Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
278. Darah


Sore itu tampak cerah, dengan sinar mentari yang kemerahan merapat di ufuk barat. Suasana yang temaram dan tak begitu panas itu dimanfaatkan oleh penghuni untuk berjalan-jalan menikmati udara sore di sekitar rumah isolasi. Tentu saja, kegiatan itu dibawah pengawasan langsung Reno untuk mencegah dari hal-hal yang tak diinginkan. Sebelum jalan-jalan dimulai, mereka sudah berkumpul di halaman depan.


Rencananya mereka akan mengitari rumah yang berupa perkebunan, tetapi Reno sengaja tidak mengarahkan ke arah sumur tua, karena walau sudah dipasang papan peringatan, masih ada beberapa sumur yang letaknya tersembunyi dan tidak terdeteksi. Untuk mencegah hal-hal tak diinginkan, mereka berencana untuk jalan-jalan di bagian depan rumah itu.


"Apakah semua ikut sore ini?" tanya Reno.


"Kita tinggal nunggu Widya nih!" ucap Laura sambil melirik ke arah jam tangannya.


"Sedang apa dia? Kok lama banget?" keluh Riky.


Yang hadir di situ mulai tak sabar, terutama para pria. Mereka berpikiran bahwa Widya sedang bersolek agar penampilannya terlihat berbeda sore itu. Rasa bosan mulai melanda ketika detik demi detik berjalan. Mereka khawatir petang berjalan cepat, sehingga gelap akan segera datang.


"Ini sudah nggak wajar! Biar aku periksa dia!" ucap Riky.


"Akan kutemani dirimu!" sahut Reno.


Dalam hati, Reno juga merasa keterlambatan Widya ini juga tak beres. Ia khawatir ada hal buruk terjadi, karena sebelumnya para penghuni melakukan aktivitas sendiri-sendiri tanpa pantauan.


Sementara mereka yang ada di halaman depan juga bertanya-tanya apa yang membuat Widya begitu terlambat? Reno dan Riky segera masuk lewat pintu samping yang menghubungkan dengan ruang tengah. Setelah itu, mereka menaiki tangga ke lantai dua, tempat kamar Widya. Kamar itu dalam keadaan tertutup dan hening.Reno segera mengetuk pintu kamar Widya.


Tok ... tok ... tok!


" Widya! Apa kamu ada di dalam? teman-teman kamu sudah nungguin di bawah? Apa kamu ikut jalan-jalan sore ini?" ucap Reno.


Sayangnya ucapan Reno itu tak berbalas. Suasana sangat hening, bahkan tak terdengar apa-apa dari kamar itu. Reno memandang ke arah Riky, tetapi pria muda itu hanya mengangkat bahu. Parasnya diam tanpa ekspresi. Reno tak bisa memastikan apa yang sedang terjadi di kamar Widya.


"Wid! kamu dengar suaraku?" ulang Reno.


Panggilan Reno itu masih tetap tak berbalas, sehingga membuat Reno curiga. Ia mengisyaratkan Riky untuk agak menjauh dari pintu, sementara Reno membuka pintu kamar Widya secara perlahan. Rasa khawatir tiba-tiba menyeruak. Ia tiba-tiba teringat dengan teka-teki berisi ancaman yang ditemukan dalam botol kosong di Villa Kuning Pucat.


Pintu kamar Widya terbuka perlahan. Reno mendapati kamar itu hening dan sunyi. Riky juga ikut masuk untuk melihat suasana dalam kamar. Namun tiba-tiba, mata Reno tertumbuk pada sosok Widya yang terbaring di lantai dalam keadaan tertelungkup. Ia sudah memakai pakaian olahraga, sepertinya sudah siap untuk turun. Wanita muda itu tak bergerak, dengan genangan darah di sekitar pergelangan tangan. Sebuah pisau dapur juga tergeletak di dekat tubuh Widya.


"Astaga Widya!" pekik Riky.


***


Setelah mengurus segala sesuatu yang ada di kota, Ollan dan Dimas meluncur menuju rumah isolasi. Sebenarnya hati Ollan masih diliputi tanda tanya besar, hendak dibawa ke mana dirinya? Sebab Dimas tidak menerangkan apa pun kepadanya. Hanya saja, Ollan mulai cuiga karena mobil yang mereka sudah mengarah ke arah luar kota.


"Kita mau ke mana sih Pak?" tanya Ollan sambil mengunyah keripik tortilla kesukaannya.


Keripik ini adalah favoritnya. Sudah lama ia ingin makan keripik ini, tetapi ia tak mendpatakannya semenjak di rumah Raymond. Kini, kesempatan untuk balas dendam, makan tortilla sampai puas.


"Kita lihat saja nanti ya," ucap Dimas sambil terus fokus menyetir.


"Bukannya tadi ... kalau tidak salah dengar, aku akan dikembalikan ke apartemen ya?" tanya Ollan.


"Ya, tentu saja. Kami akan segera mengembalikanmu ke apartemen dengan satu catatan. Setelah kasus ini tuntas, maka kami persilaka kamu kembali ke apartemen tercintamu. Namun, untuk saat ini kami butuh bantuanmu," kata Dimas menerangkan.


"Bantuan macam apa, Pak? Kok firasatku nggak enak sih Pak!"


"Tenang saja, Ollan. Semua akan baik-baik saja kok. Nggak usah cemas," ujar Dimas.


Ollan tidak mau percaya ucapan Dimas begitu saja. Ia letakkan bungkus keripik tortilla-nya. Entah mengapa selera ngemil nya langsung hilang. Ia sedikit gelisah, karena Dimas tidak berterus terang. Namun, arah mobil ini sudah bisa ditebak oleh Ollan. Pria gemulai itu sadar bahwa mereka semakin mejauh dari kota.


"Jalan ini sepertinya asing," ucap Ollan.


"Bagus. Jadi kau tak perlu banyak tanya! Memang asing jalan ini, tetapi buka berarti kau dalam bahaya!" tandas Dimas.


***


 Niken mulai siuman dari ketidaksadarannya. Begitu ia membuka mata, ia sangat terkejut mendapati dirinya terbaring di ruangan serba putih. Bukan hanya itu, ia merasa sedikit takut melihat botol infus yang dihubungkan dengan selang yang tertancap di lengannya.


Niken baru menyadari kalau dirinya sedang berada di rumah sakit. Padahal, ia sebelumnya berpikir kalau sduah mati. Bahkan, ia belum tahu siapa pahlawan yang telah menyelamatkan dirinya. Sekilas ditatapnya sekitar ruangan itu. Ia bersebelahan ranjang dengan seorang pasien lain. Awalnya ia mengira kalau pasien di sebelahnya adalah Rani, tetapi ternyata bukan Rani.


Tiba-tiba dilihatnya Dokter Dwi masuk ke kamar perawatan untuk memeriksa keadaan Niken. Ia merasa senang karena polisi wanita itu sudah siuman.


"Kalau kondisimu stabil hingga nanti malam, maka kamu boleh pulang besok hari." ujar dokter Dwi.


"Wah terima kasih ya Dok. Aku tahu bahwa Anda adalah dokter yang berhasil lolos dari pembunuhan di kastil tua. Sangat beruntung bisa bertemu Anda langsung. Bagaimana kondisi Rani?"


"Rani kami rawat di kamar lain, karena kondisinya lebih buruk daripada dirimu, jadi penanganan sedikit berbeda. Ia mengalami syok dan dehidrasi parah. Pada saat pertama kali Dimas menemukannya, kondisinya sangat memprihatinkan. Tapi untuk saat ini kondisinya lumayan stabil," terang dr. Dwi.


"Dimas? Apakah Dimas yang menemukan kami?" tanya Niken.


"Ya, Dimas yang menemukan kalian dalam keadaan tak sadarkan diri. Mungkin setelah ini dia akan menanyaimu seputar penyekapan, tetapi menunggu kondisimu stabil terlebih dahulu,"ucap dr. Dwi.


Tatapan Niken menerawang jauh. ia kembali memutar balik kenangan-kenangan buruk selama penyekapan di rumah kosong dan gelap milik Daniel Prawira. Sebenarnya ia merasa trauma apabila mengingat hal itu. Namun, untuk kepentingan penyelidikan, ia berusaha mengingat sebaik-baiknya. Potongan-potongan peristiwa seolah teraduk-aduk dalam otaknya, bercampur menjadi satu.


"Sunggu buruk, Dokter. Sungguh buruk," keluh Niken.


"Kamu nggak perlu mengingat itu semua sekarang. Nanti saja kalau kamu sudah benar-benar sehat. Sekarang istirahatlah, Niken. Jangan banyak berpikir, karena semua sudah ditangani oleh kepolisian," ucap dr. Dwi.


Niken hanya mengangguk. Tatapannya kembali menerawang jauh. Ia berusaha memejamkan mata, karena kepalanya masih terasa pening. Namun, ia susah untuk tidur. ia tidak bisa melupakan penyekapan itu. Sepanjang karirnya sebagi polisi, baru pertama kali ini ia disekap oleh seorang penjahat. Hal itu terasa sangat menyakitkan baginya.


***