Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
150. Lolos


Babi hutan itu masih menatap Arland dengan tatapan penuh amarah, karena ketenangannya terusik. Arland makin waspada kalau-kalau binatang itu merangsak maju. Arland menyiapkan senjata. Benar saja, babi hutan itu tiba-tiba berlari ke arahnya. Dalam rasa panik, Arland segera menembakkan pistol ke arah babi hutan itu.


Dooorr!


Suara tembakan itu rupanya cukup efektif walau tidak mengenai sasaran. Babi hutan itu tiba-tiba berbalik arah, kabur ke dalam hutan, menghilang di antara semak-semak yang tumbuh rimbun.


Sementara suara tembakan itu juga mengagetkan Badi yang sedang menunggu di dekat jalan. Ia teringat pesan Arland, bahwa satu kali tembakan menandakan ia dalam bahaya. Segera saja Badi mengambil langkah cepat untuk menyusul Arland ke dalam hutan.


“Arland! Arland! Kamu nggak apa-apa?” teriak Badi.


Badi terus menyusur hutan dengan perasaan khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Arland. Padahal saat itu, Arland dalam keadaan baik-baik. Hanya saja merasa sedikit terkejut dengan kemunculan babi hutan secara tiba-tiba.


“Badi! Aku di sini! Aku baik-baik saja!” jawab Arland, begitu mendengar panggilan dari Badi.


Rupanya apa yang dilakukan Badi, menyusul Arland ke dalam hutan adalah suatu kesalahan fatal. Tak disangka, sejak tadi sosok misterius yang mereka kejar rupanya bersembunyi tak jauh dari jalan, di balik rerumpunan semak yang memang tebal, sehingga tak terlihat apabila tak diperhatikan dengan saksama.


Sosok itu segera keluar dari tempat persembunyian seraya tersenyum tersungging.


“Dasar bodoh!”


Ia melangkah hendak memasuki mobilnya, tetapi sebelum ia masuk, ia mendekati motor yang menguntitnya dari tadi. Sambil tersenyum licik ia sengaja mengempesi ban sepeda motor itu.


“Mampus kalian!”


Segera setelah terlaksana, ia bergegas masuk mobil bersiap kabur dari sana. Namun, rupanya Badi dan Arland telah sampai pula di tempat itu.


“Hei! Jangan kabur kau!” teriak Badi.


Mereka berdua segera menghampiri sepeda motor untuk mengejar mobil. Sayangnya, mereka sangat terkejut melihat kondisi ban motor yang kempes.


“Sial!” umpat Arland.


Penumpang mobil putih itu tertawa puas, saat melewati Badi dan Arland yang tak bisa berbuat apa-apa. Mobil itu segera melaju meninggalkan hutan menuju ke arah kota.


***


Vera, gadis penjaga apotek itu memelototi nota-nota penjualan yang berserakan di atas meja kerjanya. Ia melirik ke arah jam tangannya. Sudah nyaris pukul empat, tetapi Ferdy belum juga terlihat. Siang tadi, ia izin untuk makan siang, tetapi sampai menjelang sore ia belum terlihat.


Lima menit kemudian, Ferdy terlihat buru-buru masuk ke dalam apotek. Ia melihat sekilas ke arah Vera yang mulai kesal.


“Kamu kemana aja sih, Fer? Aku nungguin dari tadi nggak ada teman. Untung apotek pas sepi. Kalau banyak pelanggan aku kan kewalahan,” ucap Vera sedikit sewot.


“Aduh maaf Vera! Tadi aku habis makan siang sedianya mau beragkat ke apotek, tetapi apa daya motorku businya mati, jadi nggak bisa jalan. Aku harus dorong dulu ke bengkel untuk memperbaiki. Maklumlah, motor tua. Belum mampu untuk beli yang baru. Maaf ya Ver!”


Vera tak menjawab. Paras mukanya terlihat kesal. Setelah beberapa saat, ia menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Ferdy.


“Apa ini?” tanya Ferdy.


“Nggak tau juga sih. Tapi dari kop surat, sepertinya dari kepolisian,” jawab Vera.


“Kepolisian?”


Ferdy merasa penasaran dengan surat yang baru saja ia terima. Tanpa membuang waktu, ia segera membuka untuk mengetahui isinya. Rupanya surat itu adalah surat panggilan untuk isolasi yang ditujukan kepadanya. Ferdy membaca dengan saksama. Ia sadar, bahwa ia harus memenuhi panggilan itu, sebab kalau tidak maka polisi akan segera menetapkan sebagai tersangka pembunuhan Jenny dan Alma.


“Serius amat. Apa sih isinya?” tegur Vera.


“Isolasi? Di mana?”


“Entahlah. Polisi itu menyuruh kami berkumpul dulu di kantor polisi sebelum nanti berangkat bersama-sama menuju tempat isolasi itu. Aku harap sih tempatnya cukup menyenangkan. Kalau tempatnya nggak nyaman kan bikin nggak betah,” ucap Ferdy.


“Sampai berapa lama sih?” tanya Vera lagi.


“Nggak bisa dipastikan juga sih. Tentunya sampai pelaku dari pembunuhan berantai itu tertangkap,” jawab Ferdy.


Vera mengangguk, tak berniat bertanya lagi. Diam-diam, ia menaruh rasa suka pada rekan kerjanya itu. Sayangnya ia sempat kecewa karena pernah memergoki Ferdy sedang makan malam bersama Adinda. Di mata Vera, sosok Ferdy terlihat sempurna dan menawan. Selama ini pula, Ferdy yang menemani hari-harinya, karena mereka bekerja di apotek yang sama, dan kerap bertugas di jam yang sama.


Ferdy merapikan meja kerjanya, sambil meneguk teh manis yang ia buat sedari pagi tadi ketika seorang wanita muda memasuki apotek dengan senyum manis. Ferdy segera mengenali wanita muda itu. Siapa yang tidak kenal Gilda Anwar, reporter berita kriminal yang paling populer dari Channel-9? Hanya saja ia agak heran dengan kedatangan Gilda ke apoteknya. Rasa-rasanya tak mungkin ia berbelanja ke tempat ini. Pastinya ada tujuan tertentu.


“Ferdy? Tentu kamu kenal aku kan?” sapa Gilda sambil melempar senyum.


“Siapa yang tidak?” jawab Ferdy dengan nada dingin.


Kehadiran Gilda di apotek juga membuat Vera penasaran. Ia sering melihat wanita muda itu hanya di layar televisi. Tak disangka, kini reporter cantik itu berada di dalam apotek tempatnya bekerja. Ia segera mendekat.


“Wah, Mbak Gilda Anwar?” sapa Vera ramah.


“Iya saya Gilda Anwar, ada urusan sedikit dengan Ferdy,” ucap Gilda.


“Oh, silakan ... silakan!”


Vera kembali masuk untuk melaksanakan pekerjannya, tak berniat turut campur. Sementara Ferdy merasa canggung dengan kehadiran wanita itu. Ia pura-pura merapikan berkas-berkas di atas meja.


“Kamu sibuk, Fer?” tanya Gilda.


“Iya sih sebenernya. Ada apa ya?” tanya Ferdy yang merasa kurang nyaman dengan kehadiran Gilda.


“Oh, maaf. Mungkin aku datang di waktu kurang tepat. Jangan khawatir, aku nggak akan lama-lama di sini. Sebenarnya ada hal yang penting yang ingin kubicarakan denganmu,” ujar Gilda sambil melihat-lihat rak-rak obat yang berada di samping apotek.


“Masalah apa?” tanya Ferdy.


“Kronologis pembunuhan Jenny. Kalau kamu nggak keberatan. Kudengar, kamu ada di sana saat gadis itu tewas. Selama ini masyarakat merasa simpang-siur dengan fakta yang sebenarnya terjadi. Mungkin kamu bisa memberi klarifikasi,” kata Gilda.


“Tak ada yang perlu dibicarakan!” tolak Ferdy tegas.


“Masyarakat berhak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi, Fer. Menurut sumber terpercaya, kamu juga sudah memberikan pengakuan kepada polisi tentang kejadian sebenarnya. Mungkin dengan keteranganmu, akan membantu masyarakat untuk lebih wasapda.”


Ferdy terdiam sejenak mendengar perkataan Gilda.


“Bagaimana cara aku menyampaikannya?” tanya Ferdy.


“Kami mengundangmu malam ini untuk menjadi bintang tamu dalam acara bincang-bincang di televisi. Di sana kamu bisa menceritakan apa yang kamu tahu. Kemunculanmu di televisi akan menarik perhatian masyarakat, karena kamu tampan. Dan tentu saja kami tidak mengundangmu dengan gratis. Ada imbalan yang layak untukmu. Bagaimana? Kamu menerima tawaran ini?” tawar Gilda.


Ferdy sedang mempertimbangkan baik dan buruknya kalau ia tampil dalam acara yang dipandu oleh Gilda Anwar itu. Bukan hanya tertarik dengan imbalan yang ditawarkan, tetapi mungkin masyarakat memang harus tahu dengan kondisi sebenarnya. Ferdy menghela napas, sebelum akhirnya dia mengangguk.


“Baiklah, aku akan datang ke studio televisi nanti malam,” ucap Ferdy.


***