
Dokter Dwi tak punya pilihan lain. Bagaimanapun urusan perut tak dapat ditunda. Mau tidak mau, ia menyantap potongan-potongan roti dengan irisan daging di dalamnya. Rasanya sungguh nikmat, sehingga dr. Dwi menghabiskan hingga tandas. Sudah tak dipedulikan lagi konsekuensi apa yang ia dapat setelahnya. Yang penting, ia mendapat asupan energi untuk tetap bertahan hidup.
Setelah menyantap makanan, sosok berjubah hitam itu membawanya keluar ruangan menyusuri lorong gelap menuju ruangan lain yang digembok. Dokter Dwi merasa takjub melihat banyak ruang-ruang yang belum pernah ia lihat di sepanjang lorong. Ia menduga lorong ini berada di bawah kastil yang selama ini tak diketahui siapa pun.
Lorong itu bagai labirin yang mempunyai banyak percabangan, sehingga kalau tidak terbiasa tentu akan tersesat. Ini mengingatkan akan ‘catacombs’, sebuah pemakaman bawah tanah yang dipenuhi lorong-lorong di bawah kota Paris.
Klik!
Gembok dibuka, pintu ruangan terbuka. Sebuah ranjang tua di sudut ruangan, diterangi lampu temaram. Aroma busuk menyengat hidung. Seorang perempuan paruh baya terbaring lemah di atas tempat tidur. Matanya terpejam, tak bergeming dengan kehadiran mereka. Jantung dr. Dwi bergetar hebat melihat pemandangan ini.
Siapa wanita asing ini? Mengapa dia berada di dalam ruangan misterius ini?
Sosok bertopeng ini seakan bisa membaca pikiran dr. Dwi yang sedang kebingungan. Ia berkata,”Ini adalah ibuku. Bertahun-tahun tersembunyi dalam ruangan bawah tanah tanpa seorang pun tahu. Anggara Laksono telah menyia-nyiakan hidupnya. Untuk itulah aku terpaksa menghabisi bangs*at tua itu. Aku adalah anak yang hilang, dan kembali untuk menuntut balas.”
Dokter Dwi terdiam, tak tahu harus berkomentar apa. Pengakuan itu sungguh membuatnya merinding. Jadi selama ini motif pembunuhan Anggara Laksono adalah dendam di masa lalu yang masih membekas hingga kini. Lalu apa motif pembunuhan yang lain? Apakah juga dendam? Pertanyaan itu masih berputar-putar di kepala dr. Dwi. Ia tak berani menanyakan hal itu pada sosok berjubah.
“Lalu mengapa kamu membawaku kemari?” tanya dr. Dwi.
“Ibuku mengalami gangguan penglihatan. Mungkin glaukoma. Aku ingin kamu membantunya untuk bisa melihat kembali. Tak peduli bagaimana caranya, aku hanya ingin dia bisa melihat kembali,” kata sosok itu.
“Hmm. Aku bukan dokter spesialis mata. Kurasa ibumu harus dibawa ke rumah sakit agar bisa ditangani dokter spesialis. Maaf, aku tak bisa menanganinya,” ujar dr. Dwi.
“Tidak! Ibuku tidak akan kemana-mana. Dia tidak boleh keluar tempat ini. Aku tidak pedulu bagaimana caranya, yang jelas kamu harus membantu melihatnya kembali. Sekalipun aku harus mencongkel mata penghuni kastil yang lain, aku tak peduli. Aku hanya ingin dia bisa melihat wajahku,” ucap sosok berjubah itu dengan suara bergetar.
“Ini gila, tak semudah yang kamu pikirkan! Penanganan mata tak bisa dilakukan oleh sembarang dokter. Lagipula di sini tak ada peralatan medis yang memadai. Jelas aku tak bisa melakukan apa pun!" elak dr. Dwi.
“Kalau perlu akan akan bawa semua peralatan medis ke sini. Kamu harus bantu aku, Dokter!”
“Maafkan aku, aku tak bisa!”
Tiba-tiba sosok berjubah itu bergerak cepat, mengambil sebilah belati dari balik bajunya, kemudian mendorong tubuh dr. Dwi hingga merapat ke dinding. Belati itu ditekan ke leher si dokter, hingga tak bisa berkutik.
“Kalau kamu tidak bisa melakukannya. Maka kamu akan mati!” ancam sosok berjubah itu.
Dokter Dwi tercekat. Mata sosok itu menatap tajam ke arahnya dengan tatapan penuh amarah. Dokter Dwi hanya bisa menahan napas. Ia berpikir bahwa ajalnya sudah dekat. Apa yang dapat ia lakukan? Ia bukan dokter spesialis mata. Memang, dia pernah belajar tentang mata, tetapi itu hanya pengetahuan umum saja. Dalam sejarah kariernya sebagai seorang dokter, ia pernah membantu pasien yang mengalami gangguan mata, tetapi hanya penyakit ringan karena bakteri atau virus. Bukan kasus berat seperti ini.
“Bantu aku atau mati!” ancam sosok berjubah itu.
***
“Mariah, mengapa tak ada kabar darimu sama sekali? Apakah kamu baik-baik saja? Aku merindukanmu,” bisiknya lirih.
Tiba-tiba ia teringat akan wajah istrinya, Mariah Alray. Bayangan wanita itu serasa terbang melayang-layang memenuhi alam pikirannya. Rasa rindu menggejolak di rongga dada. Dalam sesaat tadi, ia berpikir bahwa ia akan segera mati terbakar api. Rupanya ia masih sempat meloloskan diri. Ia berharap akan mati dalam dekapan istrinya.
Tak jauh darinya, Cornellio juga terbaring tak sadarkan diri karena menghirup banyak karbondoksida. Pria itu juga cukup beruntung karena lidah api tak sempat menjilat tubuhnya. Hanya saja mukanya terlihat merah karena panas yang tak tertahankan. Perlahan, tangannya mulai bergerak. Ia merasa ada aliran udara dingin membelai tubuhnya yang tadi seperti terbakar. Kelopak matanya terbuka, melihat sekeliling. Ia mengira bahwa telah berada di alam lain. Dilihatnya Ammar yang sedang terbaring sambil melamun.
“Aku ... aku masih hidup?” lirih Cornellio.
Ammar menoleh ke arah penulis itu. Cornellio berusaha duduk, sambil melihat sekujur tubuhnya yang berantakan. Tak ada luka bakar sedikit pun. Ini seperti keajaiban. Padahal beberapa saat lalu, ia merasa seperti akan mati. Kini, hampir mustahil ia bisa duduk sambil menghirup angin malam yang terasa sejuk.
“Dewa Kematian masih enggan menjemputmu. Kamu masih beruntung malam ini!” ujar Ammar.
“Kamu menyelamatkanku! Aku akan mati tanpamu!” Cornellio setengah terpekik.
“Aku sudah bilang padamu sebelumnya, bahwa aku akan lakukan apa pun untuk melindungimu, karena aku memertaruhkan segala reputasi pekerjaan dan nama baik. Kalau kamu mati terbakar di gudang itu, maka akan tamat riwayatku. Ide mendatangi undangan itu berasal dariku. Sudah seharusnya tak kubiarkan kamu mati terpanggang di dalam sana,” terang Ammar.
“Aku berhutang nyawa kepadamu!”
“Bayar saja nanti setelah aku benar-benar membekuk pelaku kekacauan ini. Sebab, bisa saja kamu beruntung malam ini, tetapi di hari selanjutnya mungkin tidak. Kamu belum benar-benar selamat, Cornellio. Pembunuh itu masih mengincar kita semua. Kusarankan padamu untuk tetap waspada, sampai aku benar-benar membekuk siapa pelakunya,” lanjut Ammar.
“Bagaimanapun, aku harus berterimakasih padamu, karena aku masih bernapas lebih lama. Tadi kukira aku akan mati terpanggang di dalam sana. Dadaku sesak, dan kaki seperti tertancap kuat. Aku tak bisa bergerak. Mulutku juga tersumbat. Untunglah, aku masih bisa melanjutkan hidup,” ujar Cornellio dengan girang.
“Jangan sia-siakan hidupmu, Cornellio! Satu berita gembira untukmu, kamu adalah orang pertama yang namanya kucoret dari daftar pelaku pembunuhan. Sedangkan aku belum yakin dengan yang lain. Kamu mau tahu siapa yang ada di daftarku?”
“Kamu ingin membaginya kepadaku?”
“Tentu. Semua yang ada dalam kastil masuk dalam daftarku, tentu dengan alasan berbeda-beda. Nanti akan kujelaskan lebih lanjut. Hanya Elina Agustin yang tidak masuk daftar, karena dia adalah pendatang setelah kekacauan ini terjadi. Tetapi aku sangat khawatir dia akan jadi korban berikutnya,” kata Ammar.
“Kuharap tak lama lagi kita akan bekuk pelaku itu!” geram Cornellio.
***