Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
313. Penemuan Ramdhan


Suara air terjun bergemuruh memecah keheningan hutan, berpadu dengan kicauan burung di ranting-ranting pohon. Hari belum terlalu siang, tetapi cuaca cukup gerah. Sinar matahari menerobos pepohonan, menciptakan bayangan-bayangan unik di dasar hutan. Langit tergambar cerah, tak ada awan berarak seperti biasanya.


Stella terkagum melihat derasnya air yang jatuh dari tebing, sambil menikmati suasana. Sementara, Jeremy, sang suami duduk di atas batu sambil membasuh tangannya di aliran air. Ia sedikit cemas, karena anggota rombongan yang lain tak segera menyusul. Ia berdiri kemudian mendekati Stella yang masih tertegun di pinggir sungai.


"Kok mereka lama sekali ya?" tanya Jeremy.


"Mungkin masih ribet kali. Lagian kita bisa menikmati keindahan air terjun ini sendiri kalau mereka tak datang. Air terjun ini begitu indah, sayang kan kalau dilewatkan begitu saja? Sudahlah, mari kita nikmati saja pemandangan di sini," ucap Stella sambil terus menatap ke arah air terjun.


Jeremy tak menjawab. Pandangannya beralih ke arah hutan yang terhampar di belakangnya. Entah mengapa tiba-tiba ia tertarik untuk menjelajahi hutan itu.


"Sebentar .... "


"Kamu mau ke mana Jer?" tanya Stella.


"Kamu tunggu sebentar di sini, sambil menunggu yang lain. Aku akan melihat-lihat hutan sebentar," kata Jeremy.


"Jangan lama-lama ya! Aku takut sendirian di sini," kata Stella.


Jeremy hanya mengangguk. Ia melangkah meninggalkan Stella menuju arah hutan. Ia merasa antusias melihat deretan pohon-pohon yang tumbuh rapat, di antara semak belukar yang rimbun. Hutan itu sedikit gelap, karena intensitas cahaya matahari yang masuk ke dalam hutan sangat sedikit. Jeremy menemukan jalan setapak kecil yang sepertinya jarang dilalui, karena masih tertutup dedaunan kering yang lembap. Ia melihat banyak binatang seperti kaki seribu dan bekicot di dasar hutan. Kerimbunan hutan membuatnya tertarik untuk menelisik lebih jauh.


Sementara, di dekat air terjun, Stella tertarik untuk merasakan kesejukan air yang begitu jernih mengalir di antara bebatuan besar. Ia mengambil air di telapak tangannya, kemudian membasuh di muka. Ia merasakan kesejukan luar biasa, karena ia tak pernah merasakan air sesejuk ini di kota. Ia kembali membasuh muka dan lengannya, sembari melepas sepatu. Ia memutuskan untuk merendam kaki ke dalam sungai.


"Stella!"


Tiba-tiba Stella mendengar suara memanggil dirinya, dari arah hutan yang lain. Ia melihat Maya yang tergopoh dengan paars cemas menghampiti. Stella melihat tak ada seorang pun bersama Stella, sehingga ia menjadi bingung.


"Mana yang lain, May?" tanya Stella.


"Aku tadi sama Lily dan Farrel. Mereka juga sedang mencari yang lain, tetapi tak ada juga. Jadi sekarang Lily nunggu di persimpangan, sedangkan Farrel ke arah kiri. Aku nggak nyangka kalau kamu sudah menemukan air terjun ini. Tapi kok sendirian?" tanya Maya.


"Aku dan Jeremy memang nungguin di sini sejak tadi, May. Sedangkan Rosita dan Edwin kembali untuk memberitahu bahwa kami sudah menemukan air terjun. Tapi kok mereka belum kembali juga? Kamu tadi nggak ketemu sama mereka?" tanya Stella.


Maya menggeleng, sembari melayangkan pandangan ke arah hutan yang rimbun di sisi aliran air terjun.


"Mana Jeremy?" tanya Maya.


"Dia tadi bilang mau melihat-lihat hutan sebentar .... "


Maya mengangguk-angguk, kemudian dengan cepat berkata," Eh, kalo begitu aku kembali ke persimpangan saja ya. Kamu di sini saja dulu, nanti aku barengan yang lain ke sini lagi."


"Oke deh, kamu balik saja. Suruh mereka cepat ke sini, nanti keburu siang. Kamu lihat kan? Di sini indah banget. Luar biasa!" ucap Stella.


Maya mengangguk cepat, seraya beranjak pergi meninggalkan Stella yang mulai tertarik untuk menenggelamkan diri ke dalam aliran sungai. Ia melihat berkeliling, kalau-kalau ada aorang lain di situ. Setelah dirasa aman, ia melepas pakaian, hingga tersisa pakaian dalam. Ia mulai menenggelamkan diri ke dalam air sungai yang jernih dan sejuk itu.


***


"Tenang, Yan. Aku yakin, Nadine bakalan baik-baik saja. Kamu sabar aja."


Aditya datang mendekat sambil menepuk-nepuk pundak Ryan. Namun, hal itu tidak mengurangi rasa gelisah yang dirasakan Ryan. Ia tetap berusaha melongok ke bawah tebing untuk melihat dasar lereng yang ditumbuhi semak dan pohon-pohon.


"Kalau dia baik-baik saja, harusnya ia ketemu kan?"  Ryan balik bertanya.


"Ya mungkin dia nggak tahu jalan atau lagi berjalan ke arah lain, kita nggak tahu Yan. Berpikir positif saja," saran Adit.


Ryan terdiam. Ia hanya melihat ke arah dasar lereng, tetapi ia tak melihat tanda-tanda dua orang polisi itu naik ke atas.


"Aku nggak mau ia mati," gumam Ryan.


"Aku tahu apa yang kamu rasakan, Yan. Sampai sekarang aku masih belum menerima kehilangan Lidya. Aku nggak habis pikir ketika ada orang yang menghabisi nyawanya dengan cara sadis sepeti itu."


Suara Aditya berubah lirih, sembari menatap kosong ke depan.


Sementara jauh di bawah lereng, Ramdhan menunjukkan pada Reno ceceran darah yang berhasil ia temukan di antara semak dan rerumputan. Ceceran darah itu mulai  mengering. karena matahari makin naik. Reno mengamati tetesan darah itu dengan saksama, karena tak menduga akan ditemukan ceceran darah di sekitar tempat itu.


"Menurutmu ini darah Nadine?" tanya Reno.


"Entahlah, Pak. Kalau dilihat, tetesan darah ini masih belum lama dan masih segar, walau sudah mulai mengering. Di sini juga terdapat sobekan kain. Selain itu, saya tak menemukan apa pun yang mencurigakan di sini. Logikanya, kalau Nadine benar-benar terperosok dalam lereng ini, ia pasti akan terjatuh menimpa semak dan rumput. Walau ia mungkin tidak akan meninggal, ia pasti terluka atau bahkan pingsan. Bagaimana menurut Bapak?" ucap Ramdhan.


"Cukup masuk akal, Ramdhan. Kalau dilihat posisi jatuhnya dari lereng di atas sana, seharusnya tak jauh -jauh dari sekitar sini. Ceceran darah ini juga tampak janggal, karena terpusat di satu tempat. Kalau memang Nadine terluka, maka harusnya ceceran darah itu terlihat di sepanjang jalan yang lalui, kecuali ia sudah siap perban untuk menutupi luka. Sobekan kain ini adalah milik Nadine. Aku hapal pakaian yang sedang dikenakananya, " ucap Reno.


"Jadi ini darah siapa, Pak?"


"Ini yang sedang kita cari tahu. Apakah ini darah Nadine atau bukan? Apakah mungkin Nadine merobek bajunya untuk membungkus lukanya?"


Reno membungkuk, mengambil selembar daun yang terdapat bekas ceceran darah yang mulai mengering, kemudian memasukkan ke dalam kantung plastik kecil. Ia kemudian berjalan ke arah sekitar dasar lereng itu. Kawasan itu banyak ditumbuhi vegetasi berupa pepohonan yang tak tetlalu tinggi, tetapi tumbuh rapat. Sementara banyak ilalang tumbuh subur, hingga tingginya hampir setinggi orang dewasa.


"Pak! Pak! Aku menemukan sesuatu di sini!"


Tiba-tiba Reno mendengar pekikan Ramdhan. Pria itu sedang berada di dekat rerimbunan semak yang tumbuh tak jauh dari situ. Matanya menatap ke bawah rerimbunan dengan saksama. Reno segera mendekat untuk mengetahui apa sebenarnya yang ditemukan oleh Ramdhan. Ia terkejut melihat sesuatu di antara semak itu!


***