
Mariah memasuki kantor polisi yang mulai lengang sore itu. Beberapa polisi sudah meninggalkan kantor, kembali ke rumah masing-masing. Mariah menyusur lorong, mencari ruangan Reno. Lama sekali ia tidak berkunjung ke kantor polisi, semenjak sang suami mengalami cedera kaki. Ia mencari-cari di mana kantor Reno berada, karena sepertinya kantor polisi ini banyak mengalami renovasi.
Seorang polisi wanita berwajah manis rupanya melihat kebingungan Mariah. Ia segera menghampiri untuk menawarkan bantuan kepadanya.
"Maaf Bu, ada yang bisa kami bantu?" tanya polisi wanita itu dengan nada ramah.
"Saya mencari ruangan Pak Reno," jawab Mariah.
Mariah mengernyitkan dahi. Ia tidak pernah melihat polisi wanita ini sebelumnya. Hampir semua personel kepolisian kenal dengan Mariah, jadi wajar saja kalau ia merasa heran dengan kehadiran polisi itu.
"Oh, Pak Reno baru saja pulang. Maaf. ada perlu ada apa ya? Biar nanti saya sampaikan?" ujar polisi wanita itu.
Mariah agak ragu. Ammar berpesan agar menyampaikan kejadian kastil hanya pada Reno atau Dimas, bukan kepada yang lain. Ia ingin menyampaikan pesan itu, tetapi urungkan niatnya ketika melihat Dimas yang sedang keluar dari sebuah ruangan. Rupanya polisi muda itu juga bersiap hendak pulang.
"Oh, maaf. Saya bicara saja dengan Pak Dimas," ucap Mariah.
Mariah segera meninggalkan polisi wanita yang tak lain adalah Niken. Dimas tampak terkejut melihat kehadiran Mariah yang terlihat tergesa. Ia berpikir, mungkin ada sesuatu yang terjadi, karena memang Mariah jarang ke kantor polisi kalau tidak ada urusan penting.
"Mariah?" sapa Dimas.
"Ada yang penting yang harus kita bicarakan. Tapi aku tak mau di sini," ucap Mariah cepat.
Mereka kemudian sepakat untuk berbicara di dalam ruangan Dimas. Sementara, Niken merasa penasaran dengan mereka berdua, karena seolah ada sesuatu yang disembunyikan. Ia berjalan mendekati kantor Dimas yang tertutup, berusaha mencuri dengar pembicaraan antara Dimas dan Mariah.
"Sepertinya serius sekali, Mariah. Ada apa?"
Dimas mempersilakan Mariah duduk. Wanita itu menghela napas, kemudian mulai berbicara. Parasnya tampak sedikit gugup dan panik. Ia menoleh ke samping kiri dan kanan, memastikan bahwa suasana sekitar aman.
"Situasinya gawat, Dimas. Sebenarnya aku ingin bicarakan dengan Reno, tetapi dia keburu pulang. Jadi kupikir, lebih baik kubicarakan saja denganmu," ucap Mariah.
"Tunggu! Apa Ammar sedang menangani sebuah kasus atau bagaimana?"
"Awalnya tidak, Dimas. Namun, sesuatu yang buruk telah terjadi di kastil. Aku dan teman-teman SMA sedang mengadakan reuni di kastil, tetapi baru beberapa jam rombongan tiba, telah terjadi suatu peristiwa. Salah seorang teman kami tewas terbunuh di toilet kolam renang. Dan Ammar menyuruhku untuk merahasiakan hal ini, hanya pihak kepolisian saja yang boleh tahu, agar tidak memancing media dan publik untuk berdatangan. Ammar juga meminta untuk mengirim tim penyelidik, tetapi hanya kamu dan Reno saja, serta tim medis untuk evakuasi. Kumohon, kamu harus bertindak segera, Dimas. Suamiku sedang berada di kastil sendirian bersama si pembunuh yang masih berkeliaran bebas. Aku khawatir terjadi sesuatu. Aku harus segera kembali ke kastil!"
Mariah berkata dengan cepat, karena ia teringat kondisi sang suami yang berada sendirian di kastil. Dimas berusaha tenang dan tidak panik. Ia mendengar cerita dari Mariah dengan antusias.
"Ada berapa orang yang ada di kastil itu sekarang? Biar nanti akan kami kirim tim perlindungan bila perlu!"
" Awalnya ada 11 orang yang hadir di dalam reuni itu, tetapi belum termasuk aku dan Ammar. Sekarang, karena satu telah meningal, maka tinggal 12 orang yang tersisa. Mereka kebanyakan adalah pasangan suami istri, tapi ada juga yang bukan pasangan," lanjut Mariah.
"Baik, Mariah. Hari ini juga aku akan hubungi Reno dan kami akan segera bergerak ke kastil. Kamu nggak usah panik, dan aku yakin, Ammar bisa melakukan hal-hal preventif terlebih dahulu, sambil menunggu kedatangan kami. Kusarankan kamu segera kembali dan ditemani dua orang polisi untuk kembali ke kastil. Aku akan minta kepolisian membuat surat tugas untuk penyelidikan ke kastil!" ucap Dimas.
Tiba-tiba pintu ruangan Dimas terbuka. Seorang polisi wanita berwajah manis masuk dan menatap mereka dengan tersenyum.
"Biar aku membantu kalian! Aku siap ditugaskan untuk menyelidik kasus kastil tua. Sudah lama aku penasaran dengan kastil itu. Tolong ya Dimas, rekomendasikan namaku untuk bertugas di kastil itu," pinta polisi wanita itu.
"Niken? Kamu menguping pembicaraan kami?" tanya Dimas.
"Aku tak sengaja saja mendengar obrolan kalian. Tolong perkenankan aku untuk turut ikut ke kastil ya!"
"Hmmm, sebenarnya kami masih belum percaya padamu sejak kegagalanmu untuk melindungi Anita dan Renita, dalam kasus para artis itu. Entahlah, apakah aku bisa merekomendasikan namamu atau tidak, keputusan bukan berada di tanganku, Niken!" ucap Dimas.
"Dia ini polisi baru ya, Dimas? Kok aku tidak pernah lihat dia?" tanya Mariah.
"Oke, aku akan rekomendasikan namamu saja, dan tidak bisa lebih dari itu. Siapapun yang bertugas, itu bukan wewenangku. Mariah, kamu tunggu sebentar ya. Aku akan urus ini, biar ada yang mengawalmu sampai ke kastil!"
Dimas membawa sebuah map, kemudian beranjak keluar dari ruangannya. Niken hanya menghela napas, kemudian tersenyum ke arah Mariah.
"Jadi Mbak ini istri dari Pak Ammar? Wah saya tidak menyangka. Pak Ammar adalah polisi hebat, dan namanya sering disebut. Bangga sekali punya suami seperi dia. Tapi, sebenarnya kasus yang saya pecahkan lebih banyak, hanya saja jarang muncul di media. Pengalaman kami kurang lebih saja, kurasa." ujar Niken.
Mariah hanya tersenyum, kemudian bangkit dari tempat duduknya. Ia menatap paras Niken yang manis. Mariah sedikit meragukan kemampuan Niken, karena sepertinya ia bukan seorang polisi yang mumpuni dalam tugasnya. Ia berpendapat bahwa Niken tak lebih dari seorang polisi yang besar mulut. Mariah berharap, agar nama Niken tidak masuk dalam daftar nama polisi yang akan bertugas di kastil tua.
"Aku tunggu di luar saja," ucap Mariah sambil tersenyum.
***
Di dalam kastil tua, kegelisahan makin merayap. Ammar berharap agar Mariah segera sampai di kastil. Detik-detik seolah berdetak lama. Semua penghuni berkumpul di beranda depan dengan perasaan cemas. Sembari menunggu Mariah, mereka tak diperkenankan meninggalkan beranda depan. Ammar tak mau ceroboh, sebab ia sadar, si pembunuh itu sedang berada di antara mereka.
"Cobalah untuk santai, Bang Ammar! Mariah pasti juga akan segera kembali. Kita akan segera menuntaskan kasus ini, dan kita bisa kembali bersenang-senang," ucap Lily sambil menatap ke arah Reno yang sedang dalam keadaan khawatir.
"Kalau saja pelaku pembunuhan Lidya dapat segera ditemukan, kita nggak akan bisa bersenang-senang lagi. Kita akan segera selesaikan ini. Tak ada lagi acara kumpul-kumpul yang mengundang malapetaka ini," kata Ammar.
"Kami sudah merencanakan acara ini bertahun-tahun, Bang. Masa gara-gara pembunuhan Lidya, kami harus membatalkan acara ini? Kami percayakan penyelidikan ini kepada polisi dan kami akan mendukung seratus persen. Namun, kami akan tetap aktivitas ini, Pak!" tegas Lily.
"Kita lihat saja perkembangan kasus ini seperti apa. Jangan sampai, kegiatan reuni ini adalah awal dari sebuah malapetaka. Kalian tidak tahu apa-apa tentang kastil ini. Kalian tidak pernah berpikir bahwa kastil ini adalah tempat asing yang tak pernah kalian bayangkan sebelumnya," terang Reno.
"Bukankah tempat ini pernah menjadi ajang pembantaian para penulis beberapa waktu lalu?" celetuk Maya Larasati.
"Ya, kamu benar Maya. Berita itu sempat viral beberapa minggu di media-media. Banyak hal mengerikan di kastil ini yang kalian nggak bisa bayangkan. Jangan sampai hal ini berulang pada kita," lanjut Ammar.
"Maksudmu ini seperti De Javu gitu?" tanya Edwin tiba-tiba.
"Aku tidak bisa menyimpulkan apa pun, tetapi aku mencium aroma kegelapan di kastil ini. Aku bisa merasakan ada hal yang tak baik di sini. Kita semua harus waspada. Kawan dekat bisa menjadi sumber kematianmu!" ucap Ammar lagi.
"Bang Ammar bikin kami takut aja," gumam Lily.
"Aku mau pulang!" pekik Nadine tiba-tiba.
Paras wanita muda itu memucat, dan kelihatan tertekan. Ia menunduk dan menangis, mulai meracau histeris.
"Persetan dengan reuni gila ini! Aku tidak merasakan manfaat apa-apa dari kegiatan konyol ini. Kalian ke sini hanya untuk mengantar nyawa? Kalian mau dibantai satu-persatu di sini? Pulang! Aku mau pulang!"
"Tenangkan istrimu yang gila itu, Ryan! Harusnya kamu tak pernah bawa dia ke tempat ini!"
Rosita mulai tersulut emosi. Ryan hanya bisa terdiam, kemudian berusaha memeluk sang istri yang dalam keadaan tertekan. Pasangan yang baru menikah itu memang terlihat paling tertekan di antara mereka semua, berbanding terbalik dengan pasangan Jeremy dan Stella yang terlihat sangat tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan di saat seperti ini, Stella masih bisa mengunyah permen karet dengan santai.
"Kalian semua tenanglah! Tak ada seorang pun yang boleh meninggalkan tempat ini. Oke? Kita akan tangkap pelakunya segera!" tegas Ammar.
***
Catatan:
Mohon maaf untuk keterlambatan up akhir-akhir ini, karena author sedang mudik, jadi selain kegiatan yang padat, sinyal kadang tak bersahabat. Namun, author akan tetap berusaha semaksimal mungkin. Terima kasih atas support-nya.