Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XXX. Thief?


Mobil dengan laju kecepatan sedang mendekati Helen dan Hans yang hampir putus asa. Sebuah mobil taksi berwarna biru tua. Di dalamnya terdapat sosok pria yang terlihat tidak asing. Helen memekik lega, Hans bangkit dari duduknya karena penasaran. Dokter Dwi ternyata sudah kembali dari kota. Ia tidak sendiri, bersama seorang gadis cantik yang masih belia, memakai kaca hitam di kursi belakang. Mobil melambat, kemudian berhenti.


“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya dr. Dwi.


“Mobil kami mengalami kerusakan, Dok. Sungguh beruntung anda lewat. Pasti hendak menuju kastil. Kami mau menumpang sampai kastil untuk menukar mobil. Biar saja mobil tua ini membusuk di sini,” kata Helen dengan tatapan penuh harap.


“Hmm. Kursi belakang hanya muat dua orang, kecuali kalau kalian mau sedikit bedesak-desakan!” kata dr.Dwi.


“Tidak masalah, Dok. Kurasa aku akan suka sedikit berdesakan.” Hans menjawab sambil melirik ke arah gadis belia yang duduk di kursi belakang.


“Oh, siapa gadis itu, Dok?” tanya Helen.


“Aku tak sengaja bertemu dengannya juga. Katanya dia hendak pergi ke kastil untuk mencari kekasihnya karena menghilang tanpa kabar setelah diundang oleh Anggara."


“Siapa nama kekasihnya?” tanya Hans antusias.


Gairahnya tiba-tiba bergejolak melihat gadis belia yang bertubuh seksi. Sayangnya, gadis itu tak bergeming dengan kehadiran Hans. Pria bermuka dingin itu makin penasaran.


“Aldo Riyanda. Bukankah dia salah seorang penulis yang diundang Anggara?” tanya dr. Dwi.


“Hmm ya. Biar aku saja yang mengurusnya!” gumam Hans.


Tanpa banyak perbincangan, Hans dan Helen segera naik ke dalam mobil. Tak berapa lama, mobil melaju membelah perbukitan yang diselimuti tanaman teh. Hans memilih duduk paling kiri, sedangkan gadis muda itu duduk di tengah. Ia lebih banyak diam, larut dalam pikirannya.


“Maaf, aku Hans. Siapa namamu? Mungkin aku bisa membantu?” sapa Hans dengan nada kaku. Wajahnya juga terlihat beku, nyaris tanpa senyum semburat.


Gadis belia itu menatap Hans dengan tajam. Ia buka kacamata hitam, mengernyitkan dahi sembari menggeleng. Ekspresinya tak kalah dingin, tanpa senyum.


“Aku nggak yakin kamu bisa bantu aku,” jawab si gadis belia.


“Oya? Paling tidak izinkan aku untuk tahu siapa namamu dan urusan kita selesai. Kurasa kamu akan perlu bantuan karena kita akan menuju tempat yang sama, bahkan dengan maksud yang sama!”


“Namaku tidak terlalu penting buatmu. Aku tidak yakin kita mempunyai maksud yang sama. Kekasihku mendapat undangan ulang tahun dari Anggara Laksono, dan aku kehilangan kabarnya. Untung aku bertemu dr.Dwi yang akan pergi juga ke kediaman Anggara. Apakah dirimu juga sedang mencari kekasihmu atau bagaimana?” Si gadis menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Hans.


Mobil terus melaju. Sementara Helen seolah tak peduli dengan kejadian di sekitarnya. Wajahnya tetap terlihat muram, seperti memanggung beban tak terperikan. Sopir taksi itu memutar lagu sangat lawas milik The Beatles dari radio mobilnya, sambil bernyanyi-nyanyi kecil.


“Oh, tidak. Aku tidak punya kekasih. Aku pencinta kebebasan, tak suka dengan komitmen. Kurasa kalau kamu memberi tahu namamu, aku akan bisa membantu!”


“Berhentilah merayuku! Aku tidak tertarik berbagi nama denganmu.”


Hans mendengus. Tak disangka gadis belia ini begitu sombong. Harus diakui penampilannya sempurna. Dalam hati, ia berpikir bahwa Aldo Riyanda pastilah sangat beruntung mempunyai kekasih seperti dia. Selain cantik, ia juga mempunyai aura kecerdasan.


Ya, dalam beberapa kesempatan Aldo pernah bercerita bahwa ia mempunyai seorang kekasih seorang fotografer yang bekerja di sebuah majalah wanita terkenal di Jakarta.


***


Rasa trauma yang mendalam dialami oleh Maira setelah peristiwa percobaan pembunuhan terhadapnya. Bahkan untuk ke ruang baca, ia tidak berani sendirian. Sayangnya tak seorang pun mau menemani, karena menganggap cerita Maira hanya isapan jempol. Kegenitannya seolah musnah, ia lebih sering melamun di ruang tengah.


Maira terkejut dengan kehadiran Michael yang begitu tiba-tiba. Matanya menyorotkan rasa takut, mengingat selama ini ia menganggap Michael adalah pelaku pembunuhan yang menghantui para penulis di kastil tua itu.


“Apa yang hendak kamu lakukan? Jangan dekati aku! Pergi!” usir Maira. Ia menolak jus pemberian Michael.


“Hmm. Maafkan aku, Maira. Aku tahu kamu terpukul dengan kejadian di ruang baca. Sayangnya tak seorang pun mempercayai ceritamu. Tapi aku percaya. Kamu boleh cerita padaku jika kamu mau,” ucap Michael dengan nada lembut.


“Maaf Michael! Aku nggak percaya kamu. Aku nggak percaya siapapun! Tinggalkan aku sendiri. Berhentilah berpura-pura di hadapanku. Kamu mungkin bisa mengelabui semua penghuni kastil ini. Tetapi aku sudah tahu apa yang kamu lakukan. Jangan coba-coba mendekati aku!”


“Maira, sungguh aku tidak mengerti apa yang kamu maksud!”


“Jangan pura-pura! Aku tahu kamu lah yang coba membunuhku di ruang baca!” Mata Maira menyiratkan ketakutan.


Rasa trauma mendalam masih bercokol dalam otaknya. Michael tertawa mendengar penuturan Maira. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Maira semakin gusar melihat itu.


“Darimana kamu memperoleh pendapat gila seperti itu, Maira?” tanya Michael.


“Novelmu, Michael. Alur cerita pembunuhan yang kamu tulis sangat identik dengan apa yang terjadi di kastil ini. Bagaimana mungkin ada orang lain yang melakukan hal sama dengan urutan peristiwa yang kamu buat? Pelakunya pasti penulis novel itu sendiri!” ujar Maira.


“Astaga Maira! Itu adalah analisis terbodoh yang pernah aku dengar. Kalau aku benar si pembunuh itu, kamu pikir akan segegabah itu menunjukkan identitasku? Pikir lagi, Maira! Kupikir ada orang lain yang meniru cara pembunuhan dengan novel yang aku tulis! Pembunuhan keempat telah gagal. Mungkin setelah ini pembunuh akan meloncat ke pembunuhan kelima atau bisa jadi ia masih akan menjalankan pembunuhan keempat. Kita tidak pernah tahu itu! Sekarang kita harus waspada.”


“Omong kosong dengan kegilaan ini! Aku hanya ingin pulang!”


Maira terlihat tertekan. Air matanya mulai berlinang. Michael berusaha memeluk, tetapi ditolak oleh Maira. Jiwa wanita muda itu mulai terguncang. Ia khawatir tetap akan jadi target pembunuhan keempat, walau dengan cara yang berbeda. Bagaimanapun, ia tak mau mati konyol dengan cara mengenaskan. Kondisi kastil yang mencekam menbuatnya hampir gila.


Tiba-tiba, dengan langkah tergesa, dan paras diliputi kegusaran, Adrianna memasuki ruang tengah sambil membawa sebotol parfum. Ditatapnya paras Maira dengan penuh kebencian.


“Dasar pencuri!” pekik Adrianna.


Maira hanya terdiam, menatap Adrianna dengan heran. Ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang dkatakan Adrianna. Michael juga turut penasaran. Entah masalah apa yang sedang dihadapi dua perempuan muda ini.


“Apa yang terjadi, Adrianna?” tanya Michael.


“Beberapa hari lalu aku kehilangan parfum di kotak riasku. Parfum berharga mahal yang penjualannya terbatas. Kemudian aku mencoba menyelidiki sendiri siapa yang mengambil parfum itu. Aku masuki kamar para wanita satu-persatu, tak kusangka parfum itu ada di lemari pakaian milik Maira!” ujar Adrianna.


“Astaga! Kamu masuk kamarku tanpa izin?” tanya Maira.


“Ya, benar! Kalau saja aku tidak masuk kesana, maka tidak seorang pun tahu kalau dirimu seorang pencuri!”


Tatapan Adrianna semakin menajam, menusuk Maira. Michael hanya menahan napas, tak ingin terlibat urusan dua perempuan ini. Bagamanapun ia tak bisa pergi begitu saja, khawatir dua perempuan ini akan saling mencakar. Ia harus menjadi penengah.


“Aku bukan pencuri!” pekik Maira.


***