
Ammar membuka mata perlahan. Kepalanya terasa pening karena benturan. Rasa nyeri mencengkeram kaki. Ia khawatir ada tulang yang patah. Kondisi di sekeliling sangat gelap, nyaris tak ada cahaya, kecuali lampu mobil yang masih menyala. Ammar masih meringkuk di jok kursi depan. Tubuhnya terasa lemas, nyaris tak bisa bergerak. Ia ingin berteriak minta tolong, tetapi di malam buta seperti ini siapa yang bisa menolong?
Ammar hanya berharap suatu keajaiban, agar ia tak berakhir membusuk di dalam mobil.
Jauh puluhan meter di atas sana, terdapat jalan raya. Untuk kembali ke jalan raya bukanlah perkara mudah, karena medan yang ditempuh cukup sulit. Dinding tebing terlihat agak curam dan licin, banyak ditumbuhi lumut dan tumbuhan bersulur-sulur. Ammar hanya bisa pasrah. Suasana hening, hanya terdengar suara serangga malam. Ammar merasa kecut. Dicobanya untuk menggerakan kaki, tetapi tak bisa. Seperti terhimpit.
Kondisi mobil dalam keadaan terbalik, sehingga semakin menyusahkan pergerakan. Untungnya, tangan masih bisa digerakkan, sehingga ia masih bisa melepas sabuk pengaman. Ia meraba bagian pelipis, terdapat cairan merah di sana. Pantas saja terasa pening, karena darah menetes. Setelah sabuk pengaman terlepas, ia membuka handle pintu mobil. Dengan sekuat tenaga ia mengumpulkan kekuatan, agar bisa lolos dari dalam mobil.
Kini ia mengandalkan kekuatan pada badan dan tangannya. Ia medorong tubuhnya ke samping, agar bisa keluar. Kakinya terasa nyeri, sekuat tenaga ia tahan. Ia menduga mengalami patah tulang di bagian kaki. Perlahan, ia beringsut keluar menggunakan kekuatan punggungnya. Tangannya berusaha menumpu, memusatkan kekuatan di sana. Tak dipedulikan lagi rasa nyeri di sekujur tubuh.
Cuaca dingin menyergap kulit. Ammar masih berusaha sekuat tenaga agar bisa terbebas dari dalam mobil. Dalam perjalanan karirnya, baru sekali ini ia merasa seperti seorang pecundang. Awalnya, ia merasa dipecundangi saat terkurung di gudang, dan dibakar hidup-hidup. Kali ini ia menghadapi lawan yang benar-benar ulet. Sayangnya, ia masih merasa bingung untk meraba-raba kekuatan lawan. Hal ini juga tak didukung oleh keadaan. Dalam kondisi terpencil, sulit untuk mengakses data. Yang dapat ia lakukan hanya mengandalkan insting.
Setelah bersusah payah, ia berhasil keluar mobil. Ia terbaring di rerumputan basah, menatap angkasa yang terhampar gelap. Napasnya terengah-engah. Bagaimanapun ia harus menyelesaikan kasus ini, tak boleh menyerah begitu saja. Ia berusaha beringsut menjauh dari mobil, menuju serumpun semak agar lebih aman. Sepertinya memang tak ada kehidupan manusia di sekitar sini.
Beberapa lama, ia mencoba untuk duduk. Kakinya masih terasa nyeri. Ia berusaha bersandar pada sebuah pohon perdu. Tubuhnya terasa bagai dibelenggu rantai-rantai baja. Terbersit di pikirannya wajah Mariah yang jelita. Ia khawatir akan berakhir mengenaskan di tempat itu. Perutnya tiba-tiba merasa lapar, namun tak ditemukan apa pun yang bisa digunakan untuk mengganjal perut.
Aku tidak boleh mati! Aku harus tetap hidup demi dia! Ucap Ammar dalam hati.
Malam berlalu dengan sangat lambat. Udara dingin masih menggigit kulit, belum lagi suara serombongan nyamuk yang bedengung-dengung bagai tentara perang yang menyerang dari berbagai penjuru. Ammar hanya bisa pasrah. Ia berharap agar pagi lebih cepat menyapa bumi. Kesepian begitu meraja, hampir memusnahkan akal sehatnya.
Tiba-tiba ia mendengar suara gemerisik dari balik semak. Seekor ular besar merayap mendekati kakinya. Ammar menahan napas, agar tak membuat gerakan mendadak. Beberapa saat kemudian , ia merasakan ular besar itu merayap melewati bagian kaki. Warnanya mengkilat kecoklatan, dengan gerakan yang lamban. Suara desisannya membuat bulu kuduk merinding. Ukurannya cukup besar, seperti yang pernah ia lihat di saluran Nat Geo Wild.
Lebih baik kau pergi. Tak ada untungnya ia bersembunyi di kakiku! Gumamnya dalam hati.
***
Di sebuah kantor polisi yang sudah mulai sepi, Detektif Reno Atmaja sedang menelepon di dalam ruang kerjanya dengan paras serius. Sepasang kaki ia naikkan begitu saja di atas meja. Wajahnya terlihat gusar, bahkan seperti marah. Sejenak kemudian, ia banting telepon kantor itu dengan kasar, sehingga mengagetkan Dimas, rekannya yang kebetulan berada di situ.
“Aku baru saja menelepon pengelola apartemen tempat di mana penulis itu terbunuh. Jawabannya benar-benar membuat aku geram. Bagaimana mungkin apartemen sebesar itu mengatakan bahwa sistem CCTV tidak berjalan normal, sehingga tidak bisa melacak tamu yang keluar masuk apartemen? Ingin rasanya kutuntut dan kuseret ke pengadilan karena telah bertindak lalai!” geram Reno.
Dimas menutup arsip-arsipnya. Kemudian menatap Reno Atmaja dengan senyum tersungging.
“Kamu mau aku yang menangani kasus itu atau bagaimana? Bulan kemarin, aku menangani kasus terbunuhnya pemilik toko emas di kawasan Pecinan. Cukup pelik, karena baru tiga bulan kemudian aku menyadari kalau pembunuhan itu dilatar belakangi persaingan dagang. Pelakunya adalah pemilik toko emas lain yang berada tepat di samping pemilik toko emas yang terbunuh. Lalu aku berpikir, dunia ini penuh dengan kepelikan. Jadi, tanpa ada CCTV bukan akhir segalanya untuk melacak pelaku pembunuhan brutal itu,” ucap Dimas.
“Aku belum menemukan petunjuk apa pun, Dimas! Kasus ini benar-benar membuatku gila, sedangkan keberadaan Ammar Marutami tak jelas. Liburan kemana bersama istrinya? Mengapa ia tak mengungkapkan lokasi liburannya?” keluh Reno Atmaja.
“Memangnya dirimu siapa? Ammar tak perlu melapor kepadamu, kemana pun dia pergi. Itu privasi dia. Aku yakin, setelah muncul dia pasti membawa kasus kejahatan baru. Jadi tak perlu risau tentang itu. Bagaimana kalau kita ke kediamannya? Mungkin kita bisa bertanya pada seseorang di sana? Mungkin itu akan membuatmu lebih tenang,” usul Dimas.
“Oke. Besok pagi kita mendatangi kediaman Ammar. Sungguh malas aku mengurusi kasus tak jelas seperti ini. Hampir dua jam anak buahku menyusur apartemen, bahkan kukerahkan anjing pelacak, tetapi tak kutemukan petunjuk apa pun. Bahkan ponsel si penulis itu menghilang. Padahal aku ingin mengetahui siapa saja yang dihubunginya selama 24 jam terakhir!” ungkap Reno.
“Bagaimana besok setelah kita dari kediaman Ammar, kita selidiki sekali lagi kamar apartemen itu? Aku tak percaya dengan para opsir anak buahmu! Mereka kadang tidak serius dalam bekerja, sehingga melupakan hal-hal kecil yang perlu dicatat. Ingat, jangan remehkan insting pribadimu. Sudah selayaknya kau tidak sembarangan memberi perintah. Kamu harus terjun langsung dan memeriksa sendiri.”
“Kamu benar. Saat itu aku benar-benar buntu karena banyak permasalahan pribadi yang harus kuselesaikan, sehingga aku tidak sempat memeriksa sendiri bagian dalam apartemen. Besok kita sisir ulang tempat itu!” Reno Atmaja menghela napas.
“Masalah pribadi? Apakah ini ada hubungannya pernikahanmu dengan Silvia?” tanya Dimas.
“Aku tak mau bahas ini dulu, Dimas! Maukah kamu menemani aku minum kopi malam ini? Otakku terasa berputar. Mungkin segelas kopi dapat meredakan sakit kepala ini!”
“Baik. Lupakan sejenak masalah pribadimu. Aku tahu tempat dimana menjual kopi yang enak!”
***