
Siang terik dengan panasnya yang menyengat penjuru bumi. Di tengah kesibukan kota, seorang perempuan muda berkacamata hitam memasuki sebuah cafe. Tingkah lakunya agak waspada dan mencurigakan. Ia melayangkan pandangan ke kanan dan ke kiri, seperti khawatir kalau-kalau ada yang membuntuti. Ia masuk ke cafe, menuju ke sebuah meja yang berada di area tengah. Cafe itu didesain dengan sedemikian rupa sehingga bagian tengah cafe menjadi ruang terbuka, dengan taman dan kolam sebagai eksteriornya.
Suasana cafe siang itu agak ramai, karena banyak orang hendak makan siang atau sekedar minum kopi. Cafe itu cukup populer, sehingga mudah ditemukan dan menjadi favorit warga kota. Wanita muda itu menuju ke sebuah meja yang sudah ditempati oleh wanita lain yang tak kalah cantik. Ia berpakaian resmi lengkap dengan blazer berwarna gelap. Rupanya ia sudah menunggu kehadiran si wanita muda yang baru datang itu.
"Apa aku terlambat?" Wanita muda itu langsung saja duduk di hadapan wanita yang sudah menunggunya.
"Tidak terlalu terlambat, Niken. Tetapi aku tidak punya banyak waktu karena aku harus segera bertugas, Ada beberapa peristiwa yang harus kuliput.Jadi mengapa kau menghubungiku? Setahuku kamu ini adalah polisi baru dan yaah ... namamu tidak terlalu keren dibanding Reno dan Dimas. Bahkan kurasa kau ini adalah polisi yang gagal melaksanakan tugas, cenderung bikin repot. tetapi ambisius," ucap Gilda sambil tersenyum sinis.
"Sudahi hinaanmu, Gilda. Kurasa kau tak terlalu mempunyai reputasi bagus juga. Kau adalah jurnalis yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan berita, bahkan dengan cara-cara kotor. Kau kira aku tak tahu saat kamu menyelinap di rumah isolasi dan kamu terpaksa dimasukkan dalam sumur tua gara-gara kelancanganmu dalam mencari berita? Bahkan Reno sempat memblokirmu kan?"
Gilda tertawa mendengar itu, seraya menggelengkan kepala. Ia merasa tak ada gunanya saling menjatuhkan. Keduanya mempunyai prestasi yang tak bisa dianggap bagus. Gilda merasa, kehadiran Niken mungkin ia bisa manfaatkan untuk mendapatkan berita. Dahulu, ia pernah mempunyai kenalan orang dalam, yaitu Fani, yang suka membocorkan rahasia-rahasia di kepolisian. Namun, karena Fani terbunuh oleh Ferdy, kini ia tengah mencari-cari siapa polisi yang bereputasi buruk, yang bisa diajak kerja sama untuk mencari berita-berita tersembunyi.
"Oke, kita sudahi saja semua kenangan-kenangan buruk itu. Jadi mengapa kamu berpikir untuk menghubungiku? Rasanya aneh seorang polisi menghubungiku, kecuali ada kasus penting," tanya Gilda.
"Jangan sok suci, Gilda. Bukankah kau sudah ahli dalam hal beginian? Aku ada berita yang mungkin akan sangat baik untukmu, bahkan akan menaikkan rating acara televisi," kata Niken.
Pembicaraan itu terhenti ketika seorang waiter datang dengan membawa daftar menu. Niken memilih segelas minuman dingin untuk menyejukkan kerongkongannya yang terasa kering. Rasa kesal masih meluap di dadanya, karena mendapat penolakan dari Ramdhan. Ia hanya ingin meluapka kekesalannya hari itu.
"Berita bagus seperti apa? Apakah kamu akan membagi berita itu kepadaku secara cuma-cuma?" tanya Gilda.
"Tidak ada yang cuma-cuma di dunia ini, Gilda. Pastinya kamu paham itu. Tapi kali ini aku sedikit berbaik hati padamu. Aku sama sekali tidak menginginkan uangmu, karena aku yakin kamu nggak akan sanggup membayarku. Aku tidak semurah polisi-polisi kenalanmu," kata Niken tersenyum penuh arti.
"Jadi apa yang kamu inginkan?"
"Aku hanya ingin kamu memberitakan berita yang kubawa ini, tanpa menyebutkan sumber berita itu. Aku ingin menggertak pihak kepolisian bahwa jangan sekali-sekali meremehkan Niken, karena aku bisa berbuat lebih dari ini. Kalau aku mau, aku bisa membongkar borok-borok di kepolisian. siapa-siapa saja polisi yang suka korup dan menerima suap, aku tahu semuanya, walau aku mengakui, aku bukanlah polisi yang baik juga. Namun, karena mereka berusaha menyingkirkanku, maka aku harus melakukan sesuatu," kata Niken.
"Oh, ini semacam balas dendam yang memanfaatkanku sebagai perantara?" tanya Gilda.
"Bukan. Ini adalah semacam kerja sama yang baik. Aku mendapat apa yang aku inginkan, dan kamu juga mendapatkan apa yang kamu inginkan. Bukankah itu bagus?"
"Sebagus apa itu, Niken?"
Niken mengeluarkan sebuah buku notes dengan sampul berwarna gelap dari dari dalam tas kecil yang ia bawa, kemudian menyerahkan kepada Gilda. Hal itu membuat Gilda mengernyitkan dahi. Ia tidak tahu apa gerangan yang berada di dalam buku notes itu.
"Apa ini?" tanya Gilda.
"Di dalam buku ini ada data-data tentang orang-orang yang saat ini tengah berada di kastil tua. Kamu tahu kasus pembunuhan kastil tua yang menghebohkan media beberapa waktu lalu? nah, sepertinya kasus itu kembali berulang, bahkan kali ini melibatkan istri dari Pak Ammar. Tentunya ini akan menjadi berita yang menarik bukan? Pihak kepolisian tentu tidak akan menduga kalau media akan bisa mengendus ini, walau mereka menutupi serapi mungkin. Ini akan menjadi pelajaran penting buat mereka!" ucap Niken.
Gilda mengambil buku notes itu, kemudian membuka-buka secara acak, sambil mempelajari isinya. Sesaat kemudian ia tersenyum, sambil melirik ke arah Niken.
"Nanti malam aku akan siarkan berita ini dalam program breaking news, setelah itu mari kita rayakan keberhasilan kita mengguncang kota ini," ucap Gilda dengan optimis.
***
"Sial! Susah sekali sinyal di daerah sini!" umpat Ramdhan.
Ramdhan terlalu serius mengamati ponsel, sehingga kadang mobilnya oleng ke kanan, dan hampir saja bertubrukan dengan mobil lain yang datang dari arah berlawanan. Padahal jalanan cukup berbahaya, dengan jurang di sisi jalan. Ramdhan menyadari itu, kemudian ia meletakkan ponsel dan kembali fokus ke arah jalan raya. Ia injak pedal rem, tetapi ia merasa seperti ada yang aneh, karena pedal rem terasa ringan, seolah tak berfungsi. Untuk mengurangi rasa tegang, ia memutar musik dari pemurat musik yang ada di mobil. Ia mempunyai beberapa koleksi CD yang ia simpan di dashboard. Ia menyetir sambil mengaduk-aduk isi dasboard.
"Aduh kemana sih?" gumamya.
Tiba-tiba, tangannya menyentuh sebuah bungkus rokok di dalam dashboard. Ia merasa heran, siapa yang merokok di dalam mobil ini? Ia memeriksa bungkus rokok itu, hanya itu tiggal sebatang rokok saja di dalamnya. Seingatnya, tak ada polisi yang merokok di kastil. Juned tak merokok, demikian juga Pak Ammar, Reno atau pun Dimas. Jadi siapa yang menaruh bungkus rokok di mobil?
Ia menduga bahwa rokok ini diletakkan saat mobil ini diparkir di halaman kastil, bukan saat mobil dibawa ke kota. Namun, ia masih penasaran siapa sebenarnya pemilik bungkus rokok ini?
Tiba-tiba ia menemukan secarik kertas di dalam bungkusan rokok, yang memang sengaja sudah disiapkan untk dibaca. Ramdhan semakin penasaran dengan isi tulisan itu. Dalam kondisi mobil masih berjalan, ia berusaha membaca tulisan yang di dalam kertas kecil itu.
"Selamat bagi siapa saja yang menemukan kertas ini! Saat kau baca tulisan ini, mungin sudah banyak korban berjatuhan. Dan mungkin kau adalah berikutnya! Kejadian-kejadian buruk akan kembali berulang dan memang harus terjadi. Dahulu, Ammar pernah terjatuh ke dalam jurang, dan mungkin kejadian sama akan berulang. Semoga kau segera sadar kalau mobil yang kau tumpangi ini, remnya tidak berfungsi. Semoga kau selamat sampai tujuan!"
"Astaga!"
Ramdhan segera menginjak pedal rem, ternyata memang benar. Pedal rem mobil itu seolah tak berfungsi. Pantas saja Ramdhan merasa aneh. Dalam kegugupan yang luar biasa, ia berusaha mengendalikan laju mobil yang menempuh jalur penuh bahaya!
***