
Widya berjalan tergesa menuju ruang kerja Guntur, mendapati penulis skenario film itu sedan sibuk di depan layar komputer, sama sekali tak mempedulikan kehadiran Widya.
"Sibuk?" tanya Widya.
"Ya, lagi kejar setoran naskah dialog beberapa adegan untuk ending film yang akan segera ditayangkan dua bulan lagi. Ini adalah uang, jadi aku harus fokus mengerjakan ini. Jadi kalau kau tak punya urusan penting silakan keluar!" perintah Guntur tanpa melihat sedikit pun ke arah Widya.
Widya merasa canggung mendengar pengusiran itu. Memang nadanya biasa saja, tetapi tetap terdengar menyakitkan. Ia hanya terdiam.tak bisa berkata apa-apa. Kemudian ia mengangguk pelan, berniat keluar dari ruangan Guntur. Namun, tiba-tiba Guntur berdiri, memegang tangan Widya, seolah mencegah gadis itu keluar.
"Kamu cantik sekali, Wid! Sungguh!" gumam Guntur sambil menatap tajam mata Widya.
"Kamu ... kamu mau ngapain, Gun?" tanya Widya dengan nada gugup.
Cengkeraman tangan Guntur membuat dadanya berdegup kencang. Tatapan mata mereka saling beradu.
"Hanya ingin bilang bahwa kamu cantik. Kau kesini pasti ingin menginformasikan tentang kematian pacar Faishal kan? Berita itu sudah memenuhi layar televisi sejak pagi, jadi aku merasa bosan mendengarnya," ucap Guntur sambil melepaskan tangan Widya.
"Kau sudah mendengar berita itu?" tanya Widya.
"Ya, aku mendengar berita itu. Aku nggak begitu tertarik, toh gadis itu bukan artis dan tidak terlibat produksi film apa pun. Jadi aku tak begitu ambil pusing, kenal juga tidak! Mending aku fokus dengan kerjaan ku!"
Guntur berkata dengan santai, kemudian kembali duduk di depan layar komputernya. Widya tak menyangka kalau jawaban Guntur seperti itu, seolah tak punya empati. Manusia seperti apa dia ini? Widya hanya bisa menghela napas.
"Kamu tahu di mana Riky?" tanya Widya kemudian.
"Riky? Siapa sih yang peduli sama dia? Bukankah dia sudah mendapat job baru di rumah produksi lain. Kenapa? Sepertinya kamu mulai perhatian banget sama dia," cibir Guntur.
"Tidak ... tidak. Aku hanya ingin tahu kabar dia. Dia terlihat aneh belakangan ini, jadi aku sedikit mengkhawatirkan keadaan dia. Aku mulai resah dengan kondisi yang sedang terjadi saat ini, Gun. Ini bukan main-main lagi. Kau lihat, teman kita satu-persatu mati dengan keadaan mengenaskan. Pak Daniel dengan leher terjerat, lalu Anita mati dengan cara digantung, Renita yang dipotong jari-jarinya, dan Melani yang digorok lehernya. Bukankah itu sangat mengerikan? Semua korban ini adalah orang-orang yang terkait dengan pembunuhan pak Daniel, kecuali Melani. Aku ... aku takut, Gun. Aku nggak mau mati," gumam Widya.
"Ah, persetan lah dengan mereka semua. Aku di sini niat kerja, dan nggak mau tahu dengan pembunuhan atau apa pun. Aku nggak takut mati, suruh saja pembunuhnya itu ke sini, dan hadapi aku. Sudahlah nggak usah takut. Lebih baik kita fokus kerja. Jangan mikir yang enggak-enggak!" tandas Guntur.
Widya tak berkata apa-apa lagi. ia masih terpana melihat perilaku Guntur yang super kaku seperti itu. Banyak hal yang teramat aneh pada diri Guntur. ia masih teringat dnegan borgol yang ada di laci meja kerja Guntur, dan foto aneh dalam buku agenda. Perasaanya tidak enak. Ia segera keluar untuk menelepon Riky. Entah mengapa pikirannya langsung mengarah ke Riky. Kadang ia merasa kesepian di kantor, karena sekarang Riky jarang datang. Riky tengah sibuk mencari kesempatan baru.
Ia berulang kali menghubungi Riky, tetapi sayang tak diangkat. Kemana gerangan pria ini? Sedikit mengherankan, Mengapa akhir-akhir ini jarang muncul? Riky yang sejak duku sering gugup dan selalu serius dalam bekerja, akhir-akhir ini juga berubah sikapnya. Widya seolah kehilangan sosok Riky.
***
Walaupun firasatnya mengatakan bahwa Niken masih hidup, tetapi tetap saja ia mengkhawatirkannya. Ia sedang menikmati es ketika sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Ia segera memeriksa, karena siapa tahu itu adalah hal penting. Sebuah pesan dengan nomor asing masuk ke dalam ponsel.
"Selamat siang Pak Polisi. Anda ingin tahu di mana keberadaan Niken dan Rani? Ikutilah petunjuk saya, maka Anda akan menemukan orang yang Anda cari itu dalam keadaan hidup. Tetapi kalau Anda bertindak bodoh, maka salah satu dari mereka akan tewas. Jadi tentukan pilihanmu sekarang!"
Deg!
Jantung Dimas berdegup. Ia segera menghubungi nomor telepon itu, tetapi sayangnya nomor itu seperti tak aktif. Ia begitu penasaran dengan isi pesan tersebut. Isi pesan itu jelas berisi ancaman. Ia bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengan Niken dan Rani. Tak lama, pesan kedua muncul berisi isi pesan yang aneh.
"Pertama, ikuti insting mu. Karena kadang insting berkata benar. Jangan pernah goyah!"
Insting? Dimas mengernyitkan dahi. Insting yang mana yang ia maksud? Dimas benar-benar tak paham dengan maksud si pengirim pesan ini. Atau ini berkaitan dengan perasaan yang ia rasakan saat menyelidiki kediaman Renita. Ia pernah punya pikiran bahwa Niken dan Rani tak jauh dari kawasan perumahan itu. Petugas keamanan yang bertugas di malam kejadian menegaskan bahwa setelah peristiwa mengerikan itu terjadi, tak ada mobil mencurigakan keluar dari areal perumahan. Padahal seharusnya, kalau memang Niken dan Rani dibawa keluar areal perumahan, tentu akan diketahui oleh pihak keamanan, karena pasti mereka akan menggunakan mobil. Jadi di mana kedua sosok perempuan itu?
Mungkin insting yang dimaksud di sini adalah bahwa dia harus terus mencari wilayah sekitar perumahan, tidak sampai keluar area itu. Ia masih tak habis pikir, dari mana pembunuh itu tahu tentang insting yang ia rasakan. Ini semakin aneh. Ia sedang menunggu pesan ketiga, karena siapa tahu ada petunjuk baru dari pesan-pesan yang sengaja dikirim.
"Sial!" gumamnya.
Dimas tak mendapat pesan apa-apa lagi. Tiba-tiba, Reno kembali menelepon dirinya.
"Dim, kamu ada di mana?" tanya Reno.
"Aku lagi rehat sebentar, Ren. Gimana? Ada perkembangan apa dari kasus ini?" tanya Dimas.
"Sepertinya aku butuh bantuan mu. Personelku menemukan sebuah botol berisi kertas teka-teki yang belum aku buka. Entah kenapa aku merasa ragu untuk membukanya. Setiap kali aku mencoba memecahkan teka-teki, maka akan ada korban yang jatuh. Kali ini aku minta bantuan mu untuk memecahkan teka-teki ini," kata Reno.
"Astaga! Tidak bisa kah orang lain saja yang memecahkan teka-teki itu?" tanya Dimas.
"Orang lain? Kau mau semua berubah menjadi fatal? Ingat, dahulu saat aku mempercayakan teka-teki ini pada Niken, ternyata Renita terbunuh. Kini aku nggak mau mempercayakan ini pada siapa pun. Kamu harus bantu aku memecahkan teka-teki ini!" tegas Reno.
"Oke ... oke. Aku akan bantu kamu, Ren. Mungkin analisis ku tak begitu masuk akal, tapi baiklah aku akan segera balik ke kantor. Aku yakin, waktu yang disediakan untuk memecahkan teka-teki itu juga tak lama, jadi kita harus cepat bergerak!"
***