
Jeremy semakin tertarik untuk masuk ke dalam kawasan hutan. Apalagi, ia merasakan sensasi sejuk di dalam hutan yang makin lebat. Jalan setapak yang ia lalui makin menelusur masuk dan mendaki, terkadang licin di beberapa bagian. Ia tidak khawatir tidak bisa kembali ke tempat semula, karena ia hanya tinggal mengikuti jalan setapak itu. Tak ada jalan lain yang layak untuk dilewati karena tertutup semak belukar, ia hanya perlu mengikuti sesuai dengan alur yang sedikit berliku, membelah kawasan hutan.
Di dalam hutan, sinar matahari nyaris tak bisa masuk karena rapatnya dedaunan. Jeremy melangkah perlahan, meninggalkan air terjun, sambil sesekali menoleh ke arah belakang. Bagaimanapun, ia harus tetap waspada dengan keadan sekitarnya. Suara binatang meraung-raung membuat perasaannya tak nyaman. Ia berjalan, tetapi tetap waspada dengan keadaan sekitar. Ia merasakan hutan itu begitu sunyi, seolah hanya dirinya manusia satu-satunya yang berada di kawasan itu.
Setelah beberapa lama, ia menyadari bahwa suara air terjun sudah tak terdengar, sehingga ia merasa bahwa mungkin ia sudah terlalu jauh. Segera ia memutuskan untuk kembali, karena ia melihat bahwa sekelilingnya terlihat mulai asing, penuh pohon dan agak gelap. Ia takut, apabila berjalan terlalu jauh akan tersesat dan susah menemukan jalan pulang. Lagipula, ia tak mau terlalu lama berada dalam hutan.
Namun, saat ia memutar balik badannya, sayup-sayup ia melihat sebuah bangunan terbuat dari kayu yang letaknya cukup tersembunyi di balik rerimbunan semak. Ia heran, bangunan apa gerangan yang da di tengah hutan seperti ini. Rasa penasaran membuatnya mengurungkan langkah. Ia lebih tertarik untuk melihat bangunan itu lebih dekat. Perlahan ia mendekat, mendapati banguanan kayu tua yang mirip seperti pondok. Kondisinya usang dan tak terawat, dengan suasana menyeramkan. Jeremy sangat tertarik untuk melihat apa sebenarnya yang ada di dalam pondok tersebut.
Krieeet!
Ia membuka pintu pondok yang terbuat dari kayu yang mulai lapuk. Rupanya pondok itu tak terkunci, sehingga bisa dimasuki dengan mudah. Aroma pengap dan lembap langsung menyergap, bercampur debu yang langsung menyesakkan pernapasannya. Seketika Jeremy menutupi hidung. Di dalam pondok juga terlihat gelap, karena satu-satunya pencahayaan berasal dari jendela usang yang rusak. Jeremy dapat merasakan aura negatif pondok kayu itu. Tak heran, karena ia menduga bahwa pondok itu telah lama tak ditempati. Pastilah tempat seperti ini menjadi sarang jin atau makhluk-makhluk tak kasat mata.
Jeremy masuk beberapa langkah, kemudian terhenti. Lantai pondok begitu kotor tertutup dedaunan kering dan debu yang tebal. Matanya tertumbuk pada sesuatu yang tergeletak di lantai pondok. Darahnya berdesir, jantungnya berdegup lebih kencang. Kalau ia tidak salah melihat, yang ia lihat di lantai pondok itu adalah sosok manusia yang terbaring dalam keadaan miring tertelungkup. Ia tidak bisa memastikan apakah sosok itu masih hidup atau sudah meninggal. Sosok itu diam tak bergerak.
"Siapa itu gerangan?" gumamnya.
Sejenak Jeremy bimbang, apakah dia harus kembali ke air terjun atau harus memastikan kondisi sosok yang tergeletak itu. Namun, rasa penasaran semakin menguasainya. Ia melangkah perlahan mendekati tubuh yang tergeletak itu. Setelah cukup dekat, ia bisa memastikan bahwa sosok itu adalah seorang perempuan. Namun, ia tak yakin, apakah sosok itu masih hidup. Ia kembali mendekat dengan ragu-ragu. Perlahan disentuhnya leher sosok perempuan yang tergeletak itu, kemudian ia palingkan muka si perempuan untuk mengenali siapa sebenarnya sosok ini.
Sejenak kemudian, ia merasa terkejut, karena ia mengenali sosok yang sedang terbaring di lantai itu.
"Nadine," gumamnya perlahan.
***
Ramdhan masih terkejut dengan sesuatu yang ia temukan di balik semak-semak yang cukup rimbun. Di bawah semak, teronggok bangkai binatang berbulu cokelat kehitaman, dengan bagian leher yang penuh darah yang mulai mengering. Tubuhnya yang berbulu dikerubuti semut dan lalat yang mulai tertarik untuk hinggap.
"Astaga! Ini ... ini kan kucing?" tanya Reno yang baru saja melihat kucing yang mati dengan keadaan mengenaskan.
"Iya Pak. Ini kucing hutan. Ada seseorang yang sengaja membunuhnya. Jadi darah yang kita temukan tadi mungkin darah kucing ini. Aku tidak tahu apa alasan kucing ini dibunuh, tetapi sepertinya darah itu adalah pengecoh. Mungkin Nadine sedang disembunyikan di suatu tempat di sekitar sini," kata Ramdhan.
"Aku juga berpikir begitu. Sekarang kamu naik ke atas, dan suruh orang-orang kembali ke kastil. Tempat ini terlalu berbahaya. Aku tidak mau ada apa-apa terjadi di tempat ini. Suruh mereka membatalkan kunjungan ke air terjun. Aku akan menyelidiki sekitar tempat ini. Kamu antar semua ke kastil, jangan ada yang tinggal. Aku masih mau di sini untuk melihat keadaan dan kondisi sekitar," perintah Reno.
"Baik Pak!"
Ramdhan tak menunggu perintah dua kali. Ia bergegas meninggalkan Reno, kembali naik ke atas tebing yang cukup terjal. Reno kembali melihat bangkai kucing itu dengan mengenakan sarung tangan yang ia sudah siapkan. Ia periksa luka yang ada di leher kucing itu. Sepertinya makhluk malang itu sengaja digorok lehernya. Namun, tetiba ia menemukan bekas ayam goreng di dekat bangkai. Reno mengernyitkan dahi. Ini adalah ayam goreng sisa sarapan tadi pagi. Kini ia mengerti. Kucing ini sengaja diberi umpan ayam goreng, kemudian ditangkap dan digorok lehernya. Sungguh biadab, siapa pun pelaku kejahatan ini.
Reno kembali memperhatikan sekitar. Ia tidak tahu dasar lereng ini tembus ke bagian mana. Namun, ia menduga bahwa bagian bawah lereng terhubung dengan bagian hutan yang terlihat gelap di ujung lain. Ia menduga bahwa Nadine tengah dibawa seseorang ke dalam hutan, atau mungkin disembunyikan ke suatu tempat. Ia berharap agar wanita itu masih dalam keadaan hidup. Ia berencana mengajak Dimas untuk menelusuri hutan. Untuk saat ini, sepertinya keadaan belum memungkinkan, karena ia tidak mau mengambil risiko, menjelajah tempat asing yang belum ia kenal.
Hari menjelang siang. Reno kembali ke atas, tetapi ia tak menjumpai yang lain kecuali Ryan. Pria itu hanya sendiri di atas sana. Kahadiran Reno disambut dengan antusias oleh Ryan.
"Bagaimana Pak? Apakah ada petunjuk keberadaan Nadine?" tanya Ryan.
"Tenang. Kami akan berusaha menemukan keberadaan Nadine. Kamu nggak usah khawatir. Mungkin Nadine masih hidup dan berjalan entah ke mana. Aku akan berusaha mencari keberadaannya. Oya, mana yang lain?" tanya Reno.
"Tadi Lily mengajak ke air terjun, tetapi saya menunggu di sini saja. Jadi yang lain sekarang menuju ke air terjun," kata Ryan.
"Astaga! Ramdhan di mana? Bukankah dia kusuruh untuk mengajak kalian kembali ke kastil?"
"Iya tadi memang Ramdhan mengajak ke kastil, tetapi Lily tak bersedia dengan alasan ada beberapa yang masih di air terjun. Jadi sekarang Lily ke air terjun bersama Rosita, Farrel, dan Edwin. Jadi mau tidak mau, Ramdhan ikut juga ke air terjun juga menjemput yang masih di air terjun, ada Stella, Jeremy, dan Maya."
"Baiklah, sekarang mari kita segera susul mereka dan kembali ke kastil!"
***