
Malam itu juga, Miranti menceritakan kronologis kejadian buruk yang menimpanya di hadapan teman-temannya, sambil menikmati makan malam. Semua mendengar dengan antusias penuturan gadis itu. Dalam hati, ada rasa cemas yang menyelimuti. Ternyata kekhawatiran yang pernah disampaikan Alex terbukti benar. Mungkin saja, rumah isolasi ini akan menjadi tempat pembantaian baru.
“Jadi siapa kira-kira pelakunya? Apakah salah seorang di antara kita?” tanya Adinda dengan nada cemas.
“Sudah pasti iya! Pelakunya saat ini pasti sedang berada di antara kita, pura-pura tak bersalah, dan menyusun strategi selanjutnya karena gagal membunuh Miranti. Tapi siapa itu?” Ferdy menanggapi.
“Kusarankan ketika tidur kalian mengunci pintu kamar, dan jangan keluar kamar apabila tidak ada urusan yang penting. Pembunuh itu bisa mengintai kapan saja!” sambung Rudi.
“Cukup! Kalian tidak perlu mencemaskan hal itu. Kami dari pihak kepolisian akan bekerja semaksimal mungkin menyelidiki kasus ini, dan menjamin keselamatan kalian. Ingat! Kalian di sini bukan untuk menjadi korban pembunuhan baru, tetapi kita di sini untuk mengungkap kasus ini. Keamanan sudah kami lengkapi jadi kalian tak perlu khawatir. Di setiap kamar ada tombol alarm yang bisa kalian tekan kapan saja. Alarm itu akan tersambung langsung dengan kamar saya, jadi kalau ada apa-apa kalian tinggal tekan tombol itu. Kami akan segera datang untuk membantu,” terang Reno.
Semua mengangguk. Walau sedikit lega, tetap saja mereka masih merasa cemas.
Seusai makan malam, semua memilih untuk berkumpul di ruang tamu untuk mengobrol dan diskusi. Sementara, Reno menemui Pak Paiman yagng sedang membantu Bu Mariyati membereskan sis makan malam di dapur.
“Baru hari pertama langsung ada kasus percobaan pembunuhan. Rupanya pembunuh itu benar-benar nekat dan hendak menantang kepolisian. Aku bersumpah akan membekuk si pelaku dengan tanganku sendiri!” geram Reno.
“Saya juga kaget, Pak. Ini benar-benar mengerikan, ternyata ada seorang pembunuh di antara anak-anak itu. Semoga saja pelakunya segera tertangkap, dan nggak ada yang terbunuh lagi,” ucap Pak Paiman.
“Oya, Pak. Saya mau mengecek CCTV sepanjang hari ini. Besok tugas saya akan digantikan oleh Dimas. Jadi malam ini saya akan berusaha semaksimal mungkin,” kata Reno.
“Silakan Pak!”
Reno bergegas menuju ke lantai dua, ke sebuah ruang yang memang dikhususkan untuk pusat keamanan. Di ruang itu, terdapat beberapa layar televisi yang sengaja dipasang untuk mengawasi seluruh CCTV di penjuru rumah. Ia hendak membuka pintu dengan kunci, tetapi mendadak ia merasa heran.
“Kok nggak terkunci?” gumamnya.
Rasa curiga langsung menyeruak. Ia menghambur masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa. Semua layar televisi dalam ruangan dalam keadaan mati, padahal harusnya ia menyala. Firasatnya mengatakan bahwa ada yang tak beres. Ia mencoba menyalakan layar, tetapi tak hidup.
“Pasti ada sabotase!”
Ia memeriksa kabel-kabel yang menghubungkan dengan layar. Benar dugaannya, semua kabel-kabel yang menghubungkan dengan layar terputus. Tentu saja, kabel-kabel putus bukan seperti digigit tikus, tetapi memang sengaja dipotong dengan gunting, karena bekas putusnya terlihat rapi.
“Astaga!”
Reno segera turun ke lantai satu untuk menemui Pak Paiman yang masih membantu mencuci alat-alat makan di dapur. Paras Reno berubah cemas, sehingga Pak Paiman menjadi heran.
“Ada apa, Pak?” tanya Pak Paiman.
“Pak! Siapa yang masuk ke ruang CCTV?” tanya Reno dengan gusar.
“Nggak ada sih, Pak. Setahu saya, ruang CCTV dalam keadaan terkunci. Tak ada yang berani ke sana selain Bapak,” ucap Pak Paiman takut-takut.
“Nggak, Pak. Ruang itu terbuka waktu saya masuk. Kuncinya mungkin telah dibobol atau bagaimana entahlah. Semua kabel akses CCTV dengan layar sudah dipotong. Jadi semua rekaman juga tak terdeteksi. Ini gila!” geram Reno.
“Waduh!”
Pak Paiman juga ikut gusar dengan penjelasan Reno. Ia mengehentikan aktivitas cuci piringnya, tetapi bingung harus membantu apa. Ia terdiam tak bisa berkata apa-apa.
“Itu artinya malam ini kita harus sedikit tidur, Pak. Bisa saja pelaku memanfaatkan kelengahan kita untuk beraksi. Saya mohon kesediaan Pak Paiman untuk berpatroli malam ini tiap satu jam, memeriksa sekeliling rumah dan juga kondisi di dalam rumah. Nanti saya juag tidak tidur dan terus memantau. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, segera hubungi saya Pak!” perintah Reno.
“Saya siap, Pak!”
***
Malam menyelimuti rumah isolasi berarsitektur Belanda itu. Semua penghuni tak bisa memejamkan mata dengan sempurna karena rasa takut yang berkecamuk. Mereka saling curiga, jangan-jangan si pelaku akan datang ke kamar mereka malam itu.
Dalam kamarnya, Miranti hanya bisa merebahkan diri di atas kasur yang kurang nyaman, tak seperti di rumahnya. Ia menatap langit-langit kamar yang diterangi lampu temaram. Peristiwa sore tadi benar-benar membuatnya sangat trauma. Ia sangat bersyukur karena bisa lolos dari kejaran pembunuh itu.
Tok ... tok ... tok!
Ia mendengar pintu kamarnya diketuk. Segera ia melirik ke arah jam tangannya. Waktu sudah merapat k pukul dua dini hari. Siapa yang mengetuk pintu selarut ini?
“Siapa?” tanya Miranti takut-takut.
Tak terdengar jawaban dari pengetuk pintu. Ia bertambah cemas, sehingga tak berniat membuka pintu.
Tok ... tok ... tok!
Kembali pintu terdengar diketuk kembali. Miranti kembali didera rasa cemas. Ia ingin menekan tombol alarm darurat, tetapi ia belum tahu siapa yang mengetuk pintu. Jangan-jangan ada salah satu temannya yang membutuhkan dirinya. Akhirnya, ia turun dari ranjang dengan tertatih.
Klik!
Ia membuka pintu kamar untuk melihat siapa yang mengetuk. Namun, ia terkejut karena tak ada seorang pun di luar. Ia makin cemas. Firasatnya langsung berubah buruk. Ia hendak menutup pintu, ketika tiba-tiba pintu didorong kuat dari arah luar!
Miranti yang kakinya sedang sakit terdorong ke belakang hingga terjatuh ke lantai. Ia melihat sosok hitam bertopeng kini berada di hadapannya. Ia tak dapat memastikan siapa yang bersembunyi di balik topeng itu.
“Tidak! Tol ...!” Miranti tercekat.
Sosok itu menarik kakinya, dan membekap mulut Miranti agar tak berteriak. Sekuat tenaga Miranti berusaha melepaskan diri dari cengkeraman sosok itu. Tangannya hendak menggapai tombol alarm yang dipasang dekat tempat tidur. Sayangnya, sosok misterius itu segera tahu apa yang ada di pikiran Miranti.
Sosok itu makin beringas menarik Miranti, kemudian menghempaskan tubuh Miranti di lantai. Gadis itu menangis ketakutan. Ia tidak mau mati malam itu. Sayangnya tangan si sosok yang memakai sarung tangan hitam segera mencengkeram leher Miranti dengan kuat.
Aa ... agh!
Cengkeraman kuat itu membuat Miranti kesulitan napas. Tangannya menggapai-gapai sesuatu yang bisa digunakan untuk melindungi diri, tetapi ia tak menemukan apapun. Air mata mulai mengalir di sudut mata. Ia teringat akan keluarganya. Tubuhnya menggelepar seperti ikan yang baru saja dikail. Napasnya mulai terhenti karena cengkeraman di leher semakin menguat.
Aak!
Sesaat kemudian, Miranti diam tak bergerak. Tubuhnya mulai lemas. Sosok itu menatap tubuh Miranti yang terdiam dengan tatapan puas. Kemudian ia berdiri dengan pongah hendak keluar kamar. Sebelum keluar, ia menatap sekeliling sampai benar-benar aman, kemudian menghilang ditelan kegelapan.
***