
Ramdhani Darusman, walaupun namanya tak setenar Reno Atmaja atau Dimas, ia merupakan polisi yang dikenal berani dan loyal. Ia memang belum pernah memecahkan kasus secara langsung, karena memang belum mendapat kesempatan untuk itu. Namun, kali ini ia dipercaya untuk membantu Reno dan Dimas dalam menangani kasus pembunuhan reuni berdarah di kastil tua. Hal itu merupakan kebanggan untuk Ramdhan, karena ia sangat menantikan kesempatan ini. Ia merasa, bahwa insting dan ketrampilannya akan terasah dengan baik, dengan banyak memecahkan kasus-kasus.
Selama ini ia selalu berharap untuk bisa dilibatkan dalam kasus-kasus besar, bersama polisi hebat seperti Ammar Marutami atau Reno Atmaja. Biasanya ia hanya menangani kasus-kasus skala kecil, tentunya kesempatan untuk turut serta dalam kasus besar adalah hal yang sangat diharapkannya.
Kali ini, ia sedang membawa potongan kepala Farrel ke bagian forensik kepolisian, untuk selanjutnya diinvestigasi. Sengaja ia menghindar dari keramaian, agar berita mengenai potongan kepala itu tidak tercium oleh publik, terutama para jurnalis. Kadang berita televisi membuatnya merasa jengah, karena pemberitaan yang disampaikan terkadang menyimpang dari fakta. Penemuan kepala Farrel itu memang sangat mengejutkan pihak kepolisian, dan mereka sepakat untuk menutup rapat berita ini, sampai terkuak tabir yang menyelimuti kasus ini.
Sesuai dengan arahan Ammar, ia tidak diperkenankan membicarakan kasus ini kepada siapa pun yang tidak berkompeten, bahkan pada polisi lain. Ammar tidak mau gegabah, karena bocornya kasus kastil tua mungkin akan berakibat buruk. Ramdhan memegang teguh perintah itu.
Setelah urusan dengan bagian forensik selesai, Ramdhan bersiap kembali lagi ke kastil, karena ia sadar bahwa di sana masih banyak yang harus dituntaskan. Ramdhan sadar, bahwa semua ini hanyalah awal, sebab si pembunuh berdarah dingin masih berkeliaran bebas, mengincar siapa pun yang dia mau. Ia tak mau berlama-lama di kota, walaupun hasratnya untuk minum kopi espresso di cafe langganannya semakin menguat. Ia punya tangung jawab besar yang harus ia emban.
"Jadi kamu mau kembali hari ini juga?" tanya Niken sambil duduk di sampingnya, ketika polisi itu sedang membetulkan tali sepatunya di sofa lobby kepolisian.
Ramdhan menoleh ke arah Niken, polisi wanita yang tampak cantik pagi itu. Ia tidak begitu mengenal Niken, karena Niken memang masih tergolong baru bergabung di kepolisian. Namun, nama Niken cukup terkenal setelah sering terlibat di berbagai kasus penting. Bahkan nama Niken sering disebut-sebut saat ia disekap di sebuah rumah kosong di komplek elit, di depan rumah artis yang terbunuh, Renita Martin.
"Oh, iya Mbak," jawab Ramdhan pendek, tanpa begitu mempedulikan kehadiran Niken.
"Sampaikan salamku pada Dimas. Aku tahu dia sedang menginvestigasi kasus penting di kastil itu. Mungkin beberapa hari ini aku akan menyusul ke sana, karena aku sudah mengajukan diri untuk turut serta menangani kasus itu. Pihak kepolisian tengah meninjau ulang pengajuan diriku, dan aku harap bisa segera menyusul ke kastil itu," ucap Niken.
"Oh, baguslah!"
Ramdhan hanya tersenyum kecil, tanpa berniat memberikan komentar lebih jauh. Ia memang agak terburu-buru pagi itu, karena ia tahu bahwa kondisi kastil yang rentan. Ia sadar, bahwa kehadirannya sangat dinantikan, karena personel keamanan yang bertugas di sana sangat terbatas.
"Oya, aku mempunyai beberapa informasi penting terkait siapa-siapa yang berada di kastil itu. Beberapa hari ini aku mencari-cari data tentang itu, dan aku sudah mengumpulkan beberapa fakta. Kalau kamu mau, kita bisa bicarakan ini sambil minum kopi dan .... "
"Maaf, Mbak ... maksudku, maaf Bu. Saya sedang terburu-buru hari ini, dan Pak Ammar melarang membicarakan kasus ini kepada siapa pun, kecuali pihak-pihak yang berkompeten. Kami khawatir kasus ini akan menjadi konsumsi publik, dan akan meluas bagai bola liar. Jadi kalau memang ibu punya informasi itu, silakan menghubungi langsung Pak Ammar, karena beliau yang memimpin pemecahan kasus ini," tolak Ramdhan.
"Astaga! Aku ini juga polisi, dan pangkatku jauh lebih tinggi daripada kamu! Bagaimana mungkin kamu menyangsikan dan tidak percaya padaku! Kamu seharusnya bisa lebih sopan dengan aku!"
Niken mulai meluap, tetapi Ramdhan berusaha untuk tidak terpancing, karena ia memang merasa tidak bersalah. Ia tetap menyibukkan diri dengan tali sepatunya, tanpa peduli dengan ekspresi wajah Niken yang mulai geram.
"Maaf, Bu. Saya menghormati Ibu kok, Tetapi mohon maaf sekali lagi, saya hanya melaksaknakan perintah!" ucap Ramdhan tegas.
"Aku bisa saja laporkan tindakanmu ini! Tapi kali ini kumaafkan. Kamu janga sombong mentang-mentang dekat dengan Pak Ammar! Oke lah pergi saja dirimu! Biar aku urus ini sendiri!"
Niken tampak kesal, kemudian berdiri dan berlalu meninggalkan Ramdhan yang sedang memberi hormat dengan menundukan kepala dengan sopan. Niken merasa tersinggung karena tawarannya ditolak begitu saja oleh Ramdhan, seorang opsir polisi yang posisi jabatannya di bawah. Dalam rasa gusarnya, Niken mengambil ponsel dan menelepon.
"Tolong sambungkan saya dengan Channel-9. Saya ingin bicara dengan Gilda Anwar!"
***
Mariah merasa ragu-ragu, hendak naik ke loteng. Ia melihat tingkap yang sengaja dirusak itu. Ia berpikir, mungkin ada seseorang yang berada di atas sana, karena masih terdengar suara berisik seperti suara kardus-kardus yang dipindahkan. Rasa ingin tahunya, memaksa Mariah untuk menaiki anak tangga menuju loteng. Sebelum naik ke atas loteng, Mariah mempersenjatai diri dengan sebilah pisau dapur yang tajam, kalau-kalau ada hal yang tak diinginkan di sana.
Ia melangkah menaiki anak tangga dengan hati-hati. Setelah sampai di anak tangga paling atas, Mariah melongokkan kepala ke dalam loteng yang gelap dan berdebu, berusaha mencari sumber suara. Karena agak gelap, ia tak bisa melihat apa pun di sana, kecuali bayangan hitam yang bergerak di kegelapan. Mariah agak was-was, tetapi tetap waspada.
"Siapa di situ?" tanya Mariah.
Dari kegelapan, tiba-tiba muncul seorang wanita lain yang tampak kotor, bajunya tertempel debu dan sarang laba-laba. Ia membawa sebuah senter kecil, tetapi dalam keadaan mati.
"Lily? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Mariah.
"Aku ... aku tadi lewat dari dapur menuju halaman belakang, dan mendapati tingkap yang rusak, terus juga suara-suara berisik dari atas loteng. Makanya aku naik untuk mengecek ke atas," ucap Lily.
"Kastil ini cukup berbahaya, Lily. Harusnya kamu mencari teman, jangan sendirian! Apalagi di tempat yang sepi seperti ini. Cepat turun!" perintah Mariah.
Tiba-tiba suara berisik datang lagi dari arah kardus-kardus yang ditumpuk di loteng. Kali ini mereka berdua mendengar dengan jelas suara seperti orang dengan mulut terbekap.
"Kamu denger nggak?" tanya Lily.
"Ya, seperti suara seseorang .... "
"Mari kita periksa!"
Mariah dan Lily segera masuk kembali ke dalam loteng, memerksa setiap kardus yang bertumpuk di situ. Lily berusaha menyalakan senternya yang dari tadi mati. Ia harus mengetuk-ketukan beberapa kali, agar senter menyala.
"Sial banget nih senter!" umpat Lily.
Setelah senter menyala, mereka menerangi arah kardus-kardus yang bertumpuk-tumpuk. Mariah terkejut melihat sesosok wanita muda nyaris telanjang, diikat kaki dan tangannya, serta mulut dibekap dengan lakban hitam. Bahkan mata wanita muda itu juga ditutup dengan kain, agar tak bisa melihat sekitar.
"Rosita?" ucap Mariah tertahan.
"Aku ... aku akan cari bantuan," ucap Lily.
Lily segera turun dari loteng, sementara Mariah berusaha menolong Rosita dari ikatan-ikatan di tangan dan kakinya. Ia juga melepas lakban di mulut dan ikatan kain di mata. Tampak sekali Rosita sangat ketakutan dan menangis. Mariah mencari selimut usang yang berserak di lantai loteng, kemudian menutupi tubuh Rosita yang hanya berbalut bra dan ****** *****. Parasnya pucat karena takut.
"Dia ... dia mati. Dia mati," ucap Rosita dengan terbata-bata karena takut.
"Sudahlah Ros! Nanti saja kamu jelaskan apa yang kamu lihat! Sekarang mari kita tunggu bantuan. Kamu aman dan nggak usah takut lagi!" ucap Mariah sambil memeluk Rosita.
***