
Sementara jauh di belakang sana, mobil yang ditumpangi Raymond dan Reno telah tiba di tempat kejadian. Mereka segera memarkir kendaraan di tepi lereng tempat jatuhnya mobil Ferdy.
“Mobil mereka meluncur ke bawah! Ayo kita cari!” perintah Reno.
Reno dan Raymond keluar dari dalam mobil, hendak turun menyusuri lereng. Kali ini masing-masing membawa pistol.
“Nayya, kau tunggu sini saja!” perintah Raymond.
“Tidak! Aku mau ikut!” ucap Nayya.
Raymond tak dapat mencegah. Ketiganya segera berlari menuruni lereng, memburu mobil yang baru saja meluncur turun, menerobos banyak semak yang tumbuh di sekitar lereng. Mereka melihat bekas-bekas semak yang roboh tertabrak mobil. Tak lama, dua ratus meter di hadapan mereka, mobil yang ditumpangi Ferdy tampak menabrak sebuah pohon besar, dan mobil dalam keadaan miring mengeluarkan asap. Mereka belum bisa memastikan keadaan penumpang di dalamnya.
Namun, tiba-tiba mereka melihat sosok Ferdy yang merangkak dari dalam mobil. Keningnya berdarah dan terlihat bekas-bekas lecet di tubuhnya. Sementara mereka juga melihat Adinda dalam keadaan tak sadarkan diri di dalam mobil.
“Kalian tolong Adinda. Biar aku yang tangani dia!” ucap Reno.
Raymond sadar bahwa nyawa seseorang harus segera diselamatkan. Ia bertindak sigap, berusaha mengeluarkan Adinda dari dalam mobil, dibantu oleh Nayya. Adinda, masih bernapas, walau tak sadarkan diri. Raymond membawanya di rerumputan di sekitar tempat itu, sementara Nayya menjaga dan memberinya air dalam botol.
Reno menodongkan senjata ke arah Ferdy.
“Kamu nggak bisa kemana-mana, Ferdy! Lebih baik kamu menyerah dan jangan bertindak bodoh. Kamu didakwa atas lima pembunuhan dan beberapa kali percobaan pembunuhan. Angkat kedua tanganmu!”
Reno memerintah sambil terus mengacungkan senjata. Ferdy perlahan bangkit, tetapi tidak mengangkat kedua tangannya. Ia melihat tajam ke arah Reno. Sepertinya ia tak mau menyerah begitu saja, walau keadaan tubuhnya penuh luka. Ia masih menatap dengan penuh amarah sambil mengusap darah yang mengalir di dekat bibirnya.
“Aku tidak akan menyerah begitu saja!” desisnya.
Door! Door!
“Jangaaann!” terdengar sayup-sayup suara Adinda berteriak.
Dua buah letusan tiba-tiba terdengar. Dua butir timah panas melesat menembus dada Ferdy. Pria pembunuh itu tak menyadari. Ia segera roboh ke tanah, tak bergerak.
Reno terkejut, karena ia merasa tak menarik pelatuk senjatanya. Ia segera menoleh ke arah Raymond. Pria berwajah sangar itu melempar senjatanya ke tanah.
“Maaf ... aku harus habisi dia. Apa yang dilakukan terhadap Tari benar-benar tak bisa dimaafkan. Kalian bisa tangkap aku, kalau memang yang kulakukan salah!” ucap Raymod sambil mengangkat kedua tangannya.
Reno terdiam. Ia tak menyangka kalau Raymond akan menembak Ferdy. Ia hanya menggeleng sambil bergumam,”Aku akan buat laporan bahwa aku terpaksa menembak Ferdy karena melawan. Aku tidak akan menangkapmu!”
Adinda menangis terisak, bagaimanapun ia telah menaruh hati pada pria itu sejak pertama kali bertemu. Sayangnya apa yang diharapkannya hanya sia-sia belaka. Ia hanya bisa mencucurkan mata melihat jasad pria itu tak bergerak. Nayya hanya bisa menundukkan kepala. Sejujurnya, ia juga sangat bersedih atas kematian Ferdy.
"Aku akan memastikan bahwa dia benar-benar sudah mati," ucap Raymond.
Ia mendekati tubuh Ferdy yang tergeletak. Namun, belum sampai mendekat, tubuh Ferdy tiba-tiba bangkit, menerjang Raymond. Dalam posisi tak siap, Raymond bergumul melawan Ferdy yang kesetanan.
Door!
Satu letusan di kepala belakang Ferdy mengakhiri hidup pria itu untuk selamanya. Reno terpaksa menembaknya, karena Ferdy masih membahayakan.
"Game over!" gumam Raymond.
***
Berita penangkapan Ferdy sontak menjadi berita viral di berbagai media. Warga kota bersyukur, karena sosok pembunuh yang menghantui warga kini telah mati. Semua membicarakan kejadian yang dramatis dan tragis itu.
Di sebuah kamar rumah sakit, Rudi melihat berita berakhirnya kasus pembunuhan itu dari layar televisi dengan antusias. Ia ditemani Rasty, Lena, Gerry, dan Alex yang datang menjenguk. Rudi terlihat sehat, walau masih sedikit lemah. Selang infus masih tertancap di lengannya.
“Syukurlah, mimpi buruk ini telah berakhir,” bisik Rudi.
“Kita bersyukur, karena semua rahasia terbongkar,” gumam Rasty.
“Maaf untuk .... “
“Untuk semua yang pernah kulakukan padamu,” kata Rudy lemah.
Rasty hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia melupakan semua yang telah terjadi, dan tentu saja ia memaafkan Rudi
Di kamar rumah sakit yang lain, Gilda tampak gusar karena dirinya masih terbaring tak berdaya. Ia tak sabar ingin pergi dari sana, karena ingin ikut terlibat dalam peliputan berita yang menggemparkan itu.
“Sial! Aku kehilangan berita penting ini!” umpat Gilda sambil bergerak-gerak, tetapi tak bisa karena infus yang melekat di tangannya.
“Jangan khawatir, Mbak. Aku sudah merekam beberapa kejadian di dalam rumah itu sebelum Ferdy kabur. Ini akan tetap menjadi berita ekslusif yang tak dimiliki stasiun TV lain. Percayalah! Mbak Gilda akan tetap jadi nomor satu!” hibur Wandi.
Gilda sedikit lebih tenang. Ia hanya menghela napas dalam.
Sementara di kamar berikutnya, ada Badi yang sudah bersiap pulang, karena kondisinya sudah dinyatakan sehat. Raymond dan Arland menjemputnya, untuk mengurus segala keperluannya. Dan tentu saja ada Nayya di sana. Gadis itu mencemaskan keadaan Badi.
“Nayya?”
Badi seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia tak menyangka gadis itu akan datang menemuinya. Nayya mengangguk dan tersenyum melihat Badi.
“Abang sehat?” tanya Nayya.
“Aku akan sehat untukmu,” bisik badi nyaris tak terdengar.
Nayya hanya tersenyum. Mereka segera membantu Badi untuk meninggalkan rumah sakit itu.
Di bagian lain kota, Reno dan Dimas kembali disambut meriah oleh teman-temannya. Usaha mereka dalam mengungkap pelaku pembunuhan berantai itu telah membuahkan hasil. Bahkan mereka harus mendapat banyak undangan wawancara dari sejumlah stasiun TV.
Reno disambut pula pelukan hangat dari Silvia, sang istri yang lama menghilang.
“Salamat, Sayang,” bisik Silvia.
“Terima kasih, Silvia!”
“Mau merayakannya malam ini?”
“Tentu, mari kita rayakan malam ini,” ucap Reno.
Malam kembali menyelimuti kota. Denyut aktivitas warganya kembali berjalan normal.
Di terminal bus antar kota, seorang gadis tampak membawa tas besar menaiki sebuah bus jurusan antar provinsi. Sepertinya ia hendak meninggalkan kota itu dalam jangka waktu lama. Sebelum naik ke dalam bus, ia mengeluarkan sebuah foto. Sesaat ia memandainginya, kemudian merobek foto itu dengan sedih.
“Selamat tinggal, Ferdy! Aku akan melupakan kenangangmu bersama kota ini!” bisiknya.
Gadis itu adalah Vera, ia sudah membulatkan tekad, akan meninggalkan kota itu. Walau banyak kenangan yang ia lalui bersama Ferdy, ia harus segera menghapusnya, melangkah menuju hidup baru.
Semua kisah manusia berjalan dengan cerita berbeda. Kisah yang lalu terangkum dalam sebuah buku, dan lembar baru mulai dibuka, dengan kisah-kisah baru.
***
Notes : Terima kasih pada teman-teman semua yang sudah mengikuti novel sampai sejauh ini. Aku sadar bahwa tulisan ini sangat jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran membangun sangat dibutuhkan untuk kebaikan di masa depan. Semoga aku masih bisa berkarya ya!
Selanjutnya jangan kemana-mana, karena novel ini akan tetap berlanjut dengan kasus baru. Silakan tetap menyimak ya!
***