salahmu. Kamu masih gelisah? Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Semua ini akan segera selesai. Teman-temanmu akan selamat. Kuharap tidak ada kejadian aneh lagi malam ini. Semoga kepolisian segera mengirim personel pengganti agar suasana kastil menjadi lebih tenang," ucap Ammar.


Krieet!


Tiba-tiba terdengar seperti suara deritan sebuah pintu. Mariah hafal betul, pintu mana yang berderit seperti itu saat dibuka. Sumber suara itu arahnya dari ruang baca, sehingga membuat Ammar dan Mariah terhenyak seketika. Mereka bertanya-tanya, siapa yang malam-malam begini berada di ruang baca? Ataukah ada seseorang yang menyelinap di sana?


"Aku akan periksa! Kamu tenang saja di tempat ini!" ucap Ammar.


"Tidak Ammar! Aku nggak mau berada di sini sendirian. Aku ikut denganmu!" ucap Mariah.


"Baiklah. Ayo kita periksa!"


Mereka melangkah dengan hati-hati menuju ruang baca. Lampu kastil sebagian dimatikan, sehingga suasana agak gelap. Ammar mengisyaratkan agar Mariah tidak bersuara, agar keberadaan mereka tidak diketahui si penyusup yang masuk ruang baca. Sepertinya, memang ada seseorang yang masuk ruang baca, karena pintu ruangan itu terbuka sedikit. Namun, lampu dalam ruang baca dalam keadaan gelap. Sepertinya si penyusup tidak ingin keberadaannya diketahui.


Mariah merasa tegang, sambil memegang ujung jaket yang dikenakan Ammar. Ia ragu untuk memasuki ruang baca.


"Kalau kamu takut, kamu tunggu di depan sini saja. Biar aku yang masuk ke ruang baca!"


Mariah sedikit bimbang. Ia memutuskan untuk tidak ikut ke dalam ruang baca. Lebih baik ia menunggu di luar, dan membiarkan suaminya memeriksa ruangan itu.


"Hati-hati, Ammar!"


Ammar masuk ke dalam ruang baca yang gelap itu, kemudian menyalakan saklarnya. Seketika ruang baca menjadi terang, tetapi sepertinya tak ada siapa-siapa di sana. Ia tahu, di ruang baca terdapat sebuah jalan rahasia menuju ruang bawah tanah, karena dr. Dwi pernah meceritakan kepadanya tentang keberadaan jalan rahasia itu. Ia memeriksa tuas di belakang lukisan, karena ia tahu bahwa tuas itu yang bisa membuka jalan rahasia. Namun, ia urungkan niatnya memeriksa ruang bawah tanah karena terlalu berbahaya apabila sendirian di ruangan itu.


Tak lama, ia keluar dari ruang baca, menemui Mariah di dekat pintu yang menunggunya dengan gelisah.


"Apa ada orang di dalam sana?" tanya Mariah.


"Entahlah. Aku curiga kalau ada orang menyelinap ke ruang baca ini, lalu pergi ke ruang bawah tanah. Siapa pun itu, pasti dia mengetahui seluk-beluk kastil ini. Apa kamu tidak punya informasi mengenai Tiara atau Tivani atau siapa pun yang punya akses ke kastil ini? Apakah Pak Anggara mempunyai keluarga lain?" tanya Ammar penasaran.


Mereka memutuskan untuk kembali ke ruang tengah agar bisa mengobrol dengan lebih nyaman. Mariah duduk dengan paras cemas. Ia masih berusaha mengingat-ingat, tentang masa lalu yang mungkin ia tahu. Sayangnya, ia tidak terlalu dekat pula dengan Anggara Laksono, sehingga ia tidak tahu-menahu tentang siapa-siapa orang yag berada di sekitar pamannya itu. Parasnya masih gelisah


"Aku sama sekali tidak punya informasi apa-apa. Tapi kalau menurutku, bisa jadi pelaku itu sama sekali tidak ada hubungan sama sekali dengan Anggara Laksono. Mungkin dia pernah berkunjung ke sini sebelumnya, sehingga tahu seluk-beluk kastil. Tapi siapa? Aku jarang sekali ke tempat ini," ucap Mariah terbata-bata.


Rasa gelisah tak dapat disembunyikan dari wajah Mariah, sehingga Ammar menjadi semakin khawatir. Ia merasa agak heran, mengapa Mariah menjadi begitu tegang? Semenjak mereka datang ke kastil, seolah pikiran Mariah sangat tegang, seperti ada hal berat yang sedang ia pikirkan.


"Baik Mariah. Semoga Dimas bisa membawa kabar baik tentang kastil ini atau latar belakang teman-temanmu yang misterius itu. Masing-masing dari mereka bisa saja menjelma menjadi seorang pembunuh berantai. Semoga Dimas bisa segera datang dan menginformasikan kepada kita," ucap Ammar.


Mariah hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa..


"Sekarang cobalah untuk tidur, Mariah!"


***


Aditya mencoba bertahan agar dia tidak terus ditarik oleh sosok misterius itu. Tiba-tiba ia meraskan benturan hebat di kepala, sehingga ia merasa pening seketika. Ia meronta hendak berdiri dan berlari, tetapi sayang  usahanya sia-sia. Antara sadar dan tidak sadar, ia melihat sosok itu menutup pintu baja. Ia kini berada di dalam bilik yang gelap dan pengap. Sosok itu masih berdiri di situ,tetapi wajahnya tak terlihat.


Aditya merasa seperti orang mabuk. Ia merasa sadar, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya pasrah ketika sosok itu mengangkat tangannya, kemudian mengaitkan dengan borgol yang tergantung di tengah bilik. Kini kedua tangannya terborgol dan tergantung di tengah bilik. Kondisinya lemah akibat pukulan di kepala. Pandangannya terasa kabur. Bahkan kini ia tidak bisa menggerakan kedua tangannya, karena telah terborgol.


"Kau akan tetap di sini sampai hari kematianmu!" bisik sosok itu di telinga Aditya.


Aditya ingin berteriak, tetapi ia menyadari kalau ternyata mulutnya pun sudah ditutup dengan lakban. Ia hanya bisa menggeram. Kini ia tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa melihat sosok itu berdiri diam menatap tajam ke arah dirinya, seolah menikmati penderitaan yang ia alami.


"Kamu tahu mengapa aku menyekapmu di sini? Karena aku suka. Aku juga membunuh Lidya, karena aku juga suka. Farrel? Si bodoh itu kurang beruntung rupanya. Kalian adalah ikan-ikan kecil yang akan memenuhi jaringku, karena aku akan mengincar seekor ikan besar. Tapi tenang saja, ikan besar ini akan kujadikan sebagai hidangan penutup, saat ikan-ikan kecil sudah terjaring semua. Satu-persatu dari kalian akan tertangkap di jaring, dan ikan besar akan jadi yang terakhir," ucap sosok yang tak mau menampakkan wajahnya itu.


Aditya sama sekali tidak bisa menanggapi hal itu, karena posisinya yang sulit. Ia ingin memaki, tetapi tidak bisa. Ia masih tak habis pikir, siapa yang dimaksud ikan besar oleh sosok itu. Aditya sebenarnya mengenali dari suara sosok itiu, siapa sebenarnya yang besembunyi di balik topeng yang dikenakannya. Dalam hati, ia merasa sangat marah, Ia ingin menghajar sosok itu, karena telah menghabisi Lidya. Sayang kondisinya tak memungkinkan.


"Aku tidak akan buru-buru menghabisimu, Dit. Tidak. Paling tidak kamu akan menyaksikan siapa sebenarnya ikan besar yang kumaksud. Aku akan menyeretnya kemari, agar drama di kastil ini kembali berulang. Aku tahu seluk-beluk kastil ini, dan aku akan membuat nostalgia agar mereka semua ingat bahwa di sini pernah terjadi pembantaian. Aku sudah menunggu kesempatan ini sejak lama!" ucap sosok itu.


Aditya tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa melihat sosok yang berjalan mondar-mandir di bilik itu dengan perasaan amarah.


"Kalau tidak salah, kulihat tadi Jeremy juga sedang berjalan menyusur lorong di sini juga. Sebenarnya aku bingung. Siapa yang harus kusekap di sini. Apakah kamu atau Jeremy? Tetapi aku memilih dirimu, karena kamu lebih lemah. Jeremy akan kubiarkan lolos sementara, tetapi bukan berarti ia aman. Taka da seorang pun yang akan aman!" tandas sosok itu.


***


Malam telah larut  ketika Reno dan Juned tiba di kawasan kastil. Petugas paramedis segera mengangkat jenazah tanpa kepala miik Farrel ke dalam ambulans, untuk selanjutnya dibawa ke kota malam itu juga. Semua berjalan cepat, karena kondisi memang sudah malam. Lagipula, kondisi seperti ini terbilang darurat. Reno hanya perlu menandatangani surat keterangan untuk laporan, kemudian petugas paramedis itu membawa ke kota. Setelah memastikan semua beres, ambulans itu bergerak meninggalkan kastil.


"Lelah sekali aku hari ini, Juned. Aku ingin segera istirahat, dan semoga malam ini tidak terjadi apa-apa," ucap Reno sambil menghembuskan napas.


"Sama Pak. Aku juga ingin segera beristirahat dan semoga besok aku bisa bangun dalam keadaan segar. Semoga malam ini semua berjalan tenang, tak ada kejadian apa pun," timpal Juned.


Setelah segala urusan dengan jenazah beres, mereka masuk ke dalam kastil. Suasana begitu lengang, karena hampir smeua penghuni sudah terlelap. Yang tersisa hanya Ammar yang tampak lelah, menyandarkan kepala di sofa ruang tengah, sementara Mariah tidur di pangkuan suaminya. Reno dan Juned tidak mau mengganggu pasangan itu. Mereka segera berlalu menuju kamar masing -masing.


Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan untuk Reno dan Juned. Reno berjalan dengan malas menuju kamarnya, tetapi sebelum sampai ke kamar, ia mendengar seperti suara langkah dari arah dapur. Naluri Reno langsung bangkit. ia harus mewaspadai gerakan sekecil apapun. Ia urung masuk ke dalam kamar, berjalan mengendap ke arah dapur. Ia mengintip ruang dapur. Lampu tampak menyala di sana.


Di dapur, ia mendapati Maya sedang berdiri di depan kulkas, mengambil sebotol air kemudian menatap ke arah luar. Ia terlihat gelisah, seperti menunggu seseorang. Reno mengernyitkan dahi. Siapa yang Maya tunggu di malam yang larut seperti ini?


"Lagi menunggu seseorang?" tanya Reno tiba-tiba.


"Oh!"


Maya terhenyak kaget mendengar suara Reno. Buru-buru ia letakkan gelas di tangannya. Ia tampak gugup dan salah tingkah melihat kehadiran Reno di tempat itu.


"Aku ... aku merasa haus dan ke dapur untuk mengambil minum," ucap Maya.


"Hmm, tak baik keluar kamar sendirian di malam buta seperti ini. Seharusnya kau meminta seseorang untuk menemani. Kamu tahu kan, kastil ini masih belum aman," tegur Reno.


"I-iya Pak.  Tadinya aku mau minta Lily buat menemani, tetapi saat aku ketuk-ketuk kamarnya, ia tidak menyahut. Entahlah. Mungkin dia sudah tidur, dan aku nggak mau bangunin dia. Aku .. aku akan kembali ke kamar saja, Pak. Maaf," ucap Maya.


Parasnya masih terlihat gugup, dan sepertinya kehadiran Reno yang secara tiba-tiba sama sekali tak dikehendaki.


"Tunggu, Maya!" Reno berusaha menahan kepergian Maya.


"Eh, iya Pak?"


"Kamu melihat sesuatu yang aneh malam ini?"


"Sesuatu yang aneh? Sepertinya nggak sih, Pak. Ada apa ya Pak?"


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin kalian semua meningkatkan kewaspadaan. Kita tidak pernah tahu siapa musuh kita, karena terkadang seseorang yang kita aggap teman, bisa menjadi musuh kita yang paling berbahaya," kata Reno.


"Terima kasih, Pak. Sebaiknya aku kembali ke kamar saja," ujar Maya.


***